Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kejutan Di Kamar VIP
Senyuman hangat di wajah Ibu mengembang sempurna ketika pria berjas rapi itu menyapa dengan nada suara yang begitu lembut.
Aku masih berdiri kaku di samping sofa kulit, tidak mampu mempercayai penglihatanku sendiri. Pria yang baru saja melangkah masuk ke ruang rawat inap VIP ini adalah Sakti. Sang penguasa Vanguard Corp yang terkenal dengan julukan predator berdarah dingin di dunia bisnis.
Halifa yang berdiri di sebelahku tampak sama terkejutnya. Sahabatku itu bahkan menahan napas, menatap Sakti dari ujung sepatu kulit mahalnya hingga ke ujung rambutnya yang tertata sempurna.
Sakti tidak mempedulikan kecanggungan kami. Ia melangkah tenang menghampiri ranjang medis. Parsel buah-buahan mewah berukuran besar yang dibawanya diletakkan perlahan di atas meja kecil di samping ranjang.
Langkah kaki Sakti sama sekali tidak menimbulkan suara bising. Ia bergerak dengan kehati-hatian ekstra, sangat kontras dengan langkah intimidatif yang selalu ia tunjukkan saat menyusuri koridor lantai lima puluh lima.
Ibu yang perlahan membuka matanya tampak sedikit bingung melihat kehadiran pria asing berpostur tinggi tegap di kamarnya.
"Selamat malam, Ibu Busnah," sapa Sakti. Nada suaranya bariton, sangat rendah, dan penuh dengan rasa hormat yang mendalam.
Sakti membungkukkan badannya sedikit, memberikan gestur kesopanan yang membuatku semakin kehilangan kata-kata. Pria yang bahkan tidak pernah menundukkan kepala di hadapan para dewan komisaris miliarder itu, kini membungkuk sopan di hadapan ibuku.
"Malam, Nak," jawab Ibu dengan suara parau namun dihiasi senyum ramah. Mata Ibu menyipit, mencoba mengenali wajah Sakti. "Maaf, Nak ini siapa ya? Temannya Tera?"
Aku bermaksud melangkah maju untuk memotong pembicaraan dan memperkenalkan Sakti sebagai atasanku. Namun, Sakti mengangkat satu tangannya sedikit ke arahku, memberikan isyarat agar aku tetap diam di tempatku.
"Nama saya Sakti, Bu," jawab pria itu dengan ketenangan luar biasa. Ia menarik kursi kayu di sebelah ranjang dan duduk di sana tanpa keraguan sedikit pun. "Saya adalah atasan Tera di kantor. Saya sengaja datang kemari untuk melihat langsung perkembangan kondisi kesehatan Ibu."
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Mata Ibu langsung membelalak pelan. Raut wajahnya berubah menjadi penuh haru.
"Ya Tuhan... jadi Nak Sakti ini bosnya Tera?" Ibu berusaha mengangkat tubuhnya sedikit untuk bersandar pada bantal.
Sakti dengan sigap berdiri dari kursinya. Tangannya yang kokoh dengan hati-hati menyesuaikan bantalan di punggung Ibu, memastikan ibuku berada dalam posisi duduk yang paling nyaman tanpa menyentuh selang infus di pergelangan tangannya.
"Tidak perlu repot-repot, Nak Sakti," ucap Ibu penuh rasa sungkan. "Tera sudah menceritakan semuanya. Ibu sangat berterima kasih. Kalau bukan karena bantuan Nak Sakti yang memindahkan Ibu ke rumah sakit mewah ini, Ibu tidak tahu apakah Ibu masih bisa melihat wajah Tera hari ini."
Air mata menggenang di sudut mata Ibu.
Aku merasakan dadaku sesak menahan haru. Aku menatap punggung tegap Sakti yang kini duduk kembali menghadap ibuku.
