Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : Hasilnya siapa yang menang?

    ​Hari-hari menjelang batas akhir pengumpulan tugas kelompok Sejarah terasa berlalu begitu cepat namun penuh dengan tensi yang melambung tinggi.

Koridor SMA Cahaya Permata dipenuhi oleh kesibukan para murid XI IPS 2 yang lalu-lalang membawa tumpukan kertas jilid, laptop, hingga karton presentasi. Namun, tidak ada meja yang menyimpan tensi sedingin dan sepanas meja Kelompok Empat.

​Sejak taruhan di Kopi Sentral diikrarkan, dinamika antara Kiara dan Khafi berubah drastis. Khafi—yang biasanya paling santai dan gemar mabal—mendadak tidak pernah absen satu kali pun setiap kali kelompok mereka berdiskusi. Sifat gengsinya yang setinggi langit menolak keras bayangan harus kalah dan membiarkan nilainya turun di bawah A, karena itu artinya ia gagal membuktikan kapasitas otaknya di depan Kiara.

Sebaliknya, Kiara juga bekerja ekstra keras demi memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi Bu Dewi untuk mengurangkan nilai.

​Rabu pagi yang mendung menjadi hari penghakiman. Suasana kelas XI IPS 2 terasa begitu menegangkan. Bau pengharum ruangan dan hawa dingin dari AC kelas menyatu menjadi latar dari kepanikan massal.

​Bu Dewi—guru mata pelajaran Sejarah Indonesia yang sekaligus menjabat sebagai wali kelas XI IPS 2—masuk ke kelas tepat pukul 9 pagi. Mengisi jadwal pelajaran di jam ke 3 & 4. Langkah kakinya yang mantap menghentak lantai, disusul oleh dentuman tebal dari map nilai yang dijatuhkan di atas meja guru.

​"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Dewi dengan nada datar namun penuh wibawa. Matanya yang tajam memindai seisi kelas di balik kacamata minusnya. "Hari ini adalah jadwal presentasi proyek Kerajaan Nusantara. Naskah fisik yang sudah kalian jilid rapi kumpulkan di meja Saya sekarang juga."

​Beberapa ketua kelompok berlarian ke depan untuk menyerahkan tugas mereka. Neona yang memegang naskah jilid mika berwarna merah milik Kelompok Empat ikut maju dengan langkah sigap. Sebelum menyerahkannya, Neona sempat melirik ke arah Kiara dan Khafi yang duduk di barisan tengah.

​"Setebal ini kalau enggak dapet A, gue sungkem sama Bu Dewi," bisik Neona pelan pada Kiara saat kembali ke duduknya.

​"Jangan takabur dulu, Na. Bu Dewi itu penguji paling detail," sahut Kiara pelan seraya membetulkan letak kerah seragamnya.

​Sementara itu, Khafi yang duduk di barisan belakang tampak santai, memutar-mutar pulpen hitam di jemari tangannya yang panjang. Namun, matanya tak pernah lepas menatap punggung Kiara.

​"Khaf," bisik Ferdi dari sampingnya seraya menyenggol lengan Khafi. "Lo beneran yakin naskah kita dapet A?"

​Khafi menyunggingkan senyum miring yang sangat tipis. "Gue nggak pernah pasang taruhan yang bakal bikin gue kalah, Di."

​Bu Dewi membuka map nilainya, lalu memanggil kelompok secara acak. Tiga kelompok pertama maju dan menghadapi pembantaian akademis yang cukup dramatis. Kelompok Rian kena semprot karena slide presentasinya terlalu banyak teks, sementara kelompok Kevin dan Bagas habis dibantai karena tidak bisa menjawab pertanyaan seputar jalur perdagangan Kerajaan Sriwijaya.

​"Selanjutnya... Kelompok Empat. Neona, Ferdi, Kiara, dan Khafi. Silakan maju ke depan," panggil Bu Dewi tegas.

​Neona menghela napas panjang seraya menepuk dadanya sendiri.

