Indonesia
NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

BAB 23: Kode Sandi Orang Mati

[Sudut Pandang: KIAN]

Kian berdiri di depan cermin toilet istana, mengancingkan kemeja berkerah tinggi. Kain sutra itu terasa kasar menggesek luka baret di lehernya—oleh-oleh dari pelariannya menembus semak mawar semalam.

"Kau terlihat seperti habis dicekik kucing gila," komentar Sura yang sedang menyamarkan luka gores di pipinya dengan bedak tebal.

"Aku akan bilang ini kecelakaan saat latihan anggar," jawab Kian datar. Dia menatap pantulan matanya sendiri. Mata yang kata ayahnya 'mirip Althea'. Mata seorang mata-mata.

Pagi ini, mereka dipanggil mendadak ke kantor pribadi Lord Cassian. Bukan di Taman Koi, tapi di Ruang Peta—pusat saraf intelijen Ostand.

Saat mereka masuk, Cassian sedang berdiri membelakangi mereka, menatap peta ibukota yang ditandai dengan pin-pin merah.

"Kalian terlambat dua menit," kata Cassian tanpa berbalik. "Dan kalian terlihat berantakan. Apakah malam kalian... liar?"

Kian menahan napas. Cassian punya mata elang. Apakah dia tahu tentang penyusupan ke rumah Duke Arselio?

"Kami merayakan kesuksesan dengan Duta Besar Timur, Yang Mulia," jawab Sura cepat. "Sedikit terlalu banyak sake, dan... yah, tangga asrama cukup licin."

Cassian berbalik. Dia menatap leher Kian yang tertutup kerah, lalu pipi Sura yang tertutup bedak. Senyum tipis muncul di wajahnya. Dia tidak percaya, tapi dia tidak peduli.

"Masa muda," gumam Cassian. "Nikmatilah selagi tulang kalian masih bisa menyambung sendiri."

Cassian berjalan ke mejanya, mengambil selembar kertas lusuh.

"Saya punya tugas khusus untuk kalian. Tugas yang membutuhkan... diskresi."

Dia menyerahkan kertas itu pada Kian.

Di atas kertas itu, tergambar serangkaian simbol aneh: Burung Gagak, Tiga Garis Bergelombang, dan Matahari Terbit.

"Penjaga malam menemukan simbol ini dilukis di tembok lorong kumuh Distrik 9 pagi ini," jelas Cassian. "Ini adalah kode sandi kuno. Kode yang digunakan oleh jaringan mata-mata Selatan yang seharusnya sudah musnah dua puluh tahun lalu."

Jantung Kian berhenti berdetak.

Selatan. Jaringan ibunya.

"Simbol ini artinya: 'Ratu telah tiada, tapi Pangeran telah kembali. Berkumpullah di Sarang Lama.'" Cassian menerjemahkan dengan dingin.

Cassian menatap Kian tajam.

"Seseorang sedang mencoba membangkitkan hantu masa lalu, Kian. Seseorang yang mengaku sebagai 'Pangeran'. Saya ingin kalian pergi ke Distrik 9. Temukan titik pertemuan mereka."

Cassian meletakkan sebuah belati kecil di atas meja.

"Dan ketika kalian menemukan sisa-sisa tikus Selatan ini... bersihkan mereka. Jangan sisakan satu pun. Saya tidak mau ada pemberontakan di halaman belakang saya."

Kian menatap kertas itu. Simbol Gagak itu... dia pernah melihatnya. Di liontin kalung ibunya yang disembunyikan di bawah bantal saat dia masih kecil.

Cassian baru saja memerintahkan Kian untuk membantai anak buah ibunya sendiri.

"Siap, Yang Mulia," jawab Kian. Suaranya datar, tanpa emosi. "Kami akan mengurusnya."

"Bagus. Pergilah. Bawa kepala mereka sebelum makan malam."

[Sudut Pandang: SURA]

Distrik 9 adalah lubang neraka.

Gang-gang sempit yang becek, jemuran pakaian yang menghalangi matahari, dan bau limbah yang menyengat. Ini adalah tempat di mana Sura tumbuh besar, tapi hari ini tempat ini terasa asing dan berbahaya.

Mereka berjalan menyusuri gang, mengikuti petunjuk simbol yang tersembunyi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sura pelan.

"Diam," jawab Kian kasar. Dia terus berjalan, matanya memindai setiap sudut. "Simbol 'Matahari Terbit' di atas 'Garis Bergelombang'... itu artinya 'Di atas Toko Jam Air'."

Mereka berhenti di depan sebuah toko tua yang reyot. Papan namanya, Toko Reparasi Waktu, sudah miring dan berkarat.

Kian mendorong pintu. Kring.

Di dalam, ruangan itu penuh dengan jam dinding antik yang berdetak tidak beraturan. Tik-tok-tik-tok. Suaranya memusingkan.

Di balik meja kasir, duduk seorang pria tua bongkok dengan satu mata kaca. Dia sedang mengikir roda gigi jam.

"Kami tutup," kata pria tua itu serak. "Waktu sudah habis."

Kian melangkah maju. Dia tidak mencabut senjata. Dia hanya melepas sarung tangannya, memperlihatkan cincin meterai keluarga Arselio, lalu membaliknya.

Di bagian dalam cincin itu, terukir inisial kecil: A.V. (Althea Vane).

Kian meletakkan cincin itu di meja.

"Ratu telah tiada," kata Kian, menggunakan kode yang disebut Cassian tadi. "Tapi darahnya masih mengalir."

Pria tua itu berhenti mengikir. Mata aslinya menatap Kian. Dia menatap bentuk wajah Kian, hidungnya, dan terutama matanya.

Pria tua itu gemetar. Dia menjatuhkan kikirnya.

