Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Tidak Menenangkan
Alya terbangun saat cahaya pagi mulai masuk melalui celah tirai.
Kepalanya masih terasa berat, tetapi demamnya sudah sedikit turun. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring diam sambil mendengarkan suara pendingin ruangan dan langkah perawat yang sesekali melintas di koridor.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Tangan kirinya tidak lagi digenggam.
Kursi di sisi ranjang kosong.
Alya membuka mata lebih lebar.
Arga tidak ada di kamar.
Sofa dekat jendela juga kosong. Selimut yang semalam dipakai lelaki itu sudah terlipat rapi. Tidak ada jas. Tidak ada tas kerja. Tidak ada ponsel yang biasa diletakkan di meja kecil.
Yang tersisa hanya sebuah gelas air mineral setengah penuh dan aroma samar parfum Arga yang perlahan menghilang dari ruangan.
Dada Alya langsung terasa sesak.
Ia berusaha menenangkan diri.
*Mungkin Mas hanya ke kamar mandi.*
Namun beberapa menit berlalu.
Tidak ada suara pintu terbuka.
Tidak ada langkah kaki Arga kembali ke dalam kamar.
Alya melirik jam di dinding.
Pukul enam lewat dua puluh menit.
Terlalu pagi untuk rapat, pikirnya. Terlalu pagi untuk pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Tetapi Arga pernah pulang larut dan pergi sebelum ia bangun. Arga pernah meninggalkan rumah tanpa pamit, lalu mengirim pesan singkat beberapa jam kemudian. Arga selalu punya cara untuk membuat kepergiannya terdengar biasa, seolah tidak ada satu pun orang yang berhak menunggunya.
Ketukan pintu terdengar.
Seorang perawat masuk membawa alat pemeriksa tekanan darah dan termometer.
“Selamat pagi, Bu Alya. Bagaimana tidurnya?”
“Lumayan,” jawab Alya.
Perawat itu memeriksa suhu tubuhnya, lalu memasang alat tekanan darah di lengannya. “Demamnya turun. Bagus. Nanti dokter datang sekitar jam sembilan untuk menjelaskan hasil pemeriksaan.”
Alya mengangguk.
“Suami saya…” Ia berhenti sebentar. “Tadi Mas Arga keluar?”
Perawat itu tersenyum. “Oh, Bapak Arga? Beliau ke lantai bawah sebentar. Tadi pagi beliau minta saya bantu carikan kopi.”
Alya menghela napas lega tanpa sadar.
Rasa lega itu bahkan membuatnya malu pada diri sendiri.
Mengapa ia masih begitu mudah tenang hanya karena Arga ternyata belum pergi?
“Beliau tidak pulang?” tanya Alya lagi.
“Sepertinya tidak, Bu. Semalam beliau memang ada di sini terus.”
Alya mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Setelah perawat selesai memeriksa dan keluar, Alya menatap langit pagi dari balik jendela. Kota di bawah sana sudah mulai sibuk. Mobil-mobil kecil bergerak seperti titik-titik yang tidak pernah berhenti. Matahari tampak pucat di balik awan.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.
Arga masuk sambil membawa dua gelas kopi dan satu kantong kertas berisi roti. Ia sudah berganti pakaian. Kemeja putih bersih, celana bahan gelap, rambut tertata rapi. Namun wajahnya tampak lelah seperti seseorang yang tidak sempat tidur cukup.
Alya menatapnya diam-diam.
Arga memperhatikan tatapannya. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu sudah bangun dari tadi?”
“Baru.”
Arga meletakkan kopi di meja. “Aku belikan roti. Kamu mau yang manis atau yang isi telur?”
“Aku belum terlalu lapar.”
“Coba makan sedikit.”
Alya tidak langsung menjawab.
Arga menatapnya beberapa detik. “Kamu marah karena aku keluar?”
Pertanyaan itu membuat Alya merasa seperti tertangkap sedang menyembunyikan sesuatu.
“Enggak.”
“Kamu kelihatan seperti orang yang habis ditinggalkan.”
Kalimat itu terdengar begitu tepat hingga Alya terdiam.