​Kiara berdiri dengan tenang, merapikan rok seragamnya, lalu melangkah ke depan kelas. Di belakangnya, Ferdi menyusul dengan wajah sedikit tegang, sementara Khafi melangkah paling akhir dengan gaya santai dan tangan terbenam di dalam saku celananya.

​Saat berdiri berjejer di depan papan tulis, kehadiran empat anak ini seketika menyita perhatian seisi kelas. Kombinasi antara ketegasan Kiara, keceriaan Neona, keriuhan Ferdi, dan aura dingin Khafi membuat suasana kelas mendadak hening.

​"Silakan mulai," perintah Bu Dewi seraya bersedekap di meja belakang.

​Neona membuka presentasi dengan sangat lancar sebagai moderator. Suaranya yang lantang dan jelas memecah kecanggungan. Selanjutnya, Kiara mengambil alih panggung untuk memaparkan materi utama mengenai Struktur Politik dan Jalur Perdagangan Kerajaan Majapahit.

​Cara bicara Kiara benar-benar memukau seisi kelas. Ia tidak sekadar membaca slide, melainkan menjelaskan dengan bahasa yang mengalir, artikulasi yang sangat jelas, dan penuh pendirian. Pengetahuannya yang mendalam membuat beberapa murid ternganga kagum, termasuk Pandu yang beberapa kali mengangguk-angguk setuju.

​Khafi yang berdiri di sudut kanan papan tulis menatap Kiara tanpa berkedip. Ada kilat kekaguman yang tersembunyi di balik matanya yang biasanya acuh tak acuh. Cewek mungil di depannya ini benar-benar pasangan kerja kelompok yang luar biasa.

​Gantian Ferdi yang mendapat bagian menjelaskan peta wilayah kekuasaan. Seperti biasa, Ferdi menyelipkan sedikit humor khas Sunda-nya yang membuat Bu Dewi sempat mengulum senyum tipis, mencairkan suasana kelas yang tadinya kaku.

​Hingga akhirnya, sesi yang paling krusial tiba: bagian analisis strategi militer dan diplomasi Kerajaan Majapahit yang menjadi porsi presentasi Khafi.

​Satu kelas sempat menahan napas, menantikan apakah si Kapten Basket ini bakal gagap atau hanya membaca poin kasar. Namun, Khafi melangkah maju satu langkah. Ia meletakkan pointer laser di meja, lalu mulai berbicara tanpa melihat slide sama sekali.

​Otak encernya yang selama ini tersembunyi di balik sikap malas-malasan seketika bekerja penuh. Khafi menjelaskan analisis strategi perang benteng dan diplomasi maritim Majapahit dengan begitu lugas, tenang, dan sangat cerdas. Penggunaan kosa katanya tepat, pembawanya sangat santai namun berbobot, membuat seisi kelas terpesona.

​Kiara melirik Khafi dari samping. Ada rasa terkejut yang tak bisa ia sembunyikan.

Jadi ini alasan kenapa Neona bilang otaknya encer banget kalau lagi mau mikir? batin Kiara.

​"Demikian analisis strategi diplomasi dari kelompok kami. Terima kasih," tutup Khafi seraya melemparkan pandangan sekilas pada Kiara dengan senyum provokatif yang sangat tipis.

​Apresiasi tepuk tangan spontan terdengar dari seisi kelas. Namun, keriuhan itu seketika padam saat Bu Dewi tegak berdiri dan mengetukkan pulpennya ke meja.

​"Tunggu dulu. Jangan kembali ke tempat duduk kalian," potong Bu Dewi tajam.

​Neona seketika memegang ujung seragam Kiara dengan cemas. Ferdi mendadak meneguk ludah kasar.

​Bu Dewi berjalan melangkah ke depan kelas, memegang naskah makalah tebal milik Kelompok Empat. Ia membalik-balik halaman naskah tersebut dengan cermat, matanya menyapu setiap catatan kaki dan daftar pustaka.

