Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Jejak Langkah Baru di Panggung Besar
Suara gemericik air dari keran dapur beradu dengan harum aroma nasi goreng mentega buatan Menik.
Di sudut meja makan kayu minimalis, Arga duduk rapi mengenakan kemeja batik warna biru gelap—seragam kebanggaannya untuk menghadiri presentasi penting hari itu. Kacamata bertengger di hidungnya, sementara jemarinya sibuk membalik-balik berkas proposal tebal bertuliskan Harmony Event Organizer.
Menik melangkah mendekat sambil menggendong bayi Arkan yang berusia tiga bulan dalam pelukan kain jarik. Tangan kirinya dengan telaten membetulkan lipatan kerah kemeja Arga.
"Mas Arga nyaman nggak kemejanya? Biar Menik gosok ulang kalau masih terasa kaku," bisik Menik lembut.
Arga mendongak, menggenggam jemari Menik yang ada di bahunya. "Pas banget, Dek. Makasih ya. Nabila udah siap berangkat sekolah?"
"Udah, Mas. Lagi dipakaikan sepatu sama Mbak di depan," jawab Menik seraya tersenyum teduh.
"Mas Arga... jangan tegang gitu mukanya. Proposalnya udah disusun seminggu penuh sama anak-anak band. Menik yakin Gusti Allah maringi jalan."
Arga menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis.
"Ini proyek terbesar yang pernah kita pegang, Menik. Festival Budaya dan UMKM Kota Sukabumi Kalau kita menang tender ini, kita bisa kontrak studio secara permanen dan beli peralatan sound system sendiri. Aku cuma mau yang terbaik buat masa depan kita dan anak-anak."
Suara klakson mobil pickup tua bernuansa biru milik studio membahana di luar pagar rumah. Bagas menyembulkan kepalanya dari jendela mobil, berteriak heboh.
"BOS ARGA! AYO GASS! DAFFA SAMA DAVE UDAH SIAP BAWA LAPTOP SAMA PROYEKTOR NIH!"
Arga berdiri, mengecup kening Menik cukup lama, lalu mengelus lembut pipi bayi Arkan.
"Mas berangkat ya, Dek. Doakan dari rumah."
"Pasti, Mas. Hati-hati di jalan," balas Menik tulus, memandangi langkah suaminya yang mantap menuju panggung perjuangan baru.
...***...
Suasana di dalam ruang rapat utama Balai Kota Sukabumi bernuansa kayu jati itu sangat dingin dan formal.
Di balik meja melingkar yang panjang, duduk lima orang panelis penguji. Di posisi tengah, duduk Pak Seno—Kepala Bidang Kebudayaan yang terkenal sangat kaku, kritis, dan berwajah dingin.
Arga berdiri tegak di depan layar proyektor. Di sampingnya, Daffa memegang kendali slide presentasi, sementara Dave bersiap dengan berkas teknis.
"Jadi... kalian dari Harmony Event Organizer?" suara Pak Seno terdengar berat dan memotong keheningan. Matanya meneliti berkas proposal di tangannya melalui kacamata tebal.
"Latar belakang kalian ini band lokal dan EO skala menengah. Festival Budaya Kota ini melibatkan puluhan ribu pengunjung dan ratusan stan UMKM. Apa yang bikin kalian yakin sanggup mengelola acara sebesar ini dibanding vendor ternama dari Jakarta?"
Daffa di samping Arga sempat menelan ludah cemas. Namun, Arga tetap berdiri tenang dengan gesture tubuh yang sangat dewasa dan percaya diri.
"Izin menjawab, Pak Seno," suara Arga terdengar berat, mantap, dan terstruktur.
"Vendor besar dari luar kota mungkin unggul di peralatan mewah. Tapi Harmony EO unggul di akar rumput. Kami tumbuh dari panggung-panggung komunitas lokal. Kami kenal betul karakter seniman daerah, dinamika pedagang UMKM, hingga karakter massa di Sukabumi. Kami tidak hanya menjual megahnya panggung, tapi kami menjamin kenyamanan seluruh elemen masyarakat yang terlibat."
Di pintu belakang ruang rapat, pintu berderit pelan. Kiara melangkah masuk dengan anggun, mengenakan blus formal dan blazer hitam. Sebagai Konsultan Hukum dan Pengawas Independen dari dinas pengawasan internal, Kiara duduk tenang di kursi pengamat bagian belakang.
Mata Arga sempat bersirobok sejenak dengan Kiara. Tidak ada lagi rasa canggung atau cemas. Kiara mengangguk pelan memberikan dukungan profesional penuh.
