Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Pengantin Kabur
Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Kanaya terpaksa menikah dengan Yudha, calon adik iparnya yang berbeda usia 7 tahun lebih muda dari usianya. Yogi, calon suaminya mendadak kabur sehari sebelum pernikahan mereka digelar.
Kanaya dan Yogi dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Di usia menjelang 35 tahun dan belum melepas status lajang, kedua orang tua Kanaya dilanda kegundahan putri sulungnya menyandang gelar perawan tua karena tak kunjung menikah. Sedangkan kedua adik Kanaya sudah lebih dulu berumah tangga.
Mereka akhirnya berencana menjodohkan Kanaya dengan Yogi, anak relasi bisnis Danur. Sebenarnya dari awal Yogi menolak perjodohan itu. Dia sudah mempunyai kekasih dan berencana menikahi kekasihnya. Namun karena desakan kedua orang tuanya, Yogi terpaksa menerima perjodohan dengan Kanaya.
Sayang, menjelang detik-detik akhir pernikahan digelar, kekasih Yogi mengalami kecelakaan. Yogi akhirnya memilih kabur untuk menemani sang kekasih hati daripada menjalankan pernikahan dengan Kanaya.
Demi menyelamatkan muka kedua keluarga, orang tua Yogi meminta Yudha menggantikan posisi sang kakak untuk menikahi Kanaya. Dengan berat hati, Yudha akhirnya menerima takdir menikah dengan wanita yang lebih tua darinya.
Apa yang terjadi dengan pernikahan mereka selanjutnya? Akankah rasa cinta itu tumbuh di antara mereka berdua?
❤❤❤
Usai ritual sakral siraman, siang itu kediaman keluarga Danur dan Anita langsung berganti khusyuk dengan dimulainya acara pengajian menjelang pernikahan putri sulung mereka, Kanaya.
Keharuan menyelimuti kediaman mereka. Ada rasa lega yang membuncah di hati keluarga Kanaya, karena putri sulung mereka akhirnya akan memasuki jenjang pernikahan. Di usia yang matang, saat teman sebayanya telah menimang anak, Kanaya masih nyaman dengan status single-nya, sementara kedua adiknya sudah membina rumah tangga lebih dulu.
Khawatir akan padangan negatif dan bisik-bisik miring dari lingkungan sekitar, membuat orang tua Kanaya sempat gencar berupaya mencarikan jodoh untuk Kanaya, hingga akhirnya Danur bertemu dengan sahabat lamanya yang mempunyai dua anak laki-laki single. Salah satu dari mereka akhirnya dijodohkan dengan Kanaya atas kesepakatan kedua keluarga.
Keharuan semakin memuncak pada prosesi sungkeman setelah pengajian. Air mata yang mengalir tak terbendung dari mata kedua orang tua Kanaya bukan lagi cerminan sedih, melainkan rasa lega karena beban yang selama ini menghimpit dada akhirnya teratasi.
Dikelilingi kerabat dekat dan tetangga sekitar, tasyakuran hari itu berjalan khidmat. Senyum dan doa tulus mengalir dari para tamu yang ikut bahagia melihat Kanaya segera mengarungi hidup yang baru.
Di teras samping rumah Danur, tiga wanita sedang asyik berbincang. Mereka adalah Kanaya, dan kedua sahabatnya, Hesti juga Nunik. Persahabatan yang terjalin sejak bangku kuliah itu tetap awet hingga sekarang, terlebih mereka menetap di kota yang sama.
"Akhirnya, Yaya mandi kembang juga, Nik!" ledek Hesti. Ia terpingkal mengingat dulu pernah menyuruh Kanaya melakoni ritual itu agar cepat mendapatkan jodoh, apalagi usia sahabatnya itu sudah menembus kepala tiga.
"Alhamdulillah, Hes. Sekarang kalau kita bahas konten plus-plus, nggak perlu bisik-bisik lagi. Sudah nggak ada anak gadis di antara kita, hahaha!" sahut Nunik, disambung tawanya yang pecah.
Sebagai sahabat, Hesti dan Nunik jelas mendambakan Kanaya segera membina rumah tangga. Maka saat Kanaya mengabarkan menerima pria pilihan orang tuanya, rasa syukur dan bahagia tak mampu mereka sembunyikan.
Kanaya hanya menarik tipis sudut bibirnya. Jujur, ia masih sangat nyaman dengan kesendiriannya. Namun, desakan dari orang tua dan keluarga besar, setelah rentetan perjodohan yang gagal, membuat pertahanannya runtuh, hingga akhirnya ia menyerah pada pria pilihan papanya.
"Aku nikah juga karena kupingku budek dengar ocehan kalian tahu!" ketus Kanaya dengan memutar bola matanya.
Pandangan Hesti dan Nunik bertemu. Sedetik kemudian, tawa mereka pecah bersamaan, menyita perhatian dari beberapa anggota keluarga Kanaya yang ada di dalam rumah.
"Kalau gitu, ocehan kita selama ini berhasil, dong? Akhirnya kamu nikah juga!" sahut Hesti puas, sebab ocehannya akhirnya berbuah manis.
"Bener banget!" Nunik menimpali. Tangannya sibuk menyuap sepotong kue lapis ke dalam mulutnya. "Kita ngoceh juga demi kebaikanmu, Ya," lanjutnya dengan mulut penuh makanan.
Hesti mencondongkan tubuh, lalu berbisik di telinga Kanaya, "Tapi jujur, Yogi itu ganteng banget, Ya. Beruntung lho, di usiamu sekarang masih bisa dapet suami single, tampan, dan mapan. Berarti nggak sia-sia kalau cukup lama melajang, akhirnya dapat jodoh yang super." Hesti mengangkat ibu jarinya.
"Suamiku sama suamimu aja lewat ya, Hes?" seloroh Nunik, mengkompori.
Kanaya mengalihkan pandangan ke arah taman samping rumah orang tuanya. Sebenarnya ia enggan membicarakan soal pernikahannya dengan Yogi.
"Oh ya, nanti kalau udah sah, jangan nunda-nunda punya anak, Ya. Ingat, usiamu udah tiga puluh lima, Kalian bisa sambil pacaran, tapi urusan bikin anak harus langsung tancap gas. Kalau butuh tips melayani suami, hubungi aku aja!" kelakarnya yang disambut tawa renyah Nunik.
"Atau mau video tutorialnya? Nanti aku share link-nya." Hesti mengedipkan satu matanya sambil menurun-naikkan alisnya berseloroh.
"Sssttt! Jangan kencang-kencang ngomongnya, Hes. Nanti ada yang dengar." Nunik mendekatkan jari ke dekat bibirnya.
Kanaya bangkit dari duduknya. Jika terus meladeni obrolan kedua sahabatnya, pembicaraan mereka pasti akan makin liar membahas hal tabu. Padahal, rumahnya masih dipadati kerabat yang berlalu-lalang. "Sudah mau sore, sebaiknya kalian pulang sekarang! Besok pagi-pagi sekali kalian sudah harus ada di sini." Bukan bermaksud mengusir, tapi kedua sahabatnya itu akan menyaksikan momen sakral akan nikahnya, sementara malam harinya akan menjadi bagian dari bridesmaid.
"Oke, deh! Aku juga mau ke salon dulu, biar besok auraku bisa menyaingi aura pengantinnya," goda Hesti sambil menyeringai jenaka dan bangkit menyampirkan tasnya di pundaknya.
"Eh, kamu mau ke salon, Hes? Aku ikut, dong!" sambar Nunik antusias. "Mau luluran juga, biar besok ikutan kinclong." Meski bukan mereka yang duduk di pelaminan, status sebagai bridesmaid membuat keduanya ingin tampil cantik.
"Kami pamit dulu, Ya. Jangan tidur malam-malam, biar besok fresh." Hesti menasehati sambil memeluk Kanaya dan bercipika-cipiki bergantian dengan Nunik.
"Oke, aku antar sampai teras depan."
Mereka bertiga bergegas meninggalkan teras samping menuju teras depan rumah orang tua Kanaya.
***
Kanaya keluar dari kamar mandi dengan bathrobe mocca yang membalut tubuhnya, membiarkan rambut pendeknya yang basah meneteskan sisa air. Belum sempat ia meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya, sebuah bentakan menggelegar dari luar ruang kamarnya terdengar.
."Kurang ajar! Berani sekali anakmu mempermainkan putriku!" Suara Danur terdengar penuh murka dan membuat bulu kuduk Kanaya meremang.
"Ada apa ini?" Benak Kanaya dipenuhi tanya. Mengapa papanya marah di hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan keluarganya? Kepada siapa amarah itu ditujukan? Rentetan pertanyaan terus berkecamuk, menuntut jawaban.
Tanpa membuang waktu, Kanaya menanggalkan bathrobe lalu berganti pakaian seadanya. Didorong rasa penasaran, ia bergegas menuju pintu.
Ceklek
Baru saja jemarinya menarik gagang pintu, sebuah dorongan kuat dari luar membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.
Sosok Kinanti, adik bungsunya mendadak muncul di ambang pintu dengan wajah panik."Gawat, Mbak! Mas Yogi kabur!" Kalimat yang lolos dari bibir Kinanti seketika tercengang kaget.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..