​"Naskah kalian... sangat rapi. Tata bahasanya bagus, analisisnya mendalam, dan kerja sama tim saat presentasi tadi terlihat sangat seimbang," ucap Bu Dewi perlahan.

​Suasana kelas mendadak tegang luar biasa. Kiara menahan napasnya, jemarinya mengepal di balik lipatan rok. Khafi di ujung barisan tetap berdiri tegap, memandang Bu Dewi dengan percaya diri.

​"Tapi," Bu Dewi menggantungkan kalimatnya, membuat jantung Neona rasanya mau melompat keluar. "Saya punya satu pertanyaan khusus untuk bagian analisis diplomasi. Khafi, bagaimana kamu membuktikan bahwa kemunduran sistem maritim Majapahit bukan semata-mata karena perang saudara, melainkan perubahan jalur perdagangan global?"

​Pertanyaan itu adalah pertanyaan jebakan tingkat tinggi yang tidak ada di dalam buku teks SMA biasa.

​Ferdi membelalakkan mata, Neona sudah memasrahkan nasibnya pada Tuhan. Namun sebelum Kiara sempat mencoba membantu menjawab, Khafi sudah menyahut dengan suara tenang dan penuh percaya diri.

​"Izin menjawab, Bu," ucap Khafi mantap. "Berdasarkan catatan musafir Tiongkok dan literatur perdagangan abad ke-lima belas, runtuhnya supremasi maritim Majapahit dipicu oleh bangkitnya Kesultanan Malaka sebagai entrepôt baru. Hal itu mengalihkan arus pedagang Muslim dari jalur Jawa ke Selat Malaka, sehingga pendapatan bea cukai Majapahit merosot tajam sebelum perang Paregreg makin memperparah keadaan internal mereka."

​Jawaban yang sangat presisi, cerdas, dan membuktikan bahwa Khafi benar-benar membaca serta memahami riset yang disiapkan kelompoknya.

​Keheningan melingkupi kelas selama lima detik yang terasa seperti lima jam.

​Perlahan, sudut bibir Bu Dewi terangkat. Sebuah senyuman bangga terukir di wajah gurunya yang biasanya galak itu.

​"Sempurna," puji Bu Dewi lugas. Ia mengambil pulpen merahnya, lalu menuliskan satu huruf besar di lembar evaluasi depan makalah mereka.

​"Untuk Kelompok Empat... Saya berikan nilai A Plus."

​Brak!

​"YESSSSSS! DEMI APA NILAI KITA A PLUS!" jerit Ferdi spontan seraya meloncat girang dan menepuk punggung Khafi kencang-kencang.

​Neona langsung memeluk Kiara heboh seraya bertolak-tolak riang. "Ra! A Plus, Ra! Nilai tertinggi!"

​Seisi kelas XI IPS 2 riuh oleh suara siulan dan tepuk tangan. Rian dan Kevin bahkan menyuarakan sorakan gembira dari barisan belakang.

​Di tengah keriuhan itu, Kiara perlahan melepaskan pelukan Neona. Matanya membelalak menatap huruf A Plus yang tertera tegas di kertas makalah. Seketika itu juga, ingatan Kiara melayang kembali pada taruhan di Kopi Sentral.

​“Kalau tugas kelompok kita dapet nilai A sempurna... lo harus ngakuin di depan anak-anak Sebelas IPS Dua kalau gue adalah cowok paling ganteng dan paling keren di kelas kita. Dan satu lagi... lo harus mau nurutin satu permintaan gue.”

​Kelompok mereka berhasil meraih nilai A Plus. Itu artinya... Khafi memenangkan taruhan secara mutlak!

​Kiara mendongak, dan pandangannya langsung menabrak wajah Khafi. Cowok jangkung itu kini sedang berdiri bersedekap dengan ekspresi sedikit terpana, menyadari bahwa ia menang dan Kiara kalah telak dalam taruhan tersebut.

​"Silakan kembali ke tempat duduk kalian," perintah Bu Dewi seraya tersenyum puas.

