Indonesia
NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan di Pagi Buta, Saham Merah, dan Tikaman dari Dalam

Euforia lantai bursa masih terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Seminggu setelah peluncuran IPO, harga saham PT Campus Relay terus meroket tajam. Papan elektronik di bursa efek selalu menampilkan warna hijau yang menyilaukan untuk kode saham mereka. Nilai kekayaan Lu Feng dan Lin Xiao di atas kertas telah mencapai angka yang tidak pernah berani mereka bayangkan saat masih duduk di bangku SMA Mingde.

Pagi itu, di dalam "penthouse" mewah lantai 45, suasana terasa begitu hangat dan intim.

Lu Feng sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung santai. Aroma kopi "espresso" memenuhi ruangan. Ia menuangkan cairan hitam pekat itu ke dalam dua cangkir keramik, lalu berjalan menuju meja makan marmer.

Lin Xiao sudah duduk di sana, mengenakan jubah mandi sutra, matanya fokus menatap layar tablet yang menampilkan grafik saham pagi pembukaan. Senyum tipis tidak pernah lepas dari bibirnya.

"Minum dulu kopinya, Yang. Jangan ngeliatin angka terus, nanti mata lo minusnya nambah," goda Lu Feng, meletakkan cangkir kopi di depan wanita itu lalu mengecup pelan pelipisnya.

Lin Xiao meletakkan tabletnya dan menatap Lu Feng dengan mata berbinar. "Aku tidak bisa berhenti melihatnya, Lu Feng. Valuasi kita naik delapan persen lagi pagi ini. Ini luar biasa. Semua kerja keras kita, semua kurang tidur kita... terbayar lunas."

Lu Feng menarik kursi dan duduk di sebelah Lin Xiao. Ia meraih sebelah tangan wanita itu, mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Gue bilang juga apa. Selama lo ada di sebelah gue, nggak ada hiu raksasa yang bisa nelan kita. Abis "closing" kuartal ini, kita beneran harus liburan. Terserah lo mau ke mana, gue bayarin semua."

Lin Xiao baru saja akan membalas ucapan manis itu, namun suara dering ponsel dari arah ruang tamu memecah keheningan. Bukan ponsel Lin Xiao, melainkan ponsel khusus operasional milik Lu Feng yang jarang sekali berbunyi di pagi hari kecuali ada keadaan darurat tingkat dewa.

Kening Lu Feng berkerut. Ia bangkit, berjalan mengambil ponsel tersebut. Nama Chen Hao tertera di layar.

"Halo, Hao? Tumben jam segini udah nelpon. Ada apa?" sapa Lu Feng santai.

Namun, tidak ada nada santai dari seberang sana. Suara Chen Hao terdengar bergetar, penuh kepanikan yang luar biasa, seolah ia baru saja melihat hantu.

"Bos... nyalain TV sekarang! Pindah ke "channel" berita ekonomi nasional. Buruan, Bos!" teriak Chen Hao nyaris histeris.

Insting bertahan hidup Lu Feng langsung menyala. Ia menyambar "remote" TV di atas meja, menyalakan layar raksasa di ruang tengah, dan mengganti salurannya.

Lin Xiao yang merasakan ada sesuatu yang salah, ikut bangkit dan berjalan mendekati Lu Feng.

Di layar televisi, "headline" berita bergerak "running text" dengan warna merah menyala. Sang "news anchor" sedang membacakan berita dengan nada serius, berlatarkan video amatir yang sangat kacau.

"Pemirsa, berita mengejutkan datang dari perusahaan logistik yang baru saja melantai di bursa, PT Campus Relay. Pagi ini, tepat pukul enam waktu setempat, terjadi pemogokan massal yang dilakukan oleh lebih dari dua ribu mahasiswa kurir di empat gudang distribusi utama mereka di Beijing."

Jantung Lu Feng seakan berhenti berdetak. Matanya membelalak menatap layar televisi.

Video itu menampilkan ratusan kurir berjaket seragam Campus Relay yang berteriak-teriak di depan gerbang gudang, melempar helm mereka, dan membawa spanduk bertuliskan "Hentikan Eksploitasi Mahasiswa!" dan "Campus Relay Pembohong!".

"Pemogokan ini dipimpin oleh empat manajer gudang senior Campus Relay secara serentak," lanjut sang pembaca berita. "Mereka mengklaim bahwa pihak perusahaan memalsukan jam kerja mereka dan menahan komisi pengiriman selama dua bulan terakhir untuk memanipulasi laporan keuangan pra-IPO. Akibat berita ini, kepanikan melanda pasar bursa. Saham Campus Relay yang baru dibuka lima belas menit lalu, langsung anjlok drastis menyentuh "Auto Rejection Bawah" sebesar minus dua puluh persen!"

Prang!

Lin Xiao tanpa sadar menjatuhkan cangkir kopinya ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping. Kopi panas memercik ke kakinya, namun ia sama sekali tidak merasakan sakit. Wajah wanita itu pucat pasi, seluruh darah seakan tersedot dari tubuhnya.

