Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Geo keluar dari ruangan Sandra dengan marah. Dia nyaris membanting pintu, untungnya meski di banting pintu ruangan kerja Sandra itu bunyinya sama saja. Kalau tidak, mungkin saja Sandra akan memanggil Geo lagi untuk dimarahi.
Geo melangkah cepat ke ruangannya dan bersiap bertemu dengan orang dari bank yang akan datang jam 2 nanti. Tapi baru saja duduk, Hartawan ayah mertua Geo sudah membuka pintu ruangan kerja Geo.
Geo gelagapan, apalagi wajah ayah mertuanya itu tampak sangat tidak baik.
"A... ayah!"
"Siapa ayahmu?" Tuan Hartawan tampak tidak senang.
Geo makin panik, dia tidak tahu apa tujuan kedatangan pria tua di depannya itu. Dari wajahnya dan caranya bicara, jelas kalau pria tua yang merupakan ayah mertuanya itu pasti punya tujuan tidak sederhana dan tidak akan menguntungkan untuk Geo.
Tapi tetap saja, di depan ayah mertuanya yang punya pohon uang itu dan kekuasaan itu, tentu saja dia harus tetap terlihat patuh dan ramah.
Geo dengan cepat merapikan sofa yang ada di ruangan itu. Mempersilahkan ayah mertuanya untuk duduk di sana. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama 7 tahun lebih pada orang tua Diana.
"Ayah, pasti lelah. Duduklah dulu, aku akan minta Wulan membuatkan kopi..."
"Kamu pikir aku kesini untuk duduk?" sela tuan Hartawan yang langsung membuat Geo bungkam.
Dia bahkan dari bersikap sok baik, sok ramah dan terlihat cenderung berusaha untuk menjilatt, menjadi diam seketika seperti patung.
"Aku sudah katakan padamu! sebelum kamu menikah dengan putriku. Jangan membuat masalah apapun yang bisa mempengaruhi opini publik. Dari para karyawan aku dengar kalian kerap berdebat. Kamu tahu tidak berapa banyak yang sudah tahu kalian menikah?" tanya Tuan Hartawan.
Geo terdiam, menjadi menantu seseorang dengan status yang sangat tinggi ternyata tidak mudah. Dia benar-benar harus mengalah lagi dan mengalah terus pada Sandra. Sampai sekarang dia mulai merasa jengah, padahal pernikahan itu belum ada satu bulan.
"Aku paham ayah..."
"Apa yang kamu paham?" sela Tuan Hartawan lagi.
Geo meletakkan tangannya di belakang punggung. Entah apa maunya mertuanya itu, ditanya dia sudah menjawab, tapi tetap saja disela.
"Aku tidak akan berdebat dengan Sandra lagi!"
"Ingat ya! kamu itu bukan siapa-siapa tanpa Sandra. Bisa menjadi suami Sandra, itu sudah keberuntungan kamu paling besar. Keberuntungan kamu seumur hidup itu, tahu!"
Kali ini Geo terdiam. Dia sungguh belum pernah mendapatkan penghinaan seperti itu selama ini.
"Tahu diri sedikit Geo! kamu duduk di posisi kamu sekarang karena Sandra. Kamu punya kemampuan apa? berapa kali masalah yang kamu timbulkan pada akhirnya aku dan Sandra yang selesaikan. Kalau saja anakku tidak butaa, maka dia tidak akan pernah tertarik padamu. Pria dengan segala cara licik demi bisa menikah dengan Sandra. Cih... aku benar-benar belum pernah bertemu dengan pria tidak tahu malu seperti mu! ingat yang aku katakan! jika kamu membuat ku atau putriku malu lagi. Aku bisa dengan mudah menendang mu dari jabatan mu yang sekarang, bahkan dari perusahaan ini. Camkan itu!"
Geo masih diam, tangannya masih mengepal di balik punggungnya. Kata-kata 'pria licik, tidak tahu malu, tidak tahu diri, bukan siapa-siapa' rasanya lama-lama Geo sungguh akan kenyang dengan semua kata-kata itu.
Tuan Hartawan segera meninggalkan ruangan Geo. Bahkan pria tua itu pergi setelah membanting pintu ruangan itu cukup keras. Entah seperti apa anggapan orang-orang yang mendengarnya di luar.