Arga tampak menyadari kesalahannya sendiri. Ia mengalihkan pandangan, lalu menarik kursi di dekat ranjang.
“Aku cuma ke bawah,” katanya lebih pelan. “Aku tidak pergi.”
Alya menunduk ke arah selimut.
“Aku tahu.”
“Tidak, kamu tidak tahu.” Arga mengembuskan napas. “Kalau kamu tahu, kamu nggak akan lihat aku seperti tadi.”
Alya mengangkat wajah perlahan.
“Aku lihat Mas seperti apa?”
“Seperti kamu takut aku pergi.”
Mereka saling menatap.
Dalam keadaan lain, Alya mungkin akan menyangkal. Namun tubuhnya lemah, pikirannya lelah, dan ia tidak lagi punya cukup tenaga untuk terus menyembunyikan semuanya.
“Iya,” katanya pelan.
Wajah Arga berubah.
Alya melanjutkan sebelum keberaniannya hilang. “Aku memang takut Mas pergi. Bukan karena aku mau menahan Mas. Tapi karena selama ini Mas selalu pergi ketika aku mulai berharap.”
Arga tidak langsung menjawab.
Tangannya bergerak ke arah roti di atas meja, lalu berhenti. Lelaki itu tampak seperti seseorang yang sedang mencari kata-kata, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Aku tidak pernah bermaksud membuat kamu merasa begitu,” katanya akhirnya.
Alya tersenyum tipis.
“Mas mungkin nggak bermaksud. Tapi itu yang aku rasakan.”
Keheningan memenuhi kamar.
Untuk pertama kalinya, Arga tidak membela diri. Ia tidak mengatakan Alya terlalu sensitif. Ia tidak menyuruh Alya berhenti membahas Keisya. Ia hanya duduk diam dengan wajah tegang, seolah baru menyadari bahwa kata-kata dan tindakan kecilnya telah membentuk luka yang jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Ponsel Arga bergetar.
Alya melihat gerakan lelaki itu.
Refleks, Arga meraih ponselnya yang berada di saku celana. Layar menyala.
Nama yang muncul kembali membuat Alya menahan napas.
**Keisya.**
Arga memandang layar itu cukup lama.
Satu panggilan masuk.
Ia tidak menjawab.
Panggilan berhenti, lalu pesan masuk.
Arga membuka pesan tersebut. Wajahnya berubah tegang.
Alya tidak bertanya, tetapi Arga justru berkata, “Dia mau datang ke sini.”
Jantung Alya seperti berhenti satu detik.
“Ke sini?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan.”
Alya tersenyum kecil, meski senyum itu terasa getir. “Tentu saja.”
“Alya.”
“Tidak apa-apa.” Ia kembali mengucapkan kalimat yang sama, tetapi kali ini lebih lelah daripada sebelumnya. “Mas mau ketemu dia, ya?”
“Aku belum jawab.”
“Tapi Mas mau.”
Arga mengatupkan rahang.
Alya menatap wajah suaminya. “Aku nggak bisa melarang Mas. Aku nggak punya hak untuk mengatur hubungan Mas dengan siapa pun.”
“Kamu istriku.”
“Kalau aku istri Mas, kenapa aku selalu harus merasa seperti orang yang numpang di hidup Mas?”
Kata-kata itu keluar tanpa tangisan.
Justru karena tidak ada air mata, Arga tampak semakin terpukul.
Ia berdiri, berjalan beberapa langkah ke arah jendela, lalu berhenti dengan punggung menghadap Alya. Dari tempat tidur, Alya dapat melihat bahunya mengeras.
“Keisya dan aku…” Arga berhenti sebentar. “Kami sudah bersama jauh sebelum aku menikah dengan kamu.”
“Aku tahu.”
“Pernikahan ini terjadi terlalu cepat. Aku tidak siap.”
“Aku juga tidak siap, Mas.”
Arga menoleh.
Alya melanjutkan, “Aku juga nggak pernah minta dijodohkan. Aku juga nggak pernah minta masuk ke rumah ini dan menjadi istri seseorang yang masih mencintai perempuan lain. Tapi aku mencoba. Karena aku pikir, kalau kita sudah menikah, setidaknya kita bisa belajar menghormati satu sama lain.”
“Aku menghormati kamu.”
Alya tertawa kecil, hambar.
“Mas menganggap aku ada saja kadang sudah cukup luar biasa.”
Arga terdiam.
“Mas menghormati aku waktu Mas menerima telepon Keisya di depan aku?” lanjut Alya. “Mas menghormati aku waktu pulang dengan wangi parfum orang lain? Mas menghormati aku waktu meninggalkan aku di rumah sakit karena dia telepon?” Suaranya mulai bergetar, meski ia berusaha menahannya. “Mas mungkin nggak pernah memukul aku. Mas nggak pernah menghardik aku di depan orang lain. Tapi Mas membuat aku merasa nggak berarti setiap hari.”
Wajah Arga memucat.
Tidak ada bantahan kali ini.
Alya mengusap air mata yang akhirnya jatuh.
“Aku capek, Mas.”
Lelaki itu kembali mendekat ke ranjang. Langkahnya pelan, ragu-ragu. Seolah ia tidak yakin masih diizinkan berada dekat dengan perempuan yang selama ini telah ia sakiti.
“Aku tidak tahu kalau kamu merasa sampai seperti itu,” katanya.
Alya memejamkan mata sesaat.
“Itu karena Mas tidak pernah benar-benar mau tahu.”
***
Dokter datang sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit.
Arga tetap berada di kamar. Ia berdiri di sisi ranjang Alya, sementara dokter membawa map hasil laboratorium bersama seorang perawat. Wajah dokter itu serius, tetapi tetap lembut.
“Bagaimana kondisi Ibu pagi ini?” tanya dokter.
“Sedikit lebih baik,” jawab Alya.
Dokter mengangguk dan membuka map. “Beberapa hasil pemeriksaan sudah keluar. Kami masih perlu pemeriksaan lanjutan, tetapi ada indikasi yang membuat kami ingin Ibu menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis hematologi.”
Alya memandang wajah dokter.
“Kenapa, Dok?”
“Kadar hemoglobin Ibu rendah, trombosit Ibu juga menurun, dan sel darah putih menunjukkan pola yang tidak biasa. Kami perlu melihat lebih jauh apakah ada gangguan pada produksi sel darah di sumsum tulang.”
Jari Alya langsung mencengkeram selimut.
Di sampingnya, tubuh Arga menegang.
“Apa itu bisa berbahaya?” tanya Arga.
Dokter menatapnya. “Kami belum bisa menyimpulkan sebelum pemeriksaan lengkap dilakukan. Namun saya sarankan pemeriksaan ini diprioritaskan. Jangan ditunda.”
“Pemeriksaannya apa saja?” Arga bertanya cepat.
“Dokter hematologi akan menentukan, tetapi kemungkinan termasuk pemeriksaan darah lanjutan, pemeriksaan pencitraan, dan prosedur aspirasi atau biopsi sumsum tulang.”
Alya merasa ruangan itu tiba-tiba semakin sempit.
Biopsi.
Sumsum tulang.
Kata-kata itu terasa menakutkan.
Ia mencoba bernapas, tetapi dadanya sesak. Tangannya mulai dingin. Arga menyadari perubahan itu dan segera duduk di sisi ranjang.
“Lihat aku,” katanya pelan.
Alya menatapnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
“Tarik napas pelan,” lanjut Arga.
Alya mencoba.
“Sekali lagi.”
Ia mengikutinya. Satu napas. Dua napas. Perlahan, rasa sesak itu berkurang meski ketakutan masih memenuhi kepalanya.
Dokter memberi mereka waktu beberapa saat sebelum melanjutkan penjelasan. “Untuk hari ini, kami akan membantu membuat jadwal konsultasi spesialis. Ibu sebaiknya tetap dirawat sampai kondisi stabil.”
Arga mengangguk. “Baik. Tolong jadwalkan secepat mungkin.”
“Baik, Pak.”
Setelah dokter dan perawat meninggalkan kamar, Alya masih memandangi pintu yang tertutup.