"Manipulasi keuangan? Eksploitasi?" suara Lin Xiao bergetar hebat. "Itu fitnah gila! Aku sendiri yang mengaudit seluruh kontrak dan bukti transfer komisi mereka! Tidak ada satu sen pun uang kurir yang kita tahan!"

Lu Feng tidak bereaksi terhadap pecahan cangkir itu. Rahangnya mengeras hingga berbunyi gemeretak. Urat-urat di leher dan tangannya menonjol mengerikan. Sorot matanya yang tadi hangat dan penuh cinta, kini berubah menjadi segelap malam tanpa bintang. Aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuhnya.

Ponsel di tangannya masih tersambung. "Hao," suara Lu Feng terdengar luar biasa pelan, sangat rendah, dan mematikan.

"I-iya, Bos?" jawab Chen Hao dengan suara nyaris menangis di seberang sana.

"Siapa nama empat manajer gudang yang mimpin demo itu?"

"Gudang Timur si Zhang Wei, Gudang Barat si Liu Dong... dan dua lagi dari Gudang Selatan. Mereka berempat... mereka orang-orang angkatan pertama yang lo rekrut pas kita masih di inkubator kampus, Bos."

Pengkhianatan.

Kata itu menghantam ulu hati Lu Feng lebih keras dari pukulan preman mana pun. Orang-orang yang ia angkat dari bawah, orang-orang yang ia percaya untuk memegang urat nadi operasional perusahaannya, menusuknya dari belakang tepat saat ia berada di puncak.

"Wei Jian..." desis Lu Feng, menyebut nama sang bos Titan Freight. Ia langsung menyadari siapa dalang di balik semua ini. "Bajingan tua itu nyuap manajer internal kita buat menghasut kurir di bawah."

"Bos, direksi dari Alpha Ventures nelpon gue terus dari tadi! Investor retail mulai "panic selling"! Kalau hari ini kita nggak ngasih "statement", besok saham kita bakal disuspensi sama otoritas bursa!" lapor Chen Hao putus asa.

"Kumpulin tim krisis di ruang "boardroom". Gue ke sana sekarang," perintah Lu Feng, lalu mematikan sambungan telepon sepihak.

Lu Feng menoleh menatap Lin Xiao. Wanita itu sedang menatap pecahan cangkir di bawah kakinya dengan pandangan kosong, napasnya memburu, otaknya yang brilian mencoba memproses kehancuran yang terjadi dalam hitungan menit ini.

Lu Feng melangkah maju, mencengkeram kedua bahu Lin Xiao dengan lembut namun tegas, memaksa wanita itu menatap matanya.

"Xiao. Lin Xiao, sadar," panggil Lu Feng, suaranya sedikit meninggi untuk menarik Lin Xiao dari keterkejutannya.

Lin Xiao mengerjap, menatap Lu Feng dengan mata berkaca-kaca. "Lu Feng... saham kita... reputasi kita... kalau otoritas bursa mempercayai tuduhan manipulasi keuangan itu, kau bisa dipenjara."

"Gue nggak bakal dipenjara, dan perusahaan kita nggak bakal hancur," potong Lu Feng dengan keyakinan absolut. Sorot matanya memancarkan api pemberontakan yang tidak bisa dipadamkan oleh siapapun. "Dengerin gue. Pakai baju lo. Siapin semua bukti transfer dan kontrak "freelance" para kurir itu. Bawa laptop lo."

"Kamu mau ke mana?" tanya Lin Xiao panik saat melihat Lu Feng berbalik mengambil jasnya dengan kasar. "Kita harus membuat rilis pers bantahan sekarang juga!"

"Rilis pers nggak bakal mempan buat ngehentiin amukan massa di lapangan, Yang," Lu Feng memakai jasnya, matanya menatap tajam ke arah pintu keluar "penthouse".

"Wei Jian pikir dia bisa ngancurin gue pakai uang dan pengkhianat," geram Lu Feng, senyum berandalnya yang mengerikan kembali menghiasi wajahnya. "Dia lupa kalau sebelum gue jadi CEO yang duduk di kursi empuk... gue adalah anjing jalanan yang tau gimana caranya gigit balik."

Lu Feng menoleh ke arah Lin Xiao, mengulurkan tangannya. "Ayo. Kita turun ke gudang. Gue bakal ngadepin sendiri ribuan kurir itu. Kalau mereka butuh darah, biar gue yang ngasih langsung ke mereka."

Lin Xiao menatap tangan besar yang terulur padanya. Rasa takutnya tiba-tiba menguap, tergantikan oleh adrenalin dan kesetiaan yang mengakar kuat di jiwanya. Ia menyambut uluran tangan itu, meremasnya erat.

Di pagi musim dingin yang seharusnya membawa kedamaian itu, sang raja muda dan ratu hukumnya kembali harus mengenakan baju zirah mereka, bersiap menghadapi tikaman mematikan dari orang-orang yang pernah mereka anggap sebagai saudara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!