Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: RAHASIA DI BALIK SEMBILAN YANG

Paviliun Rahasia kembali menjadi tempat paling harum di seluruh Lembah Bunga Persik, tapi keharumannya sekarang bercampur bau obat yang pahit dan bau darah yang gosong.

Yang Lie terbaring di atas ranjang bambu. Dadanya yang tadi menganga karena Cakar Hantu kini sudah ditutup dengan ramuan pasta hijau yang dibuat Tao Yao Yao sendiri. Uap putih tipis mengepul dari dadanya, tanda Sembilan Yang di dalam tubuhnya sedang bertarung melawan sisa racun yang membandel.

Mu Tao Tao duduk di samping ranjang, dagunya ditopang tangan, matanya tidak lepas dari wajah pemuda itu. Sudah dua hari ia tidak tidur.

Dua hari yang lalu, setelah Yang Lie pingsan di pelukannya, ia membopong pemuda itu kembali ke paviliun. Para murid Lembah Bunga Persik yang melihat pemandangan itu hampir pingsan dua kali. Pemimpin mereka yang terkenal benci laki-laki, yang pernah melempar Tetua Sekte Kunlun ke kolam ikan hanya karena sang tetua menarik jenggotnya, kini membopong seorang pengemis dengan wajah cemas seperti seorang istri muda yang suaminya terluka.

"Dasar pengemis bodoh, keras kepala, sok pahlawan," gumam Tao Tao pelan, jarinya tanpa sadar menyentuh ujung tongkat bambu hitam yang patah di samping ranjang. "Sudah tahu luka dalam belum sembuh, malah pakai jurus Matahari Terbit segala. Kalau sampai merusak meridianmu dan jadi lumpuh, siapa yang mau tanggung jawab? Aku sudah rugi satu Pil Pengembali Sembilan Bunga!"

Pintu bambu berderit pelan.

Masuklah sepasang suami istri yang membuat seluruh Jianghu gemetar lima puluh tahun lalu, tapi sekarang terlihat seperti petani dan ibu rumah tangga biasa.

Mu Chen masih dengan jubah tambalannya, tapi tambalannya kini lebih banyak. Tao Yao Yao masih cantik, rambutnya disanggul sederhana dengan tusuk konde bunga persik giok.

"Ayah! Ibu!" Tao Tao langsung berdiri.

Tao Yao Yao berjalan mendekat, tangannya yang lembut menyentuh dahi Tao Tao. "Kau demam, Tao Tao. Dua hari tidak tidur menjaga pacarmu, ya?"

"I-Ibu! Siapa pacarnya! Dia itu pasien! Pasien!" Wajah Tao Tao merah padam sampai ke leher, persis seperti kelopak persik yang baru mekar.

Mu Chen tertawa terbahak-bahak, lalu batuk karena araknya tersedak. Ia berjalan ke sisi ranjang, matanya yang biasanya mabuk dan malas, kini tajam seperti elang. Ia menatap Yang Lie lama sekali, lalu mengulurkan dua jarinya untuk memeriksa nadi pemuda itu.

Seketika, alis Mu Chen terangkat tinggi.

"Menarik. Sangat menarik."

"Bagaimana, Ayah?" Tao Tao bertanya cemas.

Mu Chen tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke istrinya. "Yao Yao, kau ingat pertarungan di Huashan?"

Tao Yao Yao mengangguk, wajahnya menjadi serius. "Bagaimana mungkin aku lupa. Kau pulang dengan baju robek dan pingsan tiga hari. Kalau bukan karena aku, kau sudah jadi pupuk Huashan."

Mu Chen meringis. "Hehe. Waktu itu, aku dan Yang Lie bertarung sampai titik darah penghabisan. Delapan Belas Tapak Naga-ku adalah Yang murni yang paling keras di dunia. Sembilan Yang miliknya adalah Yang murni yang paling lembut dan abadi. Keras bertemu lembut, kami berdua seri. Tapi setelah pertarungan, kami duduk bersama di puncak, berbagi arak dan... berbagi luka."

Ia menatap Yang Lie yang terbaring.

"Anak ini... dia bukan hanya mewarisi Sembilan Yang."

Tao Tao terkejut. "Bukan hanya Sembilan Yang?"

Mu Chen mengangguk. "Sembilan Yang yang asli, yang dikuasai Yang Lie, itu seperti matahari pagi. Hangat, menyembuhkan, abadi, tidak pernah padam. Tapi Sembilan Yang di dalam tubuh anak ini... ada retakan."

Ia menekan dada Yang Lie pelan. Seketika, dari dalam tubuh Yang Lie, muncul dua hawa yang bertolak belakang. Satu panas membara, satu lagi dingin, licik, dan serakah.

"Lihat? Dia pernah mencoba berlatih Tai Chu."

Tao Tao menahan napas. "Setengah halaman Tai Chu yang ia bawa!"

"Benar," Mu Chen melanjutkan. "Tai Chu adalah akar. Ia bisa membuatmu mempelajari semua jurus di dunia. Tapi ia juga seperti jurang tanpa dasar. Kalau hati tidak murni, kalau tenaga dalam tidak cukup kuat untuk menjadi wadahnya, maka Tai Chu akan memakanmu dari dalam. Itulah yang terjadi pada anak ini. Ia menemukan Tai Chu, ia mencoba memahaminya dengan dasar Sembilan Yang-nya yang belum sempurna, dan hampir mati karena dua tenaga itu bertarung di dalam tubuhnya."

Tao Yao Yao yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata pelan, "Chen, lihat telapak tangan kirinya."

Mu Chen membalik telapak tangan kiri Yang Lie. Di sana, ada sebuah tato kecil, bukan tato harimau atau naga, melainkan sebuah simbol Yin Yang kecil yang dikelilingi sembilan titik, seperti sembilan matahari kecil. Simbol itu berkedip redup.

Mata Mu Chen membelalak. Ia mundur selangkah, labu arak di tangannya sampai jatuh.

"Tidak mungkin... Tanda Sembilan Matahari! Itu... itu tanda murid inti Sekte Quanzhen! Hanya murid yang diterima langsung oleh Ketua Quanzhen yang boleh memilikinya!"

Tao Tao bingung. "Quanzhen? Sekte Tao itu? Bukankah mereka sekte putih yang mengurung diri di Gunung Zhongnan dan tidak pernah ikut campur urusan Jianghu selama tiga puluh tahun?"

"Mengurung diri?" Mu Chen tertawa getir. "Mereka tidak mengurung diri, Tao Tao. Mereka menjaga penjara."

Ia duduk, wajahnya menjadi tua dalam sekejap.

"Lima puluh tahun lalu, setelah aku dan Yang Lie menghilang, Jianghu kacau. Sekte hitam dan putih saling membunuh karena Tai Chu. Yang Lie tidak tahan melihat itu. Ia tahu, selama Kitab Tai Chu masih ada, darah tidak akan pernah berhenti. Jadi ia melakukan sesuatu yang gila."

"Apa?"

"Dulu setelah pertarungan di puncak Huashan, Ayahmu memberikan salinan kitab Tai chu kepada Yang Lie. Lalu Ia membagi Kitab Tai Chu menjadi dua," kata Tao Yao Yao pelan, melanjutkan cerita suaminya. "Separuh atas yang berisi cara melebur semua tenaga dalam, ia bawa dan ia kunci di dalam Perpustakaan Tersembunyi Sekte Quanzhen, di bawah pengawasan sahabatnya, Li Changsheng. Separuh bawah yang berisi jurus-jurus tiruan, ia hancurkan dan sebarkan halamannya ke seluruh Jianghu agar tidak ada yang bisa mendapatkannya secara utuh. Lalu ia sendiri menghilang."

Mu Chen menatap Yang Lie. "Anak ini... ia pasti berasal dari Quanzhen. Dan tato Sembilan Matahari di tangannya hanya dimiliki oleh satu orang dalam tiga puluh tahun terakhir."

"Siapa?"

"Murid terakhir Li Changsheng. Anak angkatnya. Yang juga adalah keponakannya."

Pada saat yang sama, di sebuah kuil Tao yang bobrok di kaki Gunung Bunga Persik.

