Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Yamaici Grup

Selama seminggu penuh, Sonia berada dalam kungkungan Yamamoto di dalam kamar hotel. Ia tidak keluar sedikit pun. Bahkan seluruh kebutuhan makanan hingga suplemen penambah stamina diantar langsung oleh anak buah Yamamoto.

Sakit? Tentu saja. Tubuh dan batimnya menjerit. Namun, Sonia menahan seluruh rasa sakit itu demi sebuah dendam yang membakar dadanya. Dari seorang gadis polos yang tadinya hanya sedikit nakal, kini ia bertransformasi menjadi Sonia yang sama sekali berbeda—dingin, keras, dan tanpa ampun.

Sementara itu, kepanikan luar biasa melanda rumah Mirna.

Setelah seminggu tanpa kabar, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, minus Diki yang memang sengaja tidak diberi tahu.

"Adam! Kamu jangan cuma sibuk kerja! Cepat cari adiknya!" seru Mirna dengan nada kesal dan mata sembap.

Alya yang duduk di samping Adam langsung memotong cepat sebelum suaminya menjawab, "Ibu, Mas Adam sudah mengumumkan di media sosial, tapi tidak ada satu pun yang tahu keberadaan Sonia. Teman-temannya juga sudah dihubungi, hasilnya nihil."

"Kamu kan setiap hari kerja, pulang Magrib. Kenapa malamnya tidak dicari?!" cecar Mirna lagi.

Adam hendak membuka mulut, namun Alya kembali menyambar, "Bu, Mas Adam dan aku itu sibuk. Ini awal kami bekerja di tempat baru. Ibu tahu sendiri bagaimana perusahaan Jepang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Memangnya Ibu mau lihat Mas Adam dipecat dan menganggur lagi?"

Mirna bungkam. Dadanya sesak. Setiap hari ia sudah keliling mencari Sonia ke mana-mana tanpa hasil. Rumah acak-acakan, bahkan tumpukan baju kotor sampai menggunung tidak sempat dicuci.

"Mila! Kenapa kamu juga tidak bantu cari Sonia?!" alih Mirna pada putrinya.

"Bu, aku ini sibuk cari uang untuk bayar cicilan bank! Memangnya Ibu mau kalau nanti aku tidak sanggup bayar utang?!" balas Mila ketus.

"Cukup!" potong Mirna cepat. Ia menghentikan kalimat Mila karena tidak ingin Ridwan tahu bahwa Mila telah menggadaikan rumah. Jika sampai terbongkar, rumah ini bisa runtuh oleh keributan.

Pandangan Mirna kini tertuju pada putra sulungnya. "Ridwan..."

"Bu, aku dan Lusi sibuk kerja. Anak-anak juga butuh perhatian. Lagipula, orang yang paling bertanggung jawab mencari Sonia itu ya Adam!" tumpas Ridwan tanpa beban.

"Kenapa jadi aku?!" sahut Adam tidak terima.

"Masih bertanya kenapa?" Ridwan tertawa sinis. "Kamu yang pakai mobil Sonia sampai dia frustrasi dan pergi dari rumah, kan?"

"Mobil itu sejak awal dicicil oleh Mas Adam!" bela Alya tajam. "Sudah seharusnya Mas Adam yang pakai, apa salahnya?!"

Hati Mirna benar-benar teriris mendengar perdebatan anak-anaknya. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar peduli pada si bungsu. Padahal belum genap sebulan Amira pergi dari rumah ini, tetapi mengapa masalah datang bertubi-tubi tanpa henti?

Jangan-jangan... selama ini hanya Amira yang diam-diam menyelesaikan semua masalah di keluarga ini? bisik batin Mirna, mendadak dihantam rasa penyesalan.

"Bu, Sonia itu sudah dewasa," sela Lusi dengan nada dingin. "Ibu jangan terus-menerus memanjakan dia. Kalau Sonia terus begini, dia cuma akan menyusahkan kakak-kakaknya saja."

"Aku tidak akan pernah menyusahkan kalian lagi."

Sebuah suara dingin menginterupsi dari ambang pintu.

Semua kepala menoleh. Sonia berdiri di sana. Ia mengenakan baju dan celana yang sama persis seperti saat ia melangkah keluar dari rumah seminggu yang lalu. Wajahnya pucat, namun matanya menatap tajam bagaikan belati.

Mirna buru-buru bangkit dan langsung memeluk putri bungsunya itu dengan erat sambil menangis.

"Sonia! Kamu ini sudah besar tapi masih saja menyusahkan orang tua!" bentak Ridwan kasar.

"Iya! Kapan kamu mau dewasa?! Kami semua di sini sibuk mencarimu, kamu malah tidak ada kabar! Sampai kapan kamu mau begini terus?!" cetus Mila ikut memaki, padahal ia sedikit pun tidak berniat mencari Sonia.

"Kasihan Mas Adam, Sonia. Dia sampai tidak konsentrasi bekerja gara-gara memikirkan kamu!" tambah Lusi ikut-ikutan.

Sonia menarik napas panjang. Mirna yang merasa kasihan langsung berdiri pasang badan di depan Sonia, takut anak-anaknya yang lain akan memukuli adiknya.

