Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkuda
Aku melangkah meninggalkan Rooftop.
Cuaca berkabut asap tebal jarak pandang 2 meter.
Kebakaran hutan dimana-mana, makin banyak pasien sesak napas.
Aku bergegas menuju ruangan rawat inap Ayah, udara tersaring dan steril dengan Air Purifier.
Kamarnya masih sejuk.
Ayah baik, baik saja terlihat tenang, dan makan buah bersama Ibu.
“Mayanza, kenapa kesini lagi” kata Ibu.
“Ruanganku sedang dibersihkan”, jawabku tapi aku tidak menceritakan mereka kalau ruanganku baru saja diobrak-abrik tanpa sebab.
“Bagaimana perasaan Ayah, apa sudah lebih baik” tanyaku
“Ayah sudah baik dan sudah merasa sehat, bagaimana kalau pulang saja” kata Ayah duduk di tempat tidur.
“Ayah…bersabarlah sedikit lagi, dokter spesialis paru bilang ayah perlu dipantau apalagi di Rumah kita dikepung api, tempat yang aman disini, dan aku juga akan lebih mudah bolak balik” kataku pada Ayah disambut anggukan Ibu.
“Ibu juga menelepon penjaga kebun, dia bilang aman, sekeliling rumah kaca rutin di cek dan di siram air” Kata Ibu.
“Ya… disini lebih baik,” kataku.
“Aku tinggal sebentar, ada jadwal kunjungan ke pasien ayah dan ibu kalau ada apa-apa pencet bel panggil perawat, mereka juga sudah aku pesankan kalau apa-apa mengabari aku” kataku.
“Iya sayang…” kata Ibu lalu mengelus bahuku.
Aku keluar dari ruangan rawat inap.
Selesai dari kunjungan ingin kembali ke ruang kerjaku, mungkin sudah dirapikan.
“Dokter…” seorang perawat berlari memanggilku di ikuti security dari lantai bawah.
“Kenapa?” tanyaku.
Aku mengikuti mereka berdua turun kearah parkiran mobil,
Ban mobilku kempis, dan lebih parah lagi ban itu ditusuk suatu benda berwarna kuning, aku meminta security membantuku dengan mengambil alat melepas ban mobil, memasang cadangan ban.
“Aku keluar sebentar” kataku.
Berencana mengantar ban mobil ke bengkel.
Dengan jarak pandang yang pendek aku perlahan mengemudi sampai ke bengkel terdekat.
Montir Bengkel mencabut benda yang tertusuk di Ban mobilku.
“Sepertinya ini hiasan rambut”, montir menyerahkan ketanganku, tusuk konde itu bengkok.
**
Aku pergi ke Mall terdekat,
“Ada pakaian cosplay terbaru yang bagus” kataku
“Tokoh apa, kak?” katanya
“Anime saja, aku juga tidak hapal” kataku, sambil mengetuk-ngetuk jari.
Dia menyebut beberapa tokoh wanita yang tidakku ketahui.
Mendampingiku berjalan di lorong.
Aku melihat di dalam lemari kaca, manekin mengenakan Baju berwarna kuning jubah silang, lengan panjang, baju sampai ke paha, dengan pita ikat di pinggang celana panjangnya putih lebar, sepertinya pakaian ini cukup dan cocok buatku.
“Aku mau yang itu” kataku.
Pelayan toko membungkusnya, baju itu seharga 25 juta.
“Senjatanya beli dimana ya?” tanyaku
“Memang akan ada event kak?” tanya pelayan toko.
“Aku dengar begitu” jawabku asal.
“Senjata karakter di lantai tiga toko paling ujung, disitu semuanya barangnya original” katanya memberi informasi.
Setelah membayar aku pergi menuju lantai tiga dengan escalator.
Aku masuk, counter itu penuh dengan senjata-senjata mainan palsu.
Seorang pria bertubuh besar dengan tato anime di tangannya, berikat kepala hitam mendekatiku.
“Kakak mencari apa?” katanya.
“Aku mencari senjata yang cocok dengan pakaian cosplayku” kataku, sambil menggoyangkan paper bag.
Dia menunjukan beberapa senjata mainan yang mirip aslinya
“Aku perlu pedang” kataku.
Penjaga toko tersenyum, mengajakku berjalan ke lorong mainan lebih dalam, banyak sekali senjata mainan disitu tapi juga tajam menyerupai asli.
“Ini ada katana, tachi, wakizashi, tanto, odachi yang terbaru” katanya.
Mataku terfokus pada tachi, pedang memiliki bilah lebih panjang dan lengkungan yang lebih tajam dari katana.
“Aku mau ini” kataku menyentuh tachi yang bergagang hitam.
“Wah, selera nona sangat wah…” katanya mengacungkan dua jempol.
Aku tersenyum.
“Ini Tachi original, terbuat dari baja asli, tidak bisa dibawa cosplay hanya untuk koleksi dirumah” katanya menjelaskan sambil membuka bungkusannya, mengecek kelengkapan barang.
“Kenapa?” kataku
“Berbahaya” jawabnya.
Aku tersenyum,
“Harganya 50 juta” katanya.
“Mahal…” kataku.
“Ini barang original, nona bisa memajangnya di rumah, Barang ini asli” ucapnya.
