Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa, Rey?
Perkataan kasar Bu Sandra itu menusuk hati Reyna dengan sangat tajam, namun ia berusaha keras menguasai emosinya.
"Bu Sandra, tolong... Ini pernikahan keluarga terbaik saya, saya sudah berjanji padanya untuk...,"
"Reyna, dengarkan saya!" sela Bu Sandra dengan tatapan menajam.
"Kerja di sini itu butuh loyalitas, pernikahan keluarga kamu itu bukan urusan penting perusahaan. Kalau kamu tetap nekat bolos atau paksa izin di hari Jumat dan Sabtu minggu depan, tidak usah repot-repot datang lagi hari Seninnya. Kamu saya anggap mengundurkan diri secara tidak hormat!" ancam Bu Sandra.
Ancaman pemecatan itu bergaung keras di ruang kerja Bu Sandra yang dingin, Reyna berdiri mematung. Pilihan yang diberikan sungguh tidak adil, menghadiri hari bahagia sahabatnya dan kehilangan satu-satunya sumber penghasilan untuk menyambung hidup atau bertahan di pekerjaan ini dengan menelan kekecewaan dan merusak janjinya pada Agnia.
Dengan tangan gemetar, Reyna mengambil kembali lembaran surat izinnya yang tergeletak di meja. "Baik, Bu... Terima kasih," cicitnya lirih, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Sepanjang hari ini, fokus Reyna benar-benar hancur. Ia menatap layar komputernya dengan mata berkaca-kaca dan menahan rasa sesak yang menghimpit dada, bayangan wajah ceria Agnia yang memohonnya untuk menjadi mendampinginya terus berputar di kepalanya.
"Gimana aku bisa menyampaikan kabar buruk ini ke Agnia?" gumam Reyna.
Malam harinya, setelah menyelesaikan lemburan yang menguras tenaga, Reyna duduk di atas kasur busanya di kontrakan. Ponselnya bergetar di pangkuan, dan nama Agnia tertera di layar.
Dengan berat hati dan jemari yang gemetar, Reyna mengusap layar ponselnya.
[Halo, Reyna! Ya ampun, akhirnya diangkat juga. Kamu baru pulang kerja ya?] - Agnia
Suara riang Agnia menyapa dari balik telepon, penuh semangat dan kebahagiaan khas seorang calon pengantin.
Reyna mencoba menelan ludahnya yang terasa pahit, berusaha mengubah nada suaranya agar tidak terdengar serak.
^^^[Iya, Ni... Baru aja sampai kontrakan, gimana sama persiapan kamu? Pasti sibuk banget ya?] - Reyna^^^
[Lumayan capek sih, Rey, tapi seneng banget! Oh ya, kain untuk gaun bridesmaid kamu udah aku siapin lho. Warnanya sage green, cocok banget pasti sama kamu. Nanti Jumat pagi kamu udah harus ada di rumah aku ya, kita di-makeup bareng-bareng sama tim MUA!] - Agnia
Mendengar antusiasme Agnia, air mata yang sejak tadi ditahan Reyna akhirnya menetes dan membasahi pipinya, ia menutup mulutnya pelan agar suara isakannya tidak terdengar.
[Rey? Kamu masih di situ kan?] - Agnia
Agnia merasa heran karena mendengar hening yang cukup lama, Reyna menarik napas panjang dan mencoba menata suaranya sekuat tenaga.
^^^[Agnia... Maaf... Maafin aku... hiks] - Reyna^^^
[Loh, Rey? Kamu kenapa? Kok nangis? Ada masalah apa?] - Agnia
^^^[Ni... Aku... Aku nggak bisa datang dari hari Jumat, dan aku... aku nggak bisa jadi bridesmaid kamu...] - Reyna^^^
[Kenapa, Rey? Kamu ada masalah?] - Agnia
^^^[Sebenarnya, kantor aku ada audit mendadak dari pusat di hari Jumat dan Sabtu. Aku udah ajukan surat izin dan mohon-mohon sama Bu Sandra, aku bahkan tawarin diri untuk lembur tiap hari, tapi Bu Sandra tetap menolak. Dia... dia mengancam bakal pecat aku secara tidak hormat kalau aku nekat izin di hari itu...] - Reyna^^^
Hening sejenak di ujung telepon, Reyna bisa mendengar helaan napas berat dari Agnia.