​Saat mereka melangkah kembali ke barisan meja, Ferdi dan Neona masih sibuk merayakan kemenangan nilai mereka. Namun, Khafi sengaja memperlambat langkahnya, berjalan tepat di samping Kiara.

​"Gimana, Kiara?" bisik Khafi dengan suara berat dan nada riang yang tertahan. "Nilainya A Plus. Taruhannya... Gue yang menang ya."

​Kiara menghentikan langkahnya sejenak di samping mejanya. Senyum puas akan nilai yang sempurna namun keengganan terukir tipis di wajahnya. "Iya. lo yang menang, Khafi. Jadi, gue nggak lupa sama janji."

​Seringai tipis terukir di bibir Khafi. Kiara tanpa perlu disuruh dua kali, gadis itu melangkah ke depan kelas, berdeham pelan untuk menarik perhatian seisi kelas.

Neona dan Ferdi yang sudah tau tentang taruhan itu tersentak tidak menyangka Kiara akan menepati janjinya.

​Kiara menyatukan kedua telapak tangannya di depan badannya, walau dengan raut enggan dan senyum yang seperti ringisan yang dipaksakan ketika melihat wajah pongah Khafi.

​"Hari ini, di depan Bu Dewi dan teman-teman sekalian...sesuai janji taruhan" suara Kiara bergema jernih, "...gue, Kiara, secara resmi menyatakan kalau Khafi itu adalah cowok yang paling ganteng dan keren di kelas ini." ucapnya dengan raut memerah malu dan kesal karena saat ini dia di tertawakan puas oleh Khafi.

Neona dan beberapa murid perempuan bahkan menutup wajah ikut malu mendengar ucapan Kiara, sedangkan Ferdi, Kevin, dan Pandu tercengang setelah itu heboh dengan beberapa anak kelas lain.

Dengan perasaan yang masih malu dan kesal, Kiara melanjutkan langkahnya menuju tempat duduknya. Namun, Khafi yang sudah tertawa puas mendengar ucapan Kiara gantian bangkit menuju depan kelas.

" Gue juga, Khafi Mahendra, secara resmi menyatakan sama Kiara atas kelakuan usil gue dari minggu kemarin. Dan sesuai janji, mulai sekarang gue nggak akan panggil lo dengan sebutan itu lagi."

​Seisi kelas langsung bersorak riuh menggema. Neona yang duduk di sebelah Kiara langsung menyenggol lengan temannya gemas.

​Namun, begitu jam istirahat berbunyi dan suasana kelas mulai lengang, Neona langsung menarik tangan Kiara duduk kembali, lalu berbisik dengan nada waspada yang serius.

​"Eh, Ra... lo jangan langsung percaya gitu aja ya," bisik Neona sambil melirik ke arah Khafi yang sedang berjalan keluar kelas bersama gengnya.

​Kiara mengernyit dahi. "Percaya apa maksudnya, Na?"

​"Ya ampun, Kiara... lu polos banget sih!" Neona memegang kedua bahu Kiara erat-erat. "Khafi itu cowok paling jahil se-SMA Cahaya Permata! Janji dia nggak bakal ledek lo lagi itu palingan cuma bertahan beberapa hari doang! Ntar kalau dia lagi gabut atau kesel dikit, dijamin panggilan itu bakal keluar lagi. Itu mah cuma akal-akalan dia biar keliatan gentleman di depan anak-anak!"

​Kiara tertegun sejenak, lalu perlahan mengangguk paham. "Iya juga ya... cowok kayak dia mana bisa dipegang omongannya seratus persen."

​"Nah, makanya! Lo harus tetap pasang mode siaga satu, Ra. Jangan baper, tahan diri lo, karena si Khafi itu hobinya emang mancing emosi orang!" pringat Neona dengan gaya khasnya yang cerewet.

​Kiara tersenyum tipis, merapikan buku catatannya ke dalam tas. Bener juga kata Neona.

Lihat saja nanti, kalau dia berani manggil gue sebutan itu lagi, tangan gue udah siap buat jambak rambut jangkungnya lagi, batin Kiara penuh keyakinan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!