Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki misterius
"Syukurlah mereka tidak curiga pada tuan besar" batin seseorang yang berdiri di depan pintu dan berpura pura merapikan tempat itu yang baru selesai di semen tiga orang tukang di bantu tiga orang kenek.
•••••••••••••
Di halaman.
"Kang, kapan atap dan dinding selesai?" tanya Husna karena dia melihat anak anaknya sudah mulai mengantuk.
"Atap sudah selesai non, kalau dinding hanya tinggal yang di lantai bawah, lantai atas sudah selesai dan sudah bisa di tempati" jawab tukang.
"Terima kasih ya kang, anak anak sepertinya sudah mulai lelah" ucap Husna
"Iya non, masuk saja di lantai atas juga sepertinya bi Aminah sudah mulai bersih bersih sejak tadi, lagipula ini sudah hampir magrib dan kami di minta kerja lembur" jawab tukang.
"Apa tidak apa apa kang? mungkin keluarga di rumah khawatir" tanya Husna
"Tidak apa apa non, kami sudah memberi tahu keluarga kami ko, lagipula hanya tinggal dinding di ruang tamu saja, yang di luar sudah selesai di semen oleh empat teman saya tadi sore" jawabnya
Keluarga Bintang juga sudah pulang sore hari setelah mereka shalat ashar berjamaah di sana, bahkan Rukmini juga Sahara memagari sekeliling rumah itu supaya malam itu tidak ada binatang buas bisa mendekat.
"Anak anak ayo masuk, lantai dua sudah bersih" ajak Husna
"Kami lapal ma.." keluh Hannah
"Iya nak, bi Aminah dan bi Imah sudah masak untuk kita semua" jawab Husna merangkul anak anak itu.
"Mama..., mamang tukang itu terlihat berbeda" ucap Reza
"Berbeda kenapa?" tanya Husna pelan
"Mamang itu bawa sesuatu di saku celananya, mamang yang baru datang itu juga sejak tadi hanya keliling rumah saja tidak bantu bekerja" jawab Rian
"Siapa dia? mama juga belum pernah lihat dia sejak tinggal di sini, kalau tukang yang lain mama kenal" gumam Husna memperhatikan seorang tukang yang terlihat lebih muda, tapi tangannya terlalu bersih untuk menjadi tukang bangunan bahkan kulitnya juga putih bersih sangat berbeda dengan tukang bangunan lain yang berkulit gelap karena terkena sinar matahari.
Karta memang sengaja menyewa banyak tukang hari itu untuk menyelesaikan perbaikan dinding dan lantai rumahnya lebih cepat, makanya dia tidak tahu siapa saja orang orang di sana tapi untuk para tukang yang bekerja di dalam rumah, Husna mengenal mereka karena mereka masih warga kampung Curug sendiri.
"Kenapa sayang? ayo mandi dan bersiap shalat Maghrib" tanya Hatta merangkul Husna.
"Iya mas, itu... tukang itu terlihat berbeda dengan yang lain" jawab Husna
"Husna..."
"Astagfirullah mas, aku bukan suka dia, aku curiga sama dia" ucap Husna saat Hatta terlihat cemburu padanya.
"Curiga kenapa?" tanya Hatta yang sebenarnya sudah sejak tadi mengawasi laki laki itu yang menurut Urfa punya sedikit bau belerang sama seperti sosok putih yang datang semalam.
"Kata Rian dan Reza dia terus keliling rumah tidak tahu untuk apa, tapi dia tidak bekerja" jawab Husna
"Mungkin dia mandor" jawab Hatta agar Husna tidak khawatir pada anak anak dan bisa lebih rileks.
