Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

‎Lift turun hening ke lantai parkir bawah tanah. Hanya suara langkah sepatu mereka yang bergema di dinding beton. Anindya berjalan selangkah di belakang, tas di pelukannya terasa berat tak beralasan.

‎‎Reynand menekan tombol kunci. Lampu sedan hitam mewah itu berkedip pelan. Ia membukakan pintu penumpang depan tanpa banyak bicara.

‎‎"Masuk."

‎‎Anindya duduk, menyandarkan punggung perlahan ke kursi kulit yang lembut dan sejuk. Pintu tertutup rapat di sampingnya, memisahkan mereka dari dunia luar. Kabin mobil itu hening, beraroma wangi kayu samar dan kesegaran udara yang menenangkan.

‎‎Reynand masuk ke sisi kemudi, menyalakan mesin. Suaranya halus, hampir tak terdengar. Mobil meluncur perlahan keluar dari area gedung.

‎‎Jalanan sore itu padat. Lampu merah di persimpangan membuat mereka berhenti di deretan kendaraan. Di luar, cahaya matahari senja memancar miring, menembus kaca mobil dan menyinari separuh wajah Reynand yang kini terlihat jauh lebih tenang dari biasanya.

‎‎"Rumah sakit tempat ibumu dirawat... biayanya sudah lunas sampai kapan?"

‎‎Pertanyaan itu tiba-tiba memecah keheningan, namun nada bicaranya lembut, tidak menuntut jawaban.

‎‎Anindya sedikit terkejut. "Ehm... tadi pagi saya sudah bayar untuk tiga hari, Pak. Kalau mau lanjut rawat inap harus ada tambahan lagi. Tapi... saya sedang cari caranya.

‎‎Reynand menatap lurus ke depan, jari-jemarinya mengetuk pelan setir, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu.

‎‎"Berapa kekurangannya?"

‎‎Anindya tersentak. "P-Pak? Tidak usah, saya bisa cari sendiri—"

‎‎"Jangan gengsi soal ini, Anindya. Ini soal kesehatan orang tuamu." Ia menoleh sekilas, tatapannya lembut namun tegas. "Berapa?"

‎‎Anindya menelan ludah, suaranya pelan. "Dua puluh lima juta, Pak. Untuk sebulan."

‎‎Reynand mengangguk pelan, seakan angka itu bukan hal yang besar baginya. "Hansen akan urus besok pagi. Jangan khawatirkan biaya dulu, fokus saja pada pekerjaanmu dan kondisi ibumu."

‎‎"Tapi Pak... saya tidak mau berhutang sebanyak itu ke Bapak. Nanti saya bayar dari gaji saya, boleh? Dicicil tiap bulan?"

‎‎Reynand tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali dilihat orang lain.

‎‎"Anggap saja itu tunjangan kesehatan. Tidak perlu dicicil. Kerja saja dengan baik, itu sudah cukup."

‎‎Mobil kembali melaju membelah kota yang mulai berkelap-kelip lampu jalan. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.

‎‎Tiga puluh menit berlalu, kemacetan perlahan terurai dan jalanan mulai sepi saat mobil melaju masuk ke kawasan perumahan yang lebih sederhana. Reynand menurunkan kecepatan saat memasuki gang sempit yang beraspal halus, lampu mobilnya menyapu tembok-tembok rumah di sisi jalan hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan sebuah rumah kontrakan kecil yang catnya masih terlihat rapi dan terawat.

‎‎Mesin dimatikan, dan keheningan kembali menyelimuti kabin mobil.

‎‎"Sampai," ucap Reynand pelan, nadanya tetap datar namun lembut.

‎‎Anindya melihat ke luar jendela, lalu menoleh kembali padanya dengan tatapan yang masih bercampur antara rasa terima kasih dan rasa sungkan yang mendalam.

‎‎"Terima kasih banyak, Pak. Bapak benar-benar tidak perlu sejauh ini..."