^^^[Maafin aku ya, Ni... Aku benar-benar nggak punya pilihan. Aku butuh pekerjaan ini untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari... Aku merasa jadi sahabat yang buruk banget buat kamu...] - Reyna^^^
[Reyna, dengarin aku! Kamu nggak boleh ngomong gitu! Kamu bukan sahabat yang buruk. Aku tahu betapa kerasnya kamu berjuang untuk hidup kamu, aku yang minta maaf karena nggak bisa bantu kamu lepas dari atasan kamu yang semena-mena itu] - Agnia
^^^[Tapi Ni, gaun bridesmaid-nya...] - Reyna^^^
[Lupakan soal gaun bridesmaid, Rey! Yang penting kamu tetap usahakan datang, kan? Walaupun cuma sebentar?] - Agnia
^^^[Sabtu sore auditnya selesai, Ni. Begitu beres kantor, aku langsung meluncur ke tempat acara kamu, aku janji bakal datang pas acara resepsi malamnya!] - Reyna^^^
[Janji ya? Aku tunggu kamu di resepsi. Walaupun kamu nggak bisa dampingi aku di akad dan pakai seragam bridesmaid, kehadiran kamu di resepsi itu udah lebih dari cukup buat aku. Jadi, jangan nangis lagi ya] - Agnia
^^^[Makasih banyak ya, Agnia... Kamu baik banget. Selamat mempersiapkan hari bahagiamu ya, Ni] - Reyna.^^^
Malam ini, Reyna memeluk lututnya di sudut kontrakan yang dingin. Meski hatinya masih dibelit rasa sedih karena tidak bisa mendampingi sahabatnya secara penuh, setidaknya ia bersyukur memiliki sahabat sesabar dan sepengertian Agnia.
Reyna bertekad, pada hari Sabtu malam nanti, ia akan tampil sebaik mungkin demi menghormati hari bahagia Agnia, tak peduli betapa lelah tubuh dan pikirannya nanti.
.
Pagi ini, hawa dingin dari AC kantor terasa lebih menusuk dari biasanya. Reyna menundukkan kepala dan membetulkan letak tali ranselnya, lalu berjalan perlahan menuju meja kerjanya.
Belum sempat ia menarik kursi, Mbak Maya, staf senior dari bagian keuangan yang duduk di sebelah mejanya dan langsung menggeser kursinya mendekat, wajah wanita bertubuh agak berisi itu tampak dipenuhi rasa prihatin.
"Rey, berita soal Bu Sandra nolak surat izin kamu itu beneran?" bisik Mbak Maya dengan nada bersimpati.
Reyna menghentikan gerakannya yang hendak menyalakan monitor komputer, ia menatap Mbak Maya lalu tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Iya, Mbak. Kata Bu Sandra, audit dari pusat nggak bisa ditinggal. Nanti kalau ada data yang selip, aku yang disuruh tanggung jawab," jawab Reyna.
"Astaga, benar-benar nggak punya perasaan itu orang!" cetus Doni, staf IT yang duduk tidak jauh dari mereka, ikut memotong pembicaraan seraya menggeser kubikelnya.
"Padahal kamu itu nggak pernah izin sama sekali loh, Rey. Rekor kehadiran kamu paling bersih di divisi ini, masa cuma minta izin aja nggak boleh," lanjut Doni.
"Iya, Rey. Satu kantor juga tahu kalau Bu Sandra cuma mau cari aman sendiri di depan tim audit pusat. Dia tahu kamu yang paling paham seluk-beluk arsip manual, makanya kamu nggak boleh izin biar pekerjaan dia kelihatan beres," ucap Mbak Maya.
Reyna menghela napas panjang, menatap dua rekan kerjanya yang selama ini selalu bersikap baik padanya.
"Nggak apa-apa, Mbak, Mas Don. Aku udah ngomong kok sama keluargaku, walaupun sedih banget nggak bisa jadi bridesmaid dan hadir di akadnya hari Jumat, setidaknya Sabtu malam nanti aku tetap bisa datang ke acara resepsinya setelah jam kerja selesai," ujar Reyna mencoba membesarkan hatinya sendiri.
"Kamu yang sabar ya, Reyna," ucap Mbak Maya, kemudian membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah roti cokelat serta sebotol susu kemasan, lalu meletakkannya di atas meja Reyna.
"Ini buat sarapan kamu. Muka kamu pucat banget, pasti semalam kepikiran terus kan? Semangat ya," ucap Mbak Maya.
"Iya, Rey. Kalau butuh bantuan pas rapiin berkas, bilang aja ke aku ya. Jangan ditanggung semuanya sendiri," timpal Mas Doni memberikan semangat.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor