Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Bau apek ruangan tertutup dan debu tipis langsung menyergap indra penciuman begitu Bian memutar kunci dan mendorong pintu kaca utama toko swalayannya yang gulung tikar. Pendar redup lampu neon darurat dan derum halus dari mesin pendingin serta freezer minuman yang masih menyala menyinari remang-remang ruangan. Hawa dingin dari AC toko menembus kemeja tipis yang dikenakan Bian, memberikan rasa dingin yang bukannya nyaman, melainkan menusuk hingga ke tulang.
Dengan napas parau dan tubuh yang serasa mau remuk, Bian menyeret dua koper besar memasuki area dalam toko, disusul Salma yang berjalan pincang dengan raut wajah masam di belakangnya. Tidak ada sofa empuk, apalagi tempat tidur marmer seperti di paviliun rumah Husna. Yang ada hanyalah deretan rak-rak besi tinggi yang dipenuhi stok barang, meja kasir yang kosong, dan lantai keramik yang dingin kaku.
"Mas... kita beneran mau tidur di sini?!" jerit Salma dengan nada melengking, menatap sekeliling ruangan yang lebih mirip gudang terbengkalai ketimbang tempat tinggal. "Di mana tempat tidurnya, Mas?! Masa kita tidur di lantai semen yang kotor begini?! Cuma ada AC sama freezer doang, kasur busa pun gak ada. Mas, aku ini istri kamu, bukan gelandangan yang biasa tidur di lantai toko."
Bian yang sudah menahan beban malu, lelah, dan rasa emosi sejak siang hari akhirnya meledak. Ia membanting koper di tangannya ke lantai keramik hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan.
"Bisa diam tidak, Salma?!" bentak Bian dengan urat leher menegang merah padam. "Kamu pikir saya mau tidur di lantai seperti ini, hah?, Kamu pikir saya sengaja membawa kamu ke sini?, Jangan cuma bisa menuntut dan menjerit-jerit dari tadi! Kamu lihat sendiri kan, anak-anak saya mengusir kita tanpa menyisakan satu rupiah pun di saku saya."
"Ya tapi tidak begini juga dong, Mas!" Salma tak mau kalah, ia maju melangkah dan menunjuk wajah Bian dengan telunjuknya yang bergetar. "Harusnya kamu itu tegas sama istri dan anak-anak durhaka kamu itu! Kamu itu masih suaminya dan Ayah nya, Mas! Kenapa kamu cuma pasrah waktu disembur sama si Devan dan Husna?! Kamu biarkan mereka mempermalukan kita di depan umum! Kalau tahu nasib aku bakalan sengsara dan kehalangan begini gara-gara ikut kamu, dari awal aku gak sudi nikah sama kamu, Mas."
Kata-kata Salma bagaikan semburan minyak tanah ke dalam kobaran api amarah Bian. Pria setengah baya itu tertawa sumbangmsebuah tawa satir yang penuh kekecewaan mendalam.
"Oho... baru sekarang kamu bilang begitu?" sinis Bian dengan tatapan mata yang amat tajam. "Waktu toko ini masih ramai, waktu saya belikan kamu baju-baju mahal, perhiasan, dan memberikan uang talangan ratusan juta, kamu puji-puji saya setinggi langit! Kamu sebut saya pria paling bijaksana dan bertanggung jawab! Tapi begitu toko ini bangkrut dan semua karyawan resign, kamu langsung mengutuk saya?, Kelihatan sekali kan sekarang motif kamu yang sebenarnya? Kamu itu tidak pernah cinta sama saya, Salma! Kamu cuma mengincar harta saya yang sebenarnya hasil memeras Husna."
"Mas Bian! Jaga mulut kamu ya!" jerit Salma, dadanya naik turun menahan murka.
Salma sebenarnya ingin sekali mengangkat kopernya saat itu juga, melangkah keluar, dan melayangkan surat cerai ke muka Bian. Namun, begitu merogoh tas tangannya dan menyadari isi dompetnya benar-benar kosong melompong bahkan untuk membayar ongkos taksi pun tak cukup keberanian Salma seketika menguap. Uang tabungan seratus lima puluh juta miliknya sudah amblas terpakai untuk menutupi kas toko yang bocor, dan saldo rekeningnya berada di batas minimum. Mau tidak mau, suka tidak suka, Salma terikat dan terpaksa bertahan di tempat terkutuk ini karena ia tidak punya tujuan hidup lain.
Dengan rasa jengkel yang membakar dada dan perut yang melilit lapar, Salma berbalik membelakangi Bian. Tanpa memedulikan suaminya lagi, Salma melangkah kasar menuju lorong rak bagian makanan ringan.
