"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sementara itu, di dalam bangunan ndalem timur yang remang-remang, Reyhan terduduk di tepi ranjang kayu. Jemarinya yang gemetar meremas sebuah buku agenda bersampul kulit cokelat—buku harian milik Naya yang tertinggal di atas meja kerja.
Selama satu tahun usia pernikahan mereka, Reyhan selalu memagari dirinya dengan dinding kesombongan. Lulusan Al-Azhar Kairo itu menganggap perjodohan masa kecilnya sebagai bentuk pasungan atas kebebasannya. Ia memandang Naya sekadar wanita pilihan orang tua yang harus ia terima dengan dingin. Ketika Rani hadir membawa sanjungan manis, kepatuhan yang memanjakan egonya, dan tatapan memuja tanpa syarat, Reyhan merasa menemukan pelarian yang sah secara perasaan. Ia membenarkan pernikahan siri itu di balik dalih "menyelamatkan kehormatan wanita" dan "cinta karena Allah".
Namun, lembaran-lembaran kertas di pangkuannya saat ini meruntuhkan seluruh pembenaran palsu yang ia bangun selama ini.
Dengan mata yang memerah dan napas memburu, Reyhan membaca tulisan tangan Naya yang rapi dan tertata:
"14 Oktober—Hari ini Mas Reyhan kembali menolak makan malam bersama dengan alasan lelah mengaji. Aku melihat ada bekas bintik tanah basah di lipatan sarungnya, padahal kompleks ndalem tidak ada pengerjaan tanah. Aku tahu ada ganjalan di hatinya sejak pulang dari Mesir. Sebagai lulusan psikologi, aku mencoba membedah apakah ada trauma spiritual atau ketakutan akan tanggung jawab besar di bahunya. Aku akan bersabar. Pernikahan ini adalah ibadah panjang, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi rumah yang paling tenang baginya, kapan pun ia siap membuka pintu itu."
"22 Januari—Ibu mertua menghadiahkan sepasang kain sutra untuk kami. Mas Reyhan meletakkannya begitu saja di lemari tanpa dilirik. Lagi-lagi dia tidur memunggungiku di sofa study room. Hati kecilku bertanya-tanya, apakah keheningan ini karena salahku yang terlalu kaku? Tapi setiap kali aku mencoba mendekat dan mengajak berdiskusi tentang studi psikiatrikku, matanya selalu mengarah ke luar jendela. Aku mencintainya dengan cara yang dewasa, menjaga kehormatannya di depan para santri, walau aku harus menelan sendiri rasa sepi ini setiap malam."
Air mata menetes deras dari pelupuk mata Reyhan, membasahi kertas cokelat tua itu. Dadanya sesak bagaikan dihantam bongkahan batu besar.
Wanita yang selama ini ia cap kaku, tidak memiliki rasa, dan mengikat kebebasannya... ternyata adalah sosok yang terus berusaha memahaminya dalam diam. Naya tidak pernah menuntut. Naya tidak pernah mengadu kepada orang tuanya. Naya menjaga nama baiknya sebagai suami dan "Gus" di hadapan ribuan santri dengan sempurna, sementara ia justru sibuk membagi kasih dan janji manis pada santriwati lain di belakang punggungnya.
Lost what you had.
Sindrom penyesalan itu merayap cepat, menghancurkan seluruh kebanggaan dan prestise spiritual yang selalu Reyhan banggakan. Ego tingginya runtuh menjadi kepingan tak berharga. Rani yang dulu ia anggap sebagai manifestasi cinta polos dan rapuh, mendadak terasa begitu dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman jiwa, kemandirian, dan keteguhan prinsip yang dimiliki Naya.
"Naya..." bisik Reyhan parau. Suaranya pecah di tengah keheningan ndalem timur. "Apa yang sudah kulakukan..."
Reyhan bangkit berdiri secara impulsif. Buku harian itu ia dekap erat di dada. Ia harus menemui Naya. Ia harus menahan wanita itu. Rasa gengsi yang selama setahun ini membentenginya luluh layak es disiram air panas. Pria itu berlari keluar dari ndalem timur, menembus hawa dingin sore yang kian menggigit.
**
Langit Pacet melukis abu-abu keunguan ketika deru mesin sepeda motor Reyhan berhenti di depan sebuah rumah sewa berpagar kayu hitam. Hawa dingin pegunungan yang menusuk tak sanggup mendinginkan dada Reyhan yang terbakar gelisah. Pria itu menyapu pandangannya pada bangunan sederhana di pinggir jalan raya Pacet–Trawas tersebut. Di sanalah Naya memilih menepi, membawa sisa-sisa martabatnya yang hendak ia pertahankan habis-habisan.
