Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAK DI UNDANG
Pagi hari di pinggiran Hutan Kelam diselimuti oleh kabut tipis musim dingin. Es bening menempel anggun di dedaunan pinus, sementara aroma tanah basah dan kayu bakar membumbung tipis dari cerobong asap gubuk kayu milik Kayy dan Alya.
Di dalam rumah, suasana begitu damai. Kayy sedang sibuk menata bantal-bantal empuk di kursi panjang teras agar Alya bisa duduk nyaman menikmati sinar matahari pagi. Alya, yang perutnya kini sudah mulai membuncit manis di balik gaun rajut tebalnya, hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa detailnya suaminya menyiapkan segalanya.
Namun, kedamaian di tengah hutan itu mendadak terganggu oleh suara derap langkah kaki kuda yang tegap dan gemerincing zirah besi yang amat bising dari arah batas pekarangan.
Klakk! Klakk! Klakk!
Kayy menghentikan gerakannya. Matanya yang tajam menyempit. Indra status MAX-nya langsung menangkap kehadiran sekelompok orang yang menerobos masuk melewati segel luar Hutan Kelam.
Di depan gerbang kayu pekarangan, berdirilah dua ekor kuda kerajaan yang megah. Di atas kuda pertama, duduk seorang pemuda bertubuh tegap dengan jubah sutra merah bersulam benang emas. Wajahnya tampan namun dipenuhi guratan kesombongan khas bangsawan kelas atas—ia adalah Pangeran Kedua Kerajaan, Prince Cedric.
Sementara di atas kuda kedua, duduk Arthur Sang Pahlawan Kerajaan. Bedanya, jika Pangeran Cedric terlihat penuh percaya diri, wajah Arthur justru tampak pucat pasi bagaikan mayat hidup. Keringat dingin mengucur deras di dahi Arthur meski udara pagi itu amat membeku.
"Aku bilang juga apa, Arthur!" seru Pangeran Cedric seraya melompat turun dari kudanya dengan gaya yang dibuat-buat anggun. "Wortel emas yang dulu pernah kamu bawa ke istana itu pasti berasal dari kebun di tepi hutan ini! Lihat warna tanah kebunnya saja begitu bersinar. Kerajaan membutuhkan bahan makanan berkualitas tinggi ini untuk pesta ulang tahun Baginda Raja esok hari!"
Arthur melompat turun dari kudanya dengan tubuh gemetaran. Jemarinya yang memegang kendali kuda bergetar hebat.
Beberapa bulan lalu, sebelum insiden Istana pecah, Arthur memang pernah membeli wortel emas di pasar dari seorang petani muda yang tak lain adalah Kayy. Saat itu Arthur sempat memuji kelezatan wortel tersebut di hadapan para bangsawan istana tanpa menceritakan lokasi pastinya. Namun saat insiden Kerajaan terjadi, Raja secara ketat merahasiakan identitas Kayy dari publik dan para Pangeran demi mencegah kepanikan massal. Itulah alasan mengapa Pangeran Cedric sama sekali tidak tahu bahwa gubuk ini adalah markas sosok paling mengerikan di seluruh benua!
"P-Pangeran Cedric... mohon dengarkan hamba kali ini saja..." bisik Arthur dengan suara bergetar pelan, matanya melirik liar ke arah gubuk kayu di depannya. "Kita harus segera pergi dari sini! Hamba tidak tahu kalau tempat ini milik orang itu... Pemilik gubuk ini bukan sekadar petani biasa! Pria itu adalah—"
"Halah! Kamu ini Pahlawan Kerajaan tapi penakut sekali hanya karena berhadapan dengan rakyat biasa!" potong Pangeran Cedric seraya mengibaskan tangannya meremehkan. "Paling-paling pemiliknya hanya petani yang bertubuh kekar karena sering mencangkul. Biar aku yang bicara!"
Pangeran Cedric melangkah dengan cengkerangan dagu terangkat tinggi menuju pekarangan wortel emas milik Kayy. Namun, baru saja satu langkah kakinya menginjak rumput pekarangan...
BZZZZZZT!
Tekanan udara di sekitar pekarangan mendadak merosot drastis hingga menyentuh titik beku. Gravitasi di sekitar Pangeran Cedric terasa bertambah berat seribu kali lipat, membuat napasnya seketika tercekat di tenggorokan.
Di ambang pintu gubuk, Kayy berdiri tegak.
Pria berusia dua puluh tahun itu mengenakan kemeja katun hitam yang digulung hingga ke siku. Kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana. Namun, raut wajahnya yang biasa malas dan ramah kini berubah menjadi sangat dingin—sebuah aura intimidasi absolut yang bahkan bisa membuat naga kuno tunduk ketakutan.
Kayy berjalan pelan menuruni tangga teras. Setiap hentakan langkah kakinya di atas tanah membuat getaran halus yang membungkam seluruh suara burung di hutan.
Di belakang Kayy, Alya muncul pelan di teras kayu seraya memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit hangat. Dulu di Istana, Alya selalu mengenakan gaun megah Saintess lengkap dengan tudung suci yang menutupi wajahnya dari para pangeran. Kini, mengenakan pakaian rumah sederhana dengan rambut emas terurai bebas, penampilannya memancarkan kehangatan seorang ibu.
Melihat kehadiran Alya dengan perut yang membuncit, mata Arthur terbelalak lebar. Mulut Pahlawan Kerajaan itu terbuka kaku, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.
“L-Lady Alya... H-Hamil?!” batin Arthur histeris, seluruh darah di tubuhnya mendadak dingin. “Demi Dewa... Wanita suci bekas Saintess dan Entitas Pemilik Kekuatan Musnah itu... sedang mengandung?! Kalau sampai pangeran bodoh ini membuat Lady Alya kelelahan, seluruh Benua bisa diratakan oleh suaminya hari ini juga!”
Arthur langsung berlutut di atas tanah berlumpur tanpa peduli pada armor emasnya yang kotor. Pria pahlawan itu memegang dadanya sendiri, berusaha menahan tekanan aura Kayy seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"L-Lady Alya... Kayy..." bisik Arthur dengan suara tercekat, mukanya pucat penuh penyesalan dan ketakutan tingkat tinggi. "M-Selamat atas kehamilan Lady Alya... tapi m-maafkan kami... kami sungguh tidak bermaksud mengganggu..."
Pangeran Cedric yang mendengar sebutan itu mendadak membeku. Ia menoleh kaku ke arah teras, menatap wanita cantik berselimut gaun katun tebal itu dengan cermat. Seketika, potongan memori tentang Saintess Kerajaan yang hilang saat benteng istana hancur berhamburan di otaknya.
“S-Saintess Alya?! Dan pria ini... monster yang meremukkan seluruh benteng sihir Istana demi membawanya kabur?!” batin Pangeran Cedric berteriak histeris. Seluruh kesombongannya remuk tak berbekas dalam satu detik.
"Hoi, Baju Merah," potong Kayy pelan. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup menggetarkan kesadaran Pangeran Cedric hingga telinga pangeran muda itu berdenging hebat.
Kayy melangkah maju hingga kini berjarak hanya dua meter dari Pangeran Cedric. Kayy menatap lurus mata pangeran itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh kedinginan tebal.
"Dengar," ucap Kayy dengan suara berat yang teramat menakutkan. "Aku tidak peduli kamu pangeran, raja, atau dewa dari langit sekali pun. Di pekarangan ini, ada aturan sederhana."
Kayy menunjuk ke arah Alya yang berdiri anggun di teras rumah.
"Istriku sedang hamil," lanjut Kayy, suaranya makin merendah hingga memancarkan niat membunuh yang pekat. "Dia butuh ketenangan, butuh istirahat, dan tidak boleh kaget atau stres sedikit pun karena suara bising dari orang-orang sok tahu seperti kalian. Kalau sampai suara teriakanmu tadi membuat istriku pusing atau mual..."
Kayy memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah kilatan cahaya emas berkedip tipis dari balik matanya—sebuah pendar kecil dari sistem status MAX miliknya.
"...bukan cuma wortel di kebun ini yang akan hilang. Tapi seluruh istana kerajaanmu akan kuhancurkan rata dengan tanah sebelum matahari tenggelam sore ini. Paham?"
Glek.
