Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kejanggalan 2

Pagi pun tiba, cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah jendela membangunkanku dari tidur nyenyak. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu lembut.

" Permisi nona? Selamat pagi."

"Iya, silakan masuk saja," jawabku sambil bangkit dari tempat tidur.

Pintu terbuka perlahan dan seorang ibu-ibu tersenyum ramah sambil mendorong nampan berisi sarapan lengkap. Aroma nasi hangat, telur dadar, ayam merah, udang mentega buah potong, dan teh manis hangat langsung tercium harum menggugah selera.

"Ini sarapan untuk Nona," ucapnya sopan sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. "Setiap pagi makanan akan diantar ke kamar Nona, begitu juga untuk Bu Ibu."

Aku tersenyum takjub. Ternyata hidup di sini begitu nyaman sekali, tak perlu repot ke dapur, tak perlu sibuk memasak sejak subuh. Semuanya sudah tersedia rapi di depan pintu. Terima kasih ya," ucapku tulus.

"Sama-sama, Nona. Kalau ada apa-apa tinggal panggil saja, saya ada di depan." Ia membungkuk sedikit lalu keluar kembali menutup pintu rapi.

Aku duduk di kursi menikmati sarapanku perlahan. Benar-benar hidup baru yang menyenangkan. Ibu pasti senang sekali pagi ini.

 Setelah sarapan selesai, aku menyempatkan diri berjalan-jalan sebentar keluar kamar, ingin lebih mengenali sudut-sudut rumah besar ini yang kemarin belum sempat kulihat. Langkahku pelan dan santai, menikmati keindahan ukiran dinding serta jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya pagi masuk menyinari lantai marmer berkilauan. Aku berjalan menyusuri lorong panjang yang harum bunga segar, hingga akhirnya langkahku terhenti di dekat ruang tamu utama.

Dari balik dinding tiang besar yang menopang langit-langit tinggi itu, mataku tak sengaja menangkap sosok yang sedang duduk di sana. Ayah tiriku, Samudra, duduk bersandar di kursi empuk sambil menopang dagu, dan di sebelahnya... Bibi Wijaya.

Aku menahan napas sejenak. Loh, Bibi Wijaya belum pulang? batinku bertanya heran. Bukankah acara pernikahan sudah usang kemarin? Harusnya beliau sudah kembali ke rumahnya sendiri, bukan masih ada di sini pagi-pagi begini.

Aku memajukan telingaku perlahan, berusaha menangkap apa yang sedang mereka bicarakan. Suara mereka berdua sangat pelan, seakan sengaja diturunkan agar tak ada yang mendengar. Sesekali Samudra mengangguk-angguk, sesekali Bibi Wijaya berbicara lebih cepat namun tetap tak tertangkap jelas oleh telingaku. Hanya satu kalimat yang cukup keras terdengar hingga sampai ke telingaku:

"Nanti biar aku yang atur saja."

Ucapan Bibi Wijaya itu tegas dan penuh keyakinan, seakan urusan besar sedang berada di tangannya. Aku makin penasaran. Atur apa? Mengapa terasa begitu rahasia? Aku berusaha memajukan langkah sedikit lagi, ingin mendengar lanjutan pembicaraannya, namun tiba-tiba langkahku terhenti saat suara pelan terdengar dari belakang punggungku.

"Ada apa, Nona?"

Aku tersentak kaget hingga tubuhku sedikit gemetar. Menoleh ke belakang dengan jantung yang berdegup kencang, ternyata seorang pelayan berdiri di sana menatapku ramah namun heran.

"Eh... tidak apa-apa kok, Mbak," jawabku buru-buru tersenyum menenangkan diri, berusaha menyembunyikan rasa panik yang tadi sempat muncul. "Saya... hanya kebetulan lewat saja."

Pelayan itu mengangguk sopan, lalu melanjutkan langkahnya pergi. Aku kembali menatap ke arah ruang tamu. Kali ini Bibi Wijaya dan Samudra sedang berbisik lagi, kepala mereka saling mendekat seakan menjaga rahasia berharga. Rasa ingin tahu makin membakar dadaku, namun aku tahu tak sebaiknya berlama-lama berdiri di sini. Dengan perlahan aku mundur pelan-pelan, menjauh dari sana sambil menyimpan satu pertanyaan besar di kepalaku: apa sebenarnya yang sedang mereka atur?

Aku melangkah menuju kamar Ibu, mengetuk pintu pelan sebelum membukanya perlahan. Di sana Ibu sedang duduk di tepi tempat tidur, menikmati sarapannya dengan tenang. Wajahnya terlihat segar sekali pagi ini, berseri dan cerah, jauh dari kesan cemas seperti hari-hari sebelumnya.

Ibu menoleh saat melihatku masuk, lalu tersenyum lebar menyambutku. "Eh, El sudah bangun ya."

"Sudah dari tadi, Bu. Sarapan di kamarku juga sudah habis," jawabku sambil duduk di sebelahnya.

"Baguslah kalau begitu. Gimana menurutmu di sini? Enak bukan?" tanyanya antusias.

