Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Penyesalan
Daffa berdiri beberapa langkah di hadapan Rania, setelah percakapan mereka tadi, pria itu akhirnya berbalik.
Ia berniat menuju lantai dua untuk mulai berkemas, namun baru beberapa langkah menaiki tangga.
"Daffa." Suara Rania menghentikan langkahnya.
Daffa berhenti, ia menoleh.
Rania masih berdiri di ruang tengah, tongkat berada dalam genggaman tangannya. "Aku tidak mau pergi dari sini."
Daffa mengernyit. "Kenapa?"
"Aku sudah nyaman di sini." Rania menghela napas. "Aku lelah jika harus beradaptasi dengan tempat baru. Lagi pula, Villa ini cukup nyaman untukku."
Rania kemudian berjalan perlahan menuju jendela, tangannya meraba sisi dinding sebelum akhirnya menemukan gagang jendela.
Klik!! Jendela terbuka.
Angin pagi langsung menyentuh wajahnya.
Rania mengembuskan napas pelan, setidaknya, ia mengenal tempat ini, ia sudah tahu letak kamarnya, ia tahu arah dapur, ia bahkan mulai mengenali suara-suara di sekitar villa.
Berpindah lagi hanya akan membuatnya semakin lelah, pikirnya.
Sementara itu...
Daffa masih berdiri di tangga, jemarinya perlahan mencengkeram sisi pegangan tangga kayu.
Rahangnya mengeras, ia tidak menyukai keputusan Rania. Sama sekali, tidak suka.
Namun ia tidak ingin memaksanya, atau belum.
Daffa kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Layar ponselnya masih menampilkan pesan terakhir dari salah seorang karyawannya di bengkel motor ternama miliknya di Ibukota.
Sebuah laporan.
Motor milik Brian Aristama telah selesai diperbaiki.
Di bawah pesan itu terdapat beberapa foto.
Motor sport hitam yang mengalami kecelakaan tiga minggu lalu kini sudah kembali seperti semula.
Namun bukan motor itu yang membuat perhatian Daffa tertahan.
Melainkan foto berikutnya.
Brian Aristama.
Pria itu terlihat datang bersama asistennya untuk memeriksa motor tersebut.
Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, kakinya masih dibalut perban, namun sorot matanya, tetap sama.
Dingin.
Tajam.
Daffa mematikan layar ponselnya, kemudian pandangannya beralih kepada punggung sempit milik Rania.
Wanita itu masih berdiri di depan jendela,
tubuh yang tengah bebadan dua itu di terpa cahaya pagi.
Daffa menghela napas panjang. "au berhasil menahanku hari ini, Rania," ucapnya lirih untuk dirinya sendiri.
Sudut bibirnya terangkat tipis, "tapi lain kali, aku akan membujukmu pergi dari sini."
Tatapannya berubah semakin dalam. "Aku akan membuatmu semakin jauh dari Brian."
Daffa terdiam beberapa detik, kemudian pandangannya turun kepada perut Rania yang masih datar.
Senyumnya perlahan menghilang. "Dan..." suaranya mengecil.
"Janin itu." Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, "janin itu akan menjadi penghalang hubungan kita ke depannya."
Daffa mengembuskan napas kasar. "Aku harus melakukan sesuatu."
Ponsel kembali dimasukkannya ke dalam saku, ia kemudian berbalik dan menuruni tangga.
Langkahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, namun ketika sampai di belakang Rania.
Daffa berhenti.
Tangannya perlahan terangkat, kemudian menyentuh sisi pinggang Rania.
Rania langsung menegang.
Tubuhnya bahkan refleks membeku ketika kedua lengan Daffa melingkar di tubuhnya dari belakang.
"Daffa..." Rania memejamkan mata.
Sudah berkali-kali ia mengatakan kepada pria itu agar tidak melakukan hal seperti ini.
Namun Daffa seolah tidak pernah benar-benar mendengarkannya.
Rania menarik napas panjang.
Kedua tangannya menyentuh punggung tangan Daffa, berusaha melepaskan pelukan itu.
"Tenanglah." Suara Daffa terdengar rendah di dekat telinganya. "Aku hanya ingin memelukmu."
Rania tidak menjawab, Daffa menundukkan kepalanya.
Tangannya bergerak perlahan di sekitar pinggang Rania, kemudian berhenti tepat di atas perutnya, sentuhannya begitu lembut.
Namun justru membuat Rania semakin tidak nyaman, ia menelan ludah.
"Baiklah." Daffa akhirnya berkata. "Sesuai keinginanmu, kita tidak akan pergi ke mana-mana."
Rania membuka matanya.
"Kita tetap tinggal di sini." Daffa kemudian melepaskan pelukannya. "Kita bersiap sekarang." ia menghela nafas pendek. "Kita harus memeriksakan kehamilanmu," ucap Daffa.
Rania terdiam.