Sakti menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak ada sedikit pun raut arogansi di wajah kerasnya. Yang ada hanyalah kelembutan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
"Ibu tidak perlu berterima kasih kepada saya," ucap Sakti tulus. "Fasilitas ini adalah sesuatu yang pantas didapatkan oleh putri Ibu. Tera adalah salah satu individu paling cerdas dan pekerja keras yang pernah saya temui. Perusahaan saya sangat bergantung pada kemampuannya."
Sakti menoleh sekilas ke arahku, memberikan tatapan yang sangat dalam sebelum kembali menatap Ibu.
"Justru saya yang harus berterima kasih kepada Ibu karena telah membesarkan seorang wanita tangguh seperti Tera. Dia telah menyelamatkan perusahaan saya dari banyak masalah besar dalam waktu yang sangat singkat."
Aku tertegun. Pujian itu meluncur begitu saja dari bibir Sakti. Pujian yang tidak pernah ia ucapkan secara langsung di kantor, kini ia sampaikan dengan penuh keyakinan di hadapan ibuku.
Halifa menyikut pinggangku pelan dari samping. Sahabatku itu memberikan tatapan penuh arti, seolah menegaskan teori asmaranya yang baru saja ia utarakan beberapa menit lalu.
Aku mengabaikan Halifa. Fokusku sepenuhnya terkunci pada interaksi Sakti dan Ibu.
Antarmuka hijau dari sistem A.U.R.A mendadak berkedip menyala di sudut retinaku, memecah fokus pandanganku tanpa kuperintah.
[Memindai Respons Fisiologis Inang.]
[Peringatan Inang. Detak Jantung Inang Meningkat 40%.]
[Indikator Ketertarikan Emosional: Tinggi.]
[Status Kognitif: Terdeteksi Pelepasan Hormon Oksitosin Dalam Jumlah Besar.]
Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahku. Sistem tidak pernah berbohong. Logika di kepalaku mungkin masih berusaha menyangkal, tetapi tubuhku memberikan reaksi jujur atas perlakuan manis pria di hadapanku ini.
Sikap Sakti yang sangat santun dan penuh rasa hormat di hadapan Ibuku membuat pertahanan hatiku runtuh perlahan-lahan.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
"Nak Sakti terlalu memuji," kekeh Ibu pelan. Wajah pucatnya terlihat jauh lebih berseri-seri. "Tera memang keras kepala sejak kecil. Kalau dia sudah punya keinginan, dia akan mengejarnya sampai dapat. Terutama kalau itu menyangkut urusan biaya pengobatan saya."
Ibu menatap Sakti lekat-lekat, menilai pria itu layaknya seorang orang tua yang sedang mengevaluasi calon pendamping putrinya.
"Nak Sakti pasti sangat sibuk mengurus perusahaan besar," lanjut Ibu. "Tolong jangan terlalu memanjakan Tera. Kalau dia melakukan kesalahan di kantor, tegur saja dia."
"Saya pasti akan membimbingnya, Bu," jawab Sakti dengan senyum simpul yang sangat langka. "Ibu hanya perlu fokus pada pemulihan. Dokter Hindan sudah memberikan laporan kepada saya bahwa operasi tahap kedua akan dilakukan minggu depan. Tingkat keberhasilannya sangat tinggi."
"Puji syukur," gumam Ibu lega.
Halifa berdeham pelan, memecah keheningan singkat di antara kami.
"Tante, Tera... sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap Halifa mendadak. Sahabatku itu meraih tas jinjingnya dari lantai dengan tergesa-gesa. "Ibuku baru saja mengirim pesan menyuruhku segera pulang."
Aku tahu itu hanya alasan buatan Halifa untuk meninggalkan kami. Ia sengaja memberikan ruang privasi untukku dan Sakti.
"Terima kasih sudah menjenguk, Halifa. Hati-hati di jalan," balas Ibu tersenyum.
Aku mengantar Halifa hingga ke ambang pintu. Sahabatku itu menyempatkan diri berbisik tepat di depan telingaku sebelum melangkah keluar.
