Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Semua rasionalitas dan logika bisnisnya hancur lebur detik ini juga digantikan oleh kemarahan absolut seorang ayah.
"Siapa... siapa bajingan yang berani menukar anakku," desis Leon dengan suara yang teramat sangat pelan namun mematikan.
Udara di lobi mall itu mendadak terasa mencekik leher siapa saja yang berada di dekat Leon Wegan.
Tatapan mata pria itu berubah sepenuhnya menjadi tatapan seekor iblis pemangsa yang siap membantai satu negara.
"Bukan hanya menukarnya, Leon! Mereka menyiksa darah daging kita setiap hari di jalanan!" adu Nabila semakin membakar emosi suaminya.
Nabila menarik perlahan lengan baju Luna dan memperlihatkan luka lebam serta bekas sundutan rokok itu pada Leon.
Mata Leon terbelalak lebar melihat penyiksaan brutal yang membekas di kulit pucat anak kecil yang merupakan darah dagingnya ini.
Brak!
Leon meninju pilar marmer besar di sebelahnya dengan kekuatan penuh tanpa menahan diri sedikit pun.
Hantaman itu sangat keras hingga pilar marmer keras itu retak seketika di bagian permukaannya.
Darah segar langsung menetes dari buku-buku jari Leon yang kulitnya sobek akibat hantaman keras tersebut.
Para pengawal dan pengunjung mall yang melihat kejadian itu langsung menjerit tertahan dan mundur ketakutan.
Bahkan satpam yang tadi membentak Luna kini sudah jatuh terduduk di lantai sambil mengompol di celananya saking takutnya.
"Tuan Besar! Tangan Anda berdarah!" teriak Asisten Budi panik berlari mendekat.
"Jangan ada yang berani mendekat kepadaku!" bentak Leon dengan suara menggelegar membuat asistennya langsung berhenti mematung.
Leon sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit di tangannya yang robek meneteskan darah.
Hatinya jauh lebih hancur berantakan melihat kondisi anak malang yang ada di depannya ini.
CEO kejam yang tidak pernah menitikkan air mata selama puluhan tahun itu kini matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Leon kembali berjongkok di hadapan Luna dan mengulurkan tangannya yang berdarah itu dengan sangat ragu.
"Hai nona kecil... siapa namamu, Nak?" tanya Leon dengan suara yang sangat parau menahan isak tangisnya sendiri.
Luna menatap mata Leon dengan pandangan takut namun ada rasa aman yang aneh menjalar di hatinya saat melihat pria itu.
"Na-nama saya Luna, Tuan," jawab gadis kecil itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Mendengar nama itu disebut dari mulut anak itu, Nabila dan Leon saling berpandangan dengan tatapan tidak percaya.
Nama yang mereka berikan untuk bayi mereka enam tahun lalu ternyata masih melekat pada anak ini hingga sekarang.
"Luna... nama yang sangat indah," bisik Leon dengan sebutir air mata yang akhirnya lolos jatuh membasahi pipinya.
Leon langsung menarik tubuh kurus dan kotor Luna ke dalam pelukan bidangnya yang sangat besar dan protektif.
Ini adalah pertama kalinya Leon memeluk anak itu seumur hidupnya.
Perasaannya sungguh luar biasa berbeda dibandingkan saat dia memeluk Bianca selama enam tahun terakhir ini.
Ada getaran batin yang sangat kuat yang hanya bisa dirasakan oleh ikatan darah kandung yang sesungguhnya.
"Paman tidak takut baju Paman kotor kena debu dan darah dari kaki saya?" tanya Luna dengan polosnya di dalam dekapan Leon.
"Paman tidak peduli! Biar seluruh dunia ini hancur berantakan, Paman tidak akan melepaskan pelukan ini!" jawab Leon dengan tegas.
Nabila ikut memeluk dari belakang, menyatukan ketiga tubuh itu dalam sebuah pelukan keluarga yang tertunda selama enam tahun lamanya.
Pemandangan keluarga kaya raya yang memeluk pengemis berbau di tengah mall itu menjadi tontonan ratusan orang.
Namun Leon Wegan sama sekali tidak peduli pada pandangan dunia luar lagi detik ini.
Di kepalanya saat ini hanya ada satu tujuan utama yang harus dia laksanakan secepat mungkin tanpa penundaan.
Dia harus memastikan seratus persen secara medis bahwa anak ini adalah putrinya, lalu dia akan memulai pembantaian besar-besaran.
"Asisten Budi! Siapkan rumah sakit terbaik milik keluarga Wegan sekarang juga!" teriak Leon tanpa melepaskan pelukannya pada Luna.
"Kita akan melakukan tes DNA jalur prioritas utama hari ini juga!" perintah Leon dengan suara otoritas penuhnya menggema.
"Baik, Tuan Besar! Saya akan menghubungi direktur rumah sakit untuk menyiapkan segalanya sekarang juga!" jawab Asisten Budi langsung berlari menjauh untuk menelepon.
Leon perlahan menguraikan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang masih berlinang air mata.
"Kita bawa dia pergi dari jalanan neraka ini sekarang juga, Nabila," ucap Leon sambil menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jarinya.
Nabila mengangguk cepat menyetujui keputusan suaminya tanpa keraguan sedikit pun di hatinya.
"Lalu bagaimana dengan Bianca yang masih ada di dalam toko mainan?" tanya Nabila mendadak teringat pada anak palsu itu.
Raut wajah Leon seketika berubah menjadi sangat dingin tak tersentuh saat nama Bianca disebut.
"Suruh pengawal yang mengantarnya pulang ke rumah! Aku tidak ingin melihat wajah anak penipu itu untuk saat ini!" putus Leon dengan sangat kejam.
Cinta Leon hanya untuk darah dagingnya dan istrinya saja, dia tidak punya belas kasihan sedikit pun untuk anak orang lain.
Leon kemudian menunduk dan mengangkat tubuh kurus Luna ke dalam gendongannya dengan sangat mudah seolah anak itu seringan bulu.
"Paman mau bawa saya ke mana? Ibu Siska akan membunuh saya kalau uangnya tidak terkumpul!" jerit Luna panik meronta di gendongan Leon.
Leon menatap mata bulat putrinya dengan senyum tipis yang menyiratkan niat membunuh yang sangat kejam.
"Jangan khawatir, Luna sayang," bisik Leon di telinga gadis kecil itu sambil berjalan menuju mobil.
"Paman pastikan, wanita bernama Siska itu tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit besok pagi."
Ucapan Leon Wegan bukanlah sekadar gertakan kosong belaka.
Itu adalah vonis mati yang sudah dijatuhkan oleh sang CEO kejam yang siap membumihanguskan siapa saja yang menyentuh keluarganya.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget