BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 tombak yang menembus dada yefan
Melihat tidak ada jalan keluar, tanpa ragu Yefan secepat kilat melemparkan Jiun Yi ke samping. Ia menyadari sepenuhnya bahwa jika jiun yi itu tetap berada di sisinya, Jiun Yi hanya akan terseret ke dalam bahaya, sebab serangan tombak tersebut itu secara mutlak hanya mengincar nyawanya seorang.
"Apa yang kaulakukan?!" teriak Jiun Yi terkejut saat tubuhnya tiba-tiba dilemparkan menjauh.
Meski sempat kaget, Jiun Yi langsung memahami maksud Yefan—pemuda itu sengaja menyingkirkannya agar ia tidak ikut menanggung konsekuensi fatal dari serangan tersebut. Sontak, hati Jiun Yi bergetar hebat. Sepanjang hidupnya di dunia kultivasi yang kejam, ia tidak pernah melihat hal semacam ini. Di dunia di mana para kultivator lazimnya tidak segan mengorbankan apa pun, bahkan keluarga sendiri, demi menyelamatkan diri saat menghadapi ambang kematian, tindakan Yefan terasa begitu asing sekaligus menggugah lubuk jiwa nya.
"Keluarga Yujin...!" geram Yefan, dipenuhi niat membunuh yang meluap-luap.
Tanpa ragu sedikit pun, ia mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam tubuh nya, Dan sekali Gus menyalurkan energi masif dari kuas bertinta hitam ke bilah pedangnya secara gila-gilaan. Sontak, pedang di genggamannya bergetar hebat, memancarkan aura kehancuran yang teramat mengerikan.
"Aku akan menerima seranganmu hari ini!" teriak Yefan, wajah tampannya menyisakan kepucatan yang pekat.
Wusss...!
Sekuat tenaga, ia mengayunkan pedangnya secara horizontal, mencoba menghadang tombak pusaka berapi yang meluncur deras untuk menembus dadanya.
Sementara itu, Jiun Yi yang baru berhasil menstabilkan posisinya terbelalak ngeri melihat Yefan telah tidak ada nya jalan keluar untuk menghindar hingga menyambut serangan mengerikan itu secara frontal dengan putus asa. Ia mengatupkan giginya rapat-rapat. "Yujin, akan kuhancurkan klan kalian sampai berkeping-keping jika sesuatu yang buruk terjadi pada Yefan!" geram nya dalam hati, lalu melesat maju hendak membantu.
Namun, semua itu sudah terlambat.
Boommm...!
Kedua kekuatan kolosal itu bertabrakan, Menimbulkan ledakan dahsyat membentuk awan jamur setinggi puluhan mil. Gelombang kejutnya meluluhlantakkan apa saja yang dilewatinya sejauh ratusan mil. Bahkan para kultivator yang berada di kejauhan dibuat pucat pasi; mereka sadar bahwa sekadar tersapu oleh sisa energi ledakan itu saja sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan tubuh dan jiwa mereka berkali-kali lipat tanpa sempat melawan, membuat sekujur tubuh mereka gemetar ketakutan.
Kendati demikian, di balik rasa ngeri tersebut, terselip gelombang kegembiraan yang luar biasa yang tampak di wajah mereka. Mereka meyakini Yefan pasti telah tewas tanpa menyisakan sepotong daging pun, terlepas dari seberapa jeniusnya pemuda itu. Senyuman kebengisan merekah di wajah mereka, melampiaskan dendam atas pembantaian ribuan rekan mereka yang sebelumnya di lakukan oleh Yefan.
"Tidak... Yefan!" Jiu liang!" teriak Jiun Yi histeris saat melihat dirinya terlambat untuk membantu, mengira yefan mustahil bisa selamat dari serangan tombak yang di rilis oleh kuktifator alam roh tahap puncak.
Namun, di saat semua orang mengira Yefan telah lenyap tanpa menyisakan segumpal daging sedikit pun, perlahan-lahan kepulan debu dan badai energi ledakan di pusat kawah yang dalam mulai surut.
Sesosok pemuda berjubah hitam tampak masih berdiri tegak di sana, seolah-olah tidak tergoyahkan oleh amukan badai apa pun.
