Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela besar setinggi plafon itu sama sekali tidak membantu memperbaiki suasana hati Luna Damaris. Alih-alih merasa segar, ia merasa seperti sedang dipanggang di dalam kamar mewahnya sendiri.

Luna berjalan mondar-mandir tanpa henti. Karpet bulu domba yang empuk di bawah kakinya seolah tidak mampu meredam keresahannya. Sesekali ia berhenti, menatap pintu kamar yang terkunci rapat dari luar, lalu kembali berjalan sambil menggigit ujung kuku ibu jarinya—sebuah kebiasaan buruk yang hanya muncul saat ia benar-benar terdesak.

"Gila. Ini benar-benar gila!" gumamnya kesal pada udara kosong.

Ia melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas kasur *king size*. Layarnya gelap, mati total karena disita secara paksa sebelum ia digiring masuk ke kamar ini. Luna merasa harga dirinya sebagai pewaris tunggal Alan Damaris jatuh ke titik terendah.

Bayangkan saja, di usia di mana ia seharusnya bebas menentukan arah hidup, ia justru dikurung layaknya remaja yang ketahuan bolos sekolah.

Penyebabnya? Sebuah ide konyol yang keluar dari mulut ayahnya saat sarapan tadi.

**"Papa sudah memutuskan, Luna. Minggu depan kamu akan bertemu dengan kolega Papa. Ini bukan sekadar perkenalan, tapi awal dari masa depanmu,"** suara bariton ayahnya masih terngiang jelas di telinga, begitu tenang namun tak terbantahkan.

Luna sempat tertawa keras tadi, mengira itu hanyalah lelucon basi. Namun, saat melihat tatapan tajam dan dingin Alan Damaris, tawanya langsung lenyap.

"Perjodohan? Di abad ke-21? Yang benar saja!" teriak Luna saat itu. "Papa pikir ini drama kolosal yang butuh penyatuan dua kerajaan? Aku punya hidupku sendiri, Pa!"

Penolakan mentah-mentah itu berakhir dengan "Tahanan rumah".

Alan Damaris, dengan segala kekuasaan dan sikap kolotnya, ingin menunjukkan bahwa di rumah ini, dialah yang memegang kendali.

Luna menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru di sudut kamar. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lampu kristal cantik, namun matanya memancarkan api pemberontakan. Baginya, rencana ayahnya itu bukan sekadar perjodohan, melainkan upaya untuk menjinakkan mimpinya.

"Pikiran kolot," desisnya sambil mengepalkan tangan. "Kalau Papa pikir aku bakal duduk manis memakai gaun cantik dan tersenyum pada pria pilihan Papa itu... Papa salah besar."

Luna berdiri lagi, matanya kini tertuju pada balkon kamar. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya. Jika pintu depan terkunci, bukan berarti tidak ada jalan lain untuk keluar dari sangkar emas ini.

Luna berdiri mematung di tengah kamar, matanya menyapu sekeliling ruangan yang selama ini ia anggap istana, namun kini terasa seperti sel penjara yang menyesakkan.

"Oke, kalau Papa mau main kasar, aku bisa lebih kasar lagi," bisiknya penuh tekad.

Ia melangkah menuju jendela balkon yang besar, membukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara decit yang bisa memancing perhatian penjaga di bawah.

Angin sore menjelang malam menerpa wajahnya, tapi Luna tidak sedang ingin menikmati udara segar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melongok ke bawah untuk mengukur jarak antara balkon lantai dua itu dengan rerumputan taman di bawahnya.

*Cukup tinggi, tapi tidak mematikan,* pikirnya optimis.

Luna segera berbalik dan menyerbu lemari besarnya. Dengan gerakan kalap, ia menarik keluar beberapa selimut tipis dan seprai berbahan sutra yang biasanya ia puja karena kelembutannya. Kini, kain-kain mahal itu punya fungsi baru: menjadi tali tambang darurat.

Ia mulai menyambungkan kain-kain itu satu per satu, mengikatnya dengan simpul mati yang ia tarik sekuat tenaga. Setelah merasa cukup panjang, Luna melilitkan salah satu ujungnya ke kaki ranjangnya yang berbahan jati solid—satu-satunya benda di kamar itu yang ia yakini mampu menahan beban tubuhnya.

