Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Dia Kembali

Cambuk itu membelah udara.

Suara ledakannya membuat semua orang tersentak. Ujung kulit menghantam bahu Suryani, merobek kain kebaya dan meninggalkan luka merah panjang hingga ke lengan.

Perempuan itu menjerit.

"Ratri!"

Ia jatuh berlutut sambil memegangi bahu. Darah merembes di sela jarinya. Bimo merangkak mendekat, tetapi satu tatapan Wira membuatnya berhenti.

Ratri tidak mengayunkan cambuk untuk kedua kali.

Ia hanya berdiri dengan gagang hitam di tangan kanan, napas terlalu tenang, wajah terlalu pucat. Darah dari belakang kepalanya telah meresap sampai kerah jubah. Di bawah cahaya pendopo, sosoknya terlihat seperti perempuan yang sedang bertahan di antara hidup dan mati, tetapi masih sempat membuat semua orang lain berlutut lebih dulu.

"Sebut nama ibu saya sekali lagi," katanya. "Saya pastikan luka berikutnya tidak berhenti di bahu."

Suryani mendongak. Air mata karena sakit membuat riasannya luntur.

"Kau akan membayar ini. Saya akan bongkar makam perempuan itu. Saya akan..."

Ratri mengangkat cambuk sedikit.

Suryani langsung menutup mulut.

Pak Surono bergegas berjongkok di sampingnya. "Lukanya harus segera ditangani."

"Telepon polisi!" teriak Suryani. "Panggil semua orang. Polisi, ambulans, wartawan. Biar seluruh Jakarta melihat iblis ini mencoba membunuh ibu mertuanya!"

Salah seorang kerabatnya sudah mengangkat telepon.

Wira mendekati Ratri. "Kita masuk dulu. Saya tahan mereka di sini."

"Tidak."

"Darah Nyai semakin banyak."

"Kalau saya masuk, cerita mereka akan berubah sebelum polisi tiba."

Ratri menyerahkan cambuk kepada pengawal. Lalu ia mengambil pusaka berbungkus kain lurik dari saku dan menggenggamnya di balik telapak kiri yang berdarah.

Sirene pertama terdengar kurang dari sepuluh menit kemudian.

Terlalu cepat untuk laporan biasa.

Tiga mobil patroli berhenti di depan gerbang utama. Disusul ambulans swasta, sebuah kendaraan milik kejaksaan, lalu dua truk gelap tanpa lambang yang menurunkan belasan personel berseragam tak dikenal.

Lampu biru dan merah menyapu dinding tinggi kediaman Adiningrat.

Namun, yang datang bukan hanya petugas.

Suara sepeda motor, pintu mobil, dan orang-orang berteriak bertumpuk dari luar gerbang. Wartawan infotainment berdesakan di balik pagar. Beberapa mengangkat ponsel dengan siaran langsung yang sudah ditonton puluhan ribu orang.

"Itu dia Ratri!"

"Ambil gambarnya!"

"Benar dia mencambuk ibu mertuanya?"

"Bu Ratri, apakah Anda juga menyiksa adik ipar Anda?"

Kata-kata mereka melompat melewati pagar sebelum polisi sempat membatasi area.

Janda iblis mengamuk lagi.

Menantu Adiningrat mencoba membunuh ibu dan adik iparnya.

Suryani, yang beberapa menit lalu tak mampu berdiri, tiba-tiba menemukan tenaga. Ia bersandar pada Bimo dan berjalan terpincang ke arah petugas medis, memastikan luka di bahunya terlihat oleh setiap kamera.

"Tolong kami," tangisnya. "Menantu saya sudah kehilangan akal. Anak saya dipancing ke kamar, lalu disiksa. Saya datang untuk menolong, tetapi saya juga dicambuk."

Bimo ikut menangis. "Saya hampir dibunuh. Dia melempar belati ke bahu saya."

"Apakah ini ada hubungannya dengan hilangnya Baskara?" teriak seorang wartawan.

Suryani menutup wajah seolah pertanyaan itu terlalu menyakitkan. Namun, ia sengaja memberi jeda sebelum menjawab.

"Selama tiga tahun saya menahan diri demi nama baik keluarga. Malam ini saya tidak bisa diam lagi. Putra sulung saya menghilang setelah menikahi Ratri. Sekarang putra bungsu saya hampir dibunuh oleh perempuan yang sama. Kalian bisa menyimpulkan sendiri."

Kalimat itu disambut kilatan kamera bertubi-tubi.

