Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pelanggan yang Tidak Memesan
...#...
...Hujan turun tipis sejak sore, cukup untuk membuat jalan di depan pasar mengilap, tapi tidak cukup untuk membuat orang pulang. Bima sudah menghitung uang dua kali di laci, dan dua kali juga angkanya sama. Tidak naik, tidak turun....
..."Sudah, Mas. Jangan dihitung terus," kata Wartini dari dekat tungku. Ia sedang mengipasi bara dengan kardus bekas. "Nanti juga tetap segitu."...
..."Makanya lagi dihitung, Bu. Biar yakin."...
..."Yakin sama uang nggak bikin kenyang."...
...Dimas, adik Bima yang sudah hampir tujuh belas tahun dan merasa sudah terlalu dewasa untuk dimarahi, duduk di bangku plastik paling pojok sambil memegang buku matematika. Matanya ke buku, tapi telinganya ke pembicaraan orang dewasa....
..."Tadi siang orang itu datang lagi," katanya tanpa diminta....
...Bima berhenti menghitung. "Orang yang mana?"...
..."Yang pakai jas. Yang bawa map."...
..."Dimas, belajar."...
..."Lagi belajar."...
..."Belajar yang ada angkanya."...
...Dimas mendengus, tapi tidak membantah. Bima kembali ke laci, meraih tumpukan uang kecil, dan menatap tulisan kapur di papan dinding yang sudah sedikit pudar. *Sate Ardhana. Sejak 1994.* Ayahnya sendiri yang menulis itu dulu, dengan huruf miring yang selalu sedikit naik ke kanan. Bima pernah mencoba meniru huruf itu, tapi hasilnya selalu terlihat seperti tulisan orang yang sedang buru-buru....
...Pak Darto muncul dari arah gudang kecil di belakang, membawa dua ember berisi potongan daging yang sudah dibumbui. Ia baru empat tahun ikut Bima, tapi sudah bekerja di sini sejak ayah Bima masih hidup, jadi kadang Bima masih merasa ia lebih mirip anggota keluarga daripada karyawan....
..."Mas Bima," katanya pelan. "Orang tadi bilang sisa waktunya cuma sebulan."...
..."Sebulan buat apa?"...
..."Buat ngosongin."...
..."Ngosongin apa? Ini tanah pasar, Pak. Kami sewa dari pengelola sejak Bapak masih muda."...
...Pak Darto tidak menjawab. Ia menaruh ember di dekat pintu, lalu membetulkan letak sarung tangannya sambil menatap jalan. Gerakannya pelan, seolah ia sedang mengulur waktu sebelum mengatakan sesuatu yang belum ingin ia katakan....
...Bima sudah mau bertanya lagi, tapi bel kecil di pintu kaca berbunyi....
...Yang masuk bukan pembeli biasa. Mantel hitamnya terlalu rapi untuk pasar malam, dan sepatunya masih bersih meski jalan di luar basah. Rambutnya diikat ke belakang, dan wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, seperti pintu yang sudah dikunci dari dalam. Ia berhenti sebentar di ambang pintu dan melihat sekeliling warung, dari tungku, ke papan kapur, ke bangku, lalu ke Bima. Tidak ada senyum, tidak ada kata maaf karena mengganggu....
..."Sate," katanya....
...Wartini menoleh dari tungku, lalu menoleh ke Bima dengan alis terangkat. Bima juga merasa aneh, tapi ia tetap mengambil piring....
..."Mau berapa tusuk, Mbak?"...
..."Sepuluh."...
..."Mau pakai lontong?"...
..."Tidak."...
..."Mau pakai bumbu kacang yang—"...
..."Yang biasa saja."...
...Bima mengambil sepuluh tusuk dari panggangan. Asapnya naik ke arah kipas, lalu terbawa keluar ke jalan yang mulai sepi. Ia menaruh piring di meja paling dekat jendela, di tempat yang biasa dipakai pengemudi ojek untuk makan sambil menunggu hujan reda....
...Perempuan itu duduk. Ia tidak memegang ponsel, tidak melihat jam, tidak memeriksa mantelnya yang basah di bagian bahu. Ia hanya mengambil satu tusuk dan memasukkannya ke mulut dengan gerakan kecil yang nyaris tidak terlihat....
...Di seberang jalan, di bawah lampu jalan yang berkedip, ada mobil hitam yang terparkir. Kaca depannya gelap. Tidak ada yang keluar....
..."Mas," bisik Dimas dari bangku pojok. "Itu siapa?"...
..."Diam, belajar."...
..."Itu mobilnya nggak pindah dari tadi."...
..."Dimas."...
...Perempuan di meja itu tidak menoleh ke arah Dimas, tapi ia menyelesaikan satu tusuk, lalu berkata tanpa melihat siapa pun, "Dia benar. Mobilnya memang tidak pindah sejak jam tujuh."...
...Dimas langsung menunduk lebih dalam ke bukunya. Bima merasa tengkuknya agak panas....
..."Mbak mau tambah kecap?" tanya Bima, lebih keras dari yang ia niatkan....
..."Tidak."...
..."Atau mau minum?"...
..."Air putih."...
...Bima mengambilkan segelas air dan meletakkannya di meja. Ketika ia menaruhnya, perempuan itu menatap gelasnya sebentar, lalu menatap wajah Bima. Tatapannya lama dan tidak ramah, tapi juga tidak bermusuhan. Lebih seperti orang yang sedang menghitung sesuatu....
..."Sate ini bumbunya dari resep siapa?"...
..."Dari resep ayah saya."...
..."Masih dibuat dengan resep yang sama?"...
..."Masih. Kenapa?"...