Reyhan turun, merapikan letak pecinya dengan jemari yang gemetar. Ia melangkah mendekati pintu depan, lalu mengetuknya tiga kali. Ketukan yang tidak lagi membawa keangkuhan seorang putra mahkota pesantren, melainkan ketukan penuh kecemasan dari seorang pria yang mulai merasa kehilangan pijakan.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi, hingga selot pintu terdengar bergeser. Pintu kayu itu mengayun terbuka.
Naya berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan gamis wol warna abu-abu redup dengan jilbab lebar yang terpasang rapi. Tidak ada raut terkejut yang berlebihan di wajah cantiknya, hanya ada ketenangan luar biasa yang justru terasa memotong jarak di antara mereka. Tatapan mata hazel miliknya begitu jernih, bagai danau beku yang tak tersentuh angin.
"Naya..." suara Reyhan parau, terhenti di tenggorokan.
"Ada apa, Mas Reyhan?" tanya Naya halus. Tanpa embel-embel panggilan Gus, tanpa nada benci, namun amat sangat asing.
"Mas... Mas mau bicara. Tolong berikan Mas waktu sebentar saja, Nay. Mas mohon." Reyhan menatap mata istrinya—wanita yang secara hukum masih menjadi haknya, namun terasa makin menjauh ribuan mil.
Naya mengamati raut wajah Reyhan sejenak. Dengan latar belakang akademisnya di bidang psikologi, Naya bisa membaca gestur itu dengan sangat jelas: kepanikan, dorongan ego yang terluka, dan keputusasaan yang terlambat. Naya menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya sebelum berbalik pelan.
"Masuklah. Tapi jangan lama-lama. Tidak enak dilihat tetangga," ucap Naya dingin.
Ruang tamu kecil itu amat. Hanya ada sepasang kursi kayu berpelitur cokelat dan sebuah meja kecil di tengahnya. Naya duduk di salah satu kursi, sementara Reyhan mengambil posisi di kursi sebelahnya. Naya sengaja menggeser duduknya menepi, menegaskan batasan jarak yang tak boleh dilangkahi.
"Katakan apa yang mau disampaikan," ujar Naya datar, menatap lurus pada cangkir teh kosong di atas meja.
Reyhan menunduk, mengusap wajahnya kasar. "Mas mau minta maaf, Nay. Mas tahu Mas salah besar... Mas cuma mau kamu dengar cerita dari sudut pandang Mas, supaya kamu tidak mengira Mas sedingin dan sejahat itu sejak awal."
Naya diam. Keheningannya adalah izin kaku bagi Reyhan untuk melanjutkan.
"Waktu itu... sehari setelah pesta pernikahan kita," suara Reyhan bergetar, mencoba merangkai kata demi kata. "Mas merasa sangat sesak dan butuh udara segar. Mas mengendarai mobil keluar kompleks pesantren tanpa tujuan pasti. Di tengah jalan raya arah Kediri, Mas lihat Rani berdiri di pinggir jalan di bawah hujan lebat. Dia menangis hancur. Mas berhenti hanya untuk menanyakan keadaannya."
Reyhan menghela napas berat, memorinya berputar pada hari yang menjadi awal dari segala kehancurannya. "Rani bilang ayahnya di kampung sedang sakit keras dan dia tidak punya uang sama sekali untuk pulang. Mas tidak tega, Nay. Mas antar dia sampai ke Kediri sore itu juga. Dan ternyata... ayahnya memang sudah kritis di pembaringan."
Naya tetap mematung, mendengarkan setiap detail kalimat yang keluar dari mulut suaminya tanpa menyela sedikit pun.
"Di depan Mas, sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ayah Rani memegang tangan Mas. Beliau menangis, memohon agar Mas menjaga Rani yang sebatang kara, memohon agar Mas menikahinya supaya Rani ada yang melindungi," lanjut Reyhan dengan nada memohon pemakluman. "Melihat Rani yang begitu rapuh, polos, dan sama sekali tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini... jiwa laki-laki Mas tersentuh. Mas merasa sangat dibutuhkan. Rani menatap Mas seolah Mas adalah satu-satunya pelindung hidupnya. Hari itu juga, sebelum ayahnya wafat, Mas menikahi Rani secara siri di hadapan Ustad setempat."
Kisah itu selesai. Hening kembali merayap di antara mereka, menyisakan suara deru angin pegunungan yang menampar kaca jendela.
Naya mengalihkan pandangannya, menatap tepat di manik mata Reyhan. Tatapan yang begitu tajam, logis, dan menghujam.
"Gus Reyhan..." panggil Naya, kembali menggunakan kata sapaan formal yang makin menegaskan jarak. "Apakah Gus Reyhan tahu... ada ratusan cara lain untuk mengantarkan seorang santriwati pulang saat itu?"
Reyhan tertunduk rapat. Bibirnya terkunci rapat, tak mampu menyusun jawaban.
