Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sementara itu, di lantai perkantoran yang mulai kembali sibuk usai jam makan siang, Tania melangkah santai menuju ruangan Anton untuk menyerahkan berkas laporan.
Namun, sebelum berbelok ke ruangan Anton, langkah kakinya berbelok mampir ke area kerja Aisha. Ia cuma mau memastikan apakah gadis itu sudah kembali. Jika Aisha sudah ada, artinya sang kakak juga sudah mendarat di kantor.
Mata Tania menyipit tajam begitu mendapati kursi kerja itu masih kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pemilik, hanya layar monitor yang masih padam dan catatan kecil tergeletak begitu saja di atas meja.
"Chloe, Aisha belum balik?" tanya Tania tegas.
"Belum, Miss..." jawab Chloe gugup, menghentikan ketikannya sejenak. "Katanya tadi—"
"Oh, okay," potong Tania cepat tanpa menunggu penjelasan Chloe lebih lanjut. "Lanjutkan lagi kerjamu."
Tania tersenyum tipis. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Tania berbalik arah dan melangkah kembali menuju ruangannya.
Namun, langkahnya terhenti tepat di depan lorong lift saat melihat sosok Anton baru saja keluar bersama beberapa staf divisi keuangan.
Tania segera mempercepat langkahnya menyusul Anton. Beberapa karyawan yang berselisih jalan menunduk hormat saat menyapa Tania.
"Kamu sendiri? Aisha mana?" tanya Tania berbisik saat sudah berjalan bersisian di koridor.
"Kenapa kamu tanya sama aku? Lihat di ruangannya lah," jawab Anton datar sambil memutar gagang pintu ruang kerjanya.
"Kamu tadi habis dari mana?" selidik Tania, terus menyusul langkah Anton yang berjalan santai menuju meja kerjanya.
"Habis rapat di lantai empat. Emang kenapa, sih? Jangan cari masalah ya, Tania, aku sangat lelah hari ini."
"Sejak kapan rapatnya?"
"Sejak siang tadi."
"Trus Aisha?"
"Kan sudah dibilang, kalau mau tanya Aisha ya lihat di ruangannya. Kenapa malah tanya di sini?" jawab Anton seraya menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Kalau aku lihat Aisha ada di ruangannya... aku tidak akan tanya sama kamu, Bram!" ketus Tania.
"Dia nggak ada di sana?" Anton menaikkan sebelah alisnya, menunjukkan sedikit kerutan di dahi.
"Nggak ada! Kata Chloe sama yang lain dia belum balik dari jam makan siang. Aku pikir kalian masih bersama di restoran, makanya aku tanya sama kamu, Manager Anton yang tampan... kenapa datangnya sendirian??!" jelas Tania panjang lebar.
Anton menghela napas pendek. "Tadi aku duluan balik ke kantor... dapat telepon untuk rapat mendadak. Dan dia tinggal di sana, karena makanannya belum habis."
"Hmm..." gumam Tania panjang, menggantungkan intonasi suaranya.
"Kenapa?" tanya Anton datar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Tania menaikkan sebelah alisnya, menatap Anton penuh rasa curiga. "Jangan-jangan... dia marah gara-gara kamu tinggal sendirian di restoran tadi?"
"Tidak mungkinlah," sergah Anton cepat. "Aku sudah minta maaf secara langsung sebelum pergi. Dia juga tahu kalau aku pergi karena ada rapat bukan karena yang lain. Dia mengerti kok."
Tania terkekeh geli, menggeleng-gelengkan kepalanya menatap sang kakak dengan raut gemas. "Kamu ini memang kurang peka ya, Bram!"
Anton memutar bola matanya malas mendengar panggilan masa kecil yang selalu dipakai adiknya saat gemas. "Maksud kamu apa?"
"Nggak apa-apa," jawab Tania tersenyum geli. Ia maju satu langkah mendekati meja Anton, menatap kakaknya itu dengan tatapan jahil.
"Tapi... jangan nyesel nanti kalau keduluan orang lain."
"Tidak seperti yang kamu pikirkan, Tania. Aku dan Aisha hanya sebatas atasan dan bawahan, karena kinerjanya bagus... Makanya aku ajak makan siang bareng. Lebih baik kamu balik ke ruanganmu, selesaikan tugas kamu yang belum selesai," elak Anton cepat, berusaha memotong obrolan.
"Mana pernah seorang Anton mengajak makan siang pegawainya sendiri? Atau...Anton sekarang, bukan orang yang sama lagi??" goda Tania.
" Tania...jangan pikir yang aneh-aneh, ya."
"Iya, iya... Tanpa kamu kasih tahu, aku tahu kok kalau kamu sebenarnya—"
"Apaan sih? Tania, keluar sekarang. Sebelum aku seret," potong Anton tegas.