..."Tidak apa-apa."...
..."Kalau tidak apa-apa, jangan tanya."...
...Perempuan itu mengangkat sedikit sudut bibirnya. Itu bukan senyum. Hampir seperti refleks yang ia tahan. "Kamu tidak suka pertanyaan."...
..."Saya suka pertanyaan yang ada alasannya."...
..."Kalau begitu, alasannya ada. Saya ingin tahu kenapa rasanya agak berbeda dari yang saya ingat."...
..."Mbak pernah makan di sini sebelumnya?"...
..."Belum."...
..."Terus ingat dari mana?"...
...Ia tidak menjawab. Ia menatap piringnya, lalu memutar tusuk kosong di antara jari-jarinya. Bima menunggu, dan karena tidak ada jawaban, ia kembali ke panggangan. Membalik sate yang belum matang, memukul-mukul arang dengan kipas, menghitung kembali tusuk yang tersisa. Tapi ia bisa merasakan perempuan itu masih menatap ke arahnya, bukan dengan ketertarikan, tapi dengan kewaspadaan yang sangat tenang....
...Lima menit berlalu. Sepuluh. Hujan tipis kembali turun. Pak Darto menutup pintu gudang dan berdiri di dekat tiang tanpa mengatakan apa-apa....
..."Kamu takut?" tanya perempuan itu tiba-tiba....
...Bima berhenti membalik sate. "Takut sama apa?"...
..."Sama apa saja."...
..."Mbak ini sebenarnya mau beli sate atau mau nanya-nanya?"...
..."Dua-duanya."...
..."Kalau cuma satu, saya lebih senang."...
...Perempuan itu meletakkan lembaran uang di atas meja. Pas. Tidak dilebihkan, tidak dikurangi. Ia berdiri, merapikan mantelnya, dan berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka pintu, ia berhenti....
..."Ayah kamu namanya siapa?"...
..."Mbak, saya nggak tahu Mbak ini siapa, dan saya nggak mau—"...
..."Namanya siapa?"...
...Bima menahan napas sebentar. Lalu ia menjawab, lebih pelan dari yang ia mau. "Ardhana. Hadi Ardhana."...
...Perempuan itu mengangguk seperti orang yang baru mendapatkan jawaban untuk soal yang sudah ia kerjakan sejak lama. Tidak ada yang berubah di wajahnya, tapi jarinya menyentuh pinggiran pintu kaca sebentar, lalu menariknya lagi....
..."Terima kasih," katanya....
...Lalu ia keluar. Bel pintu berbunyi sekali. Hujan menyambutnya di jalan....
...Bima tidak langsung bergerak. Ia melihat perempuan itu menyeberang jalan, tidak tergesa, tidak melihat ke kiri atau kanan. Pintu mobil hitam terbuka sebelum ia sampai, dan ada dua laki-laki turun dari kursi depan. Mereka tidak menyapa. Mereka hanya membuka pintu belakang dan berdiri di sisinya, seperti sudah tahu persis kapan harus berdiri di sana....
...Mobil itu pergi tanpa lampu depan menyala sampai ujung gang....
..."Mas," kata Dimas pelan. Buku matematikanya sudah tertutup. "Dia tadi ngomong apa sama Mas?"...
..."Nggak penting."...
..."Tapi tadi dia nyebut—"...
..."Dimas, kamu tahu nggak dia siapa?"...
..."Nggak."...
..."Ya sudah."...
...Dimas mengangguk, tapi Bima melihat adiknya tidak benar-benar berhenti penasaran. Ia melihat ke jalan kosong, lalu ke meja tempat perempuan tadi duduk. Ada sesuatu di bawah piring. Selembar kartu kecil, tebal, berwarna hitam dengan tulisan emas yang nyaris tidak terbaca. Hanya satu baris angka, tanpa nama....
...Bima mengambilnya dengan dua jari, seolah benda itu bisa panas....
...Di belakang, Pak Darto akhirnya bersuara. Suaranya nyaris tidak keluar....
..."Mas..."...
..."Apa, Pak?"...
..."Itu Vieri."...
..."Vieri apa?"...
...Pak Darto tidak menjawab. Ia menatap kartu di tangan Bima, lalu menatap jalan tempat mobil tadi menghilang. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang baru sadar bahwa pintu yang selama ini ia kira tertutup rapat ternyata sudah terbuka sejak lama....
..."Pak Darto," kata Bima lagi. "Vieri itu apa?"...
..."Besok saja saya cerita, Mas."...
..."Sekarang."...
..."Besok."...
...Pak Darto berbalik dan masuk ke gudang sebelum Bima sempat menahannya. Pintu gudang tertutup dengan bunyi kayu yang sedikit serak....
...Bima berdiri di depan panggangan yang mulai padam. Ia membalik kartu hitam itu di tangannya. Di sisi belakang, ada coretan pensil yang sangat tipis dan hampir hilang, seperti ditulis seseorang dengan tergesa....
...*Jangan biarkan dia tahu kamu sudah membaca buku itu.*...
...Bima menatap tulisan itu lama. Lalu, tanpa sadar, matanya bergerak ke laci kasir, tempat sebuah buku resep tua berwarna cokelat tersimpan di bawah tumpukan kertas nota. Buku yang sudah sejak kecil ia kira hanya berisi takaran bumbu....
...Ia menutup laci dengan pelan, seolah takut suaranya didengar seseorang di luar....
...Di seberang jalan, di bawah lampu yang masih berkedip, tidak ada mobil hitam lagi. Tapi Bima tetap merasa ada yang memperhatikan dari suatu tempat yang tidak bisa ia lihat....