Ia menarik satu kardus besar dari rak ter bawah, lalu membukanya secara paksa. Dengan rakus dan tanpa mencuci tangan, Salma mengoyak kemasan keripik kentang ukuran besar dan mulai mengunyahnya dengan kasar. Tangan satunya menjangkau pintu freezer minuman dingin yang menyala terang, mengambil satu botol minuman bersoda yang masih sangat dingin, lalu meneguknya hingga tandas untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Makan tuh gengsi!" gumam Salma sengit di antara kunyahan keripik kentangnya. "Biarin aja! Toko-toko punya dia ini, lagian makanan di sini juga dibeli pakai uang yang pernah aku setor!"
Salma terus mengambil bungkus demi bungkus camilan mulai dari biskuit cokelat, kacang goreng, hingga wafer kemasan mahal lalu mendudukkan tubuhnya di atas kardus bekas di sudut lorong. Ia makan melahap semuanya dengan emosi, menjadikan tumpukan cemilan dan makanan instan swalayan sebagai tempat pelarian dari rasa frustrasi dan kenyataan pahit bahwa hidup mewahnya telah hancur total.
Sementara itu, di bagian depan toko yang temaram, Bian perlahan merebahkan tubuhnya yang letih di atas lantai keramik tanpa alas apa pun. Dinginnya embusan AC toko perlahan merayap menembus kemeja tipisnya, menusuk hingga ke tulang punggung.
Tepat di hadapan tempatnya terduduk, berjejer rak-rak tinggi dan freezer yang memajang puluhan jenis bahan makanan, roti kaleng, mi instan, serta minuman dingin. Makanan bernilai jutaan rupiah terpampang jelas di depan matanya.
Namun, alih-alih memiliki selera makan seperti Salma, tenggorokan Bian terasa sangat sempit dan tersumbat. Bahkan untuk menelan air liurnya sendiri terasa begitu pahit.
Rasa penyesalan yang luar biasa dahsyat mendadak datang menghantam dada Bian bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh sisa kesombongannya.
Bian menatap bayangan dirinya sendiri di pantulan kaca pintu toko yang gelap. Di sinilah ia sekarang. Di dalam toko swalayan yang dahulu ia bangga-banggakan sebagai simbol kesuksesannya sebagai seorang pengusaha. Toko yang dulunya berdiri atas hasil mengagunkan sertifikat tanah warisan milik Husna istri yang begitu setia, tulus dan sabar mendampinginya dari nol.
Pikiran Bian melayang kembali ke masa lalu. Ia teringat bagaimana Husna selalu menyambutnya di pintu rumah dengan senyuman hangat setiap kali ia pulang bekerja. Ia teringat bagaimana Husna dengan penuh ketelatenan merawat rumah utama, menyiapkan teh hangat kesukaannya, dan selalu mendoakan kesuksesannya tanpa pernah menuntut kemewahan berlebih. Rumah utama yang dulu terasa begitu hangat, megah, dan penuh kedamaian kini telah tertutup rapat untuknya selamanya.
"Rasa bakti Devan dan Deka sudah habis sejak hari pertama Ayah membawa wanita ini masuk dan tinggal di paviliun belakang rumah Ibu..."
Kata-kata Devan tadi siang kembali bergema keras di dalam kepalanya, memantul-mantul menghancurkan batinnya. Bian memegangi kepalanya dengan kedua tangan, memejamkan mata rapat-rapat saat air mata hangat perlahan menetes membasahi pipinya yang keriput.
Ia telah menukar permata yang begitu berharga demi sebongkah batu jalanan yang tak bernilai. Demi mengejar hawa nafsu dan gengsi bersama Salma wanita muda yang kini hanya sibuk mengunyah makanan ringan di lorong belakang tanpa peduli sedikit pun pada keadaannya Bian tega mengkhianati Husna. Ia telah menghancurkan masa depan rumah tangganya, membuang kasih sayang dua putra kembarnya yang cerdas, dan menggadaikan harga dirinya hingga kini terusir seperti gembel di tanah lahirnya sendiri.
"Husna..." bisik Bian dengan suara parau yang amat bergetar di tengah keheningan toko. "Apa yang sudah aku perbuat..."
Di lorong belakang, suara derak kemasan plastik yang dikoyak Salma masih terdengar bersahut-sahutan di selang-seling bunyi pintu freezer yang dibuka tutup. Salma terus makan tanpa henti, membuang bungkus-bungkus kosong ke lantai keramik hingga berserakan.
Sedangkan di bagian depan, Bian hanya bisa terduduk kaku dalam dinginnya tiupan AC toko. Dikelilingi oleh ribuan produk makanan yang tak sanggup mengenyangkan rasa lapar di jiwanya, Bian meratapi nasibnya dalam diam. Penyesalan itu datang terlambat, dan malam pertama di atas lantai dingin swalayan yang bangkrut itu menjadi saksi bisu dari awal kehancuran hidup seorang pria yang terbuang akibat keserakahannya sendiri.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?