Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suasana di Laurent Group terasa berbeda. Orang-orang terlihat tegang dan penasaran. Di atas meja ruang rapat, sebuah dokumen keputusan manajemen tergeletak dengan tanda tangan beberapa anggota direksi.
Dominic berdiri di hadapan mereka dengan wajah merah menahan amarah. "Jadi kalian benar-benar mencabut posisiku?" tanya Dominic dengan suara bergetar karena marah.
Ryan yang berdiri di sisi meja mengangguk tenang. "Benar, Tuan Dominic. Keputusan itu sudah disepakati oleh direksi," jawab Ryan sambil menutup map di hadapannya.
Dominic menatap Ryan tajam. "Kamu?"
Ryan tetap berdiri tegak. "Saya hanya menjalankan keputusan perusahaan."
Dominic tertawa pendek tanpa humor. "Menjalankan keputusan perusahaan?" Ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku yang setahun lebih menjalankan perusahaan ini!"
Ryan tidak membalas.
Dominic kemudian mengarahkan pandangannya kepada para direktur. "Siapa yang memberi kalian hak untuk melakukan ini?"
Salah seorang direktur menghela napas sebelum menjawab. "Sudah menjadi aturan perusahaan. Jika ada orang yang merugikan perusahaan harus dicopot jabatannya."
Dominic langsung terdiam. Hanya ada satu nama yang muncul di kepalanya, Vivienne. Tangannya mengepal kuat. Selama ini ia masih berharap istrinya akan melindunginya. Bagaimanapun juga, mereka masih suami istri.
Namun, harapan itu hancur ketika seorang staf hukum masuk membawa sebuah dokumen lain.
"Tuan Dominic," ujar pria itu dengan suara tenang, "kami juga membawa pemberitahuan bahwa laporan mengenai penggunaan dana perusahaan telah diteruskan kepada pihak berwajib."
Wajah Dominic seketika berubah. "Apa?"
Pria itu menyerahkan dokumen tersebut. Dominic membacanya dengan tangan gemetar.
Penggelapan dana. Penyalahgunaan wewenang. Penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Satu demi satu tuduhan tercatat dengan jelas.
Dominic meremas kertas itu. "Ini semua bisa diselesaikan."
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Dominic mengangkat wajah. "Aku akan bicara dengan Vivi."
Ryan menatapnya beberapa saat. "Silakan."
Dominic segera berbalik dan meninggalkan ruangan. Namun, baru beberapa langkah keluar dari gedung, dua orang petugas sudah menunggunya. Jantung Dominic serasa berhenti berdetak.
"Dominic Ashcroft?" tanya salah seorang petugas.
Dominic menelan ludah. "Iya."
"Kami meminta Anda ikut bersama kami untuk pemeriksaan."
Dominic mundur selangkah. "Tunggu. Aku harus menelepon istriku."
Pria itu mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. Petugas itu tidak menghalanginya.
Dominic langsung mencari nomor Vivienne. Panggilan tersambung, namun tidak diangkat. Ia mencoba lagi, tetap tidak ada jawaban.
"Angkat, Vivi," gumam Dominic dengan napas berat.
Panggilan ketiga juga berakhir tanpa jawaban. Untuk pertama kalinya, Dominic benar-benar merasa sendirian.
Di rumah keluarga Ashcroft, berita itu menyebar seperti petir. Victoria yang sedang duduk di ruang keluarga langsung berdiri ketika mendengar kabar bahwa Dominic dibawa polisi untuk diperiksa.
"Apa?!" pekiknya.
Grace yang berada di dekatnya langsung mendekat. "Kak Dominic ditangkap?"
"Ini pasti salah!" Victoria meraih ponselnya. Tangannya gemetar ketika mencoba menghubungi seseorang. "Kenapa polisi bisa menangkap anakku?"
Grace ikut panik. "Mom, bukankah Vivi yang memiliki perusahaan itu? Kenapa Kak Dominic malah ditangkap polisi atas tuduhan penggelapan dana perusahaan?!"
Victoria langsung menatap putrinya. Wajahnya berubah merah karena marah.
"Justru itu! Perusahaan itu milik Vivienne. Kenapa dia membiarkan suaminya dipenjara?"
Grace menggertakkan gigi. "Dia seharusnya membantu Kak Dominic."
Victoria langsung mengambil tasnya. "Ayo!"
Grace mengernyit. "Mau ke mana?"
"Kita temui Vivienne."
Tidak sampai sejam Victoria dan Grace tiba di kediaman keluarga Laurent. Pintu rumah Vivienne diketuk keras.
"Vivienne. Keluar!" Suara Victoria terdengar dari luar.
Grace berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kemarahan. "Vivienne!" seru Grace sambil kembali mengetuk pintu. "Kami tahu kamu di dalam!"
Pintu akhirnya terbuka. Vivienne berdiri di sana dengan wajah pucat. Tangannya refleks memegang perutnya yang sudah semakin besar.
"Mom, Grace," sapa Vivienne pelan.
Victoria langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan. Grace mengikuti ibunya masuk
"Kamu tega melakukan ini kepada Dominic?"
Vivienne terdiam.
"Kakakku dipenjara!" Suara Grace meninggi.
Vivienne menarik napas pelan. "Dominic dipenjara karena laporan penggunaan dana perusahaan."
"Memangnya kenapa?" bentak Victoria. "Dia suamimu!"
Vivienne menatapnya. "Suami saya bukan berarti bebas mengambil uang perusahaan."
Victoria membelalakkan mata. "Itu perusahaanmu!"
"Iya," jawab Vivienne tenang.
"Lalu uangnya juga milik keluarga Dominic!"
Vivienne menggeleng perlahan. "Tidak."
Victoria terdiam.
