Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Victor tertawa pelan. "Kau tidak pernah ramah, ya? Aku kira setelah bertahun-tahun berpisah, setidaknya kau akan menyapaku dengan lebih hangat."
"Aku tidak datang untuk berbasa-basi."
"Benar." Victor berdiri perlahan. "Kau memang persis seperti ayahmu yang serius, tegas, dan tak suka membuang waktu."
"Jangan bawa ayahku ke dalam pembicaraan ini." Sebastian menatapnya tajam. "Masalah ini bukan tentang dia."
"Justru sebaliknya." Victor berjalan menuju meja. "Semuanya bermula dari keputusan yang diambil ayahmu dan ayah Elena dua belas tahun lalu."
Sebastian mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Kenapa kau menghubungi Elena? Mengirim pesan, foto, dan informasi yang membingungkan?"
Victor berhenti melangkah. "Aku tidak pernah menyebut namanya dalam pesan apa pun."
"Jangan berpura-pura tidak tahu." Sebastian mengangkat ponselnya. "Semua bukti mengarah kepadamu."
Victor melirik layar ponsel itu, lalu tersenyum samar. "Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, anak muda. Tapi aku tidak akan bilang itu bukan aku."
Ia kembali duduk dan menuangkan minuman ke dalam gelas. "Sudah kau menikahinya, ya? Elena Arvienne." Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang sudah pasti.
"Ya."
"Menarik." Victor menyesap minumannya perlahan. "Dulu aku pikir kau adalah orang terakhir yang akan benar-benar menerima pernikahan itu sebagai sesuatu yang nyata."
Sebastian mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Kau tidak ingat?" Victor menatapnya lekat. "Malam itu, saat perjanjian ditandatangani? Kau ada di sana, kau melihat semuanya."
Sebastian diam, tak menjawab.
"Kau memang mengingatnya," gumam Victor pelan. "Lalu kenapa kau bertanya padaku sekarang?"
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Apa yang disembunyikan dari kami?"
Victor meletakkan gelasnya pelan di atas meja. "Pertanyaan yang bagus. Tapi tidak semua hal bisa kujelaskan malam ini."
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Elena."
Sebastian menatapnya tajam, suaranya terdengar rendah namun penuh peringatan. "Jangan pernah bicara seolah-olah dia adalah barang milik siapa pun. Dia istriku."
Victor tersenyum puas. "Bagus. Setidaknya sekarang aku yakin kau benar-benar peduli padanya. Itu hal yang baik."
Ia menarik napas panjang, lalu membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map tebal yang sudah tua warnanya. "Dua belas tahun lalu, ayah Elena datang kepadaku. Dia ketakutan. Dia tahu bahaya yang mengancam keluarganya, dan dia tahu dia tidak bisa melawannya sendirian."
"Ancaman dari siapa?"
"Dari orang-orang yang ingin mengambil alih perusahaannya dan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar saham atau kekayaan." Victor menyerahkan map itu kepada Sebastian. "Ini catatan pribadi yang tidak pernah masuk ke dokumen resmi. Semua yang ayah Elena ketahui, semua yang ia temukan, tertulis di sini."
Sebastian membuka map itu. Matanya menyapu deretan nama, tanggal, dan transaksi yang mencurigakan. Di halaman terakhir, terdapat sebuah catatan singkat dengan tulisan tangan yang sedikit gemetar, itu tulisan ayah Elena.
Jika sesuatu terjadi padaku, lindungi Elena. Jangan biarkan dia jatuh ke tangan mereka.
"Siapa yang dimaksud dengan 'mereka'?" tanya Sebastian tegas.
Victor berdiri perlahan, tatapannya beralih ke jendela yang gelap. "Orang-orang yang dulu mengincar keluarga Arvienne. Sebagian sudah pergi. Tapi sebagian lain masih menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk kembali."
"Kenapa Elena? Kenapa dia yang harus dilindungi?"
"Karena ayahnya percaya bahwa Elena adalah satu-satunya kunci untuk menghentikan mereka."
Sebastian membeku. "Kunci? Maksudnya apa?"
"Itu yang tidak sempat ia jelaskan padaku." Victor menatapnya. "Tapi satu hal yang aku tahu.. nama Elena sudah ada dalam perjanjian perlindungan itu sejak awal, atas permintaan ayahnya sendiri. Dia tahu sesuatu yang membuatnya yakin bahwa putrinya akan menjadi sasaran utama."
Ia kemudian mengambil sebuah amplop cokelat dari meja dan menyodorkannya. "Berikan ini padanya. Ini surat dari ayahnya, ditulis beberapa hari sebelum dia meninggal."
Sebastian menerima amplop itu dengan ragu. Ia membukanya dan mulai membaca. Baris demi baris ia baca, dan perlahan-lahan ekspresinya berubah kaget, tak percaya, lalu kesedihan yang mendalam.
"Dia tahu," gumam Sebastian pelan. "Ayah Elena tahu bahwa suatu hari Elena akan menikah denganku. Bahkan sejak kami masih belum saling kenal."
"Ya. Itulah alasannya dia meminta nama Elena dimasukkan ke dalam perjanjian itu." Victor terdiam sesaat, lalu menambahkan pelan, "Dan dia berpesan jika suatu hari Elena menjadi istrimu, jangan pernah biarkan dia mengetahui kebenaran sebelum waktunya tiba. Karena jika dia mengetahuinya terlalu cepat... dia mungkin tidak akan selamat."
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