Di layar-layar ponsel, judul siaran langsung berganti bahkan sebelum polisi masuk ke halaman.

JANDA MAUT MENYERANG KELUARGA SUAMI.

MISTERI HILANGNYA PEWARIS ADININGRAT TERUNGKAP?

Ratri memandang semua itu tanpa berkedip.

"Wira."

"Ya, Nyai."

"Rekam seluruh siaran. Simpan nama akun, waktu unggahan, dan setiap orang yang menuduh saya membunuh tanpa bukti."

Wira mengeluarkan teleponnya. "Untuk laporan pencemaran nama baik?"

"Untuk mengetahui siapa yang menerima naskah lebih dulu sebelum kejadian ini terjadi."

Wira terdiam sesaat. Media sudah tiba bersamaan dengan polisi. Artinya, seseorang tidak sekadar melaporkan keributan. Orang itu telah menyiapkan narasi sebelum darah Suryani menyentuh tanah.

"Saya urus," katanya.

Perwira yang memimpin rombongan polisi memasuki halaman bersama enam anggota. Pandangannya menyapu para pengawal yang terkapar, darah di lantai, lalu berhenti pada Ratri.

Seorang paramedis perempuan yang mengikuti mereka langsung menunjuk kepala Ratri. "Dia juga terluka. Saya harus memeriksanya."

"Dahulukan Bu Suryani dan putranya," kata perwira itu tanpa menoleh.

Paramedis tersebut ragu. "Tapi perdarahannya masih aktif. Dia bisa kehilangan kesadaran."

"Saya bilang, tunggu."

Ratri memperhatikan pertukaran singkat itu. Bahkan urutan pertolongan sudah diarahkan. Suryani hendak dibentuk sebagai satu-satunya korban, sementara darah di tubuh Ratri harus hilang dari cerita.

"Terima kasih sudah melihat," kata Ratri kepada paramedis itu. "Tetap di tempat aman."

Perwira tersebut memotong percakapan mereka.

"Bu Ratri Kusuma?"

"Ya."

"Kami menerima laporan penganiayaan berat dan percobaan pembunuhan. Anda harus ikut ke kantor untuk diperiksa."

Ratri menatap kartu identitas yang hanya diperlihatkan sekilas. "Mana surat tugas Anda?"

Perwira itu mengerutkan kening. "Kami datang berdasarkan laporan darurat."

"Laporan siapa?"

"Korban ada di depan Anda."

"Saya juga korban." Ratri menunjuk darah di belakang kepalanya. "Sebelum menyuruh saya naik ke mobil, amankan kamar saya, gelas yang mengandung obat, rekaman kamera, dan pakaian Bimo. Periksa darahnya. Baru setelah itu kita bicara tentang siapa yang harus dibawa."

Sejumlah wartawan berseru dari luar pagar. Mereka tidak mendapat semua kalimatnya, hanya cukup untuk membuat siaran semakin gaduh.

Perwira itu melangkah mendekat. "Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor. Jangan menghambat proses hukum."

"Proses hukum?" Ratri melirik kendaraan kejaksaan dan pasukan tanpa lambang di dekat gerbang. "Laporan baru dibuat sepuluh menit lalu, tetapi Anda datang bersama kejaksaan, ambulans swasta, media, dan personel bersenjata yang bahkan tidak mengenakan identitas satuan. Proses hukum siapa yang bergerak secepat ini?"

Rahang perwira tersebut menegang.

"Cukup. Bawa dia."

Dua polisi maju.

Pengawal Ratri membentuk barisan di depannya. Wira berdiri paling depan, kedua tangannya kosong tetapi bahunya siap menerjang.

"Mundur," perintah polisi. "Menghalangi petugas adalah tindak pidana."

"Menjalankan penangkapan pesanan juga tindak pidana," jawab Wira.

"Wira." Suara Ratri menghentikannya. "Jangan sentuh mereka."

Ia memandang perwira itu. "Telepon Kombes Reza Pratama. Tanyakan apakah beliau mengizinkan anak buah kepolisian membawa seorang korban tanpa mengamankan satu pun bukti."

Nama itu bekerja seperti air es.

Salah seorang polisi muda menoleh kepada komandannya. Perwira tersebut tidak mundur, tetapi warna wajahnya berubah sedikit.

"Apa hubungan Anda dengan Kombes Reza?"

"Telepon dan tanyakan sendiri."