"Dan matamu juga." Daffa kemudian menyentuh bahu Rania, membantunya berbalik menghadap dirinya.
"Terima kasih," jawab Rania lirih.
Daffa menatap wajah wanita itu beberapa detik, tangannya terangkat, menyentuh dagu Rania. "Biasakan dirimu, Rania."
Rania mengernyit.
"Aku tidak mau melihat wajahmu selalu tegang setiap kali aku mendekat." Daffa tersenyum tipis, kemudian ia melepaskan dagunya dan berjalan meninggalkan Rania.
Langkahnya menghilang menuju arah lantai dua.
Rania tetap berdiri di tempatnya, jemarinya perlahan meremas tongkat yang berada di tangannya.
Ia mengembuskan napas panjang. "Penyesalan memang tidak pernah datang di awal."
Rania menundukkan kepalanya. "Seharusnya waktu itu aku menolak pergi bersama Daffa." Suaranya semakin lirih.
"Seharusnya aku pergi sendiri." Rania mendengus kesal.
Namun kekesalannya bukan hanya ditujukan kepada Daffa, ia juga marah kepada dirinya sendiri, karena telah mempercayai pria itu.
Rania memejamkan mata.
Pikirannya kembali kepada dua orang yang selama ini sengaja tidak pernah dibicarakan Daffa.
Kakek Barra.
Dan...
Brian.
Bagaimana keadaan Kakek Barra sekarang? Apakah pria tua itu sudah sadar? Apakah kondisinya membaik?
Lalu Brian...
Apakah saat itu Brian berhasil sampai ke rumah sakit untuk menemui Kakek Barra.
Rania menggigit bibir bawahnya, ia hanya ingin tahu.
Hanya itu.
Namun Daffa menutup seluruh akses informasi mengenai mereka, setiap kali Rania bertanya, selalu ada alasan yang sama.
Kau sedang hamil. Jangan terlalu banyak berpikir.
Kau harus menjaga kondisi tubuhmu.
Jangan memikirkan hal-hal yang membuatmu stres.
Awalnya Rania memahami alasan itu, namun semakin lama...
Sikap Daffa justru terasa seperti sebuah kurungan.
Rania perlahan membuka matanya. "Daffa memang baik kepadaku..." ia menghela napas. "Tapi kenapa akhir-akhir ini sikapnya terasa begitu mengerikan?"
Kepalanya tiba-tiba berdenyut, Rania mengangkat tangan dan memijat pelipisnya.
Ia tidak ingin terus memikirkan semua itu, namun satu pertanyaan terus berputar di dalam kepalanya.
Bagaimana keadaan Kakek Barra sekarang?
Rania menelan ludah, tanpa sadar, wajah pria itu kembali muncul dalam ingatannya.
Brian Aristama.
Wajah yang belum mampu ia lihat dengan sempurna, namun suara dan sentuhannya, masih begitu jelas, sebelum mereka berpisah saat itu, Rania menyentuh bibirnya sendiri, ciuman yang ia berikan saat itu masih terasa, walau sudah tiga minggu berlalu dan sekarang rasanya lebih terasa menyakitkan dari pada menenangkan.
Rania segera menggeleng. "Tidak." Ia tidak boleh kembali memikirkan Brian, ia sudah pergi, ia sudah memilih jalan ini.
Sekarang yang harus ia lakukan hanyalah menjaga dirinya dan anaknya.
Rania menarik napas panjang, kemudian menggenggam tongkatnya lebih erat.
"Aku harus bersiap sekarang." Perlahan, Rania melangkah menuju kamarnya.
Sementara itu...
Di sebuah ruangan luas yang berada di lantai tertinggi gedung milik keluarga Aristama, sinar pagi menerobos masuk melalui jendela-jendela kaca.
Namun suasana di dalam ruangan itu sama sekali tidak terasa hangat.
Brian Aristama duduk di balik meja kerjanya.
Di hadapannya, sebuah map hitam baru saja diletakkan oleh Robby, asisten pribadi Kakek Barra yang selama bertahun-tahun dipercaya mengurus berbagai urusan keluarga Aristama.
Brian menatap map tersebut beberapa detik.
"Ini apa?"
Robby berdiri tegak di hadapannya. "Surat wasiat Tuan Besar."
Brian mengernyit, kemudian ia membuka map itu.
Namun baru membaca beberapa baris pertama, tatapannya langsung berubah.
"Beraninya kau memberikan surat wasiat Kakek kepadaku, padahal beliau masih hidup!"
Suara Brian menggelegar memenuhi ruangan, tangannya menghantam meja. "Apakah kau berharap Kakek akan mati?"
Tak!
Pena berwarna perak yang sejak tadi berada di antara jemarinya patah menjadi dua.
Robby tetap berdiri di tempatnya, ia tahu Brian sedang marah. Namun ia juga tahu, ada hal yang jauh lebih penting dari pada kemarahan pria itu.
"Tuan Muda, ini adalah sesuatu yang harus Anda ketahui," ucap Robby.
