Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Dunia bagi Ren hanyalah kehampaan yang dingin. Tidak ada suara dentuman reruntuhan es yang menimpa bodi Vanguard, tidak ada deru mesin yang sekarat, dan tidak ada lagi sisa-sisa dendam yang membakar dadanya. Yang tersisa hanyalah kegelapan yang pekat, sebuah ruang tanpa gravitasi di mana detak jantungnya sendiri terasa seperti gema yang semakin menjauh ke dalam jurang yang tak berujung.

Di dunia nyata, di dalam ruang medis gerbong Vanguard yang kini terombang-ambing di sela-sela reruntuhan tebing es, suasana jauh dari kata tenang. Bau obat-obatan herbal yang menyengat, perpaduan antara akar Frost-Root yang pahit dan ekstrak bunga Lumina yang manis, memenuhi setiap sudut ruangan.

Yuna bekerja tanpa henti. Apron putihnya kini kotor oleh noda darah kering dan cairan hijau pekat dari ramuan sistemik tingkat tinggi yang ia racik. Tangannya yang biasanya digunakan untuk menciptakan mahakarya kuliner, kini bergerak dengan presisi bedah yang mengerikan. Ia menyuntikkan serum pemulihan seluler langsung ke arah pembuluh darah arteri di leher Ren, berusaha memaksa The Core Engine yang sudah mati suri untuk kembali berdenyut.

"Detak jantungnya melemah lagi," gumam Yuna, suaranya parau. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Tubuhnya menolak untuk kembali. Dia... dia sudah menyerah, teman-teman."

Di sudut ruangan, Soju yang biasanya ceria kini tampak seperti bayang-bayang dari dirinya sendiri. Busur balistiknya tergeletak tak terawat di lantai. Ia terus-menerus menatap monitor vitalitas Ren, jemarinya yang gemetar berkali-kali meremas ujung mantelnya.

"Dia tidak boleh menyerah," suara Soju terdengar pecah. "Ren, kau dengar tidak? Kau tidak bisa tidur saja di sana setelah kau menyeret kami ke dalam kekacauan ini. Bangunlah, brengsek."

Leo, yang biasanya paling berisik dengan kunci pas dan mesin-mesinnya, duduk bersimpuh di samping ranjang Ren. Tangan mekaniknya yang besar dan kasar memegang jemari Ren yang dingin. Ia tidak lagi peduli pada kereta yang rusak parah di luar sana. Baginya, Vanguard hanyalah tumpukan besi mati jika jantung di dalam gerbong ini tidak lagi berdetak.

"Kapten," panggil Leo dengan suara serak. "Tiga hari lalu, kau bilang padaku bahwa kau butuh mekanik yang bisa menjamin kereta ini tetap berjalan sampai akhir. Tapi bagaimana bisa aku memperbaiki segalanya jika kau sendiri membiarkan dirimu hancur seperti ini? Kau adalah mesin penggerak kami, Ren. Tanpamu, kami hanya sekelompok sampah yang tersesat di tengah badai."

Gavin, yang biasanya menjadi peretas data paling tenang di antara mereka, kini mondar-mandir di depan pintu ruang medis. Layar hologram di genggamannya menunjukkan data sisa energi The Core Engine, yang perlahan-lahan menurun setiap detiknya.

"Data tidak berbohong, tapi manusia selalu punya celah untuk keajaiban," gumam Gavin pada dirinya sendiri, matanya sembab. "Dia melindungi kita, Leo. Dia melompat ke arah pedang plasma itu tanpa ragu untuk melindungi kita. Kenapa? Kita hanyalah orang asing yang dia temui beberapa hari lalu. Kenapa dia harus menanggung semua ini sendirian?"

Yuna menghentikan pekerjaannya sejenak, menatap ke arah teman-temannya. Ia bisa melihat kesedihan yang tulus di sana—sebuah ikatan saudara yang tercipta bukan karena waktu yang lama, melainkan karena ambang kematian yang mereka lalui bersama.

"Dia bukan lagi orang asing," jawab Yuna pelan, menatap wajah pucat Ren. "Bagi seorang pria yang kehilangan segalanya—termasuk adiknya—kita adalah satu-satunya alasan dia masih memiliki pegangan pada sisi kemanusiaannya. Dia tidak melindungi kita karena dia kapten kita. Dia melindungi kita karena kita adalah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya."

