Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Bayangan panti semakin mengecil, kemudian hilang dari pandangan ketika mobil yang dinaikinya berbelok. Ophelia berhenti melihat ke belakang dan memperbaiki posisi duduknya.
Sekarang semuanya resmi dimulai.
Awalnya di mobil itu hanya ada keheningan. Randi sibuk dengan urusan bisnisnya, sedangkan Yelena selalu terpaku pada ponsel.
Chattingan dengan selingkuhannya 'kah?
Mereka terlihat harmonis jika diluar, tapi ketika tertutup begini keduanya bahkan tidak berbicara satu sama lain.
“Ophelia.”
“Iya?”
Randi Pratama terlihat menyimpan dokumen ke dalam tas. “Kamu udah lulus SMP ‘kan? Ada gambaran mau pergi ke SMA mana?”
“Aku dapat undangan dari Smansa, tapi belum kuterima karena takutnya jauh dari rumah.” Ophelia tersenyum. “Aku ‘kan baru mau pindah sekarang.”
“Bagus.”
Ayah angkatnya itu melihat ke belakang. “Ada satu SMA swasta yang benar-benar terkenal di kalangan sosialita. Kalau kamu bisa mendapatkan prestasi atas nama SMA itu, keluarga kita juga akan semakin dikenal.”
“Chelsea, kakakmu juga sekolah disana.” Yelena ikut bicara. “Dia bisa menjagamu kalau ada apa-apa.”
Menjaga katanya?
Ophelia benar-benar ingin tertawa.
“Kalau begitu aku akan sekolah disana juga,” angguknya.
Tempat itu memang neraka. Ophelia tahu kalau ia kembali masuk ke SMA Maharaja, ia akan bertemu kembali dengan Reine dan orang-orang yang membencinya.
Tapi dendamnya juga berlaku pada wanita itu.
“Cobalah untuk dekat dengan para remaja lain,” ucap Randi. “Anak-anak sosialita biasanya sudah saling mengenal sejak kecil, jadi masuk ke circle mereka akan sulit tapi tidak mustahil.”
Rumah besar tempat kediaman Pratama mulai terlihat.
“Sekalipun kamu dibully, jangan memancing masalah dan buat koneksi sebanyak-banyaknya. Mengerti?”
Kata-kata dingin itu hampir membuat Ophelia merinding, tapi ia berusaha mengangguk dengan tenang. “Dimengerti, Ayah.”
Randi Pratama dan Yelena terlihat terdiam dengan respon itu. Dulu ketika disuruh begini, Ophelia sempat protes karena ia tidak mau masuk ke SMA swasta, apalagi dengan potensi bullying disana.
Tapi ia mendapatkan tamparan begitu bicara.
Mobil mereka berhenti. Tanpa disuruh, Ophelia turun dan mengikuti Ayah dan Ibu angkatnya untuk masuk.
Sepengetahuan Ophelia, ayah angkatnya ini hanya tempramental dan ambisius. Setidaknya sampai Ophelia punya peluang untuk membalas dendam, selama dia bisa melakukan semua hal yang Randi inginkan Ophelia akan baik-baik saja.
Ia sadar akan hal itu ketika dia pertama kali masuk ke rumah ini.
“Ayah sama Ibu udah pulang?”
Chelsea.
“Sebentar juga ya? Kukira akan lebih lama.”
Remaja itu turun dari tangga dengan kaki yang pincang. Dia memakai celana pendek, jadi Ophelia bisa melihat jelas bekas cambukan yang mulai membiru disana.
Dia juga habis menangis.
“Kalau di luar kakimu jangan terlihat pincang begitu, nanti orang-orang curiga.” Randi berkata dingin. “Dan kenapa dengan matamu? Kalau habis menangis langsung dikompres pake es, tidak enak dilihat.”
Ya. Dia memang separah ini bahkan pada putri kandungnya sendiri.
Chelsea langsung murung. “Maaf.”
“Ophelia, ini Chelsea. Dia cuma satu tahun lebih tua darimu.”
“Salam kenal,” angguknya.
“Ophelia juga akan masuk ke SMA Maharaja, beritahu dia tentang orang-orang penting disana.” Randi terlihat berjalan ke arah ruang kerja. “Tunjukkan juga dimana kamarnya.”
“Baik, Ayah.”
Yelena sudah pergi entah kapan. Dari luar, supir keluarga mereka terlihat membawa koper miliknya ke lantai dua.
Ophelia sempat melirik ke kaki Chelsea yang mulai membengkak. Naik turun tangga dengan kaki begitu pasti rasanya sakit sekali.
Mengingatkannya akan dirinya yang dulu.
“Tidak perlu diantar, aku tinggal mengikuti pak supir saja ‘kan?” ujarnya, mulai ikut menaiki tangga. “Dan aku sudah melakukan riset soal para sosialita itu, jadi aku tidak butuh penjelasan apa-apa.”
Chelsea menatapnya nanar, “Besar kepala sekali. Anak rendahan sepertimu memangnya tau apa soal sosialita tinggi? Informasi dari internet itu kebanyakan palsu.”
Kata siapa dari internet?
Ophelia menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap kakak angkatnya itu dengan tatapan dingin.
“Kaiser Mahawirya, Reine Maharaja. Dua nama itu yang mesti aku ingat baik-baik ‘kan ya? Keluarga Mahawirya menduduki kasta teratas sekarang, sedangkan Maharaja hanya satu tingkat di bawah mereka. Kalau ingin membuat koneksi, keduanya adalah yang paling kuat.”
Chelsea terlihat terdiam.
“Aku tinggal berteman baik dengan mereka saja ‘kan? Ada yang lain?” Ophelia menaikkan alis.
Kakak angkatnya itu terlihat kesal. “Kamu—!”
“Tidak ada? Ya sudah.”
Tanpa melihat respon Chelsea, Ophelia langsung berjalan ke lantai dua.
Di rumah besar yang memiliki banyak kamar ini, entah kenapa hanya kamar Chelsea yang ada di lantai satu. Kamar Ophelia dan kedua orang tua angkatnya ada di lantai dua.
Kamarnya juga lumayan besar, dengan walk in closet dan kamar mandi dalam.
Ini satu-satunya tempat dimana Ophelia bisa merasa aman.
Tapi anehnya, pintunya tidak dipasang kunci. Randi melarang keras kamarnya dan Chelsea untuk bisa dikunci dari dalam.
Entah alasannya apa.
Pembantu di rumah ini juga cuma sedikit dan tidak ada yang menginap. Mereka akan datang, menyelesaikan tugas, lalu pergi.
Rumah yang sepi dan dingin.
Cocok sekali untuk dihancurkan.
Ophelia membuka jendela, membiarkan udara masuk ke kamar dan berniat memasukkan baju-bajunya ke lemari.
Tapi di bawah sana, di taman belakang rumah terlihat Yelena yang sedang menelpon seseorang sembari tersenyum lebar. Dia bahkan tertawa beberapa kali.
Ophelia bersandar di jendela sembari bergumam. “Kakaknya Kaiser ya?”
Jujur saja, bisa menjalin hubungan gelap dengan pewaris utama keluarga Mahawirya adalah kesuksesan besar. Jika terjadi sesuatu di keluarga ini, Yelena bisa saja langsung pergi ke tempat kekasihnya itu dan meminta bantuan.
Dirinya yang sekarang tidak bisa melakukan apa-apa jika berurusan dengan keluarga Mahawirya.
Itu bisa mengacaukan balas dendamnya.
Ophelia akan mengurus mereka berdua nanti. Sekarang yang ia mesti lakukan adalah mencari sekutu.
Dan ia tahu betul siapa itu.
...****************...
“Oh, memangnya kurang?” Yelena tersenyum sembari melihat foto-foto setengah telanjang yang ia kirim pada kekasihnya. “Nanti aku kirim lagi kalau begitu.”
“...”
Yelena mengernyit, “Soal gadis itu? Ya, namanya Ophelia. Memangnya kenapa?”
“...”
“Iya, yang punya tanda lahir aneh di belakang lehernya ‘kan? Aku sudah lihat.” Wanita itu mengalihkan teleponnya ke telinga kanan. “Tandanya mirip mahkota terbalik. Untung dia berprestasi, sulit meyakinkan Randi untuk memilihnya kalau dia tidak pintar.”
“...”
“Oke, love you too.”
Yelena mematikan teleponnya. Matanya beralih ke jendela kamar Ophelia yang terbuka. Gadis itu terlihat tersenyum dan melambaikan tangan.
Sampai menarik perhatian kekasihnya begini, siapa anak itu sebenarnya?