Ujung kain lainnya ia julurkan ke luar jendela. Luna menyeringai lebar, menatap hasil karyanya dengan puas. "Brilian, Luna. Kamu memang jenius kalau sedang terdesak," gumamnya bangga.

Namun, misi ini belum lengkap tanpa 'peralatan tempur'. Luna menyambar tas ransel hitam kesayangannya.

Dengan cekatan, ia memasukkan beberapa potong baju santai yang tidak mencolok, dompet, paspor (untuk berjaga-jaga), dan beberapa perhiasan kecil yang bisa ia uangkan jika keadaan darurat. Ia juga tidak lupa memasukkan *power bank* dan sebotol air mineral.

Setelah ransel itu tersampir di punggungnya, Luna mengikat rambutnya tinggi-tinggi menjadi *ponytail* yang rapi. Ia menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena adrenalin.

Ia kembali ke ambang jendela, memegang erat tali kain buatannya. Luna menoleh sekali lagi ke arah pintu kamarnya yang masih terkunci rapat.

"Selamat tinggal, perjodohan kolot. Dan selamat tinggal, Papa. Jangan cari Luna kalau Papa belum berubah pikiran," desisnya sebelum mulai memanjat keluar jendela dengan hati-hati.

Luna mendarat dengan kaki sedikit gemetar saat menyentuh rumput taman yang basah. Ia segera bersembunyi di balik semak *bougainvillea* yang rimbun, menahan napas sambil memantau situasi.

Di kejauhan, terdengar suara langkah kaki dua orang petugas keamanan yang sedang berpatroli di area taman samping.

"Tadi kamu dengar suara sesuatu tidak di dekat paviliun?" suara salah satu penjaga terdengar samar.

"Paling cuma kucing. Sudahlah, ayo kita cek ke depan, sebentar lagi Tuan Alan mau berangkat keluar."

Luna memejamkan mata, jantungnya berdegup seirama dengan langkah kaki yang perlahan menjauh itu. Begitu keadaan dirasa aman, ia segera berlari merunduk, memanfaatkan bayang-bayang pohon besar untuk menuju tembok belakang rumahnya.

Beruntung bagi Luna, ia tahu ada satu bagian pagar yang sensornya sedang rusak—celah kecil yang biasanya digunakan tukang kebun untuk keluar masuk tanpa harus lewat gerbang utama yang dijaga ketat.

Dengan susah payah, ia memanjat pagar beton tersebut. Begitu kakinya menginjak aspal jalanan di luar kawasan perumahan, Luna merasa paru-parunya baru saja mendapatkan oksigen yang paling segar seumur hidupnya.

Luna berjalan cepat, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada mobil hitam mewah milik ayahnya yang mengejar. Ia terus berjalan sampai tiba di sebuah jalan raya yang mulai ramai.

Ia menyadari satu hal: ia tidak bisa menggunakan kartu kredit atau debit pribadinya karena ayahnya pasti akan langsung melacak lokasinya. Luna merogoh saku tasnya dan menemukan beberapa lembar uang tunai darurat yang sempat ia selipkan di dompet.

"Ojek!" serunya saat melihat seorang pengendara motor dengan jaket hijau melintas.

Pria pengendara ojek itu berhenti di depannya. "Ke mana, Neng?"

Luna sempat terdiam. *Ke mana?* Ia tidak punya rencana jangka panjang. Yang ia tahu, ia harus menjauh dari jangkauan Alan Damaris sejauh mungkin.

Ia melirik sebuah bus antar kota yang melintas di depannya dengan papan tujuan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

"Ke Terminal bus paling dekat dari sini, Bang. Cepat ya!" Luna naik ke atas motor, mengenakan helm yang disodorkan, dan menyembunyikan wajahnya di balik masker.

Saat motor itu melaju membelah kemacetan pagi, Luna menatap gedung-gedung tinggi yang mulai menjauh. Ia baru saja melepaskan statusnya sebagai putri mahkota Damaris Group dan menjadi pelarian tanpa tujuan pasti.

Namun, alih-alih takut, ada seulas senyum kecil di bibirnya.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!