"Baiklah, mungkin iya, aku mandi dulu ya mas, mau bersiap shalat"
"Iya, nanti aku menyusul"
Hatta lalu menghampiri orang yang di maksud Husna, lelaki itu tampak biasa saja dan tetap membantu membersihkan sisa sisa semen yang berserakan di lantai setelah seorang tukang selesai memperbaiki dinding ruangan tamu. Hatta juga memperhatikan hasil pekerjaan bersih bersihnya sama sekali tidak bagus, masih banyak yang tersisa di beberapa tempat dan ujung ujungnya asisten rumah tangga Karta yang menyelesaikan membersihkan semua tempat di sana.
"Orang baru dari siapa?" tanya Hatta
"Saya.. saya orang baru yang ikut pak Maman" jawabnya sopan
"Oh..."
Hatta tersenyum sinis karena Maman sama sekali tidak bekerja di sana, Maman sedang mengurus sebuah proyek di dekat kantor balai desa dan yang ke tempat Karta tidak ada satupun anak buah Maman.
"Kerja yang benar, karena kalau kamu tidak becus kang Maman mungkin akan memecat kamu" ucap Hatta berlalu pergi
"Baik juragan" jawabnya menunduk sopan tapi Hatta bisa melihat rahangnya mengeras tanda kalau dia kesal.
"Kacung sialan! mereka berusaha menjadi juragan tapi kacung tetap saja kacung!" batin lelaki itu mengepalkan tangannya lalu segera pergi dari sana karena tubuhnya sudah mulai kepanasan akibat pagar gaib dan juga tiga jin itu sudah masuk ke dalam rumah Hatta.
Urfa juga memperhatikan orang itu dan dia tidak bisa mengikutinya karena orang itu memakai sesuatu yang membuat Urfa terus terpental ketika Urfa mencoba mengikutinya, tapi Urfa punya seekor burung yang bisa dia percaya dan burung itu akan mengikuti laki laki itu.
"Mang Oman sudah berapa lama kerja jadi tukang?" tanya Hatta saat mereka sedang makan malam, mereka lesehan di lantai dua karena lantai satu baru di bersihkan dan masih ada bau semen jadi Hatta khawatir itu akan menggangu mereka.
"Sudah lama den, sudah sejak remaja, karena saya tidak sekolah jadi saya ikut bapak saya kerja jadi kuli dulu, setelah belajar secara mandiri dari bapak saya, saya bisa jadi tukang yang di percaya banyak orang, saya juga sekolah lagi sampai SMA, baru lulus lima tahun lalu, ikut kejar paket yang di tawarkan den Dirga" jawab Oman
"Masya Allah, Alhamdulillah kalau mang Oman ternyata sudah lulus, silahkan makan mang, malam ini menginap saja di sini karena di sekitar sini masih banyak binatang buas kalau malam" ucap Hatta
"Saya takut merepotkan den" ucap Oman
"Tidak man, nanti kalian bisa pakai ruangan yang ada di dekat dapur, itu khusus untuk penyimpanan bahan makanan tapi masih kosong jadi kalian bisa tidur di sana, nanti Marfu akan membawakan kalian kasur lantai dan selimut, ada kamar mandi juga di dapur jadi kalian tidak perlu sungkan toh besok kan kalian juga para tukang lain yang tadi sore pulang akan mulai membangun pagar rumah" ucap Karta
"Baik juragan terima kasih karena sudah memberi kami pekerjaan, kebetulan akhir akhir ini kami sedang sepi proyek karena sering kalah dengan para kontraktor dari kota, bahkan para tukang di sini sering ikut mereka dengan bayaran di bawah upah kami" ungkap Oman
"Sama sama, saya kenal kalian jadi saya juga lebih percaya kalian, kalau kalian tidak amanah kan saya bisa labrak kalian ke rumah kalian" jawab Karta bercanda dan mereka tertawa bersama.
Hatta merasa lega karena malam itu teror tidak terjadi, meskipun dia masih bisa merasakan keberadaan sosok putih itu terus mengelilingi rumah Karta karena dia tidak bisa masuk ke dalam rumah lagi.
"Nak... Sosok putih itu terlihat kesal karena dia tidak bisa masuk" bisik Urfa
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