Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 BEBAN ADAM
Sepeninggal Pak Diki dan Amira, suasana di dalam rumah mendadak berubah hangat. Seolah-olah keberadaan Pak Diki dan Amira selama ini sama sekali tidak berarti. Padahal, rumah yang mereka tempati adalah milik Pak Diki, dan Amira-lah yang selama dua tahun ini diam-diam menombok seluruh kekurangan biaya dapur mereka.
Semua pengorbanan itu seolah lenyap, tergantikan oleh sosok baru yang menjadi pahlawan dan harapan baru keluarga: Alya.
Alya mendadak jadi pusat perhatian. Mirna, Lusi, dan Ridwan mengelilinginya dengan puji-pujian setinggi langit.
"Kamu hebat sekali ya, Alya... Bisa sekolah sampai ke Jepang. Pasti biayanya mahal sekali, ya?" tanya Lusi penasaran.
"Aku dapat beasiswa, Mbak," jawab Alya.
"Wah, hebat! Berarti kamu ini pintar sekali!" puji Lusi lagi.
"Iya, Mbak. Terima kasih," jawab Alya canggung. Sejujurnya, Alya ingin segera pergi dari tempat itu. Atmosfer keluarga Adam terasa sangat menuntut baginya.
Ridwan menepuk bahu Adam seraya tersenyum lebar. "Dam, gaji kamu kan nanti besar, jangan disia-siakan. Mas-mu ini gajinya tidak seberapa, tapi anak bisa sekolah di sekolah internasional dan punya mobil... Semua itu karena pengaturan Mbak iparmu. Dia ini pandai bisnis, Dam. Jadi bagaimana... Bulan depan kamu investasi 40 juta saja di tempat Mas?"
Dengan rasa percaya diri yang melambung tinggi di depan istri barunya, Adam menjawab mantap, "Bisa, Mas. Bulan depan aku investasi. Kalau sekarang aku belum gajian."
"Oke! Kalau begitu Mas tunggu, ya!" sahut Ridwan kegirangan.
"Benar, Dam... Mbak tunggu, loh! Tenang saja, uang kamu tidak akan sia-sia di tangan Mbak," timpal Lusi membakar semangat Adam.
"Saya dan Alya pasti setuju, Mbak," ucap Adam santai.
Di dalam hati, Alya bersungut-sungut kesal. 'Mending uangnya aku pakai beli tanah di kampung daripada investasi tidak jelas dengan orang-orang ini!' Namun di permukaan, Alya tetap menyunggingkan senyum manis. Bagaimanapun, saat ini ia masih membutuhkan Adam dan koneksi keluarganya.
"Iya, Mas Ridwan, nanti kita bicarakan lagi bulan depan," sahut Alya berpura-pura manis.
"Ya sudah, sudah malam. Kami pulang dulu, ya!" Ridwan dan Lusi pamit dengan raut wajah puas, membayangkan uang 40 juta yang akan masuk ke kantong mereka bulan depan.
Begitu Ridwan dan Lusi menghilang di balik pintu, Mila melangkah mendekati Adam dengan wajah panik yang dibuat-buat.
"Dam," panggil Mila.
"Ada apa, Mbak?"
"Mbak butuh uang 40 juta sekarang," tembak Mila tanpa basa-basi.
Adam tersentak kaget. "40 juta?! Buat apa, Mbak?"
"Mbak punya cicilan ke bank, sudah empat bulan tidak dibayar!"
"Ih, Mbak yang utang, kenapa jadi aku yang harus bayar?!" protes Adam tidak terima.
Wajah Mila seketika berubah judes. "Oh! Kamu sombong ya sekarang?! Mentang-mentang sudah kaya dan sekolah di luar negeri, tidak mau menolong saudara sendiri! Andai dulu aku yang kuliah, aku tidak akan hidup menderita seperti ini, Dam!"
"Sudahlah, Mbak! Jangan bahas itu lagi!" potong Adam muak. "Dulu kita tes barengan, aku yang lolos dan Mbak tidak! Jadi jangan sok jadi korban! Kalau Mbak yang lolos juga Bapak pasti biayain!"
"Oh, jadi kamu benar-benar tidak mau bantu bayarkan cicilan Mbak?!" tantang Mila.
"Bantu sih bantu, tapi ya masa langsung 40 juta?! Yang benar saja! Lagian aku tidak tahu uang sebanyak itu Mbak pakai buat apa!"
Mila berbalik menghadap ibunya. "Bu! Dengarkan Adam! Dia tidak mau bayarkan cicilanku! Aku sudah tidak sanggup, Bu!"
"Kenapa jadi mendesak aku, Mbak?!" kesal Adam.