Pangeran Cedric menelan ludahnya dengan susah payah. Sensasi dingin yang merayap di punggungnya memberitahu otaknya bahwa pria di hadapannya ini bukan sedang berbohong atau menggertak. Pria bertubuh petani ini adalah monster nyata yang sanggup memusnahkan kerajaan dalam sekali tebas!
Lutut Pangeran Cedric akhirnya menyerah. BRUK! Pangeran muda yang tadinya begitu sombong itu jatuh berlutut tepat di samping Arthur, tubuhnya gemetaran hebat bagaikan dedaunan dihempas badai.
"M-Maaf... Maafkan aku..." Cedric dengan suara bergetar ketakutan, wajahnya pucat pasi menyatu dengan dinginnya es musim dingin.
Arthur dengan cepat mendongak seraya menangkupkan kedua tangannya ke arah Kayy. "Kayy! Tolong ampuni Pangeran Cedric! Beliau tidak tahu kalau Anda adalah sosok yang pernah datang ke Istana waktu itu, beliau juga tidak tahu Lady Alya berada di sini! Hamba yang bersalah karena menceritakan soal wortel ini! Kami akan segera pergi! Kami tidak akan pernah menginjakkan kaki di hutan ini lagi!"
Alya yang menyaksikan pemandangan kocak sekaligus menegangkan itu dari teras gubuk akhirnya menghembuskan napas pelan. Ia menyunggingkan senyum lembut, lalu berjalan mendekat ke tepi teras.
"Kayy, sudah..." panggil Alya dengan nada amat halus. "Kasihan mereka. Jangan membuat mereka ketakutan begitu."
Mendengar suara lembut Alya, aura intimidasi mematikan milik Kayy seketika menguap tanpa bekas—berubah dalam sekejap mata kembali menjadi sosok suami penyabar yang penyayang. Kayy berbalik melangkah mendekati Alya, mengulurkan tangannya untuk memapah jemari istrinya.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang? Suara bising mereka bikin kamu pusing?" tanya Kayy dengan nada panik dan lembut yang kontras 180 derajat dari sikapnya semenit yang lalu.
Alya terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya gemas melihat perubahan drastis suaminya. "Aku tidak apa-apa, Kayy. Bayi kita juga baik-baik saja."
Alya lalu menatap ke arah Arthur dan Pangeran Cedric yang masih berlutut tak berdaya di pekarangan.
"Arthur, ambil beberapa wortel di keranjang depan sumur itu dan bawalah pulang untuk pesta," ucap Alya ramah. "Tapi tolong beritahu pada Raja dan seluruh pejabat Kerajaan... jangan pernah datang ke sini lagi membawa keributan. Suamiku sedang sangat sensitif karena menjagaku yang sedang hamil."
"B-Baik, Lady Alya! Selamat atas kehamilan Anda, dan terima kasih banyak atas kebaikan Anda!" sahut Arthur cepat-cepat. Pahlawan Kerajaan itu langsung menyambar keranjang wortel dengan sekuat tenaga, lalu merangkul Pangeran Cedric yang lemas tidak bisa berdiri untuk dinaikkan kembali ke atas kuda.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arthur dan Pangeran Cedric memacu kuda mereka secepat angin meninggalkan Hutan Kelam, seolah-olah sedang dikejar oleh iblis pencabut nyawa.
Melihat dua penunggang kuda itu menghilang di balik kabut hutan, Kayy menghela napas panjang seraya membersihkan tangannya.
"Dasar orang-orang kerajaan... selalu saja membuat kebiasaan mengganggu kedamaian," gumam Kayy seraya merangkul pinggang Alya dengan protektif. "Mulai besok, aku akan mempertebal lapisan Sanctuary Domain sepuluh kali lipat. Tidak ada siapapun yang boleh lewat."
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Kayy, tertawa renyah membayangkan betapa protektifnya calon ayah dari bayinya ini.
"Terserah kamu saja, Suamiku," bisik Alya manis. "Yuk, kita masuk lagi. Supnya nanti keburu dingin."
Kayy tersenyum hangat, mengecup dahi Alya dengan lembut sebelum membimbing istrinya kembali ke dalam rumah kayu mereka yang penuh dengan kedamaian dan kehangatan sejati.