"Investasi perusahaan matamu," bisik Halifa dengan nada menggoda yang sangat kentara. "Tatapan matanya ke arahmu itu tatapan pria yang sedang mengklaim wanitanya, Ter. Bersiaplah."
Halifa menutup pintu ruangan sebelum aku sempat membalas perkataannya.
Kini, hanya tersisa aku, Ibu, dan Sakti di dalam ruangan VIP yang luas ini.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku melangkah perlahan mendekati ranjang. Aku berdiri tepat di sisi yang berlawanan dengan tempat Sakti duduk.
"Pak Sakti," panggilku pelan, menggunakan nada formal untuk mengingatkan kembali posisi kami. "Anda tidak perlu repot-repot membelikan parsel buah sebesar itu. Waktu luang Anda jauh lebih berharga daripada harus menghabiskannya di rumah sakit."
Sakti mengangkat wajahnya. Kacamata peraknya memantulkan cahaya lampu ruangan yang lembut. Matanya kembali menatapku dengan intensitas yang sangat tajam.
"Saya sendiri yang memutuskan bagaimana saya harus menghabiskan waktu luang saya, Tera," jawab Sakti mutlak, mematahkan argumen formalku seketika. "Dan saya memilih berada di sini."
Ibu menatap kami bergantian. Senyum di wajah wanita paruh baya itu semakin mengembang. Insting keibuannya jelas menangkap getaran ketegangan yang aneh di antara aku dan bosku ini.
"Kemarilah, Tera," panggil Ibu dengan suara lembut.
Aku melangkah lebih dekat ke arah bantal Ibu.
Ibu mengangkat tangan kanannya yang tidak terpasang selang infus. Beliau meraih jemari tanganku. Kulit tangannya terasa hangat, sebuah pertanda bahwa sirkulasi darahnya mulai membaik.
Namun, hal yang terjadi selanjutnya membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.
Ibu mengulurkan tangannya yang lain ke arah seberang ranjang.
"Nak Sakti, tolong kemari sebentar," pinta Ibu.
Sakti tidak menolak. Pria itu menyondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan telapak tangannya yang besar dan kokoh.
Ibu meraih jemari tangan Sakti. Kemudian, dengan gerakan pelan namun pasti, Ibu menarik tanganku dan menyatukannya dengan tangan Sakti tepat di atas selimut putihnya.
Gagang pintu logika di kepalaku seolah patah seketika.
Kulit tanganku bersentuhan langsung dengan telapak tangan Sakti. Rasa hangat dan kasar dari jemari pria itu menjalar cepat menembus pori-poriku. Sakti sama sekali tidak menarik tangannya. Ia justru membalikkan telapak tangannya, menopang punggung tanganku, dan mengunci jemariku di bawah sentuhan tangan Ibu.
[Peringatan Sistem: Lonjakan Adrenalin Subjek Sakti Terdeteksi.]
Aku menatap mata Sakti dengan panik. Pria itu menatap lurus ke arahku. Tidak ada penolakan di matanya, melainkan sebuah penerimaan yang sangat kuat.
Ibu mengusap punggung tangan kami berdua yang kini saling tertaut.
"Ibu titipkan Tera padamu ya, Nak Sakti," ucap Ibu dengan nada suara yang bergetar penuh harap. "Dia gadis yang sangat mandiri, tapi kadang dia lupa bahwa dia tidak harus memikul seluruh beban dunia sendirian."
Sakti mempererat genggamannya di tanganku. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mataku saat memberikan jawaban kepada ibuku.
"Saya berjanji, Bu," suara Sakti menggema rendah dan berwibawa di dalam ruangan itu. "Saya akan menjaga Tera. Saya pastikan dia tidak akan pernah berjuang sendirian lagi."
Genggaman tangan itu tidak terlepas. Ibu meraih jemari tanganku dan tangan Sakti, menyatukannya ke dalam satu genggaman hangat yang tak terlepaskan. Aku membeku di tempat, tersesat sepenuhnya di dalam tatapan gelap pria yang kini menggenggam masa depanku.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?