Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Masa Lalu yang Kembali
Acara perkenalan kedua keluarga tetap berlanjut. Percakapan demi percakapan mengalir dengan hangat. Sesekali terdengar tawa ketika salah satu dari mereka melontarkan candaan mengenai hubungan anak-anak mereka dan rencana pernikahan yang mulai dibicarakan.
Namun, bagi Handoko, suara-suara itu perlahan terdengar seperti dengungan yang jauh. Lelaki itu masih menatap Mellisa dengan tatapan tak percaya.
**Mellisa Ariani.**
Nama yang selama puluhan tahun hanya tersimpan sebagai bagian dari masa lalu, kini duduk di hadapannya sebagai calon besan.
Handoko berkedip beberapa kali, seolah berharap sosok wanita itu berubah menjadi orang lain. Tetapi tidak. Itu benar-benar Mellisa. Wanita yang dahulu pernah begitu dicintainya.
Tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu berkelebat begitu saja di benaknya.
Hari itu, Handoko membonceng Mellisa sepulang kuliah. Handoko sebenarnya tidak ada kuliah hari itu, namun demi kekasihnya, dia rela menjemputnya. Angin sore menerpa wajah mereka, sementara motor yang dikendarainya melaju perlahan menyusuri jalan.
Kedua tangan Mellisa melingkar erat di pinggangnya. "Mas, kalau udah nikah nanti jangan bosen jemput-jemput aku kayak gini, ya!"
Handoko tersenyum kecil. "Iya, tenang aja. Aku nggak akan pernah bisa bosen jemput kamu, Mel."
"Beneran?"
"Iya lah. Kapan aku bohong sih, Mel?"
Mellisa terkekeh kecil. "Iya... aku percaya."
Pelukannya di pinggang Handoko semakin erat.
Kenangan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat dada Handoko terasa sesak.
Dia tersentak kembali ke masa kini. Tatapannya kembali tertuju pada Mellisa. Wanita itu kini bukan lagi gadis muda yang duduk di belakang motornya sambil memeluk pinggangnya. Waktu telah mengubah mereka. Namun, anehnya, kenangan itu masih terasa begitu hidup.
"Pi, kok bengong sih?"
Suara Pratiwi membuat Handoko tersadar sepenuhnya. Wanita itu bahkan sempat mencubit lengannya pelan.
"Kagum, ya, sama kecantikan calon menantu kita?"
"Iya."
Jawaban itu keluar begitu saja. Handoko baru menyadari apa yang baru saja dikatakannya setelah melihat ekspresi Pratiwi.
"E-eh..." Dia langsung gelagapan. "Maksudku... iya, cantik."
Pratiwi tertawa kecil tanpa curiga. Sementara itu, Mellisa yang mendengar percakapan tersebut hanya tersenyum tipis. Namun, jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang kembali bergetar.
Dia pun tak bisa memungkiri bahwa kehadiran Handoko di hadapannya telah mengusik ketenangan yang selama ini susah payah dibangunnya.
Acara terus berlangsung. Pembicaraan mengenai rencana pernikahan anak-anak mereka semakin serius. Ada yang membahas tanggal, tempat, jumlah tamu, hingga berbagai persiapan lainnya.
Semua orang tampak antusias. Semua, kecuali Handoko dan Mellisa. Keduanya berusaha tetap mengikuti percakapan, tetapi konsentrasi mereka telah terpecah.
Handoko beberapa kali mencuri pandang ke arah Mellisa. Dan tanpa disadarinya, Mellisa pun melakukan hal yang sama.
Setiap kali pandangan mereka bertemu, keduanya buru-buru mengalihkan mata. Seolah-olah tatapan itu terlalu berbahaya untuk dibiarkan lebih lama.
Mellisa menundukkan wajah, pura-pura sibuk dengan cangkir teh di tangannya. Sementara Handoko menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar yang tiba-tiba terasa begitu asing sekaligus begitu dikenalnya.
Mereka sama-sama sadar. Pertemuan ini bukan sekadar pertemuan dua keluarga yang hendak menyatukan anak-anak mereka.
Bagi Handoko dan Mellisa, pertemuan ini adalah pertemuan dengan masa lalu yang selama ini mereka kira telah selesai. Padahal ternyata...
masa lalu itu hanya sedang menunggu waktu untuk kembali mengetuk pintu.
Setelah cukup lama berbincang mengenai rencana pernikahan Raka dan Kania, suasana perlahan berubah lebih santai. Pembicaraan yang semula serius mulai diselingi tawa dan canda ringan. Hingga akhirnya, acara pun ditutup dengan makan bersama.
