"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Hawa dingin merayap masuk lewat celah ventilasi kayu, membuat udara di dalam rumah sewa berukuran sedang di pinggir jalan kompleks pesantren itu terasa makin menggigit.
Naya baru saja menyeduh teh melati hangat sewaktu ketukan pelan menyapa pintu depan. Tiga kali, sangat ragu-ragu.
Naya meletakkan cangkir porselennya di meja makan kecil, lalu melangkah ke depan. Saat engsel pintu berderit terbuka, sosok yang berdiri di ambang teras membuat jemari Naya di gagang pintu sempat tertahan sejenak.
Zahrani Shofa Humaira.
Gadis dua puluh tahun itu berdiri mencengkeram lipatan gamis cokelat mudanya. Wajahnya pucat, kelopak matanya bengkak dengan rona merah yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya sedikit gemetar, entah karena gigitan angin pegunungan atau rasa takut yang teramat sangat.
Naya mengamati sosok di hadapannya dengan tatapan jernih dan tenang. Tidak ada kilat kemarahan di matanya, tidak ada pula nada sengit dalam helaan nafasnya. Sebagai lulusan Psikologi, Naya paham betul bahasa tubuh seseorang yang sedang hancur oleh rasa bersalah dan kebingungan.
"Assalamu’alaikum, Ning..." cicit Rani, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin di luar.
"Wa’alaikumsalam," jawab Naya halus, suaranya mengalir tenang tanpa beban. "Masuklah, Rani. Di luar dingin."
Rani mendongak sebentar, seolah tak percaya bahwa wanita yang telah ia lukai sedalam ini masih membukakan pintu dan menyapa namanya dengan begitu santun. Dengan langkah ragu dan kepala tertunduk dalam-dalam, ia melangkah melewati ambang pintu.
Naya mempersilakan Rani duduk di sofa kain bermotif bunga pudar yang terletak di ruang tamu kecil itu. Ia lalu berjalan ke dapur dan kembali membawa sebuah cangkir teh hangat baru, meletakkannya tepat di hadapan santriwati tersebut.
"Minum dulu. Udara Pacet pagi ini sedang kurang ramah," kata Naya seraya mengambil tempat duduk di sofa seberang. Posisinya tegap, tangannya terlipat rapi di atas pangkuan.
Rani menatap cangkir yang menguap tipis itu, lalu memindai sekeliling ruangan. Dus-dus karton sudah tertata rapi di sudut dekat rak buku. Sebagian besar barang pribadi Naya telah dikemas. Pemandangan itu bagai jarum halus yang menusuk kesadaran Rani.
"Ada apa mencari saya ke sini, Rani?" tanya Naya membuka percakapan. Nada bicaranya lugas, tidak berbelit-belit, namun tetap dijaga agar tidak terdengar mengintimidasi.
Dua bulir air mata langsung lolos menetes ke pangkuan Rani. Jemarinya yang saling bertaut gemetar kian hebat.
"Rani... Rani mau minta maaf, Ning," ucapnya seraya terisak pelan. "Rani tahu Rani tidak tahu diri. Niat Rani ke sini cuma mau menyampaikan permohonan maaf yang sangat besar. Rani sudah mengambil Gus Reyhan dari sisi Ning Naya... Rani sudah membalas semua kebaikan dan bimbingan Ning Naya selama di pondok dengan keburukan yang sangat hina..."
Naya mendengarkan setiap kalimat itu tanpa menyela. Wajahnya kian kaku, namun matanya tetap memancarkan kedewasaan yang penuh keteguhan.
"Rani," potong Naya pelan namun berbobot, membuat isakan gadis di depannya terhenti sejenak. "Tidak perlu membahas hal itu lagi. Semuanya sudah terjadi, dan perceraian ini adalah keputusan yang saya ambil secara sadar. Ini jalan yang sudah saya pilih."
"Tapi Ning..." Rani mendongak, menatap Naya dengan pandangan memohon yang amat pilu. "Gus Reyhan... Gus Reyhan sangat mencintai Ning Naya. Sejak saat itu, beliau hancur, Ning. Gus Reyhan sangat sedih dengan perpisahan ini. Kalau Ning Naya mau... biar Rani saja yang mundur. Biar Rani yang pergi dari pesantren ini dan merelakan pernikahan siri kami dibatalkan, asal Ning Naya mau kembali pada Gus Reyhan..."
Naya menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kasihan, namun bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebodohan emosional yang sedang ditunjukkan Rani.
Sebuah senyum tipis—sangat tipis dan penuh ketegasan—terukir di bibir Naya.
"Untuk apa saya kembali, Rani?" Naya melempar pertanyaan itu dengan nada datar yang teramat tenang. "Kembali pada pria yang sejak awal tidak pernah betul-betul menginginkan kehadiran saya? Kembali ke rumah tangga yang didirikan di atas kebohongan dan penolakan?"
Rani tertegun, bibirnya terkatup kaku.