"Sudahlah... tidak usah sok peduli," ketus Sonia datar.

"Sonia!" bentak Ridwan.

"RIDWAN!" teriak Sonia membalas dengan nada yang tak kalah menggelegar.

"Kurang ajar kamu ya!" Ridwan berdiri, mengepalkan tangan dan bersiap melayangkan pukulan.

"Jangan coba-coba kamu pukul Sonia!" Mirna menatap Ridwan dengan mata nyalang penuh amarah.

Adam sebenarnya hendak bangkit membela Sonia, namun Alya dengan cepat menggenggam erat tangan Adam untuk menahannya. Sudut mata Sonia menangkap gerakan kecil itu—sebuah kepastian bahwa Adam kini telah sepenuhnya berada dalam kendali Alya.

"Ibu! Anak ini dari kecil cuma bisa bikin susah!" teriak Mila tak mau kalah. "Ditangkap polisi, terus kabur! Sampai kapan kamu berhenti buat masalah, Sonia?!"

"Kalau aku buat masalah, memangnya kamu peduli?!" Sonia menatap Mila dengan kilatan benci.

"Lihat itu, Bu! Anak kesayangan Ibu makin kurang ajar!" jerit Mila pada Mirna.

Hilang kesabaran, Mirna menyambar sapu ijuk di dekat sofa dan mengarahkannya pada Mila dan Ridwan. "Kalau kalian ke sini cuma untuk memarahi Sonia, lebih baik kalian semua pulang! Pergi!"

"Bu, gara-gara sikap Ibu yang begini Sonia jadi anak tidak tahu diri!" bentak Ridwan kesal.

"PERGIII!" teriak Mirna histeris. Air mata bercucuran deras di pipinya yang keriput.

Mila, Lusi, dan Ridwan akhirnya melangkah pergi dengan mendengus kotor, sempat beradu tatap penuh dendam dengan Sonia sebelum keluar rumah.

Adam mencoba mendekat untuk meminta maaf, namun Sonia lebih dulu memotong, "Bu... aku lelah. Antar aku ke kamar."

"Iya, Nak. Ayo ke kamar..." Mirna merangkul jemari Sonia yang dingin, menuntun putri bungsunya itu menuju kamar.

Waktu terus bergulir hingga pagi menyapa.

Di tempat lain, Amira dan Rika sudah tampil rapi dan siap berangkat. Hari ini mereka berniat menawarkan kerja sama pengadaan catering ke kantor PT Yamaichi. Niko, teman panti mereka dulu, sudah berjanji akan menjadi penghubung ke salah satu manajer di sana.

"Mudah-mudahan proposal kita diterima ya, Mir," harap Rika seraya memanaskan mesin mobil.

"Yakin, usaha tidak akan mengkhianati hasil," jawab Amira mantap.

Mereka berdua naik ke mobil Pajero milik Rika, sebab mobil Amira masih menginap di bengkel.

Tepat setelah mobil Rika meluncur pergi meninggalkan area kedai, sebuah mobil mewah berwarna hitam melambat dan berhenti di pinggir jalan depan kedai Amira.

"Tuan, di depan sana ada restoran yang lebih memadai. Tempat ini sepertinya tidak layak untuk Anda," ucap sopir pribadi dari balik kemudi.

Pria tampan bermata sipit yang duduk di kursi belakang membuka kaca jendela mobilnya sedikit. Ia menghirup udara luar. "Di sini aromanya sangat wangi."

"Tapi tempatnya terlalu sederhana, Tuan..."

Tanpa memedulikan ucapan sopirnya, pria itu melepas jas mahalnya hingga menyisakan kemeja putih. Ia juga melonggarkan dasinya santai.

"Tuan, makanan di tempat seperti ini belum tentu steril!" cegah sang sopir panik.

"Diamlah! Aku yang makan, kenapa kamu yang repot?" balasnya dingin.

Pria tampan itu melangkah keluar mobil, berjalan dengan gestur tubuh yang elegan menuju meja outdoor kedai Amira. Seorang pelayan kedai segera menyapa dan memberikan lembaran menu.

"Ramen yang ini," tunjuk pria tampan itu pada salah satu menu andalan racikan Amira. "Jangan pakai lama ya."

"Siap, Pak!" jawab pelayan ramah.

"Tuan, Anda yakin mau makan di sini?" bisik sopirnya yang mengekor ragu.

Pria tampan itu memberi tatapan nyalang yang sangat tajam, membuat sang sopir seketika ciut dan bungkam.

Tak berapa lama, semangkuk ramen panas yang asapnya masih mengepul disajikan di atas meja. Pria itu memandangi uap yang membumbung, lalu mendekatkan wajahnya untuk menghirup aromanya dalam-dalam.

Mata pria itu mendadak bergetar dramatis. "Kenapa... kenapa aroma ini... aroma ini..." gumamnya lirik.

Tanpa membuang waktu, ia mengambil sumpit dan menyantap ramen itu dengan sangat cepat dan antusias.

"Tuan, pelan-pelan makannya..." cemas sang sopir.

"Berisik!" potong pria itu cepat, namun matanya mulai berkaca-kaca saat mengunyah. Kenapa... kenapa rasanya persis seperti masakan Ibu?

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!