Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Makasih, Wan."
"Iya, Mia. Aku pulang dulu, ya." Wandi berpamitan.
"Iya, Wan." Setelah Wandi pergi, Mia masuk kembali ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat.
"Siapa yang datang, Neng?" tanya Ayep dan Titin dari ruang tengah.
Mia menyahut sambil berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menyantap singkong goreng dan teh hangat. "Wandi, Bu, Pak."
"Wandi yang temannya si Edo?" tanya Titin setelah Mia duduk di sebelahnya.
"Mau ngapain dia ke sini?" timpal Ayep.
"Iya. Wandi temannya si Edo. Dia mengantarkan ini," Mia mengangkat amplop yang tadi diberikan Wandi.
"Itu apa, Nak?" Kedua orang tuanya bertanya serempak.
"Aku juga nggak tahu." Mia mengedikkan bahu. "Tapi sepertinya surat talak," lanjutnya.
"Hah? Surat talak?" Lagi-lagi keduanya memekik kompak.
"Iya." Mia pun membuka amplop itu, dan dugaannya tidak meleset. Di dalamnya, tertera tulisan tangan Edo. Menyatakan bahwa dia menjatuhkan talak tiga kepadanya. Mia menahan napas, dadanya sesak. Tapi ia tak lagi ingin menangisi semuanya. "Ini beneran surat talak, Bu, Pak." Ia menaruh kertas itu di atas meja.
Ayep mengambil kertas itu dan membacanya. Titin juga ikut membaca.
"Dasar lelaki pengecut!" geram Ayep membanting kertas itu ke meja. "Mengantarkan surat talak saja menyuruh orang lain! Kurang ajar sekali dia! Bapak akan menelepon Erma dan memberitahukan semua ini!" Ayep bangkit, bersiap melangkah menuju kamar untuk mengambil HP.
"Pak, tunggu!"
Ayep menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah putrinya. "Ada apa, Nak?"
Mia menatap ayahnya dengan tenang. "Sudah, Pak. Nggak perlu menelepon Teh Erma. Ini sudah cukup."
"Tapi, Nak, Bapak masih kesal dengan kelakuan Edo. Masa, untuk mengantarkan surat talak saja dia menyuruh orang lain? Memangnya dia sudah nggak punya keberanian untuk menemui kamu secara langsung?" Ayep mengembuskan napas kasar. Raut wajahnya masih menunjukkan kemarahan yang sulit disembunyikan.
Mia menggeleng pelan. "Aku sudah nggak peduli lagi sama sikap Edo, Pak. Yang penting, sekarang aku sudah mendapatkan surat talak tertulis seperti yang aku harapkan."
"Tapi, Mia ...."
"Sudah, Pak." Mia menggenggam tangan ayahnya, lalu tersenyum tipis. "Aku nggak mau memperpanjang masalah ini lagi. Aku juga nggak mau terus-terusan berurusan dengan keluarga Edo. Aku cuma ingin hidup tenang dan memulai semuanya dari awal."
Ayep terdiam. Ia menatap wajah putrinya lekat-lekat, mencoba memastikan bahwa Mia benar-benar sudah siap melepaskan segala hal yang pernah menyakitinya. "Baiklah, Nak." Ayep duduk lagi. Mia pun menjatuhkan tubuhnya lagi di samping sang ibu.
Titin mengusap punggung tangan Mia.
"Kalau memang itu keputusanmu, Ibu mendukungmu, Nak. Ibu cuma ingin kamu bahagia. Ibu nggak mau melihat kamu terus bersedih gara-gara lelaki yang nggak bisa menghargai ketulusanmu."
Mia tersenyum kepada ibunya. "Iya, Bu. Aku juga ingin bahagia. Aku ingin menjalani hidupku sendiri tanpa harus memikirkan apa yang Edo lakukan atau dengan siapa dia sekarang." Ia melirik surat talak yang tergeletak di atas meja. Tulisan tangan Edo itu menjadi bukti tertulis dari berakhirnya pernikahan yang pernah ia perjuangkan sepenuh hati. Setelah membaca surat tersebut, Mia justru merasa lebih lega. Memang, ada bagian dari dirinya yang masih menyimpan luka. Namun, ia tidak lagi ingin membiarkan luka itu mengendalikan hidupnya. Ia sudah menangis cukup banyak, mengorbankan terlalu banyak hal, dan bertahan lebih lama daripada yang seharusnya.
