Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Bidak di Papan Catur Keluarga

Sementara Anindya melaju menuju Restoran Cendana, sebuah bidak hitam berhenti di tengah papan catur di Puri Adiwangsa.

Eyang Hardiman mengangkat tangan dari bidak itu. Usianya sudah melewati tujuh puluh, tetapi punggungnya masih tegak. Kemeja batik gelap yang dipakainya sederhana untuk ukuran pemimpin Grup Adiwangsa.

"Kau membuka terlalu cepat," katanya.

Wisnu duduk di seberang meja batu. "Kalau saya lambat, lawan mengambil pusat."

"Dalam catur, pusat bukan selalu tujuan. Kadang kau biarkan lawan merasa menguasainya agar sayapnya kosong."

Wisnu memandang susunan bidak. "Bapak sedang bicara tentang permainan atau Arya?"

Eyang tersenyum lembut. "Anakmu kembali, menikah, lalu memegang perusahaan dalam hitungan hari. Kakak dan adikmu tentu merasa sayap mereka sedang disentuh."

"Arya hanya memegang saham perwalian di luar grup."

"Hari ini di luar. Besok siapa tahu."

Angin danau menggerakkan permukaan air. Beberapa meter dari pendopo, Ratri Adiwangsa duduk bersama Damar. Cangkir teh berada di meja, tetapi pembicaraan mereka lebih pahit daripada minumannya.

"Anak yang tak pernah dibesarkan keluarga mendapat kartu tanpa batas dan pengawal pribadi," kata Ratri. "Sementara orang yang bekerja puluhan tahun diminta memahami."

Damar membaca laporan di tabletnya. "Kartu itu milik perusahaan Wisnu, bukan aset grup."

"Kau selalu terlalu tenang, Mas Damar. Arya mengambil lima puluh satu persen PE sebelum namanya masuk daftar keluarga. Setelah pengakuan anak selesai, dia bisa menuntut lebih."

"Menuntut berbeda dari memperoleh suara RUPS."

"Eyang menyukainya. Itu lebih berbahaya daripada suara."

Damar mengangkat mata. Dari tempatnya, ia dapat melihat Wisnu dan Eyang bermain. "Saya belum mengenal Arya. Karena itu saya tidak akan menertawakannya seperti orang lain."

"Kau membelanya?"

"Saya tidak meremehkan bidak yang baru masuk papan."

Ratri mendecakkan lidah. "Kelak jangan bilang saya tidak memperingatkan."

Di meja catur, Eyang memindahkan benteng.

"Beri kakak dan adikmu ruang hidup," katanya kepada Wisnu. "Keluarga ini besar karena tiga cabang saling menahan, bukan karena satu cabang menelan semua."

"Sampaikan juga kepada mereka agar tidak menggigit anak saya."

"Kalau Arya tidak tahan satu gigitan, dia tidak pantas duduk di meja ini."

Eyang mengatakannya dengan nada kakek yang sedang membicarakan pelajaran bagi cucu. Tidak ada ancaman kasar. Justru kelembutan itulah yang membuat Wisnu berhenti menyentuh bidaknya.

"Skak," kata Eyang.

Wisnu melihat papan. Satu langkah yang tadi dianggap membuka pusat ternyata telah mengurung rajanya.

"Bapak sengaja membiarkan saya maju."

"Saya hanya memberi ruang agar kau menunjukkan niat."

Ratri datang mendekat bersama Damar. "Permainan yang singkat, Eyang."

"Karena lawan saya terburu-buru."

Wisnu berdiri. "Atau karena Bapak hafal kebiasaan saya sejak kecil."

"Keduanya."

Ratri duduk di kursi kosong tanpa diminta. "Kalau kita bicara kebiasaan buruk, putra Mas Wisnu baru beberapa hari pulang sudah memakai uang perusahaan seperti milik sendiri."

"Kebijakan PE dibiayai penghematan vendor bermasalah," jawab Wisnu. "Bukan uang Grup Adiwangsa."

"Tetap saja citra keluarga dipertaruhkan."

Damar meletakkan cangkir di depan Eyang. "Kalau citranya buruk, laporan kuartal akan menunjukkan. Kalau baik, kita tidak kehilangan apa pun."

Ratri menoleh tajam. "Kau terlalu murah hati kepada pesaing."

"Belum ada RUPS warisan," kata Damar. "Menyebutnya pesaing sekarang hanya menunjukkan bahwa kita takut lebih dulu."