Li Qingfeng berlutut di depan seorang kakek tua berjubah Tao abu-abu yang compang-camping. Kakek itu sedang menyapu halaman, gerakannya lambat seperti siput. Tapi setiap sapuannya, daun-daun kering dalam radius tiga meter terangkat dan membentuk lingkaran sempurna.

Jika ada Tetua Jianghu di sini, ia akan berlutut dan berteriak: Li Changsheng! Pedang Abadi Quanzhen! Manusia yang pernah bertarung seri melawan Mu Chen sebelum Mu Chen menjadi Ketua Pengemis!

Li Qingfeng yang angkuh tadi, kini menunduk dalam-dalam, dahinya menyentuh tanah. Pedangnya yang patah ia letakkan di depannya.

"Paman Guru, Qingfeng gagal. Murid tidak bisa membawa kembali Yang Lie dan halaman Tai Chu. Murid telah mempermalukan nama Quanzhen."

(Li Qingfeng ternyata Hanya menyamar di sekte Qingchen.)

Kakek tua itu tidak berhenti menyapu.

"Qingfeng, sudah berapa lama kau menjadi muridku?"

"Dua puluh tahun, Paman Guru."

"Dua puluh tahun, aku mengajarimu Pedang Quanzhen yang berfokus pada ketenangan, pada tanpa keinginan. Tapi hatimu masih penuh keinginan. Kau iri pada Yang Lie."

Tubuh Li Qingfeng bergetar.

Li Changsheng akhirnya berhenti menyapu. Ia menatap keponakannya sendiri.

"Kau tahu kenapa aku memberi nama Yang Lie anak itu Yang Lie?"

Li Qingfeng tidak berani menjawab.

"Karena dua puluh tahun lalu, Yang Lie datang ke Quanzhen dengan tubuh penuh luka bakar. Ia baru saja bertarung melawan tiga Tetua Iblis dari Sekte Hitam untuk melindungi sebuah desa. Ia menang, tapi racun iblis masuk ke jantungnya. Ia tahu ia tidak akan hidup lama. Ia menitipkan seorang bayi yang ia pungut di medan perang Mongol. Bayi itu memiliki meridian yang terbalik, tidak bisa belajar ilmu biasa. Satu-satunya yang bisa menyelamatkannya adalah Sembilan Yang."

Li Changsheng menghela napas panjang, napasnya membuat debu beterbangan.

"Yang Lie memohon padaku untuk menyelamatkan bayi itu dengan Sembilan Yang. Sebagai gantinya, ia akan menyerahkan setengah Kitab Tai Chu untuk kujaga. Aku setuju. Aku memberi bayi itu Sembilan Yang, dan aku memberinya nama Yang Lie, untuk menghormati ayah angkatnya. Kau... iri karena aku memberikan Sembilan Yang yang sempurna padanya, sementara kau yang berlatih sejak kecil hanya kuberikan Tujuh Bintang Quanzhen."

"Mur tidak... murid tidak berani!" Li Qingfeng menangis.

"Kau adalah anak kakakku, darah dagingku. Tapi Yang Lie adalah murid Yang Lie. Yang Lie yang asli berpesan, jika suatu hari Tai Chu kembali muncul, biarkan Yang Lie kecil ini pergi. Karena hanya tubuh yang pernah hampir dihancurkan oleh Tai Chu, yang bisa benar-benar menghancurkan Tai Chu."

Li Changsheng menatap ke arah Lembah Bunga Persik yang berasap tipis.

"Qingfeng, kau salah paham. Aku tidak menyuruhmu membunuh Yang Lie. Aku menyuruhmu membawanya pulang. Karena Sekte Harimau Hitam itu bukan sekte hitam biasa. Di belakang mereka ada..."

Tiba-tiba, langit menjadi gelap.

Sebuah tawa melengking, seperti kuku yang menggaruk papan tulis, terdengar dari atas kuil.

"Hahahaha! Li Changsheng! Ternyata kau bersembunyi di sini! Pantas saja aku cari di Zhongnan tidak ada!"

Dari atap kuil, muncul seorang pria berjubah merah darah. Wajahnya pucat seperti mayat, kukunya panjang dan hitam. Di belakangnya, puluhan orang berjubah hitam berlutut.

