Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembukaan Cabang Baru
Pagi itu, langit Surabaya dibalut warna biru jernih tanpa setitik pun awan kelam. Hawa sejuk sisa embun pagi perlahan berpadu dengan kehangatan sinar matahari yang menembus kaca-kaca tinggi gedung baru Pratama Group di kawasan bisnis Surabaya. Aroma bunga lili segar dan mawar putih melati merebak dari puluhan karangan bunga yang berjejer rapi di sepanjang atrium utama, memancarkan atmosfer pembaruan yang begitu pekat.
Di tengah hiruk-pikuk tamu undangan—mulai dari pejabat daerah, mitra bisnis terkemuka, hingga awak media—Arga Pratama berdiri anggun di lantai mezzanine.
Ia mengenakan setelan jas tailored berwarna biru navy yang terpotong sempurna. Penampilannya memancarkan kepemimpinan yang matang, bukan lagi aura dingin dan defensif yang dulu menyelimutinya tatkala ia masih dibayangi pengkhianatan Reza dan Nabila. Wajah Arga kini jauh lebih rileks, dengan binar mata yang memancarkan kedamaian sejati. Pembukaan cabang baru ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa; ini adalah simbol pemulihan total dan langkah perdana dari era baru kehidupannya.
Langkah kaki yang halus terdengar mendekat dari balik punggungnya.
Arga menoleh dan menemukan Kirana sedang berjalan melangkah kearahnya. Wanita itu tampil memikat dengan gaun midi berwarna abu-abu mutiara yang dipadukan dengan blazer putih tanpa lengan. Rambutnya disanggul modern secara sederhana, menyisakan beberapa helai yang membelai pipinya yang merona alami.
"Semua persiapan di ballroom utama sudah selesai, Arga," ujar Kirana seraya memberikan senyuman manis yang hangat. Tangannya memegang folder laporan acara, namun tatapannya sepenuhnya teruju pada Arga. "Para investor utama dari Jawa Timur sudah hadir. Mereka sangat antusias menunggu pidato pembukaan darimu."
Arga menatap Kirana, meresapi chemistry yang mengalir begitu alami di antara mereka. Kehadiran Kirana bukan sekadar sebagai penasihat hukum atau mitra kerja biasa, melainkan sebagai sosok yang memberikan pijakan emosional yang kokoh bagi jiwa Arga. Jika di masa lalu Arga merasa harus menanggung segala beban sendirian sambil terus menaruh curiga, kini di dekat Kirana, ia bisa bernapas lega dan menjadi dirinya sendiri secara utuh.
"Terima kasih, Kirana," kata Arga dengan suara yang berat dan lembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, menatap mata bening Kirana. "Cabang baru di Surabaya ini tidak akan berdiri sejauh ini tanpa kontribusimu dalam membereskan seluruh aspek legalitas dan mitigasi risikonya."
Kirana menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan tawa kecil yang renyah. "Aku hanya memastikan tidak ada lagi 'celah' yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang berniat jahat. Tapi ide, visi, dan keberanian untuk bangkit kembali... itu semua murni darimu, Arga."
Ada jeda hening yang sarat makna di antara mereka. Di bawah cahaya keemasan yang menembus atap kaca atrium, Arga mengulurkan tangannya. Jemarinya yang hangat menyentuh lembut jemari Kirana yang memegang folder. Sentuhan itu sederhana, tetapi menyalurkan gelombang kepercayaan dan rasa hormat yang mendalam.
"Dulu, setiap kali aku merencanakan ekspansi bisnis..." bisik Arga, mengalirkan isi hatinya yang paling jujur, "pikiranku selalu dipenuhi oleh angka-angka manipulatif dan rasa cemas akan pengkhianatan. Aku selalu bertanya-tanya, siapa di antara orang-orang terdekatku yang akan menusukku dari belakang."
Kirana membalas genggaman tangan Arga, menatap Arga dengan penuh empati dan ketulusan tanpa batas. "Dan sekarang?"