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada yang tidur. Tidak ada yang makan dengan layak. Setiap kali monitor detak jantung berbunyi tit-tit yang tidak beraturan, jantung mereka pun ikut bergetar dalam ketakutan yang luar biasa.

"Ren, ingatkah kau?" bisik Soju, mendekatkan wajahnya ke telinga Ren. "Kau pernah bilang kau menyukai kue sus buatan Yuna. Dia sudah menyiapkan satu piring penuh untukmu begitu kau bangun nanti. Apakah kau ingin membiarkan kue itu basi begitu saja?"

Leo tertawa kecil, meskipun matanya berkaca-kaca. "Benar, Kapten. Jangan jadi pecundang. Bangunlah, dan mari kita tunjukkan pada Jenderal Vane bahwa kereta ini tidak akan hancur hanya karena satu serangan plasma murahan."

Gavin tiba-tiba berhenti mondar-mandir. Ia menatap layar monitor dengan napas tertahan. Sebuah sinyal samar mulai terbaca. Bukan detak jantung biasa. Itu adalah detak jantung yang disinkronkan dengan resonansi biru The Core Engine.

Bip... bip... BIP!

Suara monitor mendadak menjadi lebih stabil. Warna biru pada The Core Engine yang tadinya padam, kini mulai berpendar redup, menyebar melalui pembuluh darah Ren seperti cahaya fajar yang menembus malam panjang.

Yuna langsung meraih sensor detak jantung, matanya melebar. "Dia merespons! Ramuan herbal tingkat tinggi ini bekerja! Tubuhnya mulai menyerap energi dari inti mesin!"

Ren, di dalam kegelapannya, mulai merasakan sesuatu. Sebuah tarikan yang kuat. Bukan lagi tarikan menuju kehampaan, melainkan sebuah tangan hangat yang memegang jemarinya, suara-suara yang memanggil namanya dengan penuh pengharapan, dan aroma masakan Yuna yang samar-samar menembus batas kesadarannya.

Ia perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruang medis yang menyilaukan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah-wajah yang lelah, mata yang sembab, dan senyuman yang terukir di tengah air mata.

"Kalian..." suara Ren serak, nyaris tidak terdengar.

"Kapten!" seru Leo dan Soju bersamaan, hampir menerjang ranjang Ren dalam pelukan lega mereka.

Ren mencoba duduk, namun tubuhnya masih terasa seperti remukan kaca. Ia menatap rekan-rekannya satu per satu. Ia tidak ingat banyak tentang apa yang terjadi setelah ia menahan tebasan pedang plasma Vane, tapi satu hal yang ia sadari: mereka tetap di sini. Mereka tidak pergi.

"Kenapa kalian tidak pergi?" tanya Ren pelan. "Kereta ini rusak... kalian bisa saja meninggalkan aku dan mencari perlindungan lain."

Gavin tertawa getir, menutup layar hologramnya. "Pergi? Ren, kau sudah menganggap kami saudara. Dan di dunia yang beku ini, saudara tidak akan pernah meninggalkan saudara mereka untuk mati di tumpukan salju."

Ren terdiam. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka, melainkan karena rasa haru yang jarang sekali ia rasakan. Namun, tepat saat suasana mulai tenang, tiba-tiba sensor jarak jauh milik Gavin berbunyi nyaring. Sebuah sinyal yang sudah lama tidak mereka dengar, namun sangat mereka kenali, berbunyi dengan intensitas yang lebih tinggi dari sebelumnya.

"Sial," umpat Gavin, wajahnya pucat pasi kembali. "Itu bukan sinyal musuh biasa. Seseorang atau sesuatu sedang mendekat dari arah jurang buntu, dan mereka tidak menggunakan mesin konvensional. Ren, ada sinyal energi purba yang sangat kuat sedang merobek dimensi di depan gerbang kereta kita, dan aku takut ini adalah—"

Sebelum Gavin menyelesaikan kalimatnya, seluruh gerbong Vanguard mendadak terguncang hebat, seolah-olah ditarik oleh kekuatan magnetik raksasa yang mencoba menarik kereta mereka jatuh lebih dalam ke dasar jurang yang paling gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!