Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Rumah besar Wijaya terasa berbeda pada pagi itu. Matahari bersinar cerah menembus jendela-jendela besar, menyinari ruang tamu yang dipenuhi oleh anggota keluarga yang berkumpul. Adrian duduk di kursi utama dengan wajah serius. Di sampingnya, Elena menggenggam erat tangannya. William duduk di kursi favoritnya dengan tatapan waspada. Nathan berdiri di belakang kursi ayahnya, siap mendukung kapan pun dibutuhkan.

Adeline duduk di pangkuan ibunya, menggambar dengan tenang di buku sketsanya. Gadis kecil itu tidak tahu mengapa semua orang berkumpul pagi ini, tetapi dia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti ruangan. Suara-suara hati orang dewasa di sekitarnya berbicara dengan cepat dan penuh kekhawatiran.

Pintu ruang tamu terbuka dan Daniel Pratama masuk, diikuti oleh dua orang pria berpakaian rapi yang tidak pernah dilihat Adeline sebelumnya. Daniel tersenyum seperti biasa, tetapi kali ini senyumnya terlihat berbeda. Ada sesuatu yang gelisah di balik ketenangan yang dia tunjukkan.

"Selamat pagi, semua," sapa Daniel dengan suara ramah. "Aku membawa dua orang rekan dari firma hukum lain. Mereka ingin berbicara tentang beberapa dokumen yang ditemukan."

Adrian mengangguk. "Silakan duduk. Kami semua siap mendengarkan."

Salah satu pria itu membuka tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. "Kami menemukan bukti bahwa ada transfer dana mencurigakan dari Wijaya Corporation ke rekening pribadi beberapa orang dalam beberapa bulan terakhir. Transfer ini dilakukan tanpa sepengetahuan dewan direksi."

Suasana ruangan mendadak hening. Adrian menatap Daniel dengan tatapan tajam. "Daniel, apa kamu tahu tentang ini?"

Daniel tersenyum tipis. "Tentu saja aku tahu, Adrian. Aku yang mengatur semua transfer itu."

Kejutan menyelimuti semua orang. Elena menarik napas tajam. William mengepalkan tangannya. Nathan melangkah maju dengan tatapan marah. Tetapi sebelum ada yang bisa berbicara, Daniel melanjutkan dengan suara tenang.

"Aku sudah bekerja untuk keluarga ini selama bertahun-tahun. Aku tahu semua rahasia, semua celah, semua kelemahan. Dan aku juga tahu bahwa kalian tidak akan pernah bisa membuktikan apapun karena aku selalu meninggalkan jejak yang sangat rapi. Tetapi hari ini, aku sengaja datang untuk mengakui semuanya."

"Apa maksudmu?" tanya Adrian dengan suara dingin.

Daniel tertawa kecil. "Maksudku, aku lelah berpura-pura. Sudah waktunya kalian tahu bahwa selama ini aku bekerja sama dengan Victor. Kami berdua merencanakan kehancuran keluarga ini. Victor memberikan informasi, aku menjalankan rencana di dalam perusahaan. Kami pikir rencana kami sempurna."

Adeline yang selama ini diam, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Gadis kecil itu menatap Daniel dengan mata yang jernih dan dalam. "Tapi ada yang salah, Paman Daniel," katanya dengan suara pelan tetapi jelas. "Ada yang membuat rencana Paman gagal."

Daniel menatap Adeline dengan tatapan tajam. "Kamu benar, gadis kecil. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tetapi setiap kali kami hampir berhasil, selalu ada sesuatu yang mengganggu. Dokumen hilang tiba-tiba ditemukan kembali. Klien yang membatalkan kontrak tiba-tiba memutuskan untuk bekerja sama lagi. Ada yang selalu tahu rencana kami sebelumnya."

Adeline tersenyum kecil. "Aku tahu, Paman Daniel. Aku yang memberitahu Ayah. Aku mendengar semua rencana jahat Paman dari dalam kepala Paman."

Daniel terdiam. Matanya membelalak tidak percaya. "Kamu? Tapi kamu hanya anak kecil. Bagaimana mungkin?"

"Aku bisa mendengar suara hati orang," jawab Adeline dengan polos. "Aku dengar Paman Daniel berbohong. Aku dengar Paman Victor merencanakan kejahatan. Aku dengar semua kebencian yang Paman sembunyikan. Dan aku memberitahu Ayah dan Kakek agar mereka bisa melindungi keluarga kami."

