Indonesia
NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

PIETRA PETROVSKY

Kututup pintu apartemen lebih keras dari yang kumaksudkan.

Bukan karena marah.

Tapi lelah.

Kulempar tas ke sofa, lalu berjalan ke jendela, menatap kota di bawah sana.

Moskow terus bergerak dengan iramanya yang acuh tak acuh: mobil-mobil melintas, orang-orang datang dan pergi, seolah dunia tidak baru saja runtuh di dalam diriku beberapa jam yang lalu.

Aku sudah tahu.

Tak butuh konfirmasi.

Aku terlalu terus terang. Terlalu sombong. Terlalu naif karena mengira lelaki seperti Marco D'Amato akan menerima ditentang oleh orang seperti aku. Lelaki macam dia tidak merekrut orang, mereka mengoleksi kepatuhan.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Selamat, Pietra..." gumamku pada diri sendiri. "Kau berhasil kehilangan pekerjaan bahkan sebelum sempat memulainya."

Aku masuk ke kamar, melepas mantel, sepatu, lalu mengikat rambut asal-asalan.

Keheningan apartemen terasa lebih nyaring daripada lalu lintas di luar sana.

Kubuatkan teh, lebih karena kebiasaan ketimbang keinginan, lalu duduk di meja kecil dapur.

Kubuka laptop.

Aku mulai mencari lowongan baru, iklan baru, kemungkinan baru. Aku tidak boleh berhenti. Tidak sekarang.

Tidak setelah semua yang kutinggalkan.

Meski begitu, pikiranku terus kembali ke tatapan itu.

Dingin. Tajam. Kesal.

Marco D'Amato...

Cara ia mengamatiku di akhir wawancara... itu bukan penghinaan. Bukan pula persetujuan. Sesuatu yang tak bisa kudefinisikan. Sesuatu yang membuatku tidak nyaman dan, di luar kehendakku, waspada.

Kugelengkan kepala, mengusir pikiran itu.

Semua ini sudah tidak penting lagi.

Saat itulah ponselku bergetar di atas meja.

Nomor tak dikenal.

Kuabaikan.

Kalau itu penipuan, iklan, atau semacamnya, aku sedang tidak punya kesabaran. Aku kembali mengetik, berusaha tidak memikirkan kegagalan yang baru saja terjadi.

Ponsel bergetar lagi.

Sekali lagi.

Aku mengembuskan napas kesal, lalu mengangkatnya.

"Halo?"

"Nona Pietra Petrovsky?" Suara perempuan di seberang terdengar profesional dan tegas.

Perutku terasa melilit.

"Ya... ini saya."

"Ini Irina Keller, dari perusahaan D'Amato. Saya menghubungi untuk menyampaikan hasil proses seleksi."

Jantungku melambat.

Inilah dia. Kata "tidak" itu.

"Baik," jawabku, sudah bersiap-siap.

"Kami ingin memberitahukan bahwa Anda terpilih untuk posisi sekretaris eksekutif Tuan Marco D'Amato."

Dunia... berhenti.

"Maaf..." kataku, yakin telah salah dengar. "Bisa diulangi?"

Ada jeda singkat di seberang sana.

"Anda adalah sekretaris baru Tuan D'Amato. Jika Anda bersedia menerima, kami menunggu Anda besok pukul delapan pagi."

Tanganku mulai gemetar.

"Saya... saya yang dipilih?" tanyaku, tak percaya.

"Ya, Nona Petrovsky. Ini keputusan langsung dari Tuan D'Amato."

Langsung...

Aku menelan ludah.

"Saya terima," jawabku bahkan sebelum sempat berpikir. "Tentu saja saya terima."

"Bagus. Saya akan mengirimkan rincian lewat email hari ini juga. Selamat malam."

Sambungan terputus.

Beberapa detik aku hanya menatap layar ponsel yang sudah padam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Jantungku berdegup kencang, bukan karena kebahagiaan murni, melainkan sesuatu yang lebih rumit.

Keterkejutan.

Kecurigaan.

Dan setitik rasa ingin tahu yang berbahaya.

Marco D'Amato telah memilihku.

Lelaki yang kutentang.

Lelaki yang tampak meremehkanku.

Lelaki yang sekarang akan menjadi bosku.

Aku terkekeh pelan, gugup.

"Ini pasti bercanda..." bisikku.

Tapi bukan.

Aku bangkit melompat kegirangan, lalu berlari ke kamar dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidurku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!