Para tamu mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing. Hidangan yang tersaji di meja panjang langsung menjadi pusat perhatian. Ada aneka makanan pembuka, salad, buah-buahan, hingga berbagai hidangan utama yang menggugah selera.
Di tengah keramaian itu, Handoko justru sibuk mencari-cari sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Mellisa.
Perempuan itu terlihat berdiri sendirian di dekat meja hidangan, sedang mengambil salad buah ke dalam piring kecil. Handoko menarik napas pelan. Inilah kesempatan yang sejak tadi dia tunggu.
Dia melangkah mendekat.
Semakin dekat jaraknya, semakin jelas wajah perempuan yang pernah begitu berarti dalam hidupnya itu. Bertahun-tahun berlalu, tetapi entah mengapa, perasaan aneh kembali menyeruak hanya dengan melihat wajah Mellisa dari jarak sedekat ini.
Handoko berhenti di sampingnya. "Hai, Mel. Apa kabar?"
Tangan Mellisa yang sedang mengambil potongan buah mendadak berhenti. Bahunya sedikit menegang. Dia menoleh dan mendapati Handoko berdiri di sampingnya.
Ada keterkejutan yang tak sempat disembunyikan dari matanya. "Seperti yang Mas lihat."
Jawabannya singkat. Datar. Namun justru itu yang membuat Handoko semakin yakin bahwa kehadirannya masih membawa sesuatu bagi wanita itu.
Handoko mengambil segelas jus buah dari meja, lalu menatap Mellisa beberapa saat. "Kamu utang penjelasan padaku, Mel." Nada suaranya rendah, tetapi cukup tegas.
Mellisa terdiam. Tatapannya menghindar. Seolah-olah dia sudah tahu percakapan itu pada akhirnya akan terjadi, hanya saja dia belum siap menghadapinya sekarang.
Namun sebelum Handoko sempat melanjutkan—
"Pi!" Suara Pratiwi terdengar dari arah belakang.
Handoko spontan menoleh. Pratiwi berjalan menghampiri mereka dengan wajah ceria. Di tangannya ada sepiring lasagna yang baru saja diambil dari meja hidangan.
"Ini lasagnanya enak banget, lho. Cobain!"
Tanpa memberi kesempatan kepada suaminya untuk menolak, Pratiwi langsung menyendok sedikit lasagna dan menyuapkannya ke mulut Handoko.
Handoko sempat terlihat kaget. Matanya bahkan sempat melirik Mellisa yang berdiri di sampingnya. Namun karena istrinya sudah menyodorkan makanan tepat di depan mulut, dia akhirnya membuka mulut juga.
"Enak, kan?" tanya Pratiwi penuh antusias.
Handoko mengunyah sebentar sebelum mengangguk. "Iya, enak banget, Mi."
Mellisa hanya tersenyum tipis. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru terasa menusuk sesuatu yang selama ini berusaha dia pendam.
Pratiwi kemudian menoleh kepada Mellisa. "Jeng Melli, ini, lho, papinya Raka. Baru sempat ketemu, kan?"
Mellisa segera memasang senyum sopan. "Oh iya, salam kenal, Pak Handoko."
Handoko hanya membalasnya dengan senyum tipis.
"Tapi Mi, sebenarnya sebelumnya kami sering ketemu di kampus."
"Oh, ya?" Pratiwi terlihat sedikit terkejut. Tatapannya berpindah dari Handoko kepada Mellisa. "Kalian sudah saling kenal?"
Handoko menggeleng pelan. "Kenal sih, nggak. Tapi Papi memang sering lihat dia dulu waktu di kampus."
"Oh, gitu..." Pratiwi terkekeh kecil. "Kirain sudah saling kenal."
Mellisa yang sejak tadi menahan napas diam-diam merasa lega. Setidaknya Handoko tidak mengatakan lebih dari itu. Tidak ada sedikit pun cerita tentang masa lalu mereka yang sampai ke telinga Pratiwi.
"Ya sudah, Papi ngobrol dulu aja sama Jeng Melli. Mami mau hunting makanan lain. Kayaknya tadi lihat puding yang enak."
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Pratiwi langsung berlalu menuju meja hidangan.
Handoko menatap kepergian istrinya sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangan kepada Mellisa.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Kini mereka benar-benar hanya berdua.
Di tengah riuhnya suasana pesta, keduanya berdiri dalam diam. Mellisa pura-pura sibuk dengan salad buah di tangannya, sementara Handoko masih menatapnya dengan tatapan yang menyimpan begitu banyak pertanyaan.
"Kita perlu bicara, Mel." Suara Handoko terdengar pelan, tetapi tegas.
Mellisa menelan ludah. Dia tahu, setelah bertahun-tahun berlalu, masa lalu yang selama ini berusaha dia kubur akhirnya kembali mengetuk pintu.