Ruangan itu sunyi. Semua mata tertuju pada gadis kecil yang duduk dengan tenang di pangkuan ibunya. Daniel tampak pucat. Untuk pertama kalinya, senyum percaya dirinya menghilang. Dia menatap Adeline dengan campuran ketakutan dan kekaguman.

"Kau ... kau benar-benar bisa mendengar pikiran orang?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Aku tidak bisa membaca semua pikiran," jawab Adeline. "Tapi aku bisa mendengar suara hati yang keras. Suara hati yang penuh kebencian, keserakahan, dan kebohongan. Suara hati seperti yang Paman Daniel miliki."

Adrian berdiri dan menatap Daniel dengan tatapan dingin. "Sekarang kamu tahu, Daniel. Selama ini putri kecilku yang menyelamatkan keluargaku. Dia yang mendengar setiap rencanamu, dia yang memperingatkanku, dia yang membuat semua usahamu gagal."

Daniel tertawa getir. "Jadi selama ini aku dikalahkan oleh seorang anak kecil. Seorang gadis kecil yang tidak pernah aku anggap sebagai ancaman."

"Aku tidak ingin mengalahkan siapapun," kata Adeline pelan. "Aku hanya ingin melindungi keluargaku. Aku tidak suka mendengar suara-suara jahat. Aku tidak suka tahu bahwa orang yang terlihat baik ternyata jahat. Tapi aku harus mendengarkan karena tidak ada orang lain yang bisa melakukannya."

Elena memeluk putrinya erat, air mata mengalir di pipinya. William berdiri dan bertepuk tangan pelan. "Cucuku," katanya dengan suara penuh kebanggaan. "Kamu adalah pahlawan keluarga ini. Tanpamu, mungkin kita sudah kehilangan segalanya."

Nathan mendekati adiknya dan menggenggam tangannya. "Aku bangga padamu, Ade," bisiknya. "Kamu luar biasa."

Di luar rumah, di dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, Victor dan Marissa menyaksikan Daniel keluar dari rumah besar itu dengan wajah pucat dan tangan diborgol oleh dua pria berpakaian rapi. Marissa menggenggam erat lengan suaminya.

"Daniel tertangkap," bisiknya dengan suara panik. "Apa yang akan terjadi pada kita?"

Victor menatap rumah besar Wijaya dengan tatapan penuh kebencian. "Itu semua karena anak kecil itu. Adeline. Dia adalah ancaman terbesar kita. Selama dia ada, semua rencana kita akan gagal."

"Kita harus menyingkirkannya," kata Marissa dengan suara dingin. "Sebelum dia menghancurkan semuanya."

Victor mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi kita harus berhati-hati. Adrian akan melindunginya dengan mati-matian. Kita butuh rencana yang sempurna."

Di dalam rumah, Adeline tiba-tiba menegang. Gadis kecil itu menatap ke arah jendela dengan mata lebar. "Ayah," bisiknya dengan suara bergetar. "Paman Victor dan Tante Marissa ada di luar. Mereka marah. Mereka merencanakan sesuatu yang buruk."

Adrian segera berjalan ke jendela dan melihat mobil Victor yang perlahan menjauh. Dia mengepalkan tangannya dan berbalik menghadapi keluarganya. "Kita harus waspada. Victor dan Marissa tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan mencoba sesuatu yang lebih berbahaya."

William mengangguk. "Kita harus bersiap. Tapi kali ini kita tidak akan sendirian. Kita punya Adeline. Dia akan mendengar setiap rencana mereka."

Adeline menatap keluarganya yang sekarang berkumpul di sekelilingnya. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa sendirian. Ada ayahnya yang tegas, ibunya yang lembut, kakeknya yang bijaksana, dan kakaknya yang setia. Mereka semua percaya padanya. Mereka semua siap melindunginya.

"Aku tidak takut," kata Adeline dengan suara mantap. "Selama kita bersama, tidak ada yang bisa menghancurkan keluarga kita."

Semua orang tersenyum mendengar kata-kata gadis kecil itu. Di tengah ancaman yang semakin besar, keluarga Wijaya akhirnya bersatu. Mereka tahu bahwa pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki senjata paling kuat. Seorang gadis kecil yang bisa mendengar kebenaran yang tidak pernah terucapkan. Dan mereka tidak akan pernah meragukannya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!