Sha Hu yang tadi patah tulang rusuknya, kini berlutut dengan kepala tertunduk di depan pria itu. "Ketua! Ketua Darah!"

Pria berjubah merah darah itu adalah Ketua Sekte Darah, Xue Wuchang! Salah satu dari Tiga Iblis Besar yang menghilang tiga puluh tahun lalu!

Li Changsheng wajahnya berubah untuk pertama kalinya.

"Xue Wuchang! Kau masih hidup!"

"Tentu saja! Berkat setengah halaman Tai Chu yang kutemukan sepuluh tahun lalu! Kitab itu... kitab itu mengajarkanku cara menyerap tenaga dalam orang lain! Dan hari ini, aku akan menyerap Sembilan Yang milik muridmu dan Bunga Persik milik perempuan itu! Dengan begitu, aku bisa membuka Perpustakaan Quanzhen!"

Ia mengangkat tangannya. Kuku hitamnya memanjang.

Li Qingfeng langsung berdiri di depan Paman Gurunya, meski tubuhnya gemetar.

"Paman Guru, lari! Aku tahan mereka!"

Li Changsheng menatap keponakannya yang tadi ia marahi, lalu tersenyum. Senyum pertama dalam dua puluh tahun.

"Bagus. Akhirnya kau mengerti apa itu Quanzhen."

Ia mendorong Li Qingfeng ke belakang. Tubuh renta itu tiba-tiba tegak.

"Qingfeng, lari ke Lembah Bunga Persik! Beri tahu Mu Chen! Beri tahu dia..."

BOOM!

Xue Wuchang sudah menerjang.

Pertarungan dua legenda yang seharusnya sudah mati, meledak di kuil bobrok itu.

Li Qingfeng berlari. Air matanya bercampur darah dari luka di bibirnya. Ia berlari sekuat tenaga menuju lembah. Ia harus memberitahu mereka.

Di Paviliun Rahasia, Yang Lie tiba-tiba terbangun dengan jeritan tertahan, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Guru! Paman Guru!"

Tao Tao yang tertidur di samping ranjang langsung terbangun dan memegang tangannya.

"Kau mimpi buruk? Tenang! Tenang!"

Yang Lie memegang tangan Tao Tao erat-erat, sangat erat, seolah itu satu-satunya jangkar di dunia. Matanya yang biasanya tenang kini penuh ketakutan.

"Gadis persik... aku... aku bermimpi Paman Guru... Paman Guru berlumuran darah... Sekte Darah... mereka datang!"

Tao Tao melihat ketakutan di mata pemuda yang bahkan tidak takut mati dua hari lalu. Hatinya sakit.

Ia tidak tahu kenapa, tapi ia mengulurkan tangannya dan memeluk kepala Yang Lie ke dadanya, mengelus rambutnya seperti yang dilakukan ibunya padanya waktu kecil.

"Sst... tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Ada aku di sini. Lembah Bunga Persik akan melindungimu. Aku akan melindungimu."

Tubuh Yang Lie yang panas dan gemetar itu perlahan menjadi tenang di dalam pelukan harum itu. Untuk pertama kalinya sejak Guru Yang Lie meninggal, ia merasakan kehangatan yang bukan berasal dari Sembilan Yang, tapi dari hati seseorang.

Di luar paviliun, Mu Chen dan Tao Yao Yao melihat pemandangan itu dari celah jendela.

Tao Yao Yao mencubit pinggang Mu Chen.

"Lihat. Persis sepertimu dulu waktu kau terluka dan aku obati. Jurus merayu warisan keluarga ya?"

Mu Chen meringis kesakitan tapi matanya tidak lepas dari tato Sembilan Matahari di tangan Yang Lie yang kini bersinar samar-samar karena emosi.

"Yao Yao... panggil semua murid. Suruh mereka siapkan Formasi Persik Jatuh yang besar. Dan keluarkan Tongkat Pemukul Anjingku dari gudang."

"Kenapa?"

Mu Chen menatap ke arah kuil bobrok di kaki gunung, di mana ia bisa merasakan hawa berdarah yang samar-samar mulai naik, hawa yang sangat ia kenal dari tiga puluh tahun lalu.

"Karena... tamu yang sebenarnya, baru saja datang."

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!