Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Kalimat itu lolos begitu mulus dari mulut Damar, menciptakan jeda keheningan singkat yang terasa begitu panjang bagi Ravian.
“Aku hanya tidak menemukannya saat itu,” sahut Ravian membela diri.
“Padahal dokumennya ada di tanganmu.”
Nada Damar tetap tenang. Namun tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada kalimat yang menyusul untuk menghibur putranya atau kata tidak apa-apa menyusul di belakang kalimat yang ia ucapkan.
Insting seorang Ibu dalam diri Meira terusik, ia segera merasakan perubahan yang ada.
“Damar, Ravi baru mulai menangani hal-hal seperti itu.”
Tatapan Damar beralih istrinya dengan alis sedikit terangkat. Biasanya ia akan mengangguk dan mengakhiri pembicaraan. Malam ini tidak.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, jangan membuat satu kesalahan terdengar besar,” ucap Meira tidak senang.
“Masalahnya bukan satu angka yang dia lewatkan.” Damar kembali menatap sang putra. “Masalahnya ketika kamu tidak tahu jawabannya, kamu panik. Kamu sibuk memikirkan apa yang seharusnya kamu katakan sampai tidak melihat sesuatu yang sebenarnya ada di depanmu.”
Ravian menunduk.
“Seorang analis Daneswara malah menemukannya lebih dulu,” lanjut Damar.
“Oh... Pemuda itu." sahut Raksa di ujung meja. "Namanya Elang Mahesa kalau aku tidak salah mengingat."
Ravian menoleh. “Kakek tahu?”
“Aku membaca laporan sementara,” jawab Raksa.
Meira mengembuskan napas. “Jadi semua ini hanya karena orang lain menemukan jawabannya lebih cepat?”
“Bukan itu maksudku, Meira,” sanggah Damar. "Tapi-"
“Tapi Ravi tidak harus selalu lebih baik daripada semua orang,” potong Meira sebelum Damar sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Mei-"
"Damar," Meira kembali memotong kalimat suaminya lebih cepat. "Kamu terus membandingkan Ravi dengan putra orang lain di depanku. Kamu pikir aku akan diam saja?"
"Aku tidak membandingkan-"
"Jika aku terus mengatakan pria lain melakukan sesuatu lebih baik darimu, apa kamu nakan menganggapi itu bukan perbandingan?" tembak Meira tajam. "Itu juga yang aku rasakan saat kamu menyebut putra orang lain lebih baik dari putra kita."
Damar terbungkam selama beberapa saat. Detik seolah berubah menjadi jam, tatapanya melunak saat menatap wajah istrinya.
“Aku hanya ingin dia berhenti menganggap setiap kegagalan kecil sebagai alasan untuk mundur,” ucap Damar akhirnya.
Meira meraih tangan putranya.
“Ravi belum terbiasa dengan tekanan seperti itu. Dia terlahir sebagai pangeran, semua orang di rumah ini melindunginya. Kamu tidak bisa mengharapkan dia tiba-tiba berpikir seperti seseorang yang sejak kecil harus berjuang untuk mendapatkan semuanya.”
Damar menatap istrinya, beberapa detik kemudian ia mengangguk. “Kamu benar. Dia memang dibesarkan seperti seorang pangeran.”
Tatapan Damar beralih pada putranya. “Tapi suatu hari Arkatama Group tidak membutuhkan pangeran yang harus selalu dilayani.”
Suasana meja makan seketika sunyi.
“Perusahaan membutuhkan orang yang mampu mengambil keputusan ketika tidak ada Ayah, Ibu, ataupun Kakek untuk memberi jawaban.”
Ravian menelan ludah.
“Ayah tidak memintamu berubah malam ini,” lanjut Damar. “Tapi mulai sekarang, Ayah juga tidak akan terus mengatakan semuanya baik-baik saja hanya supaya kamu tidak kecewa.”
Meira hendak menyela, tetapi Raksa membuka suara lebih cepat. “Biarkan Damar mendidik anaknya.”
“Ayah juga terlalu keras pada Ravi,” ucap Meira tidak terima.
Raksa mengangkat gelas di meja. “Dan kalian terlalu lama membuat hidupnya mudah.”
“Kek...” Ravian akhirnya bersuara.
Raksa segera melanjutkan bicara sebelum Ravian sempat menyelesaikan kalimatnya. “Besok kembali ke pabrik.”
“Untuk apa?” tanya Meira keberatan.
“Belajar," jawab Raksa menatap wajah cucunya. “Bukan untuk mengalahkan analis itu atau untuk membuktikan siapa yang lebih pintar. Lihat cara mereka bekerja dan pelajari apa yang selama ini tidak kamu pahami.”
Ravian terdiam cukup lama, kemudian mengangguk. “Baik, Kek.”
Damar tidak lagi menyela. Untuk pertama kalinya, ia sengaja membiarkan Ravian berada dalam ketidaknyamanan itu.
Bukan karena kasih sayangnya berkurang. Ia hanya mulai menyadari bahwa terlalu sering menjadi pelindung mungkin justru membuat putranya tidak pernah benar-benar belajar berdiri sendiri.
Belum sempat ketegangan di meja makan mereda, ponsel Damar yang berada di samping piring bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar, dan ia segera membukanya. Namun, isi pesan itu membuat jemarinya membeku di atas layar.
"Hentikan pemeriksaan Arkatama Industrial Components atau keluargamu akan menanggung akibatnya."
. . . .
. . . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????