“Mas,” bisiknya.
Arga menoleh. “Iya.”
“Aku takut.”
Untuk pertama kalinya, Alya mengakuinya dengan jujur.
Tidak ada kalimat *aku baik-baik saja.*
Tidak ada senyum palsu.
Tidak ada usaha untuk menenangkan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Ia hanya berkata bahwa ia takut.
Arga menggeser kursinya lebih dekat. Ia menggenggam tangan Alya, kali ini tanpa ragu. “Aku tahu.”
“Kalau hasilnya buruk, gimana?”
“Kita hadapi.”
“Kalau aku harus dirawat lama?”
“Kita hadapi.”
“Kalau…” Suara Alya tersendat. Ia tidak sanggup meneruskan kalimat itu.
Arga mengangkat tangan satunya dan menyentuh pipi Alya. Ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di sana.
“Jangan pikir sejauh itu dulu,” katanya.
“Tapi aku takut, Mas.”
“Aku di sini.”
Alya menatapnya.
Di luar, suara ponsel Arga kembali bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Keduanya mendengar.
Tatapan Alya bergeser ke meja tempat ponsel itu diletakkan. Nama Keisya kembali muncul di layar. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.
Namun kali ini, Arga tidak menoleh ke arah ponselnya.
Ia tetap memandang Alya.
Ponsel itu berhenti bergetar.
Kemudian berbunyi lagi.
Arga masih tidak bergerak.
“Mas,” kata Alya pelan. “Angkat saja.”
“Tidak.”
“Mungkin penting.”
“Aku sedang sama kamu.”
Alya terdiam.
Arga menarik napas perlahan. “Kemarin aku meninggalkan kamu karena menganggap semua hal lain lebih penting. Hari ini aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama.”
Kata-kata itu menyentuh sesuatu di dalam hati Alya.
Namun ia tidak langsung merasa bahagia.
Terlalu banyak luka yang belum sembuh hanya oleh satu keputusan kecil.
“Tapi Mas tetap akan ketemu dia, kan?” tanya Alya.
Arga menunduk sedikit.
Kejujuran di wajahnya membuat Alya tahu jawabannya bahkan sebelum lelaki itu bicara.
“Aku harus menyelesaikan beberapa hal,” katanya.
Alya menatapnya lama.
“Jadi aku tetap harus menunggu.”
“Tidak seperti itu.”
“Rasanya selalu seperti itu.”
Arga mengatupkan rahang, lalu memejamkan mata sejenak. “Aku tidak bisa memutus semuanya dalam satu hari, Alya.”
Kalimat itu seperti air dingin yang disiramkan perlahan ke dada Alya.
Ia seharusnya sudah tahu.
Tidak mungkin tiga tahun luka selesai dalam satu malam.
Tidak mungkin Arga yang selama ini selalu memilih Keisya tiba-tiba menjadikan Alya sebagai pusat hidupnya.
Namun mendengar lelaki itu mengatakannya tetap terasa sakit.
Alya menarik tangannya dari genggaman Arga.
Gerakannya pelan, tidak kasar.
Tetapi cukup membuat Arga menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Mas nggak perlu memutuskan apa pun untuk aku,” kata Alya. “Aku nggak mau jadi alasan Mas meninggalkan orang lain. Aku cuma mau Mas jujur pada diri Mas sendiri.”
“Alya—”
“Aku mau istirahat.”
Arga terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia berdiri dan menarik selimut Alya sedikit lebih tinggi hingga menutupi bahunya. Sentuhannya lembut, tetapi Alya tidak bisa lagi memandangnya.
“Baik,” katanya pelan. “Istirahat.”
Ia berjalan ke sofa, mengambil ponselnya, lalu keluar kamar untuk menjawab panggilan yang sejak tadi diabaikannya.
Pintu menutup.
Alya memejamkan mata.
Air mata mengalir diam-diam menuju pelipis.
Ia tidak tahu siapa yang lebih ia takutkan hari itu—penyakit yang belum bernama, atau kenyataan bahwa bahkan saat tubuhnya mulai menyerah, hati Arga masih belum sepenuhnya memilihnya.