‎‎Reynand tidak menanggapi kalimat itu secara langsung. Ia menatap lurus ke depan, jari telunjuknya mengetuk pelan setir sekali, seakan baru teringat sesuatu.

‎‎"Lusa saya ada perjalanan dinas ke luar kota. Kamu ikut."

‎‎Anindya tertegun sejenak, matanya sedikit membelalak. "L-Lusa, Pak? Baik... untuk keperluan apa, kalau boleh tahu?"

‎‎"Rapat kerja sama proyek baru. Hansen akan kirim jadwal dan rincian keberangkatan ke emailmu nanti malam. Siapkan barang bawaan secukupnya, kita mungkin tinggal dua malam di sana."

‎‎"Baik, Pak... saya akan siapkan."

‎‎Reynand menoleh sekilas, tatapannya masih dingin namun ada nada perhatian yang samar terselip di sana.

‎‎"Masuklah. Kunci pintu rapat-rapat. Jangan buka untuk siapa pun yang kamu tidak kenal."

‎‎"Baik, Pak. Terima kasih sekali lagi. Bapak juga hati-hati di jalan ya."

‎‎Ia turun dan berdiri di tepi jalan sebentar, menoleh ke belakang sekali. Lampu mobil itu masih menyala, menunggunya sampai ia melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat. Baru setelah bunyi kunci terdengar jelas dari dalam, mobil itu perlahan melaju meninggalkan halaman kecil itu, menghilang di tikungan jalan yang mulai sepi.

‎Di dalam kamar kecilnya, Anindya meletakkan tas di meja, duduk sebentar di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponsel yang baru saja menyala, di sana ada notifikasi surel masuk dari Hansen berisi jadwal perjalanan dinas lusa. Napasnya ia hembuskan pelan, campuran antara gugup dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

-

-

-

‎‎"Reynand!"

‎‎Suara itu terdengar jelas, melengking samar namun penuh penekanan, memecah keheningan lorong yang sunyi.

‎‎Reynand berhenti bergerak. Tangan yang memegang key card itu terhenti di udara sejenak sebelum ia perlahan menoleh ke belakang.

‎‎Tak jauh di belakangnya, Gisella berdiri. Matanya memerah, seakan habis menangis atau menahan amarah yang meluap-luap. Di tangannya tergenggam tas tangan kecil berlian yang berkilau samar terkena cahaya lampu lorong.

‎‎Ia melangkah mendekat, langkahnya cepat dan tidak sabar, berhenti beberapa langkah di hadapan Reynand.

‎‎"Kau pikir kau bisa terus menghindar dariku?" suaranya bergetar, campuran antara tangis dan kemarahan. "Aku sudah menunggumu di sini hampir dua jam. Dua jam, Reynand!"

‎‎Reynand menghela napas pelan, lalu menurunkan tangan yang memegang key card. Wajahnya kembali datar, dingin, tanpa ekspresi yang bisa dibaca.

‎‎"Kau tidak seharusnya ada di sini, Gisella."

‎‎"Tidak seharusnya?" Gisella tertawa getir, matanya berkaca-kaca namun menatap tajam. "Aku masih istrimu, Reynand! Aku tanya padamu... apa maksudmu menyuruh sekretaris barumu itu mengantar surat cerai ke rumah? Apa dia begitu istimewa sampai kau jadikan dia pembawa pesan yang memalukan bagiku?"

‎‎Reynand menatapnya tenang, tidak ada nada bersalah di wajahnya.

‎‎"Anindya adalah sekretarisku. Dia menjalankan tugas yang aku berikan. Dokumen itu penting dan harus sampai ke tanganmu langsung. Tidak ada maksud lain di baliknya."

‎‎"Tidak ada maksud lain?" Gisella melangkah maju, suaranya meninggi dan bergetar. "Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Selama tiga tahun pernikahan ini, kau tidak pernah sekalipun mengirim sesuatu lewat orang asing. Tapi sekarang... surat cerai yang begitu penting justru kau titipkan padanya? Apa kau sengaja ingin mempermalukanku di depan orang lain? Atau... kau memang sudah menggantikan posisiku dengan dia?"