Geo duduk di sofa yang tadinya dia bersihkan untuk ayah mertuanya duduk. Pria itu memegang kepalanya yang berdenyut. Rasanya pusing sekali. Belum selesai, ponselnya berdering. Geo melihat ke arah meja kerjanya, berjalan ke arah meja itu dan meraih ponsel yang ada di atas meja.
Begitu Geo melihat siapa yang menghubunginya, tangannya cepat menggeser tombol hijau bergambar icon telepon ke atas.
"Iya Bu...!"
[Geo, ayahmu jatuh. Ayahmu jatuh dari tangga, aduh bagaimana ini?]
Dari seberang sana, terdengar suara Dewi yang begitu panik.
"Apalagi sih ini?" gumamnya perlahan.
Suara itu pelan, sampai tidak mungkin ibunya yang ada di seberang sana mendengarnya.
[Geo, ibu harus apa? ibu takut...]
"Telepon ambulans Bu! minta bibi Nova telepon ambulans. Dia sudah diajarkan oleh Diana, dia punya nomor-nomor penting seperti ambulans, pemadam kebakaran, kantor polisi dan semacamnya!"
[Oke, oke ibu panggil bibi Nova sekarang]
"Kalau sudah sampai rumah sakit, kabari aku ya. Aku ada pertemuan penting sebentar lagi!"
[Iya, iya]
Panggilan itu terputus. Ya seperti itulah, Geo merasa kalau tak ada habisnya rasanya masalah datang silih berganti padanya.
Baru dia bertengkar dengan Sandra, karena salah paham dia membela Diana katanya. Padahal tidak sama sekali. Lalu masalah pekerjaan, dia benar-benar lupa. Biasanya selalu ada Diana yang mengingatkan dirinya tentang pekerjaan apa yang dia bawa pulang ke rumah. Sandra mana sempat mengurus hal seperti itu, setelah bekerja, dia akan sibuk sendiri menyenangkan dirinya, merawat dirinya dan semua hal yang sebenarnya dulu tak pernah dilihat oleh Geo dari Sandra. Lalu baru saja, ayahnya Geo jatuh dari tangga. Bagaimana semua itu bisa terjadi beruntun, Geo semakin merasa kepalanya sakit.
Sementara itu di rumah Dewi, bibi Nova sudah panggil ambulans sesuai perintah Dewi.
Tapi sudah 10 menit, ambulans itu yak kunjung datang.
"Ini mana ambulans nya bibi Nova? kamu beneran panggil gak sih?" tanya Dewi panik.
"Sudah nyonya besar, tadi katanya sudah berangkat dan sedang dalam perjalanan!"
"Lama sekali, aduh bagaimana ini... katanya kalau orang jatuh jangan di angkat. Terus kita harus gimana?"
Dewi sangat panik, dia melihat suaminya tak sadarkan diri sudah lebih dari 10 menit. Sementara dari ucapan Geo, anaknya itu tidak bisa pulang dengan cepat.
"Sandra...nah iya, aku akan telepon Sandra!"
Dewi bergegas menghubungi Sandra. Dulu kan kalau ada apa-apa dengan dirinya atau suaminya. Dia akan menghubungi Diana. Dan Diana akan langsung datang.
Tiga kali sudah Dewi berusaha menghubungi Sandra. Dari notifikasi di ponselnya itu, panggilan itu berdering, artinya nomor Sandra aktif. Tapi sudah beberapa kali, tidak diterima juga panggilan dari Dewi pada Sandra.
"Dia ini kemana ya? apa sibuk juga?" gumam Dewi. Namun Dewi belum menyerah. Dia masih terus berusaha menghubungi Sandra.
Hingga ke-7 kalinya. Panggilan itu baru diterima oleh Sandra.
"Halo..."
[Ibu ngapalin sih? kalau ada apa-apa telepon anak ibu saja. Ngapain telepon aku. Sudah lah, aku mau istirahat. Mengganggu saja!]
"Tapi Sandra..."
Tut Tut Tut
Panggilan itu diputus sepihak oleh Sandra. Dewi terdiam. Bibi Nova bisa melihat dengan jelas kalau Dewi sangat kecewa.
'Itulah, dulu punya menantu yang baik sekali disia-siakan. Sekarang dapat menantu yang tidak perduli, kenapa sedih?' batin bibi Nova yang memang tidak terlalu suka pada keluarga ini. Hanya saja dia juga tidak baja berhenti, kontrak kerjanya masih 2 tahun lagi.
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣
apa yg kau harapkan ketika dia harus Jadi pemimpin banyak orang
ya...ga bakalan mampu lah