"Iya, iya! Dasar gengsian!" ledek Tania tertawa puas. "Tapi nanti jangan ngadu ke aku ya kalau kamu gagal mendapatkannya!"
"Keluar."
Tania segera melangkah pergi meninggalkan Anton, tak lupa meletakkan map berkas yang dibawanya di atas meja. Anton mengusap tengkuknya yang terasa kaku, menatap pintu ruangan yang baru saja tertutup rapat dengan helaan napas berat.
Sementara itu, di kamar rawat inap Royal Infirmary Hospital, suasana hening masih melingkupi ruangan bernuansa putih tersebut.
"Kita belum sempat berkenalan secara resmi," Ujar Zavran tiba-tiba, memecah kecanggungan di antara mereka. "Nama kamu siapa?"
Aisha yang sedang merapikan tali tas selempangnya seketika menoleh kaget. Alisnya menukik tajam, menatap pria yang terbaring di atas bangsal itu.
"Lho?! Kok nanya-nanya nama saya?!" cetus Aisha penuh curiga.
Zavran berdehem canggung, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar kamar inap.
"Ya... wajar, kan? Kamu sudah menolong saya, setidaknya saya harus tahu nama penolong saya."
"Tidak perlu!" sergah Aisha cepat sambil mengibaskan sebelah tangannya di udara. "Lebih baik kita tidak usah saling tahu nama satu sama lain!"
Zavran mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa?"
"Aduh, Mas! Dalam hukum peradaban orang sial, kalau kita makin saling kenal, takdir bakal makin gila membawa kita ketemu terus!" celetuk Aisha heboh dengan nada menggebu-gebu. "Kemarin sore saya tidak sengaja menabrak kamu. Hari ini kita bertemu lagi gara-gara kamu bersimbah darah di jalanan. Kalau sampai kita saling tahu nama, besok-besok bisa saja gedung kantor saya rubuh gara-gara ketemu Anda lagi!"
Zavran menatap Aisha dengan raut wajah tak habis pikir, geleng-geleng kepala tipis. "That doesn't make any sense," gumam Zavran pelan.
"Sangat masuk akal bagi saya ya!" balas Aisha jutek. "Pokoknya tidak usah kepo tanya nama!"
Zavran terdiam sejenak.
"Satu hal lagi..." Ucap Zavran "Saya mau minta tolong satu hal lagi sama kamu."
Aisha refleks menepuk jidatnya sendiri, membelalak kaget. "Apalagi?! Saya ini sudah rela terlambat balik ke kantor demi nungguin kamu lho! Bisa-bisa saya dipecat sama bos saya!"
"Saya tahu..." sahut Zavran cepat, menahan rasa gengsinya yang setinggi langit. "Tapi saya butuh bantuan kamu untuk belikan saya pakaian ganti. Baju kaos polos atau kemeja apa saja di toko depan rumah sakit."
Aisha mengerutkan dahinya bingung. "Lho? Kenapa harus buru-buru beli baju baru? Baju rumah sakit kan ada!."
Zavran menghela napas panjang, menatap bajunya yang memang sudah tak karuan bentuknya. "Saya tidak mau dirawat inap di sini. Saya harus segera pulang sekarang juga."
"Hah?! Mau pulang?! Kamu tidak sadar akan kondisimu saat ini?!" cerocos Aisha heboh, jarinya menunjuk-nunjuk perban tebal yang melilit kepala Zavran. "Dokter pasti belum mengizinkan kamu pulang!"
"Saya tidak peduli," potong Zavran tegas. "Kalau saya tidak pulang sekarang atau keluarga saya tahu saya masuk rumah sakit dalam kondisi begini... mereka akan sangat cemas dan panik luar biasa. Terutama ayah saya. Beliau punya riwayat jantung. Saya tidak mau membuat keluarga saya khawatir."
Aisha tertegun sejenak. Sorot mata pria dingin, kaku, dan sengak di hadapannya itu mendadak melunak penuh rasa bersalah. Aisha yang pada dasarnya berhati lembut dan penyayang mendadak kehilangan rasa jengkelnya.
"Astagfirullahaladzim... ternyata kamu anak berbakti juga ya," gumam Aisha pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menghela napas pasrah. "Ya sudah, ya sudah! Saya akan belikan, tapi jangan salahkan saya kalau dokternya marah. Berapa ukuran bajumu?"
Zavran menatap Aisha dengan binar lega. "Ukuran L. Ini... pakai uang dari dompet saya di atas meja."
Aisha dengan cepat mengambil dompet Zavran. "Awas ya kalau kamu kabur duluan sebelum saya balik!"
"Saya tidak bisa lari dalam kondisi begini," balas Zavran datar.
"Baguslah kalau sadar diri!" celetuk Aisha jutek. "Tunggu di sini, jangan berulah!"
Aisha memutar tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar rawat dengan langkah cepat.