Mirna menghela napas berat, menatap Adam dengan raut lesu. "Dam... Mila itu pinjam uang ke bank buat buka toko sembako... Dan dia pakai sertifikat rumah ini sebagai jaminannya."
DEG!
"Apa?!" Adam membelalakkan mata. "Rumah ini?! Kenapa bisa?! Kan Mas Doni juga kerja, kenapa harus pinjam ke bank pakai sertifikat rumah Bapak?!"
"Gaji Mas Doni berapa sih, Dam?!" sergah Mila membela diri. "Ekonominya juga lagi sulit! Aku cuma ingin bantu suami! Tapi ternyata usaha itu tidak semudah yang aku bayangkan... Uangnya habis, barangnya habis! Aku dan Mas Doni sudah pusing cari uang!"
"Ya itu urusan Mbak dan Mas Doni! Kenapa aku yang harus ikut campur?!" cerceca Adam penuh amarah.
"Dam... Lusa petugas bank akan datang untuk menagih. Kalau tidak ada uang 8 juta untuk cicilan penunggak, rumah ini akan disita," bisik Mirna pasrah.
"Gila!" Adam menjambak rambutnya sendiri, frustrasi setengah mati. "Mbak harus tanggung jawab dong!"
"Dam, kalau aku sekolah tinggi seperti kamu, aku tidak akan kayak gini!" balas Mila egois.
"Dam... Tolong bayarkan dulu yang 8 juta, Dam..." pinta Mirna memohon.
Adam menghela napas panjang. Ia tidak boleh membiarkan rumah tempatnya dibesarkan disita bank. "Baiklah. Mana nomor rekening petugas banknya?"
"Transfer ke rekeningku saja," potong Mila cepat.
"Tidak!" tegas Adam. "Mana nomor rekening banknya?!"
Mila terdiam dan enggan memberikan. Sejujurnya, Mila tidak berniat menyetorkan uang itu ke bank. Ia yakin lusa ibunya masih punya simpanan rahasia yang bisa dipakai jika situasi makin terdesak.
"Mana, Mbak?!" bentak Adam kesal.
"Ini... Ini nomor petugas banknya," Mirna menyodorkan ponselnya.
Adam segera menghubungi petugas bank tersebut. Setelah bernegosiasi sengit, disepakati bahwa untuk bulan ini Adam akan menalangi 8 juta, dan bulan depan cicilan akan dibagi dua antara Adam dan Mila.
Mila hanya diam bergeming. Ia sebenarnya tidak peduli jika rumah ibunya disita. Toh, jika disita, ia bisa tinggal di rumah Doni, sementara ibunya bisa ikut tinggal di tempat Adam. Setelah tahu Adam memberi uang tunai 15 juta pada Alya, Mila sudah tidak sudi membantu lagi.
Setelah transfer berhasil dan rumah aman untuk sementara, Mila pamit pulang. Ia sempat meminta oleh-oleh barang merek Jepang dari Adam, tetapi Adam mengabaikannya. Mila pun pergi dengan wajah bersungut-sungut.
Sejak Adam tiba di rumah, tak ada satu orang pun yang menyajikan segelas air minum untuknya.
"Mas Adam..." panggil Sonia pelan.
"Ada apa lagi, Nia?" sahut Adam lesu seraya memijat pelipisnya.
"Besok uang kuliahku harus dibayar, Mas. 3 juta rupiah."
"Mana nomor rekening kampusmu?" tanya Adam.
"Transfer ke aku saja, Mas."
"Tidak bisa!" potong Adam cepat. Ia mendadak teringat ucapan Amira dulu. "Amira pernah bilang, kamu pernah dititipi uang kuliah tapi malah tidak dibayarkan! Padahal tiap bulan Amira selalu minta kuitansi resmi dari kampus!"
Wajah Sonia seketika pucat. "A-aku tidak pegang nomor rekening kampusnya, Mas..."
"Oh, aku punya ini," sela Alya santai sambil memainkan ponselnya. "Minta saja rincian tagihannya, nanti di situ ada nomor virtual account-nya."
Sonia makin terdesak. Sebenarnya, jatuh tempo pembayaran kuliahnya masih lama. Uang 3 juta itu hanya ingin ia pakai untuk bersenang-senang dan membeli baju baru. "Y-ya sudah... Besok saja aku hubungi pihak kampus, Mas."
"Ya, Kakak tunggu," jawab Adam dingin.
"Tapi Mas... Besok cicilan mobil juga jatuh tempo..." tambah Sonia pelan.
"Soniaaaa!" Adam menjambak rambutnya sendiri, meraung frustrasi. Pusing di kepalanya kini merambat hingga ke dada.