Eyang tertawa pelan. "Damar benar. Jangan menyalakan perang sebelum tahu apa yang diperebutkan."

Ratri menutup mulut, tetapi tatapan di matanya justru mengeras. Wisnu melihatnya dan memahami bahwa perang itu sudah menyala, hanya belum diumumkan.

Pada saat yang sama, Arya melakukan hal serupa di sebuah rumah baru di kawasan tenang Surabaya.

Kevin membuka pintu garasi. Di baliknya terdapat tiga rak server, enam monitor, antena terarah, dan meja kerja yang masih dipenuhi kardus. Kabel diberi warna berbeda untuk setiap jaringan.

"Selamat datang di istana baru," katanya.

Bara yang memeriksa pintu belakang mendengus. "Istana kok bau kardus."

"Teknologi enggak butuh parfum."

Arya berjalan di antara perangkat. "Pisahkan jaringan PE dari jaringan investigasi. Tidak boleh ada satu kabel atau akun yang menyentuh keduanya."

"Sudah. PE lewat kantor. Ini hanya untuk sumber terbuka, kamera milik kita, dan komunikasi tim."

Kevin menunjuk peta kota pada layar besar. Titik biru menandai kamera jalan yang bisa diakses legal, titik putih adalah perangkat mereka sendiri, dan titik merah menunjukkan lokasi lama terkait Prof. Sri.

"R. mengirim tambahan," katanya. "Seseorang membayar tunai obat rutin di apotek Wonokromo dengan nomor keluarga yang dulu dipakai Lestari. Petugas ingat pembelinya perempuan paruh baya, tapi wajahnya berbeda dari foto lama."

"Berbeda karena usia?"

"Mungkin lebih dari itu. Belum ada kepastian."

Arya memandang foto lama. "Jangan paksa kecocokan wajah. Cari kebiasaan: tangan dominan, cara berjalan, bekas cedera, rute. Wajah paling mudah diubah."

Kevin membuka rekaman tiga detik dari toko. Sosok perempuan keluar membawa kantong obat, lalu menghilang di balik angkot.

"R. bilang dia mungkin masih di kota," ujar Kevin. "Gue setuju."

"Siapa yang membayar obat?"

"Tunai. Tapi sebelum pembelian, ada panggilan dari telepon umum digital di stasiun. Nomornya hanya aktif empat puluh detik."

"Berarti seseorang masih melindunginya."

"Atau mengawasi."

Arya menatap rute pada peta. "Kita perlu tahu yang mana sebelum menyentuh saksi."

Ponselnya menyala. Titik lokasi Anindya mendekati Restoran Cendana. Bara melihat layar lalu mengambil helm.

"Gue berangkat sekarang."

"Jaga dua pintu servis," kata Arya. "Kalau ada kamera tersembunyi atau orang Halim, foto. Jangan pukul siapa pun kecuali ada serangan."

"Kalau mereka cuma banyak omong?"

"Biarkan Anindya yang memukul dengan kata-kata."

Bara tertawa dan pergi.

Kevin kembali ke layar Lestari. "Gue bisa jalankan pengenalan wajah lebih agresif."

"Tidak. Terlalu banyak kesalahan positif, dan terlalu mudah meninggalkan jejak. Gunakan tim lapangan."

Kevin mengangguk. "Oke. Ada satu kabar lagi dari R."

Ia membuka pesan terenkripsi. Hanya satu baris, tetapi membuat ruangan terasa lebih dingin.

Saksi yang dicari kemungkinan hidup. Lokasinya masih di Surabaya.

Arya membaca dua kali. Selama dua tahun, layar mereka hanya berisi jalan buntu. Kini satu orang yang mungkin melihat malam terakhir ibunya berada dalam kota yang sama.

"Perlu gue panggil R. ke sini?" tanya Kevin.

"Belum. Identitasnya tetap terpisah."

Arya mematikan tampilan dan mengambil kunci Kijang.

"Awasi saksi dari jauh. Saya ke Cendana."

Di Puri Adiwangsa, Eyang Hardiman menyusun kembali bidak catur seorang diri. Damar berdiri di tepi pendopo sebelum pergi.

"Eyang," katanya, "apakah Arya ancaman bagi keluarga?"

Eyang mengangkat bidak hitam yang tadi memenangkan permainan.

"Ancaman atau pelindung," jawabnya halus, "baru terlihat setelah seseorang memilih arah langkah kedua dengan pasti dan sadar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!