Arga melanjutkan presentasinya dengan memukau. Ia memaparkan simulasi alur massa, sistem mitigasi bencana cuaca, hingga kalkulasi anggaran yang sangat transparan dan efisien—hasil diskusinya dengan tim akuntansi.
Pak Seno menyandarkan punggungnya di kursi, mengangguk-angguk pelan.
"Penjelasan yang sangat logis dan menguasai lapangan. Baik, kami apresiasi dedikasi kalian."
Saat keluar dari ruang rapat, Kiara berjalan menghampiri Arga di koridor Balai Kota.
"Presentasi yang luar biasa, Ga," puji Kiara tulus dengan senyum profesionalnya.
"Sistem mitigasi risiko yang kamu buat tadi sangat detail. Legalitas berkas kalian juga bersih total tanpa celah."
Arga tersenyum tulus, membungkuk sopan.
"Makasih banyak, Ra. Bantuan kamu pas memeriksa draf berkas legalitas minggu lalu bener-bener krusial. Tanpa koreksi dari kamu, mungkin draf kami ditolak di tahap awal."
"Sama-sama, Ga. Kita semua mau lihat Harmony EO makin berkembang," balas Kiara hangat.
...***...
Malam Puncak Festival, Lapangan Kota Sukabumi
Laut manusia memadati Lapangan Sukabumi. Ribuan lampu hias berwarna-warni memancarkan sinar megah di atas panggung utama yang berdiri gagah. Acara berjalan sangat lancar hingga pukul 20.30 WIB.
Namun, alam berkata lain. Langit Sukabumi mendadak berubah hitam pekat. Angin kencang berembus dari arah pantai, disusul hujan deras yang turun bagaikan disiramkan dari langit.
BLARRR!
Hantaman angin kencang membuat salah satu papan dekorasi besar di samping panggung roboh dan merusak jalur kabel listrik utama generator...
SHHH... CKLAK!
Lampu panggung mati total! Sound system mati mendadak! Kegelapan gulita seketika menyelimuti panggung utama. Suara teriakan panik dari puluhan ribu penonton mulai terdengar riuh. Saling dorong di tengah hujan deras mulai tak terhindarkan.
"Lampu mati! Kabel utama putus kena papan!" teriak Bagas panik dari ruang kontrol panggung, bajunya basah kuyup oleh air hujan.
"Satu tim perbaiki generator! Dave, amankan jalur evakuasi penonton!" perintah Arga cepat lewat handy-talkie.
"Daffa! Ambil instrumen akustik!"
Di tengah situasi darurat yang berpotensi kerusuhan massa, Arga mengambil keputusan nekat. Ia tidak menunggu lampu menyala. Arga menyambar stik drum cadangan, lalu naik ke atas panggung utama yang remang-remang di bawah siraman air hujan.
Dengan menyalakan lampu darurat portabel yang dipegang Daffa, Arga duduk di balik set drum.
TAK! TAK! DUM-DUM-TAK!
Arga mulai memukul drumnya dengan irama solo yang sangat energik, bersemangat, dan bertenaga! Dentuman drum Arga membelah gemuruh suara hujan. Suara ritme drumnya yang spektakuler seketika menyedot perhatian seluruh massa di lapangan.
Penonton berhenti saling dorong, menoleh ke arah panggung utama.
Daffa langsung maju memegang mic nirkabel baterai, bernyanyi mengikuti ketukan drum Arga, mengajak ribuan penonton untuk bernyanyi bersama di bawah hujan.
"SUKABUMI.....!!!! MANA SUARANYAA?!" teriak Daffa menggelegar.
"WOOOOO!" sambut ribuan penonton bersorak heboh, ikut bertepuk tangan mengikuti ketukan drum Arga yang luar biasa memukau.
Kepanikan massa mendadak berubah menjadi momen konser hujan-hujanan yang amat berseni dan ikonis!
Sepuluh menit kemudian, tim teknis berhasil menyambung kembali kabel listrik utama.
BYARRR!
Lampu panggung kembali menyala terang benderang persis saat permainan drum Arga mencapai klimaksnya. Sorak-sorai puluhan ribu penonton membahana memecah langit Sukabumi. Kembang api warna-warni meluncur ke udara, menandai sukses besarnya malam puncak festival tersebut.
Dari atas panggung, Arga yang basah kuyup memandangi ribuan penonton yang bertepuk tangan riuh.
Di sudut area VIP, Pak Seno dan para pejabat kota berdiri memberikan standing ovation. Arga menyapu air hujan di wajahnya, tersenyum lebar menatap langit.
Perjuangan dia dan sahabat-sahabatnya dari bawah tidak pernah sia-sia.