Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Perlu Kamu
Langkah kaki Auren berderap cepat menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh siswa yang menikmati jam istirahat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu per satu, membasahi pipinya yang terasa panas. Kalimat sindiran Balisya terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Rasa minder dan bersalah karena melupakan hari ulang tahun Evan membuat dadanya terasa begitu sesak.
Auren terus berjalan menunduk, tidak memedulikan tatapan heran dari beberapa siswa yang berpapasan dengannya. Ia hanya ingin pergi ke tempat paling sepi di sekolah ini untuk menenangkan diri.
Namun, baru saja ia berbelok di koridor belakang dekat laboratorium yang sepi, pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal oleh sebuah tangan yang besar dan hangat.
"Aurenku, tunggu."
Langkah Auren terhenti seketika. Sentuhan familier itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia membalikkan badan dan mendapati Evan sudah berdiri di depannya dengan napas yang sedikit memburu, seolah-olah habis berlari mengejarnya dari kelas. Wajah sang ketua kelas masih tampak pucat, namun sorot matanya memancarkan rasa khawatir yang teramat besar.
Auren refleks memalingkan wajah, mencoba menghapus air matanya dengan tangan yang bebas. "Evan... kenapa mengejarku? Kembali saja ke kelas, Balisya dan anak-anak yang lain sedang menunggumu untuk potong kue."
Evan tidak melepaskan genggamannya. Sebaliknya, ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Auren bisa merasakan kehangatan tubuh cowok itu di tengah dinginnya angin koridor.
"Aku tidak peduli dengan kue itu, Aurenku. Aku juga tidak peduli dengan Balisya," ujar Evan dengan nada suara yang rendah namun sangat tegas, penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Tapi aku egois, Evan!" potong Auren akhirnya, menatap Evan dengan mata yang berkaca-kaca. Suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah lagi. "Aku... aku melupakan hari ulang tahunmu. Kemarin kamu sudah berkorban sampai bahumu basah kuyup demi melindungiku di halte, tapi hari ini aku bahkan tidak menyiapkan kado apa pun untukmu. Aku tidak berguna..."
Mendengar keluh kesah itu, perlahan-lahan kepanikan di wajah Evan memudar, digantikan oleh sebuah senyuman tipis yang sangat lembut—senyuman khusus yang hanya akan pernah ia perlihatkan pada gadis di depannya ini.
Evan melepas cekalannya di pergelangan tangan Auren, lalu beralih menyentuh kedua bahu Auren, menatap lurus ke dalam manik mata sekretarisnya itu.
"Dengar aku, Aurenku," bisik Evan lembut, suaranya yang agak serak terdengar begitu menenangkan di telinga Auren. "Aku tidak butuh kue mewah dari toko terkenal. Aku juga tidak butuh kado mahal yang dibungkus pita."
Evan menjeda kalimatnya, mengusap setitik sisa air mata di pipi Auren dengan ibu jarinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Auren adalah barang pecah belah yang paling berharga.
"Di hari ulang tahunku ini, aku hanya butuh kamu ada di sampingku. Kehadiranmu, senyumanmu, dan fakta bahwa kamu tetap menjadi Juara 2 yang menemaniku sebagai Juara 1... itu sudah lebih dari cukup. Kamu adalah kado terbaikku, Aurenku."
Deg.
Jantung Auren serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan yang begitu blak-blakan dari Evan. Rasa minder yang sempat menguasai hatinya mendadak menguap tanpa bekas, tergantikan oleh rasa hangat yang luar biasa hebat hingga membuat pipinya merona merah sempurna.
Auren menggigit bibir bawahnya, menatap Evan dengan perasaan campur aduk antara haru dan malu. "Selamat ulang tahun, Evanku... Maaf ya, aku baru bisa mengucapkannya sekarang."
Evan terkekeh pelan, sebuah pemandangan langka yang dipastikan tidak akan pernah dilihat oleh murid kelas 7-B lainnya. Ia mengacak rambut depan Auren dengan gemas. "Ucapanmu adalah yang paling aku tunggu sejak pagi tadi. Sekarang, ayo kembali ke kelas. Aku mau kamu yang memotong kue itu untukku."