Vivienne menahan napas ketika perutnya terasa sedikit menegang. "Perusahaan itu milik saya. Dan uang perusahaan bukan uang pribadi keluarga."
Grace langsung menyela. "Jadi kamu membiarkan suamimu masuk penjara?"
"Aku tidak memasukkannya ke penjara," jawab Vivienne lirih. "Dia sendiri yang melakukan kesalahan."
Victoria menunjuk wajah Vivienne dengan tangan gemetar. "Kamu sudah berubah!"
Vivienne menundukkan wajah. Air mukanya tampak semakin pucat.
Victoria masih terus berbicara. "Kamu seharusnya memberikan pengacara!"
Vivienne menatapnya. "Pengacara perusahaan justru ditugaskan menangani kasus ini."
"Kalau begitu ganti!"
Vivienne menggeleng. "Aku tidak bisa."
"Kamu bisa!" bentak Victoria. "Dominic adalah suamimu!"
Vivienne terdiam. Tangannya semakin erat mencengkeram ujung bajunya.
"Aku tahu. Tapi aku juga manusia." Suaranya mulai bergetar.
Victoria kembali membuka mulut. Namun sebelum sempat berbicara, Vivienne tiba-tiba memejamkan mata dan tubuhnya bergoyang.
Estelle yang baru turun dari lantai atas langsung berlari menghampiri. "Vivi!"
Vivienne memegang sisi meja. "Aku ... tidak apa-apa."
Estelle menopang tubuhnya. "Wajahmu pucat."
"Aku cuma lelah."
Namun beberapa saat kemudian, rasa nyeri membuat wajah Vivienne berubah. Tangannya berpindah ke perut.
"Estelle ...." Suaranya sangat kecil. "Perut aku tidak terasa sakit."
Estelle langsung panik. "Vivi!"
Victoria dan Grace ikut terdiam. Mereka baru menyadari bahwa sejak tadi wajah Vivienne memang terlihat sangat pucat.
"Dia kenapa?!" tanya Victoria panik.
"Jangan-jangan mau keguguran lagi!" Grace ikut panik.
"Kalian ...! Sudah tahu kondisi tubuh Vivi lemah, kalian malah memberinya tekanan dengan ocehan yang menyudutkannya," teriak Estelle dan membuat Victoria juga Grace ketakutan.
"Cepat bawa ke rumah sakit! Jangan sampai bayinya kenapa-kenapa," perintah Victoria dengan nada panik.
Lorong rumah sakit mulai sepi. Hanya suara langkah perawat dan bunyi roda troli yang sesekali terdengar.
Estelle duduk di kursi tepat di depan kamar Vivienne. Sejak sore, ia hampir tidak beranjak dari tempat itu. Sesekali matanya melirik pintu kamar, memastikan tidak ada keadaan darurat.
Pintu kamar terbuka. Seorang perawat keluar sambil membawa nampan obat.
Estelle langsung berdiri. "Bagaimana keadaan Vivienne?" tanya Estelle dengan wajah cemas.
Perawat itu tersenyum tipis. "Untuk sementara sudah stabil. Dokter masih meminta dia banyak beristirahat."
Estelle mengangguk lega. "Bayinya?"
"Detak jantung bayinya masih terpantau. Tetapi karena usia kandungannya baru tujuh bulan dan tadi terjadi pendarahan, dia harus benar-benar dijaga."
Estelle mengembuskan napas panjang. "Baik. Terima kasih."
Setelah perawat pergi, Estelle kembali duduk. Kedua tangannya menggenggam erat ponsel.
"Dasar keras kepala," gumamnya pelan. "Sudah tahu tubuhmu tidak boleh terlalu lelah, masih saja menghadapi keluarga itu."
Namun Estelle tahu, Vivienne tidak punya pilihan. Selama bertahun-tahun, perempuan itu telah memberikan terlalu banyak hal kepada keluarga Ashcroft. Dan sekarang, ketika Vivienne akhirnya menarik semuanya kembali, mereka justru datang menuntut lebih banyak.
Beberapa jam kemudian, Estelle akhirnya tertidur di kursi. Tanpa seorang pun menyadarinya, sosok pria berjalan perlahan melewati lorong rumah sakit.
Killian berhenti di depan kamar Vivienne. Setelah memastikan keadaan sekitar aman, ia membuka pintu perlahan.
Di dalam, Vivienne masih tertidur. Wajahnya pucat. Infus terpasang di tangannya. Selimut menutupi tubuhnya hingga dada, sementara satu tangannya berada di atas perut yang sudah membesar.
Langkah Killian terhenti. Untuk beberapa detik, pria itu hanya berdiri diam. Tatapan tajam yang biasanya selalu menghiasi wajahnya menghilang.
"Kamu benar-benar membuat masalah besar, Vivi," gumam Killian pelan.
Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur. "Aku sudah bilang jangan terlalu memaksakan diri."
Vivienne tidak menjawab.
Killian menatap wajahnya lama. Ada kekhawatiran yang tidak pernah ia tunjukkan di depan orang lain.
"Dominic sudah kehilangan semuanya," ujar Killian lirih. "Kamu tidak perlu mengejarnya sampai seperti ini."
Jemari pria itu mengepal. "Kalau kamu sampai kehilangan bayi itu ...."
Kalimatnya terhenti. Killian mengalihkan wajah. "Aku tidak mau membayangkan itu."
Killian mengusap wajahnya kasar, lalu kembali menatap Vivienne. "Jadi, bangunlah. Kamu masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Suaranya terdengar lebih lembut.
Killian berdiri setelah memastikan kondisi Vivienne tetap tenang. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Dan aku tidak akan berhenti mengganggu hidupmu."
Sebelum meninggalkan kamar, Killian menatap perempuan itu sekali lagi. "Jaga dirimu, bodoh."
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess