Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI PADA KAEL
Sudah lebih dari dua minggu Alesya berada di ADX. Namun, suasana di dalam penjara itu tidak pernah benar-benar berubah, Pembunuhan masih terjadi, Pelecehan masih ada di setiap sudut.
Dan tidak ada yang benar-benar berubah.
— kecuali satu hal.
Para napi kini tidak lagi berani mengganggunya secara terang-terangan.
Semua orang sudah tahu
Alesya adalah milik Kael.
Sejak berhasil menghubungi keluarganya dua minggu lalu, pikiran Alesya memang sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tahu keluarganya masih baik-baik saja, meskipun keadaan di luar sana masih menyimpan banyak pertanyaan.
Di hadapannya, Reana duduk sambil melahap makanannya dengan lahap. Gadis itu terlihat jauh lebih santai sekarang. Mungkin karena pengaruh Alesya yang perlahan membuatnya terbiasa dengan kehidupan di dalam ADX.
Namun entah kenapa, hari ini Alesya justru merasa sangat bosan.
Tatapannya beralih ke seberang ruang makan.
Di sana, Kael duduk sendirian.
Seperti biasa, pria itu sibuk dengan makanannya sendiri. Wajahnya datar, tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan terhadap keributan di sekitar.
Bahkan, Kael tidak sekalipun melirik ke arah Alesya.
Alesya mengembuskan napas pelan.
Beberapa meja di depannya, Jessica terlihat bergelayut manja pada lengan Dante. Gadis itu sesekali melirik sinis ke arah Alesya, tetapi tidak berani menghampirinya.
Bukan karena Jessica tidak ingin.
Melainkan karena Dante sudah melarangnya.
Alesya kembali menatap Kael.
Bosan.
Benar-benar bosan.
Akhirnya, gadis itu bangkit dari tempat duduknya.
Ia meninggalkan Reana yang masih sibuk dengan makanannya, lalu berjalan santai menuju meja Kael.
Beberapa pasang mata langsung mengikuti langkahnya.
Kael menyadari kedatangannya.
Tatapan pria itu terangkat sebentar.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Alesya menarik kursi di hadapannya, lalu duduk dengan santai. Kedua tangannya menopang dagu sementara matanya terus menatap Kael.
“Aku bosen.”
Kael tetap makan.
Tidak ada jawaban.
Alesya mengerucutkan bibir.
“Bosen bangettt.”
Kali ini suaranya sengaja dibuat lebih keras, Beberapa napi yang berada di sekitar mereka langsung menoleh. Namun Kael tetap terlihat acuh.
Ia bahkan tidak menghentikan gerakan tangannya. Pria itu terus mengunyah makanannya dengan tenang, seolah suara Alesya sama sekali tidak terdengar.
Alesya memicingkan mata.
“Kamu nggak dengar, ya?”
Tidak ada jawaban.
“Ihhh, Kael.”
Barulah Kael menghentikan gerakan tangannya. Sendok yang berada di tangannya diletakkan perlahan di atas meja.
Tatapannya terangkat dan langsung mengarah kepada Alesya.
“Apa?”
Alesya langsung tersenyum.
“Nah, gitu dong.”
Kael menatapnya datar.
“Aku dari tadi ngomong sama kamu.”
“Aku dengar.”
“Terus kenapa nggak jawab?”
“nggak perlu.”
Senyum Alesya langsung menghilang.
“Jahat banget.”
Kael kembali mengambil sendoknya.
Alesya masih menatapnya.
“Kamu sekarang makin cuek.”
"memang"
“Dulu nggak.”
“Dulu sudah lama"
“Lima tahun.”
Kael tidak menjawab.
Alesya mengamati wajah pria itu. Ada sesuatu yang berbeda setiap kali mereka membicarakan masa lalu. Kael selalu terlihat semakin dingin, seolah sengaja menutup semua pintu yang mengarah ke kehidupan mereka sebelum ADX.
Alesya kembali menopang dagunya.
“Tapi aku masi ingat”
Alesya tersenyum kecil.
Kael menatapnya.
“Apa?”
“Semuanya"
Tatapan keduanya bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka.
Alesya tersenyum lembut, Tatapan keduanya bertemu.
Untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa berbeda.
Namun Alesya justru tersenyum kecil.
“ dulu kamu paling nggak suka kalau aku ganggu kamu makan.”
Kael menghela napas pendek.
“Dan sekarang kamu masih melakukannya.”
“Berarti kamu masih ingat.”
“Sulit melupakan suara berisikmu.”
Lalu sorot matanya berubah tipis, Sangat tipis sampai hampir tidak terlihat. Alesya yang menyadarinya justru semakin tersenyum.
“Ketahuan.”
“Jangan banyak bicara.”
“Berarti benar.”
“Alesya.”
“Iya?”
“Diam.”
Alesya malah tertawa kecil, Untuk pertama kalinya sejak duduk di sana, rasa bosannya sedikit berkurang.
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali bersandar di kursinya.
“Tapi aku tetap bosen.”
Kael menghela napas pelan.
“Aku harus ngapain supaya kamu nggak bosan?”
Alesya langsung menegakkan tubuh.
Matanya berbinar.
“Nah!”
Kael menatapnya curiga.
“Apa?”
“Ayo jalan.”
“Ke mana?”
“Terserah.”
“ngak"
Alesya langsung cemberut.
“Kenapa?”
“Karena aku sedang makan.”
“Ya sudah, aku tunggu.”
Kael menatapnya beberapa detik.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kamu pasti akan terus mengganggu.”
Alesya tersenyum lebar.
“Benar.”
Kael memejamkan mata sebentar, seolah sedang menahan kesabaran. Dari beberapa meja di belakang, Dante yang memperhatikan mereka hanya menggelengkan kepala.
Sementara Darren tetap diam, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat, Semua orang di ruangan itu tahu satu hal. Kael tidak pernah membiarkan siapa pun berada sedekat itu dengannya. Jessica yang melihat nya berdesisi sinis.
"Kayak ga ada cewek lain" Gumamnya mendapat lirikan tajam dari Dante. lalu gadis itu kembali tersenyum ke arah prianya.
--
Alesya selalu menjadi pengecualian.
Dan mungkin, tanpa Kael sadari, gadis itu adalah satu-satunya orang di ADX yang mampu membuat pria paling ditakuti di penjara tersebut kehilangan ketenangannya.
Alesya kembali memanggil.
“Kael.”
“Apa lagi?”
“Aku bosen.”
Kael menatapnya lama.
Kemudian ia menghela napas.
“Setelah makan, ikut aku.”
Senyum Alesya langsung merekah.
“Serius?”
“Hmm.”
“Mau ke mana?”
“Jangan banyak tanya.”
Alesya mengangguk cepat.
“Oke.”
Ia kembali duduk dengan tenang, Namun senyum di wajahnya tidak juga hilang. Entah kenapa, hanya dengan satu kalimat sederhana dari Kael, rasa bosannya seolah menghilang begitu saja.
***
Kael berdiri setelah menghabiskan makanannya.
“Sudah?”
Alesya yang sejak tadi menunggunya langsung ikut berdiri.
“Emmm..”
Tanpa banyak bicara, Kael berjalan meninggalkan ruang makan. Alesya mengikutinya dari belakang dengan langkah ringan.
Mereka melewati beberapa koridor ADX yang mulai sepi. Kael berjalan di depan dengan kedua tangan berada di saku celananya, sementara Alesya terus mengikutinya sambil sesekali memperhatikan sekeliling.
“Kita mau ke mana?”
“Jalan.”
“Cuma jalan?”
“Katanya bosan.”
“Iya.”
“Jadi jalan.”
Alesya tersenyum kecil, Setidaknya sekarang ia tidak lagi duduk di ruang makan sambil menatap Kael yang pura-pura tidak peduli.
Sementara itu, di ruang makan—
Reana baru menyadari bahwa Alesya sudah pergi.
Ia menoleh ke arah koridor yang tadi dilewati sahabatnya.
“Alesya?”
Tidak ada jawaban, Reana menghela napas.
“Ditinggal…”
Ia kembali menyantap makanannya, berusaha tidak terlalu memikirkan ke mana Alesya pergi. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara kursi bergeser terdengar dari belakangnya.