Brian menatapnya tajam. "Aku sedang tidak ingin mendengar ceramah."
"Saya tidak sedang berceramah." Robby menarik napas panjang. "Saya hanya tidak ingin Anda melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
Brian terdiam.
Robby melanjutkan dengan suara hati-hati. "Saya dan Tuan Besar sudah mengetahui bahwa pernikahan Anda dengan Nyonya Rania pada awalnya hanyalah sebuah pernikahan kontrak."
Rahang Brian mengeras, namun ia tidak membantah.
"Tapi sekarang situasinya sudah berbeda," ucap Robby.
"Berbeda bagaimana?" tanya Brian.
Robby menatap Brian lurus-lurus. "Karena Nyonya Rania sedang mengandung."
Ruangan itu mendadak sunyi, Brian tidak bergerak, hanya sorot matanya yang berubah.
Robby melanjutkan. "Saya khawatir, setelah Nyonya pergi dan perceraian itu terjadi, beliau mengambil keputusan yang tidak seharusnya."
Brian mengepalkan tangan. "Apa maksudmu?"
Robby menelan ludah. "Saya khawatir Nyonya akan menggugurkan pewaris keluarga Aristama."
Brak! Brian langsung berdiri, kursinya terdorong ke belakang.
"Apa katamu?" Suara Brian rendah.
Namun justru terdengar jauh lebih mengancam.
Robby tidak mundur. "Yang harus Tuan Muda ketahui..." Ia menunjuk pada surat wasiat yang masih terbuka di atas meja.
"Seluruh warisan keluarga Aristama akan jatuh kepada anak yang sedang dikandung Nyonya Rania."
Brian membeku.
Tatapannya perlahan jatuh pada lembar surat wasiat tersebut. "Anak itu..." gumamnya.
Robby mengangguk. "Ya."
Selama menjalani pernikahannya bersama Ranum, Brian hanya berpikir kakeknya akan menjatuhkan warisan keluarga Aristama hanya kepadanya, karena dirinya yang dinyatakan mandul saat itu
Brian tidak menyangka sebelum kakeknya terbaring koma, sempat-sempatnya pria tua itu membuat surat wasiat yang membuat kepalanya terasa pecah saat ini.
Semakin lama, jemarinya semakin mengepal.
Jadi...
Kakeknya telah menentukan pewaris keluarga Aristama.
Bukan dirinya, Bukan Brian Aristama.
Melainkan, Anak yang bahkan belum lahir. Buah cintanya dengan Rania.
Brian menundukkan kepalanya, ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dadanya.
Marah, tidak percaya, dan entah mengapa...
Takut.
Takut bukan karena kehilangan warisan, melainkan karena tiba-tiba ia menyadari satu hal.
Rania membawa anaknya, membawa cintanya juga, dan sekarang wanita itu berada entah di mana.
"Jadi..." suara Brian terdengar berat. "Kakek memilih anak itu sebagai pewaris?"
"Benar, Tuan," jawab Robby.
Brian tertawa pendek. Namun tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawanya.
"Hebat." Tangannya menyapu rambutnya dengan kasar.
"Selama ini Kakek memaksaku menikah..." Brian mengembuskan napas panjang.
"Dan ternyata..." Tatapannya kembali jatuh pada surat wasiat. "Dia sudah menyiapkan semuanya lebih cermat."
Prang!!!
Sebuah vas bunga kecil yang berada di atas meja tiba-tiba terlempar ke lantai.
Pecahannya berserakan.
"Rania..." Brian mencengkeram rambutnya sendiri. "Nafasku saja sudah sesak hanya karena memikirkanmu."
Ia menatap kosong ke arah pecahan vas. "Kau membuatku gila."
Robby hanya diam.
Brian kemudian perlahan mengangkat wajahnya, tatapannya berubah.
Dingin.
Tajam.
Dan penuh tekanan.
"Kau..." Telunjuk Brian terangkat, menunjuk tepat ke arah Robby. "Kenapa baru sekarang kau mengatakan semua ini?"
Robby terdiam beberapa saat.
Brian berjalan mendekatinya, langkahnya berat, tetapi sorot matanya membuat Robby tidak berani bergerak.
"Kenapa?" Brian kembali bertanya, kali ini suaranya jauh lebih rendah. Namun justru membuat suasana terasa semakin mencekam.
"Tuan Muda..." Belum sempat Robby menyelesaikan ucapannya.
Set!!!
Brian langsung mencengkeram kerah kemeja Robby.
Tubuh Robby sedikit terdorong ke belakang.
"Jawab aku!" ucap Brian.
Robby menatap wajah Brian, tidak ada kemarahan di mata Robby.
Yang ada justru...
Rasa iba.
Karena ia tahu sesuatu yang Brian belum ketahui.
"Tuan Muda... Kakek Anda..." suara Robby terdengar lirih.
Bersambung...