"Enak sih, Bu. Semuanya lengkap dan nyaman," jawabku jujur sambil menatap sekeliling kamar yang luas dan mewah itu. "Makanan juga diantar sampai ke kamar, tak perlu repot ke mana-mana."

"Nah, kan? Ibu bilang juga begitu," ucap Ibu senang sekali, menyuap sepotong buah ke mulutnya. "Tidurnya nyenyak kan? Kasurnya empuk sekali ya, beda jauh sama kasur kita yang lama."

"Iya Bu, nyenyak sekali," jawabku tersenyum menatapnya. Melihat Ibu begitu bahagia dan tenang pagi ini, sejenak keraguanku tadi di ruang tamu perlahan menguap.

 Tiba-tiba aku tersentak. Ya ampun! Hampir saja aku lupa! Janji kemarin sore di pesta pernikahan itu — Lucas menyuruhku datang ke rumahnya pagi ini. Rasa penasaranku sejak kemarin belum juga hilang, justru makin menggejot ingin tahu apa yang sebenarnya ia ketahui.

"Bu..." aku menatapnya sedikit ragu. "El mau keluar sebentar boleh?"

Ibu berhenti mengunyah, menatapku lembut. "Mau ke mana, nduk?"

"Ke rumah teman sebentar. Janjian kemarin," jawabku singkat, tak menyebut nama Lucas dulu.

Ibu tersenyum mengerti. "Oh begitu, ya sudah boleh. Hati-hati di jalan ya, jangan lama-lama."

"Eh iya Bu, aku kan belum mandi!" seruku buru-buru menahan langkahku. "El mandi dan ganti baju dulu baru berangkat."

Aku tersenyum malu pada Ibu, lalu segera kembali ke kamarku. Betul juga, belum mandi, rambut pun masih berantakan. Mana pantas pergi ke rumah orang dengan penampilan begitu? Aku segera mengambil pakaian ganti, melangkah cepat ke kamar mandi. Air segar mengalir di tubuhku, membangunkanku sepenuhnya. Sambil menyabuni tubuh, pikiranku tak henti-henti membayangkan apa yang akan dikatakan Lucas nanti. Apa rahasia yang begitu besar hingga tak bisa dibicarakan di pesta kemarin? Mengapa harus khusus ke rumahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku seakan tak mau berhenti.

Setelah selesai mandi, aku berdiri di depan cermin merapikan pakaian dan rambutku sebaik mungkin. Kali ini bukan sekadar berkunjung biasa, ada sesuatu yang penting menantiku di sana. Aku menarik napas panjang, tersenyum pada pantulanku di cermin, lalu melangkah keluar kamar dengan hati-hati penuh.

Saat melangkah turun tangga perlahan, mataku langsung menangkap sosok Samudra yang berdiri di ruang tengah. Ia tak sedang membaca koran maupun berbicara dengan siapa pun, hanya berdiri tegak di sana seakan memang sedang menunggu kedatanganku. Begitu melihatku, senyum tipis terukir di wajahnya, namun senyum itu tak sampai ke matanya.

"Mau ke mana, cantik?" sapanya lembut, namun nada bicaranya membuat bulu kudukku seketika berdiri.

Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang meski jantungku berdegup kencang. "Eh... mau ke rumah teman sebentar, Ayah," jawabku sopan namun cepat.

"Siapa temannya?" tanyanya santai, melangkah maju selangkah mendekatiku.

Aku membeku sesaat. Nama Lucas hampir terucap, namun di detik terakhir kuurungkan niat itu. Entah mengapa, ada bisikan di hatiku yang menyuruhku merahasiakannya darinya. "Teman kerjaku... Vina," jawabku akhirnya, mengambil nama sahabatku itu sebagai alasan.

Samudra hanya diam mendengar jawabanku, tak langsung menanggapi. Matanya kini meneliti diriku perlahan, dari ujung kakiku naik perlahan ke lutut, pinggang, dada, hingga wajahku. Tatapannya lama, tajam, dan tak pantas bagi seorang ayah terhadap anak tirinya sendiri. Ia menatapku seakan aku barang miliknya yang sedang dinilai harganya. Tak lama kemudian senyumnya melebar kembali, terlihat puas entah karena apa.

Rasa tak nyaman menjalar di seluruh tubuhku. Aku menggenggam tasku erat-erat, ingin sekali berbalik dan lari secepat mungkin, namun aku berusaha tetap sopan di tempatku berdiri.

"Kalau begitu... El berangkat dulu ya, Ayah," pamitku buru-buru sambil sedikit membungkuk, tak berani menatapnya lebih lama lagi.

Aku melangkah cepat menuju pintu keluar, rasanya seakan tatapannya masih menancap di punggungku sepanjang jalan itu. Begitu pintu tertutup di belakangku, aku menghela napas panjang lega namun dadaku masih sesak.

Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan dariku sejak kemarin. Ucapannya, tatapannya, senyumnya... semuanya terasa salah namun tak bisa kumenangkapi dengan jelas di mana letak kesalahannya. Aku menggeleng pelan, mencoba membuang rasa gelisah itu. Lucas pasti tahu sesuatu. Pasti. Semoga sesampainya di sana semuanya menjadi terang benderang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!