"Berapa banyak pengurus ndalem yang bisa diminta tolong saat itu? Berapa banyak uang pesantren yang bisa dipergunakan untuk membantu biaya pengobatan atau transportasi keluarga santri yang kurang mampu?" Naya melanjutkan bicaranya dengan ritme yang teratur, amat tenang namun berbobot.
"Arti diam dari apa yang Gus Reyhan lakukan saat ini cukup membuat saya paham... bahwa Gus memang punya seribu cara lain, tapi Gus memilih jalan yang paling memperturutkan ego."
Reyhan hendak bersuara, namun Naya mengangkat sebelah tangannya, menahan ucapan pria itu.
"Mari saya ingatkan kembali," lanjut Naya dengan intonasi yang begitu anggun. "Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dilarang pergi berdua, apalagi sampai keluar kota. Saya pikir Gus Reyhan adalah orang yang paling paham akan hal itu, karena sedari kecil ilmu tajwid, fiqih, dan muamalah sudah dijejalkan ke kepala Gus. Lalu yang selanjutnya... apakah Gus juga paham, bahwa menerima amanah untuk menjaga seorang wanita tidak harus dengan cara menikahinya secara sembunyi-sembunyi?"
Dada Reyhan kian sesak. Setiap kalimat Naya bagaikan pisau bedah yang menguliti alasan-alasan rasionalisasinya hingga telanjang bulat.
"Gus bisa membiayai kehidupannya, Gus bisa menyerahkan pengawasannya pada Umi atau pengurus asrama. Apalagi saat itu, Abi dan Umi masih sangat sehat. Dan yang paling membuat saya kagum..." Naya tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh ironi yang menyayat. "Keadaan saat itu adalah keadaan di mana Gus baru saja meminang dan menikah sehari dengan saya secara resmi. Katanya izin keluar untuk mencari udara segar karena lelah dengan pesta pernikahan kita... ternyata 'mencari udara segar' yang Gus maksud adalah pergi menikahi wanita lain di Kediri."
"Nay... Mas khilaf, Nay..." cicit Reyhan, suaranya benar-benar pecah.
Naya menatap wajah pria di hadapannya tanpa kedipan. Rasa ingin tahunya sebagai seorang ahli psikologi kini menuntut kejujuran terakhir.
"Sebelum hari pernikahan siri itu... apakah Gus Reyhan sudah menaruh rasa pada Rani?" tanya Naya pelan. "Tidak mungkin seorang pria dengan status spiritual dan harga diri setinggi Gus Reyhan, akan langsung bersedia menikahi seorang wanita tanpa memiliki rasa yang terpendam sebelumnya. Dilihat dari sifat Gus yang dingin dan tidak mudah jatuh cinta, cerita 'iba di hari hujan' itu terlalu dangkal untuk dipercaya."
Reyhan meremas kain celananya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, tak sanggup lagi berbohong di hadapan wanita yang matanya mampu menembus kedalaman jiwanya.
"Maafkan Mas, Nay..." bisik Reyhan serak. "Mas... Mas pertama kali bertemu Rani dua tahun lalu, waktu baru pulang dari Mesir. Mobil Kang Ma'ruf tidak sengaja menyenggolnya saat dia buru-buru mau berangkat kuliah. Waktu itu umurnya masih delapan belas tahun. Sejak hari itu... Mas tidak bisa melupakan tatapan matanya yang polos dan ketakutannya pada Mas."
Tepat. Tebakan psikologis Naya tidak meleset sedikit pun. Benih itu sudah ada sejak lama, terpelihara rapi di balik jubah dan kopiah kesalehan yang selalu dibanggakan.
Naya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Sekarang ia memaklumi segalanya. Ia paham mengapa Reyhan menatapnya dengan dingin selama satu tahun ini. Naya yang berpendidikan tinggi, cerdas, berprinsip, dan setara secara intelektual dengannya, dianggap sebagai ancaman bagi ego maskulin Reyhan yang rapuh. Reyhan membutuhkan sosok seperti Rani—wanita yang memujanya secara buta, menyembahnya bagai dewa, dan bergantung sepenuhnya pada dirinya.
Namun, ada satu hal lagi yang harus Naya pastikan untuk mengunci pintu takdirnya rapat-rapat.
"Satu pertanyaan terakhir, Mas Reyhan," suara Naya bergetar sangat tipis, hampir tak terdengar namun sarat akan kehati-hatian. "Apakah... apakah Mas Reyhan sudah melakukan hubungan suami istri dengan Rani?"
Reyhan membeku. Seluruh persendian tubuhnya mendadak mati rasa. Ia mengangkat matanya yang memerah, menatap Naya dengan ketakutan yang luar biasa. Namun melihat tatapan Naya yang menuntut kejujuran mutlak, Reyhan tak bisa mengelak lagi.