Suryani mendengar keraguan itu. "Jangan tertipu! Dia hanya menjual nama orang besar. Perempuan ini tidur dengan siapa saja demi perlindungan. Tangkap dia sekarang!"

Teriakan dari luar gerbang semakin keras.

"Apakah Kombes Reza melindungi Ratri?"

"Ada skandal polisi?"

"Siaran langsungnya sudah seratus ribu penonton!"

Perwira itu mengangkat tangan. Dua polisi kembali maju, kali ini membawa borgol.

Wira menoleh sekilas. Bibir Ratri hampir tidak memiliki warna. Darah di kepalanya belum berhenti, dan jari yang menggenggam pusaka mulai gemetar.

"Nyai, izinkan kami membuka jalan."

"Tidak."

"Kalau begini terus, Nyai bisa pingsan."

"Saya belum boleh jatuh."

Ratri menyerahkan pusaka kepada tangan kirinya, lalu menarik belati dari sarung yang dibawa salah satu pengawal.

Mata bilahnya masih menyisakan garis darah Bimo.

Suara halaman mendadak surut.

Polisi berhenti. Wartawan di luar pagar justru mengangkat kamera lebih tinggi.

"Dia mengeluarkan senjata!"

"Buang pisaunya!" bentak perwira itu.

Ratri memegang belati dengan ujung mengarah ke tanah. "Saya tidak menyerang petugas. Saya memperingatkan siapa pun yang datang tanpa prosedur dan mencoba menyeret saya demi tontonan. Amankan bukti. Panggil kuasa hukum saya. Setelah itu, saya akan memberikan keterangan."

"Kau masih berani mengatur polisi?" Suryani berteriak dari dekat ambulans. "Tembak dia! Dia berbahaya. Tembak saja sebelum dia membunuh kita semua!"

Seorang personel tanpa lambang mengangkat senapan.

Wira bergerak menutupi tubuh Ratri.

Para pengawal di belakangnya serempak memasukkan tangan ke balik jas.

Satu halaman penuh orang menahan napas.

Lalu suara mesin berat bergulung dari ujung jalan.

Satu sorot lampu putih menghantam gerbang. Disusul sorot kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai malam di depan kediaman Adiningrat terlihat seperti siang yang kejam.

"Minggir!" teriak seseorang di luar.

Belasan kendaraan hitam bergerak dalam formasi rapi. Mobil-mobil wartawan dipaksa menepi. Personel bersetelan gelap turun bahkan sebelum roda berhenti sempurna, membentuk koridor dari jalan menuju gerbang.

Pasukan bersenjata tanpa lambang yang tadi mengepung rumah tiba-tiba menurunkan moncong senapan. Beberapa bahkan berdiri lebih tegak, seolah menyambut atasan yang tidak boleh mereka tatap sembarangan.

Perwira polisi menoleh dengan wajah tegang.

Pintu kendaraan di tengah iring-iringan terbuka.

Sepasang sepatu hitam menyentuh aspal.

Seorang lelaki bertubuh tinggi turun dengan setelan gelap tanpa satu helai pun tampak kusut. Wajahnya lebih kurus daripada tiga tahun lalu, garis rahangnya lebih tajam, dan kulitnya pucat seperti seseorang yang terlalu lama hidup jauh dari matahari.

Namun, tidak ada seorang pun yang mungkin salah mengenalinya.

Suryani menjatuhkan tasnya.

Bimo membuka mulut tanpa suara.

Di luar pagar, seorang wartawan menjerit, "Itu Baskara Adiningrat!"

Nama itu menyambar kerumunan.

Kamera yang semula mengarah kepada Ratri berputar serentak. Orang-orang saling dorong untuk mendapatkan gambar lebih jelas. Tiga tahun lalu, wajah Baskara memenuhi berita nasional selama berminggu-minggu. Tim pencari menyisir kota, laut, dan jalur penerbangan pribadi. Tidak ada jasad. Tidak ada tuntutan tebusan. Hanya mobil kosong dan seorang istri yang dijadikan tersangka oleh opini publik.

Kini lelaki yang disebut telah dibunuh istrinya berjalan masuk dengan langkah tenang.

Satu fakta sederhana merobek ratusan ribu tuduhan dalam siaran langsung.

Ia hidup.

Lelaki yang selama tiga tahun dianggap mati berjalan melewati barisan pengawal, lurus menuju rumah yang pernah ditinggalkannya.

Ratri tidak menurunkan belati.

Tatapan mereka bertemu dari kejauhan.

Dia kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!