Reana menoleh, Seketika wajahnya berubah. Aldra berdiri beberapa langkah di belakangnya, George dan Alex berada di sisi kanan dan kirinya.
Tiga orang yang sejak awal tidak pernah benar-benar menyukai keberadaan mereka.
Aldra tersenyum miring.
“Sendirian sekarang?”
Reana menelan makanannya dengan susah payah.
Biasanya, hanya melihat mereka saja sudah membuat tubuhnya gemetar.
Namun kali ini berbeda.
Tangannya memang sedikit dingin, tetapi ia tidak langsung menundukkan kepala seperti biasanya.
Aldra melangkah mendekat.
“Temanmu ke mana?”
Reana melirik ke arah koridor.
“Alesya?”
“Iya.”
“Dia pergi" Meski ragu ia tetap menjawab.
“Dengan siapa?”
Reana diam.
Aldra semakin mendekat.
“Jawab.” Bentak pria itu
Reana tiba-tiba mengangkat wajahnya.
Matanya tertuju pada sesuatu di belakang mereka.
“Ihh… ada Kael..."
Ketiga orang itu spontan menoleh.
Mata mereka langsung mencari ke arah koridor.
Namun—
Kosong.
Tidak ada siapa pun, Kael tidak berdiri di sana.
Reana memanfaatkan kesempatan itu.
Ia langsung bangkit dan berlari.
“Hei!”
Aldra tersadar.
“Kejar dia!”
George dan Alex langsung berlari mengejar. Reana terus berlari menyusuri koridor, Jantungnya berdegup sangat kencang. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya berlari karena takut. Ia berlari karena tidak ingin kembali menjadi sasaran mereka.
“Berhenti!”
Suara Aldra terdengar dari belakang, Reana tidak berani menoleh terlalu lama. Namun beberapa detik kemudian, rasa takut membuatnya kembali melirik ke belakang.
Masih mengejar.
“Mereka dekat…”
Reana mempercepat langkahnya, Ia kembali menoleh ke belakang.
Tidak memperhatikan apa yang ada di depannya—
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang.
“Aduh!”
Reana kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terjatuh ke depan.
Namun bukannya menghantam lantai, ia justru jatuh tepat menimpa seseorang.
“Ah—!”
Reana membeku.
Kedua tangannya memegang dada pria tersebut. Setelah beberapa saat, Barulah ia menyadari posisi mereka.
Ia berada tepat di atas seseorang, Reana perlahan mengangkat wajahnya. Dan langsung membeku
Darren...
Pria itu terbaring di lantai dengan wajah datarnya, menatap Reana yang masih berada di atas tubuhnya.
Beberapa detik.
Tidak ada yang berbicara.
Reana menatapnya dengan mata membulat.
Darren hanya mengangkat satu alis.
“…”
Reana buru-buru bangkit.
“Maaf!”
Ia berdiri dengan wajah memerah, lalu mengulurkan tangannya.
“Aku nggak sengaja.”
Darren tidak langsung menerima tangannya. Tatapannya justru beralih ke arah koridor. Dari kejauhan terdengar langkah kaki yang semakin mendekat.
Darren hanya menatap dingin ke arah Reana, membuat gadis itu gelagapan, Lalu menarik lagi uluran tangannya. Reana hendak bicara lagi, Namun belum sempat—
Aldra muncul di ujung koridor bersama George dan Alex.
“Ketemu juga!”
Reana langsung panik, Ia mundur selangkah. Darren berdiri perlahan, Wajahnya masih tenang. Namun tatapan matanya berubah. Ia menoleh kepada tiga orang yang semakin mendekat, Reana refleks berdiri di belakang Darren.
“Jadi…”
Darren memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
“…kalian lagi?”
Aldra berhenti, Senyumnya perlahan menghilang.
Karena baru sekarang mereka menyadari siapa yang berdiri di hadapan mereka.
Darren.
Salah satu orang yang tidak pernah ingin mereka cari masalah dengannya. Reana yang berada di belakang Darren hanya bisa menatap punggung pria itu.
Untuk pertama kalinya sejak berada di ADX, ia merasa—
mungkin kali ini…
ia tidak sendirian.
...***...