Seketika, orang-orang yang menyaksikan pemandangan itu terperanjat. Kendati demikian, keterkejutan tersebut tidak sedikit pun mengurangi ekspresi ejekan, kebencian, dan penghinaan di wajah mereka. Sebab, meskipun Yefan masih mampu berdiri, kondisi fisiknya sangat mengenaskan—tubuhnya compang-camping, dan sebuah tombak yang di selimuti api telah menembus lurus dari dada hingga punggungnya. Proyeksi gambar tiga dimensi yang selama ini menjadi perisai pertahanannya hancur berkeping-keping gagal menahan tusukan maut tersebut.
Uhuk...!
Yefan memuntahkan seteguk darah segar, tubuhnya bergetar hebat.
'Aku tidak menduga... meski telah mengerahkan seluruh kemampuan dan seluruh kekutan senjata yang kumiliki, aku tetap tidak sanggup menahan serangan dari seorang kultivator Alam Roh tahap puncak, bahkan untuk menahan sejenak pun tidak,' batin Yefan setelah merasakan kekutan kultifator alam roh puncak sangat lah mengerikan, Uhuk! Yefan kembali memuntahkan darah dalam jumlah besar.
Tanpa membuang waktu, Yefan mengerahkan sisa tenaganya untuk mencabut tombak yang menancap di dadanya. Setiap tarikan menyeret serpihan daging dan serpihan tulang yang hancur, memicu rasa sakit luar biasa yang menusuk hingga ke dasar jiwa. Namun, Yefan sedikit pun tidak memedulikan siksaan fisik tersebut.
"Yefan!" Jiun Yi segera melesat mendekat begitu melihat Yefan masih bernapas. Hatinya diliputi keterkejutan yang teramat sangat, takjub mendapati pemuda itu mampu bertahan dari gerbang kematian.
Hm...
Tiba-tiba, sebuah dengusan terkejut menggema dari balik awan gelap yang menutupi langit. Jelas sekali kultivator paruh baya itu sama sekali tidak berniat menampakkan wujud nya di hadapan Yefan.
"Aku benar-benar tidak menyangka... seorang bocah yang baru berada di tahap Transenden tengah ternyata mampu bertahan dari serangan langsung seorang kultivator Alam Roh tahap puncak," suara berwibawa itu menggelegar ke segala penjuru. "Kau memang sangat jenius. Tapi sayang sekali, kau telah menyinggung Keluarga Yujin kami dengan membunuh garis darah Sang Patriark-Yujin Huo, serta membantai begitu banyak kultivator yang tidak bersalah."
"Jika aku membiarkanmu hidup hari ini, dengan tingkat kejeniusan mu yang mampu melangkah lebih jauh dalam kultifasi, pasti akan ada ribuan atau bahkan jutaan korban tak bersalah yang akan mati di tanganmu di masa depan," lanjut suara itu, dengan suara yang lebih menggelegar kesegala penjuru agar didengar oleh semua orang—sebuah pembenaran mutlak bahwa tindakan keji Keluarga Yujin terhadap Keluarga Yefan adalah hal yang benar.
Mendengar retorika tersebut, para kultivator yang selamat dari pembantaian Yefan sontak serempak menyuarakan dukungan penuh bagi Keluarga Yujin.
"Benar! Dia anak seorang pendosa! Lihatlah apa yang telah ia perbuat—hanya dalam satu hari saja, ia telah membantai ribuan rekan-rekan dari kami, serta menghabisi sang komandan dan delapan ratus pasukan elit tanpa berkedip!"
"Dia harus dibunuh! Dia harus dibunuh! Dia harus dibunuh!" teriak mereka serempak, dipenuhi niat membunuh yang memuncak. "Kami memohon kepada Keluarga Yujin yang terhormat untuk menegakkan keadilan bagi rekan-rekan kami yang telah gugur di tangan iblis ini!" seru mereka lantang penuh kepura-puraan.
"Kalian...!" Jiun Yi berteriak murka, terbakar amarah mendengar Keluarga Yujin dan kumpulan kultifator dari berbagai faksi yang selamat dari pembantaian yefan membalikkan fakta secara terang-terangan.
Kendati demikian, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantah mereka. Ia sangat menyadari hukum rimba di dunia kultivator: dimana tinju yang paling kuatlah yang menentukan kebenaran, meskipun betapa sesatnya kebenaran tersebut di hati nurani.
Bersambung...
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