Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koki Kedai Sederhana

"Vino! Itu adonan pastelnya jangan diaduk kekencangan, nanti kulitnya keras!"

Suara Bu Lidya menggema dari sudut dapur yang mengepulkan uap panas. Uap gurih dari rebusan bihun dan gorengan kue subuh memenuhi ruangan berukuran tiga kali empat meter itu.

Vino menghentikan tangannya, lalu menoleh seraya memamerkan cengiran lebarnya. "Tenang, Bu. Ini jemari koki profesional. Di tangan Vino, adonan keras pun bisa melunak, apalagi cuma kulit pastel."

Bu Lidya menyapu keringat di dahinya dengan kain lap di bahu, menatap putra tunggalnya itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Halah, gayamu. Kemarin pas perpisahan SMA gaya betul pakai jas mahal. Sudah dikembalikan belum itu jasnya?"

"Ini mau dikembalikan sekalian jalan shift pagi ke kedai, Bu," sahut Vino seraya mengusap tangannya dengan serbet bersih. Ia berjalan mendekati ibunya, lalu dengan sigap mengambil alih wajan besar berisi kue balok yang siap diangkat. "Ibu duduk aja dulu, biar Vino yang tiriskan. Nanti pegal-pegalnya kumat lagi."

Bu Lidya tersenyum tipis, menatap punggung putra semata wayangnya yang kini mulai membidang. "Vin... kamu beneran nggak menyesal nggak ikut daftar kuliah kayak temen-temenmu? Kayak Yunita?"

Vino menghentikan serok gorengannya sejenak, lalu menoleh dengan mata berbinar santai. "Ngapain menyesal, Bu? Kerja di kedai Bang Jaka itu gajinya lumayan. Vino bisa nabung, bisa bantu Ibu beli bahan kue, sekalian belajar resep. Nanti kalau tabungan Vino sudah cukup, Vino buka kedai sendiri. Ibu tinggal duduk manis jadi komisaris utama."

"Kamu itu ya, kalau ngomong selalu kelewatan tingginya," ujar Bu Lidya terkekeh pelan, walau matanya berkaca-kaca menahan haru. "Yang penting kamu kerja yang jujur, Vin. Sopan sama orang tua. Jangan pernah kecil hati walau kita cuma orang sederhana."

"Siap, Kanjeng Ibu! Perintah dilaksanakan," seru Vino sambil memperagakan sikap hormat konyol, sukses memancing tawa renyah dari Bu Lidya.

Suasana Kedai Makanan Bang Jaka jam sembilan pagi itu mulai riuh. Aroma bumbu tumis dan kaldu sapi merebak di udara. Vino berdiri di balik konter dapur yang terbuka, tangannya lincah menari-nari memainkan sodet dan wajan besi.

"Vin! Nasi goreng gila pedas manis meja empat satu!" teriak Bang Jaka dari meja kasir.

"Siap, Bos! Meluncur dalam dua menit!" balas Vino nyaring. Tangannya bergerak cepat melemparkan potongan daging ayam, sayuran, dan racikan bumbu rahasia buatannya sendiri ke dalam wajan yang membara.

"Waduh, wangi banget ini masakan si Vino," puji Pak RT yang sedang menunggu pesanan bungkusnya di depan meja bar. "Kamu ini masih muda tapi jago banget masak, Vin. Kenapa nggak buka warung sendiri?"

Vino menyajikan nasi goreng yang masih mengepul itu ke piring dengan estetika yang rapi, lalu menyerahkannya pada pelayan kedai. Ia kemudian menoleh pada Pak RT seraya mengedipkan sebelah matanya. "Proses, Pak RT. Bintang lima berawal dari kaki lima. Nanti kalau saya buka restoran, Pak RT saya kasih diskon lima persen tapi bayarnya harus pakai doa."

"Bisa aja kamu, Vin!" tawa Pak RT pecah.

Di sela-sela kesibukannya mengolah makanan pesanan pelanggan, Vino merogoh kotak bekal stainless steel yang sudah disiapkannya dari rumah. Dengan sangat hati-hati dan higienis, ia menata porsi khusus tumis ayam wijen dan sup iga bening hangat andalannya ke dalam wadah tersebut.

Bang Jaka yang melintas di belakangnya mendadak menghentikan langkah. Ia memicingkan mata melihat kerapian bekal yang dibuat Vino.

"Wah, wah... buat siapa itu, Vin? Tumben amat penataannya rapi banget pakai hiasan daun peterseli segala? Buat Yunita?" goda Bang Jaka sambil menyenggol bahu Vino.

Vino tertawa pelan seraya menutup bekal itu rapat-rapi. "Bukan buat Yunita, Bang."

"Lha terus? Ada cewek baru lagi? Anak mana?" tanya Bang Jaka penasaran.

"Ada deh. Yang jelas ini buat calon masa depan, Bang," sahut Vino santai sambil memasukkan wadah bekal itu ke dalam tas kain yang bersih. "Orangnya agak dingin kayak es batu di freezer kedai kita. Makanya mau tak lumerkan pakai sup iga hangat ini."

Bang Jaka menepuk jidatnya sendiri. "Gayamu, Vin, Vin! Cewek mana yang mau sama koki kedai kayak kamu kalau godanya pakai sup iga?"

"Eits, jangan remehkan kekuatan masakan tulus, Bang Jaka," balas Vino percaya diri. "Wanita sekeras apa pun kalau dikasih makanan enak pas lapar, pasti luluh juga."

Tepat pukul sebelas siang, Vino sudah berdiri di pelataran kaki lima jalan utama Surabaya. Di tangannya, ia memegang sarung pelindung jas sewaan yang terlipat rapi dan tas kain berisi bekal makanan yang masih terasa hangat di telapak tangannya.

Vino melangkah mendekati pintu kaca Hani’s Atelier. Namun, langkahnya mendadak terhenti beberapa meter sebelum mencapai gagang pintu.

Melalui kaca transparan yang jernih, Vino melihat Evita sedang berdiri di dekat meja kasir. Namun kali ini, Evita tidak sendirian. Di hadapannya berdiri seorang pria dewasa bertubuh tinggi dengan setelan kemeja formal yang sangat rapi, jam tangan mewah yang memantulkan kilap lampu, dan kunci mobil berlogo merk Eropa tergeletak di atas meja.

Pria itu adalah Hendra, dirinya sedang berbicara dengan gaya penuh percaya diri, sesekali mengumbar senyum yang tampak tertata pada Evita. Sementara Evita berdiri dengan menyilangkan tangan di dada, mendengarkan dengan raut wajah datar yang terbiasa membentengi diri.

Vino terdiam sejenak di tepi trotoar. Ia menunduk menatap celana jeans sederhananya dan sepatu kets yang sedikit aus di ujungnya, lalu beralih menatap kantong bekal kain di tangannya. Perbedaan kelas sosial itu terpampang sangat nyata di depan matanya.

"Pria mapan ya..." gumam Vino pelan pada dirinya sendiri.

Namun, alih-alih melangkah mundur atau berbalik pulang, Vino justru menarik napas panjang. Ia membetulkan posisi tas kainnya, memasang senyum hangat terbaik yang dimilikinya, lalu mendorong pintu kaca butik itu hingga bel di atas pintu berdenting nyaring.

Kring!

"Selamat siang, Mbak Vita," sapa Vino dengan suara lantang dan ceria, meruntuhkan keheningan di dalam butik berpendingin udara itu.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!