Aku memgangnya tidak terlalu berat aku masih kuat mengangkatnya, mata pedangnya tajam.
Aku pernah berlatih olah raga kendo sebelumnya di sekolah menengah, mungkin sedikit latihan aku sudah bisa menggunakan dengan baik, pikirku.
“Bagaimana jadi?” tanyanya.
“Jadi” kuserahkan kartu kredit ku.
“Baik, silahkan masukan pin” Pria itu menyodorkan mesin EDC.
Aku langsung mengisi pin,
“Sertifikat, penyangga dan sarung lengkap” katanya menyerahkan tachi padaku.
“Terima Kasih” katanya.
“Kakak seorang dokter, dokter bedah?” tanyanya padaku.
Aku baru sadar Jas ku belum dilepas, atribut lengkap berserta ID karena buru-buru dari Rumah Sakit tadi ternyata dari tadi dia sempat membaca ID ku.
“Hanya cosplay” kataku menyahut.
Pria itu tertawa.
“Terima kasih berbelanja kak, kakak lebih cocok cosplay menjadi dokter” katanya lagi.
Aku membalas senyum ramah.
**
Aku membawa kembali belanjaanku, ke mobil.
Aku menghawatirkan nasib Nuy, Prem dan Melati.
Tusuk konde bunga itu sudah kuserahkan ke Nuy kenapa bisa kembali ke dunia ini.
Pasti Raja Yuko mengancamku, setelah aku mengembalikan gelang.
Yang jelas aku juga tidak mau mereka seenaknya lagi padaku.
Aku kembali ke ruangan, sudah rapi seperti semula.
Aku tidak mempermasalahkan lagi dengan apa yang terjadi.
Kembali berkerja seperti biasa.
**
Pagi ini, jadwal berkerja di sesuaikan karena darurat bencana, kami mendapat jam kerja bergantian, khusus operasi 2 hari dan 1 hari pelayanan umum.
Dalam seminggu 3 hari berkerja sesuai dengan jadwal.
Aku tidak bilang ke Ibu dan Ayah masalah jadwal yang penting Ayah aman tidak kurang satu apapun.
Aku meminta Ibu dan Ayah mengungsi ke kediaman Paman Andrew di kota Lembah Emas.
Karena cuaca di Kota Lunar sangatlah buruk, kabut asap kebakaran hutan tidak pernah hujan sebulan ini.
Ibu dan Ayah menyetujuinya.
**
Handponeku berdering.
“Mayanza, kamu dimana?” tanya Ibu.
“Masih di kantor” jawabku
“Ibu dan Ayah sudah sampai di tempat Paman Andrew” kata Ibu.
“Oh, syukurlah, sampaikan salamku untuk Paman sekeluarga” jawabku.
“Baik…” kata Ibu menutup telepon dari seberang.
**
Aku keluar dari ruang kerjaku, meninggalkan kunci dengan perawat lalu berangkat meninggalkan Rumah Sakit menuju ke perternakan kuda.
“Mayanza, lama tidak bertemu” kata Pelatih berkudaku sekaligus pemilik perternakan Kuda menyambut kedatanganku.
“Benar sekali Paman, sepuluhan tahun kalau tidak salah” kataku menjabat tangannya.
“Sesuai SMSmu tadi ada satu kuda yang sudah aku siapkan” kata Pelatih.
Mengajakku langsung berjalan ke kandang kuda.
Dia mengeluarkan seekor kuda dari kandangnya.
“Thoroughbred…namanya Gen” katanya mengelus kuda jenis Thoroughbred, kuda pacu juara untuk jarak jauh. Kecepatannya bisa mencapai 70 sampai 76 km/jam.
Tubuh nya ramping berwarna hitam.
Aku tidak perlu memilih lagi, sudah mempercayakan pilihan pada ahlinya.
Aku menyerahkan cek seharga 2 Miliar.
Menguras isi tabungan hadiah berkudaku, dan uang bonusku bertahun-tahun.
Kuelus kuda itu sehat, sudah diberi makan dan vitamin.
“Kapan diantar?” tanya pelatih.
“Kalau bisa hari ini, sore aku mau berlatih di rumah kakek” kataku.
"Tapi sekarang berkabut" katanya sambil tertawa.
“Baiklah segera diantar” katanya lagi.
“Apa orang tuamu baik-baik saja?” tanya Pelatih.
“Ya, mereka baik-baik saja, hari ini mereka mengungsi karena kabut ke Kota Lembah Emas” kataku.
“Oh… syukurlah kalau begitu, sampaikan salamku” katanya.
“Baik” jawabku.
**
Kediaman kakek...
Kuda sudah di kandang, aku mengenakan pakaian yang kubeli khusus.
Hari masih belum terlalu gelap, aku membawa pedangku di pinggang mengikat sarungnya dengan kuat, naik ke pelana kuda.
pada saku tanganku kuselipkan pisau bedah.
Rambutku ku sanggul dengan konde berjuntai terbuat dari titanium yang kubeli satu set kostum.
Bibi Sarah mengintip dari jendela.
Kuelus rambut kudaku, “Kita berangkat…”
Menembus kabut asap pagi...
Portal terbuka.
Cahaya keemasan masuk ke dunia lain, Negeri Zink.
Berkuda...
Bersambung...