"Nyonya Althea..." bisik pria tua itu. "Kau... kau anak kecil yang dulu sering dia nyanyikan?"

"Namaku Kian," kata Kian. "Dan Cassian mengirimku untuk membunuhmu."

Suasana menegang. Sura meraba pisaunya, siap jika ada penyergapan.

Tapi pria tua itu malah tertawa. Tawa kering yang sedih.

"Tentu saja. Si Ular Tua itu tidak pernah tidur."

Pria tua itu berdiri, berjalan tertatih ke arah Kian. Dia memegang wajah Kian dengan tangannya yang berlumuran oli.

"Namaku Orion. Aku adalah Letnan Kedua ibumu. Kami sudah menunggu, Nak. Selama dua puluh tahun, kami bersembunyi di balik jam-jam rusak ini, menunggu tanda bahwa putra Althea sudah siap."

"Siap untuk apa?" tanya Sura waspada.

"Siap untuk membuka Arsip Hitam," jawab Orion.

Orion menekan sebuah tombol rahasia di balik jam lemari besar. Dinding bergeser, memperlihatkan ruangan rahasia yang penuh dengan tabung-tabung dokumen berdebu.

"Ibumu tidak hanya menjual rahasia Selatan, Nak," jelas Orion. "Dia juga mengumpulkan rahasia Ostand. Selama dia menjadi 'tamu' Duke Arselio, dia mencatat semuanya. Korupsi menteri, skandal raja, jalur penyelundupan... semuanya ada di sini."

Orion mengambil satu tabung hitam.

"Ini adalah asuransi kami. Kami tidak pernah membukanya karena kami butuh pemimpin. Seseorang yang tahu cara menggunakan senjata ini tanpa melukai diri sendiri."

Orion menyerahkan tabung itu pada Kian.

"Ini milikmu, Tuan Muda. Sekarang... lakukan tugasmu."

Kian bingung. "Apa?"

"Cassian ingin kami mati, kan?" Orion tersenyum, memperlihatkan gigi ompongnya. "Jika kau pulang dengan tangan kosong, dia akan curiga. Dia akan membunuhmu juga. Karirmu tamat. Dendam ibumu gagal."

Orion merentangkan tangannya.

"Bunuh aku. Bawa kepalaku ke Cassian. Jadikan kematianku sebagai tangga bagimu untuk naik ke posisi di mana kau bisa menikam Cassian dari jarak dekat."

Kian mundur selangkah. "Tidak. Aku tidak akan membunuh sekutu ibuku."

"Ini bukan pembunuhan!" bentak Orion. "Ini pengorbanan! Kami adalah hantu, Kian! Hantu tidak punya masa depan! Tapi kau punya!"

Orion mengambil sebuah pisau dari meja, menyodorkannya ke tangan Kian.

"Lakukan! Agar kematian Althea tidak sia-sia!"

Tangan Kian gemetar memegang pisau itu. Air mata menggenang di matanya. Ini adalah ujian moral yang mustahil. Membunuh orang setia demi mendapatkan kepercayaan musuh.

"Tunggu," Sura menahan tangan Kian.

"Ada jalan lain," kata Sura cepat. Otaknya berputar mencari The Con. "Orion, kau punya mayat?"

Orion berkedip. "Apa?"

"Di Distrik ini, orang mati setiap hari," kata Sura. "Cari mayat baru. Pria tua seukuranmu. Kita akan bakar toko ini."

Sura menatap Kian.

"Kita tidak akan membunuh Orion. Kita akan membunuh identitas Orion. Toko ini akan meledak karena 'perlawanan sengit'. Mayat hangus akan ditemukan. Cassian akan puas melihat abu dan tulang."

"Dan Orion?" tanya Kian.

"Orion akan menghilang," Sura menoleh ke Orion. "Kau akan pindah ke markas kami. The Sanctum. Kami butuh penjaga arsip."

Orion menatap Sura, lalu menatap Kian. Perlahan, dia menurunkan tangannya.

"Gadis ini cerdas," gumam Orion. "Mirip Althea muda."

"Kita butuh mayat," kata Kian tegas, menyeka matanya. "Dan kita butuh banyak bubuk mesiu."

Satu jam kemudian.

DUARRRR!

Ledakan dahsyat mengguncang Distrik 9. Toko Reparasi Waktu hancur berkeping-keping dilalap api.

Di kejauhan, di dalam kereta kuda tertutup, Kian dan Sura melihat api itu membubung tinggi. Di kursi belakang, tertutup selimut kumal, Orion duduk memeluk tabung Arsip Hitam.

Mereka telah memalsukan kematian jaringan itu. Mereka mengambil mayat seorang gelandangan tak dikenal yang baru meninggal karena sakit (Sura 'membelinya' dari pengurus jenazah korup), memakaikannya baju Orion, dan meletakkannya di pusat ledakan.

Kian menatap api itu. Dia merasa sebagian dari dirinya ikut terbakar di sana. Kian yang naif sudah mati.

"Kita akan melapor ke Cassian," kata Kian dingin. "Kita akan bilang para pemberontak memilih bunuh diri daripada tertangkap."

"Dan Arsip Hitam itu?" tanya Sura.

Kian menepuk tabung di pangkuan Orion.

"Ini bukan lagi sekadar peluru, Sura. Ini adalah meriam."

Kian menatap Sura.

"Mulai besok, kita tidak hanya bertahan. Kita akan mulai berburu. Kita akan mencari satu per satu nama di daftar ini, dan kita akan membuat Cassian melihat kerajaannya runtuh, batu demi batu."

Kereta kuda itu melaju menjauh dari api, membawa tiga generasi mata-mata menuju bayangan istana.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!