Naya memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Rani. "Kamu salah mengartikan penyesalan Gus Reyhan saat ini. Pria seperti dia tidak sedang menangisi kehilangan saya sebagai seorang istri yang dicintai. Dia hanya sedang terguncang karena egonya terluka. Statusnya, panggilannya sebagai pimpinan yang disegani, dan harga dirinya runtuh dalam semalam. Jangan keliru menilai emosi seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan."
Rani menelan ludah dengan susah payah. Logika Naya yang dingin dan runtut meruntuhkan seluruh argumentasi emosional yang ia siapkan dari pondok tadi.
"Lagipula," lanjut Naya, suaranya kembali melembut namun tetap berjarak, "apa yang terjadi di antara kamu dan Gus Reyhan bukan lagi urusan saya. Saya tidak menuntut cerai karena ingin bertukar tempat denganmu atau bertindak sebagai martir. Saya pergi karena saya menghargai diri saya sendiri."
Naya menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran sofa. Tatapannya menembus jendela kaca yang tertutup kabut di luar.
"Yang perlu kamu pikirkan saat ini bukan lagi keputusan saya atau penyesalan Gus Reyhan, melainkan diri kamu sendiri, Rani," ujar Naya, menatap Rani kembali dengan sorot mata penuh nasihat yang jujur. "Kamu sudah memilih jalur ini. Kamu sudah memutuskan untuk terikat dengannya. Maka jadilah istri yang baik sesuai dengan apa yang Gus Reyhan butuhkan."
Air mata Rani mengalir kian deras, namun kali ini bukan lagi karena rasa bersalah belaka, melainkan karena keagungan jiwa wanita di depannya yang sama sekali tidak menaruh dendam murahan padanya.
"Buktikan bahwa keputusanmu berlindung di balik pria itu memang memiliki nilai," tambah Naya, menggarisbawahi tiap kata dengan teratur. "Jadilah sosok yang lebih baik lagi kelak—baik sebagai seorang istri, sebagai menantu untuk Abi dan Umi yang sangat pemurah, maupun sebagai seorang ibu bagi anak-anakmu kelak."
Naya menghela nafas pendek, lalu memberikan penekanan terakhir yang menghujam langsung ke ulu hati Rani. "Dan satu hal yang paling penting, Rani... cintailah Reyhan karena Allah, bukan karena nafsu, bukan karena rasa haus akan perlindungan finansial, dan bukan pula karena status sosialnya sebagai seorang Gus. Jika kamu mencintainya karena Allah, kamu tidak akan pernah menuntunnya pada jalan kebohongan seperti yang sudah kalian lakukan selama satu tahun ini."
Rani tertunduk dalam-dalam, tangisnya pecah tanpa suara. Setiap patah kata yang keluar dari mulut Naya meremukkan segala pembenaran yang selama ini dibangunnya di dalam hati. Di hadapan keteguhan dan logika Naya yang begitu anggun, Rani merasa dirinya benar-benar kerdil.
"Terima kasih atas tehnya," cicit Rani akhirnya dengan suara serak. Ia berdiri dari sofa dengan tubuh lesu, menyapu air matanya dengan ujung jilbab. "Rani... Rani pamit kembali ke pondok, Ning."
Naya ikut berdiri, mengangguk santun. "Hati-hati di jalan. Angin di luar sedang kencang."
Tanpa ada pelukan, tanpa ada drama isak tangis berlebihan dari pihak Naya, Rani membalikkan badan dan melangkah keluar dari rumah sewa tersebut. Pintu kayu ditutup kembali oleh Naya dengan gerakan perlahan namun pasti—seolah menjadi simbolik menutup rapat-rapat babak kehidupannya di tempat itu.
**
Suara derit halus engsel pintu kayu terdengar menyapa heningnya kamar di lantai dua ndalem utama. Sinar matahari siang yang terhalang kabut tebal hanya menyisakan temaram redup, menerobos pasrah lewat celah tirai yang tergantung kaku.
Reyhan langsung mendongak dari tepi dipan. Buku kitab tebal di tangannya hampir terlepas sewaktu seberkas harapan liar mendadak membakar dadanya.
"Naya—" Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, parau dan penuh kehausan. Namun, binar di matanya padam seketika.
Bukan Naya yang berdiri di ambang pintu.
Rani berdiri kaku di sana, memegang nampan kayu berisi secangkir teh menguap dan piring kecil berisikan cemilan hangat. Wajahnya yang biasa polos kini dilapisi keraguan yang teramat besar.
"G-Gus..." cicit Rani pelan, matanya menyapu sekeliling kamar yang luas dan beraroma lavender pudar itu—ruang pribadi yang selama satu tahun ini menjadi saksi bisu keberadaan Naya.
"Boleh Rani masuk? Rani bawakan teh hangat..."
Reyhan mengamati wanita di hadapannya dengan tatapan hampa. Kamar lantai dua ini adalah tempat tersuci yang menyimpan ribuan kenangan sunyi antara dirinya dan Naya, tempat di mana Naya selalu merapikan jubahnya tanpa mengeluh sedikit pun meski ia bersikap dingin. Kehadiran Rani di ambang pintu ini justru makin mempertegas lubang kehampaan yang ditinggalkan Naya.
Pria itu memejamkan mata sejenak, menahan sesak yang menghimpit dadanya. "Lebih baik kita ke halaman belakang saja, Rani. Di sana lebih tenang."