Pria itu mengangguk pelan. Sekali. Sangat pelan.
Brak.
Secara emosional, sebuah kehancuran tak bersuara meledak di dalam dada Naya.
Harga dirinya sebagai seorang wanita, sebagai istri sah yang dipinang secara agung di depan ratusan kyai dan santri, runtuh menjadi serpihan tak berharga.
Selama tiga ratus enam puluh lima hari, Naya menelan bulat-bulat penolakan Reyhan di atas ranjang. Selama satu tahun penuh, Naya mencoba memahami dengan empati tertinggi, mengira suaminya mengalami kebimbangan spiritual, trauma masa lalu, atau tekanan batin pasca-studi dari Mesir. Naya menjaga kesucian dirinya, berpuasa atas hak batinnya demi menghormati "proses" suaminya.
Dan ternyata... di saat Naya tertidur sendirian di kamar ndalem yang dingin meratapi nasibnya, pria ini telah menuntaskan hawa nafsunya bersama wanita lain.
Naya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya di atas paha mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kelopak matanya terpejam rapat, menahan badai rasa sakit, sesak yang menghimpit tenggorokan, dan lelehan air mata yang merembes berjuang untuk keluar. Keheningan di ruangan itu terasa begitu menyiksa dan berdarah.
"Naya..." Reyhan hendak menggapai tangan Naya, terbakar rasa bersalah yang tak tertanggungkan.
"Jangan sentuh saya!" pangkas Naya, suaranya naik satu oktaf namun tetap terkontrol dengan luar biasa.
Naya mendongak. Meski matanya berkaca-kaca memerah, tatapannya memancarkan kekuatan mental yang luar biasa tajam.
"Terima kasih atas kejujurannya, Gus Reyhan," tutur Naya, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang anggun namun dingin bak es. "Hari ini, di ruangan ini, saya tegaskan... saya menolak menjadi tempat pelarian bagi ego kamu yang terluka."
Reyhan tertegun.
"Kamu menyia-siakan wanita yang menghormatimu secara dewasa, hanya demi memuaskan dahaga egomu pada sanjungan semu," Naya berdiri tegak, menyusun postur tubuhnya dengan begitu megah dan bermartabat. "Kamu menolak menyentuh saya dengan alasan belum siap secara spiritual, sementara kamu sibuk berzina secara rasa dan melampiaskannya pada istri sirimu. Keputusan saya untuk bercerai... sudah seratus persen final. Tidak ada ruang untuk negosiasi, tidak ada tempat untuk penyesalan."
"Nay, tolong... beri Mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya! Mas akan ceraikan Rani!" jerit Reyhan, berdiri mengitari meja hendak berlutut di kaki Naya.
"Keluar," tunjuk Naya ke arah pintu depan dengan jari telunjuknya yang stabil. "Keluar dari rumah saya, Gus Reyhan. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan saya lagi."
"Naya—"
"KELUAR!" tegah Naya, tidak dengan teriakan histeris, melainkan dengan ketegasan mutlak yang meruntuhkan sisa-sisa keberanian Reyhan.
Reyhan terpaku. Melihat mata Naya yang tak lagi memancarkan kehangatan sedikit pun, pria itu menyadari bahwa jalan untuk kembali telah tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Dengan langkah gulai dan dada yang hancur berkeping-keping, Reyhan berbalik dan berjalan lunglai keluar dari rumah kontrakan itu.
Begitu sosok Reyhan melewati ambang pintu, Naya langsung melangkah cepat, menutup pintu kayu itu rapat-rapat dan memutar kunci dua kali.
Klak.
Suara kuncian pintu itu seolah menjadi batas pemisah antara masa lalunya yang kelam dan masa depannya yang harus ia rebut kembali.
Naya berjalan perlahan menuju kamarnya. Langkah kakinya yang tadinya tegap mulai limbung. Begitu pintu kamar tertutup dan tubuhnya menyentuh lantai di samping tempat tidur, pertahanan mental yang ia bangun rapat-rapat akhirnya roboh total.
Naya merengkuh lututnya, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dan di dalam keheningan kamar yang dingin di lereng pegunungan, tangis pilu yang selama ini ia tahan pecah secara luar biasa. Isakan yang menyayat hati, erangan duka atas cita-cita yang sempat ia korbankan, atas ketulusan yang dikhianati, dan atas luka terdalam sebagai seorang wanita yang tak pernah dihargai. Tangisannya bergaung pelan, menyapu setiap sudut sunyi ruangan.
Sementara itu, di luar sana, Reyhan menuntun sepeda motornya menembus kegelapan jalanan Pacet. Kabut tebal turun dari lereng Welirang, membawa hawa membeku yang menusuk hingga ke tulang. Namun dinginnya malam tak sebanding dengan rasa hampa yang menggerogoti dadanya.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah