Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA KECIL DI DALAM TAS

Langkah kaki kami menyusuri trotoar menuju stasiun kereta sore itu terasa jauh lebih tenang setelah ketegangan di kampus mereda. Genggaman tangan Kaito di jemariku masih terasa begitu protektif, menyalurkan rasa aman yang tak tergoyahkan.

Namun, saat kami hampir tiba di area depan stasiun, Kaito mendadak menghentikan langkahnya.

Ia memutar tubuhnya menghadapku dengan raut wajah yang sedikit terburu-buru. Kaito mengulurkan tangannya ke udara, menyusun bahasa isyarat dengan cepat:

[Hana, maaf sekali, ada barangku yang tertinggal di kampus. Kamu tunggu di dalam stasiun dulu, ya?]

Aku memiringkan kepala sedikit, menatap wajahnya yang tampak agak panik. Meski heran barang apa yang bisa tertinggal, aku tidak bertanya lebih jauh. Aku menganggukkan kepala pelan lalu membalas isyaratnya:

[Iya, Kaito. Aku tunggu kamu di dekat loket stasiun.]

Kaito tersenyum lega, mengusap kepala pelan, lalu berbalik dan berlari cepat kembali ke arah jalan utama. Aku memperhatikan punggungnya yang menjauh sebentar, sebelum akhirnya melangkah masuk ke area stasiun sendirian.

Namun, Kaito sebenarnya sama sekali tidak berlari menuju gedung universitas.

Langkah kakinya yang cepat membawanya menyeberangi jalanan menuju toko perhiasan kecil di dekat stasiun toko yang sama tempat aku terpaku menatap kaca etalase beberapa hari yang lalu.

Suara bel toko berdenting pelan saat Kaito mendorong pintu kaca. Penjaga toko, seorang wanita paruh baya berwajah ramah, menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat. Wanita itu rupanya sudah mengenali Kaito yang dalam beberapa hari terakhir sering mampir untuk menanyakan harga dan detail kalung tersebut.

Kaito menunjuk ke arah etalase kaca, tepat pada kalung perak berbandul kelopak bunga anggun yang diincarnya. Dengan napas yang sedikit memburu, Kaito mengeluarkan sejumlah uang tunai dari dompetnya uang hasil keringat dan kerja keras paruh waktunya hingga larut malam di kafe selama berhari-hari.

Setelah dihitung oleh penjaga toko, jumlah uang itu ternyata sudah sangat pas dan mencukupi.

Perasaan bahagia yang amat besar seketika membuncah di dalam dada Kaito. Seluruh rasa lelah di tubuhnya, kantuk yang menyiksa, serta mengorbankan waktu istirahatnya... terbayar tuntas detik itu juga.

"Tolong dibungkus menjadi kado kecil yang cantik ya, Bibi," pinta Kaito dengan sopan.

Penjaga toko itu tersenyum penuh arti. Ia bisa melihat dengan jelas pendar binar bahagia di mata Kaito dan mengerti betul betapa istimewanya hadiah ini. "Tentu saja. Kado ini pasti dipersembahkan untuk orang yang sangat berharga dalam hidupmu, bukan?" ucap penjaga toko itu ramah sambil menata pita cantik di atas kotak beludru tersebut.

Setelah selesai membungkus kado itu dengan amat rapi, wanita itu menyerahkannya pada Kaito. "Semoga berhasil dengan hadiah ini ya. Pria setulus kamu... gadis itu pasti akan sangat bahagia saat menerimanya."

Mendengar doa tulus dari penjaga toko, senyuman tampan terkembang sempurna di wajah Kaito. Ia membungkuk hormat mengucapkan terima kasih, lalu menerima kado kecil itu dengan amat hati-hati.

Begitu keluar dari toko perhiasan, Kaito merogoh tas kuliahnya dan menyimpan kotak kado itu di bagian paling dalam agar terlindung aman. Dengan hati yang berbunga-bunga dan semangat yang membara, Kaito kembali berlari kencang menuju stasiun kereta.

Sementara itu di dalam stasiun, aku berdiri menanti kehadiran Kaito.

Menyadari Kaito berlari ke sana kemari di udara dingin sore ini, aku memutuskan untuk berjalan menuju mesin penjual otomatis. Aku membelikan satu kaleng minuman hangat kesukaannya, menebak bahwa ia pasti akan merasa haus dan lelah saat tiba nanti.

Benar saja, baru beberapa saat aku memegang kaleng minuman hangat itu, sosok Kaito muncul di antara kerumunan penumpang stasiun.

Ia berlari menghampiriku dengan dada yang naik-turun dan napas yang tergesa-gesa. Peluh tipis tampak membasahi pelipisnya meski udara sore terasa dingin.

Melihat kondisinya, aku bergegas melangkah mendekat. Aku menyodorkan kaleng minuman hangat itu ke tangannya, lalu mengangkat jemariku untuk menyampaikan bahasa isyarat secara perlahan:

[Pelan-pelan minumnya, Kaito. Kamu berlari terlalu cepat.]

Melihat perhatian manis yang kuberikan dan kaleng hangat di tangannya, rasa lelah Kaito seketika menguap tanpa sisa. Sorot matanya dipenuhi rasa hangat yang teramat dalam.

Kaito mengulurkan tangan kanannya, mengelus puncak kepalaku dengan sangat lembut seperti biasa, lalu menggerakkan jemarinya membalas:

[Terima kasih banyak atas perhatiannya, Hana.]

Kaito tersenyum hangat padaku, lalu membuka kaleng minuman itu dan meminumnya dengan tenang di sampingku.

Tak lama kemudian, kereta yang kami tunggu akhirnya tiba di peron.

Suasana di dalam gerbong cukup ramai. Kaito meraih telapak tanganku, menautkan jemarinya di antara jemariku dan menggenggamnya rapat-rapat saat membimbingku masuk ke dalam kereta. Ia membawaku berdiri di sudut gerbong yang lebih tenang, menyandarkan tubuhnya protektif untuk memisahkanku dari desakan penumpang lain.

Sesampainya di stasiun tujuan di dekat perumahan kami, kami melangkah keluar dan berjalan bersisian menyusuri trotoar jalanan malam yang tenang.

Di tengah perjalanan pulang yang sepi, Kaito mendadak memperlambat langkahnya. Ia menoleh padaku, lalu kedua tangannya terangkat menyusun isyarat dengan riang:

[Hana, besok pagi... bagaimana kalau kita masak bersama di rumahmu?]

Membaca ajakan itu, rasa senang yang amat besar seketika meletup di dalam dadaku. Kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu akhir pekan bersama Kaito di hari Minggu adalah hal yang selalu kupinta.

Aku menganggukkan kepalaku dengan antusias, membalas isyaratnya dengan senyuman lebar:

[Boleh sekali, Kaito! Kita buat makanan yang enak esok pagi.]

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa hari Minggu besok bukan sekadar akhir pekan biasa... melainkan hari ulang tahunku yang ke-20. Pikiran kepolosanku hanya tertuju pada betapa bahagianya bisa memasak berdua bersama pria yang kucintai.

Kami melanjutkan langkah kaki menuju rumah. Kaito terus berjalan di sisi luar trotoar—posisi yang selalu ia ambil sejak kami kecil untuk membatasi diriku dari kendaraan yang melintas di jalan raya. Jemari kami saling menggenggam erat di dalam saku jaket tebalnya, membalut malam dingin Tokyo dengan kehangatan cinta yang kian sempurna.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!