"Sekarang, ketika aku berdiri di sini..." Arga menatap ke arah kerumunan tamu di bawah, lalu kembali menatap Kirana dengan senyuman paling tulus yang pernah ia ukir. "Aku hanya merasakan rasa syukur. Untuk pertama kalinya, aku melangkah maju tanpa perlu menoleh ke belakang dengan ketakutan. Aku merasa genap."
Pipi Kirana merona halus mendengar pengakuan jujur itu. Logika narasi perjalanan Arga telah mencapai puncaknya. Masa lalu yang pahit—jeruji besi yang kini mengurung Reza dan Nabila, serta memori pengkhianatan yang telah musnah—tidak lagi memiliki kuasa untuk melukai Arga. Pembukaan cabang baru ini adalah wujud nyata dari kebangkitan karakter yang telah lulus dari ujian hidup paling berat.
Pembawa acara di panggung utama mulai mengumumkan pembukaan acara:
"Selanjutnya, mari kita sambut Founder dan CEO Pratama Group, Bapak Arga Pratama, untuk menyampaikan pidato sambutan sekaligus meresmikan Kantor Cabang Utama Surabaya!"
Tepuk tangan riuh bergema menembus langit-langit atrium yang megah.
Kirana meremas lembut jemari Arga sekali lagi sebelum melepasnya perlahan. "Waktumu untuk bersinar, Arga. Aku akan berdiri di sana, melihatmu."
Arga mengangguk mantap. Ia merapikan kancing jasnya, menatap Kirana dengan binar mata yang mantap, lalu melangkah turun menuju panggung utama.
Di atas panggung, di hadapan ratusan pasang mata dan lampu kilat kamera, Arga memegang mikrofon. Suaranya mengalun tegas, mantap, namun sarat akan rasa kerendahan hati:
"Selamat pagi, Hadirin sekalian. Hari ini, Pratama Group tidak hanya memotong pita untuk membuka sebuah gedung baru di kota Surabaya. Hari ini, kami merayakan sebuah prinsip: bahwa fondasi terkuat dari sebuah keberhasilan bukanlah seberapa besar modal yang kita miliki, melainkan seberapa kokoh kejujuran dan integritas yang kita pegang saat melewati badai terkecil sekalipun..."
Kirana berdiri di barisan depan penonton, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap Arga dengan rasa bangga yang membuncah di dadanya. Ia melihat seorang pria yang tak hanya berhasil merebut kembali kejayaannya, tetapi juga seorang pria yang telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya: mengalahkan dendam dan menyembuhkan hatinya sendiri.
Acara puncaknya ditandai dengan penekanan tombol sirene dan penuangan sampanye di atas piramida gelas kristal. Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan. Arga menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan hangat, memancarkan kepemimpinan yang bersahaja.
Ketika acara formal selesai dan para tamu mulai menikmati hidangan, Arga melangkah menghampiri Kirana yang sedang berdiri di dekat balkon luar gedung yang menghadap ke pemandangan kota Surabaya.
"Pidato yang sangat menyentuh," puji Kirana hangat tatkala Arga berdiri di sampingnya.
Arga tersenyum, menyandarkan sikunya di pagar pembatas balkon, membiarkan angin siang yang sepoi-sepoi membelai wajahnya. "Aku hanya menyuarakan apa yang kurasakan, Kirana."
Arga menoleh, memandang profil Kirana yang anggun di sampingnya. "Setelah acara peresmian ini selesai malam nanti, maukah kamu menemaniku makan malam? Bukan untuk membahas berkas kantor atau ekspansi selanjutnya... tapi hanya kita berdua."
Kirana menatap Arga, menangkap kesungguhan dan kehangatan yang tak lagi terhalang oleh dinding pertahanan apa pun. Senyuman manis terukir indah di bibirnya.
"Dengan senang hati, Arga," jawab Kirana pelan namun pasti.
Di atas gedung baru yang berdiri megah itu, angin membawa pergi sisa-sisa kenangan pahit masa lalu. Pembukaan cabang baru telah menjadi gerbang pembuka bagi kehidupan Arga Pratama yang murni—sebuah perjalanan baru yang dihiasi oleh kejayaan bisnis yang bersih, kedamaian jiwa, dan benih-benih cinta sejati yang siap mekar bersama waktu.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt