"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kedatangannya
Dalam ruang operasi yang dingin dan tertib, Dokter Zidan sedang memimpin penanganan bedah bagi seorang pasien VIP. Ia dibantu oleh tiga orang perawat, dan salah satunya ialah Humaira istrinya.
Semua diruangan itu bekerja dengan sangat serius dan penuh ketelitian. Operasi berlangsung cukup lama—berjam-jam lamanya—karena yang dikerjakan adalah pengangkatan kanker di bagian otak pasien, sebuah prosedur yang rumit dan butuh ketekunan tinggi.
Setelah perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya hasil yang diharapkan tercapai: operasi itu berjalan lancar.
Begitu tugas selesai, mereka berjalan menuju wastafel untuk membuka sarung tangan dan mencuci tangannya. Dokter Zidan mulai melepaskan pakaian pelindung yang dikenakan selama bertugas di ruang operasi.
“Setelah ini, kau langsung pulang ke rumah. Aku sudah meminta sopir untuk menjemputmu,” ucap Zidan kepada Humaira—wanita yang baru beberapa minggu menjadi istrinya.
“Baik, Dokter,” jawab Humaira singkat. Hanya diam dan patuh.
Diam-diam Zidan melirik ke arah istrinya. Gadis itu tak pernah sekalipun membantah. Apa pun yang diperintahkannya, wanita itu selalu menjawab “ya”—tanpa penolakan, tanpa suara keberatan sedikit pun.
Zidan lalu melangkah keluar dari ruang operasi. Namun tepat saat pintu terbuka lebar, langkahnya terhenti mendadak seolah terpaku di tempat.
Di sana, tak jauh dari lorong yang bersih dan terang itu, terlihat sosok wanita yang duduk diam di atas kursi roda. Wajahnya pucat namun tetap anggun.
Tanpa membuang waktu, Zidan segera bergegas menghampirinya dengan langkah cepat. Raut wajahnya tampak begitu khawatir.
"Melodi? Kau kenapa?" Tanya Zidan panik, melupakan rasa sakit hatinya saat hari pernikahan mereka tiba dan wanita itu sama sekali tak kunjung datang.
Zidan dengan sigap memeriksa kaki melodi yang duduk di kursi roda. "Ada apa melodi? Kenapa kau bisa seperti ini?" Zidan terus bertanya dengan cemas.
Setelah tak jadi menikah tempo hari, ini kali pertama Zidan kembali bertemu dengan sosok kekasihnya itu.
Bukannya menjawab, melodi justru menangis dan memeluk tubuh Zidan yang bersimpuh dihadapannya.
Di saat bersamaan, Humaira juga baru keluar dari ruang operasi dengan perasaan lelah yang terpendam.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok Melodi yang menangis dalam pelukan Dokter Zidan.
“Tante Melodi...” gumamnya.
“Melodi, ada apa denganmu?” tanya Zidan lagi setelah beberapa menit membiarkan wanita itu menumpahkan kesedihannya.
“Dan ini... kenapa kamu duduk di kursi roda?”
“Maafkan aku, Mas...” isak Melodi di sela-sela tangisnya. “Aku mengalami kecelakaan, tepat sehari sebelum hari pernikahan kita. Aku tidak tega melihatmu nanti akan bersedih kalau tahu keadaanku. Oleh karena itu, aku memutuskan menyembunyikan semua ini darimu. Tapi aku tidak pernah menyangka akan seperti..."
"Apa? Kecelakaan? Kenapa kamu tidak bilang Melodi? Kau tahu? Aku menunggu mu datang dengan perasaan kecewa. Kalau tahu ternyata kamu cuma kecelakaan, hari itu pernikahan bisa di tunda,"
Melodi menatapnya dengan pandangan terluka.
“Tapi kenapa Mas... kenapa kamu tega menikah dengan Humaira? Ibu memberitahuku bahwa kamu sudah resmi menjadi suaminya...” Melodi menuntut jawaban dari pria dihadapan itu.
“Tenang dulu... dengarkan penjelasanku,” bujuk Zidan lembut sembari mengusap punggung kekasihnya itu.
“Aku menikah dengan Humaira bukan atas keinginanku. Saat itu, kamu tidak muncul di acara pernikahan kita. Pernikahanku dengan Humaira juga hanya sebatas untuk melindungi kehormatan keluarga, tidak lebih," jelas pria itu.
Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya, Humaira yang masih berada di sana tersenyum getir. Hatinya terasa perih bagai teriris, namun ia tetap menahan semua rasa sakit itu.
“Benarkah apa yang kau katakan itu, Mas?” tanya Melodi seolah belum sepenuhnya yakin.
Zidan pun mengangguk mantap membenarkan, sambil dengan lembut mengusap air mata yang terus mengalir di pipi wanita itu. “Benar, percayalah padaku.”
“Kalau begitu... segera ceraikan dia, Mas!” desak Melodi tiba-tiba dengan nada penuh kecemburuan. “Aku mau kamu segera bercerai dengannya! Aku tidak sudi jika kamu terus bersamanya. Aku takut... takut nanti kamu malah menyentuhnya atau memberinya tempat di hatimu.”
“Sstt... Apa yang kau bicarakan?” potong Zidan berusaha menenangkannya. “Jangan khawatir. Aku sama sekali belum pernah menyentuh Humaira, sedikit pun tidak. Dan tidak akan pernah.”
Lagi-lagi Humaira tersenyum tipis menyembunyikan luka dihatinya. Dia segera bergerak ingin pergi dari melihat kemesraan mereka yang hanya membuatnya sakit hati.
Namun tiba-tiba Melodi memanggilnya dengan ketus.
“Hei, Humaira! Kemari kau!
Wanita itu menoleh.
Dengan perasaan terpaksa, Humaira melangkah mendekati wanita yang duduk di kursi roda itu.
“Iya, Tante...” jawabnya.
“Aku tidak peduli dengan alasan apa pun!” ucap Melodi tegas. “Pokoknya aku tidak mau tahu! Kamu harus bercerai dengan Mas Zidan! Dia itu milikku, seharusnya menjadi suamiku, bukan milikmu. Mulai malam ini juga aku melarangmu tinggal bersamanya. Jangan lagi kau pulang ke rumah itu! Aku sudah mendengar kabar kalau selama ini kau tinggal di sana bersamanya!”
“Baik, Tante.” Tanpa membantah sedikit pun, Humaira langsung mengiyakan.
Zidan mengerutkan keningnya, merasa tidak terima dengan keputusan sepihak itu. “Maksudmu... Humaira harus keluar dari rumah itu malam ini juga?”
“Benar,” jawab Melodi singkat dan tegas.
Namun Zidan menggeleng, “Tapi, Melodi, hal ini tidak semudah yang kau kira. Jika Humaira pergi dan meninggalkan rumah sekarang, Ayah pasti tidak akan menyetujuinya.”
“Tapi kenapa, Mas? Humaira menikah denganmu hanya karena aku tidak datang. Bukan berarti pernikahan kalian sungguhan harus terus berlanjut! Sekarang aku sudah kembali, apa lagi yang kau tunggu? Segera ceraikan dia! Lagipula, Humaira itu anak haram, sama sekali tidak pantas bersanding denganmu, Mas!” ucap Melodi.
Zidan memijat pelipisnya yang terasa pusing. “Sudah, kita bahas ini besok. Sekarang sudah larut malam. Lihatlah keadaanmu, kau masih lemah begini. Lebih baik kau istirahat malam ini. Ke mana kau mau pulang? Mau tetap di sini di rumah sakit, atau harus kuantar pulang ke rumah?”
Melodi melirik Humaira yang berdiri di sana dengan tatapan tajam penuh kebencian. “Antar saja aku pulang ke rumah,” ucapnya.
Sebenarnya Zidan sangat ingin tahu lebih banyak tentang apa yang dialami kekasihnya itu, namun ia menahan diri untuk tidak bertanya panjang lebar—terlebih lagi keadaan sudah larut; ia berniat menanyakannya secara tenang dan pelan di lain waktu.
Pria itu berdiri tegak, dan mengambil posisi dibelakang kursi roda sang kekasih. Ia mulai mendorong kursi roda itu.
“Humaira, ikut aku pulang!” panggilnya sekilas saat melewati istrinya.
Namun Humaira menolak. “Tidak apa-apa, Dok. Tadi Dokter sudah memerintahkan dan meminta sopir untuk menjemput saya. Biar saya pulang bersama sopir saja.” Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Humaira segera berbalik dan pergi.
Zidan hanya memandangi punggung wanita itu yang perlahan menjauh hingga hilang dari pandangan.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