Kini, ia ingin berhenti.
Mia mengangkat wajah, menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Aku sekarang sudah bebas, Pak, Bu."
Kalimat sederhana itu membuat mata Titin berkaca-kaca. Ia segera merengkuh putrinya ke dalam pelukan. "Iya, Nak. Kamu sudah bebas," bisiknya sambil mengusap punggung Mia. "Sekarang, kamu nggak perlu memikirkan Edo lagi. Kalau kamu capek, istirahatlah. Kalau kamu sedih, cerita sama Ibu. Kamu nggak harus menghadapi semuanya sendirian."
Mia memejamkan mata, membalas pelukan ibunya dengan erat.
Ayep yang melihat keduanya tak kuasa menahan haru. Ia menggeser duduknya, kemudian ikut memeluk istri dan putrinya. "Bapak juga ada di sini, Nak," ucapnya dengan suara berat. "Selama Bapak masih ada, kamu nggak perlu takut menghadapi hidup. Kalau ada masalah, kita hadapi bersama-sama."
Mia mengangguk di antara pelukan kedua orang tuanya. "Makasih, Pak. Bu."
"Jangan berterima kasih sama orang tua sendiri," sahut Ayep. "Kamu itu anak Bapak. Kebahagiaanmu juga kebahagiaan Bapak."
Mia tersenyum. Kali ini, senyumnya terasa lebih tulus. "Oh, iya." Mia menyeka air matanya. "Besok... aku mau berangkat lagi ke Bekasi. Doakan aku ya, Pak, Bu."
"Lho, secepat itu, Nak?" Titin mengusap puncak kepala Mia.
"Iya. Kan sekarang masalahku sudah selesai. Aku juga cuma izin tiga hari."
Titin melirik Ayep. "Tapi Ibu khawatir sama kamu, Nak."
"Ibu jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Kan sekarang orang yang selama ini membuatku nggak baik-baik saja sudah tak ada lagi di hidupku." Mia tersenyum kecil. Ayep dan Titin saling melempar pandangan lagi. "Pokoknya Bapak dan Ibu nggak usah cemas, ya. Aku akan baik-baik saja."
"Ya sudah." Titin memeluk Mia lagi. "Tapi janji, ya. Kamu harus sering nelepon kami dan sering pulang. Minimal sebulan sekali, ya?"
"Siap, Ibu Suri." Mia terkikik.
"Kamu ini..." Ayep dan Titin sama-sama mengusap puncak kepala Mia. Mereka lega karena putri sulungnya sudah bisa tertawa lagi. Meskipun masih ada sisa kesedihan di mata Mia.
_______
"Gimana, Wan? Udah?"
Wandi mengangkat jempol, "Udah, Do."
"Makasih, ya, Sobat." Edo menepuk bahu Wandi.
"Sama-sama, Do. Santai, kita kan sahabat."
"Oke, deh. Kalau gitu gue anterin lo pulang sekarang."
Wandi naik ke atas motor Edo. Motor pun melaju meninggalkan jalan pudunan itu.
"Setelah mengantarkan Wandi pulang. Gue mau langsung ambil uang yang dikirim Bela dan langsung bayar cicilan motor." Edo membatin bahagia.
Sampailah mereka di depan rumah Wandi.
Wandi turun, mengajak Edo singgah. Tapi lelaki itu menolaknya.
"Nanti sore aja, Wan. Gue sekarang mau ke terminal dulu. Ada urusan."
"Oh, oke, Do. Makasih buat upahnya, ya."
"Oke, Wan." Edo melajukan lagi motornya menuju terminal, ke tempat ATM bersama berada.
Tiga puluh menit kemudian, ia sampai di tempat tujuan dan langsung mengambil uang. "Ah, tinggal bayar cicilan." Edo bersiap masuk ke alfamart. Tapi mendadak langkahnya terhenti sesaat. "Bulan ini gue bisa bayar cicilan dengan aman. Tapi bulan depan gimana?" Ia memijat pelipis. "Masa gue harus pinjam uang terus ke Bela. Dia kan masih sekolah, belum kerja." Masalah yang ia anggap selesai, nyatanya akan terus membuat dia pusing tujuh keliling. Dan lagi-lagi, penyesalan itu hadir meskipun sudah ditepis berkali-kali. "Seandainya gue nggak bercerai dengan Mia."
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