‎‎"Kau berlebihan, Gisella." Reynand tetap tenang, namun nada bicaranya mulai terdengar tegas. "Pilihan itu karena aku tidak mempercayai siapa pun untuk menjaga kerahasiaan dokumen itu. Anindya baru di tempat ini, dia tidak punya kepentingan dengan siapa pun. Itu saja."

‎‎"Itu saja?" Gisella menggeleng tidak percaya, air mata mulai menetes di pipinya yang merah padam. "Kau tahu betapa malunya aku saat dia berdiri di ruang tamu, menatapku saat aku membaca surat itu? Seolah-olah aku sedang dihakimi oleh orang asing! Reynand... kau kejam. Kau benar-benar kejam."

‎‎"Aku tidak bermaksud mempermalukan siapa pun. Aku hanya ingin urusan ini selesai dengan cara yang benar dan cepat." Reynand mundur selangkah, menjaga jarak. "Sekarang pulanglah, Gisella. Jangan membuat adegan di sini."

Ia berbalik badan, ‎‎belum sempat Reynand mendekatkan key card pintu ke sensor, Gisella tiba-tiba melangkah cepat dan memeluknya dari belakang. Kedua lengannya melingkar di pinggangnya, menempelkan wajahnya ke punggung pria itu.

‎‎"Jangan..." isaknya pelan dan tertahan, bahunya bergetar hebat. "Jangan bicara seolah semuanya sudah selesai, Reynand. Aku tidak mau berpisah darimu. Aku tidak mau bercerai."

‎‎Reynand menegang seketika di tempatnya. Ia tidak langsung melepaskan pelukan itu, namun juga tidak membalasnya. Tangannya masih menggenggam key card, terkulai di sisi tubuhnya.

‎‎"Gisella... jangan seperti ini," ucapnya pelan, nadanya terdengar lelah namun tetap tenang. "Kita berdua tahu pernikahan ini tidak pernah didasari perasaan. Semuanya dimulai dari kesepakatan bisnis kedua keluarga."

‎‎"Aku tahu itu sejak awal!" potong Gisella, suaranya pecah penuh emosi. "Tapi perasaanku tumbuh dengan sendirinya! Tiga tahun ini aku hidup satu atap denganmu, menunggu perhatianmu, berusaha menjadi istri yang baik di mata semua orang. Dan sekarang... saat aku mulai benar-benar mencintaimu, kau justru ingin pergi? Tidak, Reynand. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

‎‎Pelukannya makin erat, seakan menahan diri agar tidak jatuh.

‎‎"Aku mencintaimu. Tolong... tarik kembali surat itu. Kita mulai lagi dari awal, ya? Aku akan berusaha lebih baik lagi. Katakan padaku apa yang kurang dari diriku, aku akan ubah."

‎‎Reynand menghela napas panjang, mengangkat perlahan kedua tangan Gisella dari pinggangnya namun tetap menahannya sejenak sebelum melepaskannya sepenuhnya dan berbalik. Ia menatap wanita itu lekat-lekat, tatapannya lembut namun penuh ketegasan yang tak tergoyahkan.

‎‎"Gisella... perasaan tidak bisa dipaksakan. Dan aku tidak ingin kau membuang waktu menunggu sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Lebih baik kita berpisah dengan baik sekarang, daripada saling menyakiti lebih lama lagi."

‎‎"Aku tidak mau berpisah dengan baik!" Gisella menatapnya dengan mata yang basah namun menyala penuh keputusasaan yang berubah jadi keras kepala. "Kalau kau bersikeras seperti ini... jangan salahkan aku jika aku melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan."

‎‎Reynand mengernyit samar. "Itu ancaman?"

‎‎"Itu kenyataan," jawab Gisella pelan namun tegas, menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Aku tidak akan melepaskanmu, Reynand. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tempatku di sisimu. Termasuk sekretaris barumu itu!"

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!