Rani menunduk rapat, menyembunyikan kekecewaan yang berdesir pelan di hatinya. "Inggih, Gus."
Beberapa menit kemudian, angin pegunungan yang membawa hawa dingin menusuk kulit menyambut mereka di gazebo kayu halaman belakang ndalem utama. Di hadapan mereka, membentang hamparan instalasi tanaman hidroponik yang hijau dan tertata rapi—sebuah karya telaten yang dibangun oleh Bu Nyai Khadijah bersama Naya semasa wanita itu masih berstatus sebagai menantu kesayangan.
Rani meletakkan nampan di atas meja kayu, lalu mengambil tempat duduk bersisian dengan Reyhan. Jarak di antara mereka tak sampai satu meter, namun benteng kecanggungan terasa membentang amat lebar.
Rani menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengamati uap teh yang perlahan menghilang tertiup angin sore.
"Gus... Rani mau minta maaf."
Reyhan mengalihkan pandangannya dari deretan daun selada hijau di hadapannya. Manik matanya yang redup menatap paras rapuh di sampingnya.
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang terjadi," suara Rani bergetar, tertahan di tenggorokan. "Kalau saja... kalau saja waktu itu Rani tidak menuruti ajakan Gus Reyhan untuk pergi ke Kediri, kalau saja Rani tidak menerima pernikahan siri itu... mungkin rumah tangga Gus Reyhan dan Ning Naya tidak akan hancur seperti ini."
Reyhan menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang terasa menusuk dada, lalu menghembuskannya perlahan. Pandangannya kembali terlempar jauh menatap kabut yang mulai merayap turun dari puncak gunung.
"Yang bersalah dalam hal ini bukan kamu, Rani," tutur Reyhan, suaranya terdengar datar namun menyimpan kegetiran yang mendalam. "Aku seorang laki-laki. Akulah yang memegang kendali. Tapi aku tidak bisa menyikapinya dengan bijak. Aku terlalu egois, terlalu bersikap gegabah mengambil keputusan... hingga semua yang aku sentuh berakhir dalam kehancuran."
Rani menoleh perlahan, menatap sisi wajah Reyhan dari samping. Rahang pria itu mengeras, dan ada kelelahan jiwa yang teramat sangat terpancar dari garis mukanya. Dari setiap patah kata yang meluncur tanpa gairah itu, Rani bukanlah wanita bodoh yang tidak bisa membaca situasi. Ia tahu pasti, rasa bersalah pria di sampingnya bukan ditujukan untuknya.
"Gus..." panggil Rani ragu, jemarinya meremas kain sarung di pangkuannya. "Apakah... Gus Reyhan menyesal?"
Pertanyaan itu menggantung di udara malam yang kian mendingin.
Reyhan tidak langsung menjawab. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kaku. "Menyesal atau tidak... semuanya sudah terjadi, Rani. Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Tidak ada sama sekali. Naya sudah pergi, dan keputusannya sudah bulat."
Pria itu menundukkan kepalanya, membiarkan bayang-bayang penyesalan menggerogoti sisa-sisa harga dirinya. Ia adalah akar dari segala penderitaan ini. Jika saja sejak awal ia mau menurunkan egonya dan mencoba membuka hati untuk Naya—wanita cerdas, anggun, dan berpendidikan yang selalu menghormatinya.
Jika saja ia tidak melarikan diri pada ilusi kepolosan Rani hanya demi memuaskan dahaga egonya yang ingin dipuja. Jika saja ia tidak menyimpan rahasia busuk pernikahan siri ini... Naya tidak akan pernah meninggalkannya dengan luka sedalam ini. Namun nasi telah menjadi bubur. Permata yang selama ini ada di genggamannya telah ia hempaskan sendiri ke dalam lumpur keangkuhan.
Reyhan menghembuskan napas berat, mencoba menegakkan kembali punggungnya meski terasa amat lumpuh. Ia menoleh menatap Rani dengan binar mata yang netral—tanpa ada sisa kehangatan apalagi gairah cinta.
"Setelah ini," ucap Reyhan dengan nada keputusan yang final, "kamu harus menyiapkan diri untuk menjadi istri di ndalem utama. Abi sudah memutuskan, dan aku juga akan belajar untuk menerima semuanya."
Tanpa menunggu balasan dari Rani, Reyhan bangkit dari tempat duduknya. Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam sewaktu ia membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan gazebo, dan kembali berjalan naik menuju kesepian kamarnya di lantai dua.
Rani ditinggalkan seorang diri di gazebo yang makin membeku. Perempuan muda itu menatap punggung Reyhan yang perlahan menghilang di balik pintu kaca ndalem. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes basah membasahi pipinya.
Menerima semuanya. Kata-kata itu terdengar bagai vonis hukuman mati daripada sebuah janji pernikahan yang membahagiakan. Rani menyadari satu hal yang amat menyakitkan: ia mungkin akan mendapatkan raga Gus Reyhan di ndalem utama, namun jiwa dan jiwa pria itu telah mati dan terkubur bersama kepergian Naya.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah