Indonesia
NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

PIETRA PETROVSKY

Saat aku memasuki ruang rapat, dua puluh pasang mata berbalik menatapku.

Aku tak ragu.

Kulangkahkan kaki ke ujung meja dengan langkah mantap, punggung tegak, ekspresi tenang.

Kuletakkan laptop di depanku, kurapikan berkas kontrak, dan menarik napas dalam sekali saja.

Hening.

"Selamat pagi, Tuan-tuan," aku memulai, dengan suara jernih dan yakin. "Nama saya Pietra Petrovsky. Hari ini saya mewakili D'Amato Group dalam negosiasi ini."

Beberapa saling bertukar pandang. Sebagian lagi mencondongkan badan ke depan.

Sempurna.

Aku memproyeksikan angka-angka ke layar.

"Mari langsung ke intinya." Aku menunjuk ke grafik. "Ini adalah pertumbuhan perusahaan dalam lima tahun terakhir. Ini bukan spekulasi. Ini data yang sudah terkonsolidasi."

Aku mulai membahas margin, risiko terhitung, ekspansi internasional, klausul strategis.

Aku tak membaca. Tak tersendat. Akulah yang memimpin.

Gerak-gerikku presisi. Jeda-jedaku terukur.

"Kontrak ini melindungi Anda semua," lanjutku. "Tetapi juga menuntut komitmen. D'Amato tidak bekerja dengan mitra yang setengah hati."

Salah seorang pemegang saham tersenyum, terkesan.

Yang lain memotongku dengan pertanyaan sulit. Aku menjawab tanpa kehilangan irama.

"Klausul ini justru ada untuk mencegah kerugian dalam skenario yang penuh gejolak." Aku memiringkan kepala sedikit. "Dan itulah sebabnya proyeksi imbal hasilnya lebih tinggi daripada pasar."

Suasana ruangan berubah.

Mereka tak lagi sekadar menilai sebuah proposal.

Mereka mendengarkanku.

Kurasakan pandangan-pandangan yang lekat, rasa penasaran yang tumbuh, rasa hormat yang mulai terbentuk. Sebagian mendekat dengan hati-hati, yang lain meminta lebih banyak detail, lebih banyak waktu, lebih banyak penjelasan.

"Bisakah kita perpanjang rapatnya?" tanya salah satu dari mereka. "Cara Anda membaca strategi ini... tidak biasa."

Aku tersenyum profesional.

"Tentu saja."

Aku melanjutkan.

Tenang. Anggun. Mantap.

Ketika aku selesai, keheningan berlangsung beberapa detik.

Lalu, satu per satu, mereka mulai menandatangani.

Semuanya.

Dua puluh kontrak.

Saat aku bangkit untuk keluar, kurasakan sesuatu yang menggelitik: tak seorang pun tampak buru-buru membiarkanku pergi.

"Suatu kehormatan mendengarkan Anda," ujar salah seorang.

"D'Amato diwakili dengan sangat baik," komentar yang lain.

Aku mengangguk, mengucap terima kasih, membereskan berkas-berkasku, dan meninggalkan ruangan—dengan hati yang mantap.

* * *

MARCO D'AMATO

Aku menyaksikan semuanya.

Setiap detik.

Dari balik kaca cermin ruangan di sebelah, di samping Irina, yang berdiri kaku seperti patung yang siap retak.

Pietra masuk.

Dan ruangan itu berubah.

"Lihat itu..." gumamku, tanpa sadar.

Ia tak sekadar bicara.

Ia mengomando.

Angka-angka mengalir seakan bagian dari dirinya. Postur yang tak bercela. Gerak-gerik yang terkendali. Cara ia menahan tatapan para lelaki yang terbiasa tak pernah dibantah.

Dan meski begitu... mereka menurut.

"Ini tidak mungkin," bisik Irina, tegang.

Tapi nyatanya begitu.

Mereka mencondongkan badan. Bertanya. Menginginkan lebih.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang membuat rahangku mengatup rapat.

Mereka bukan cuma terpikat oleh kecerdasannya.

Ini keseluruhannya.

Kehadirannya.

Kecantikannya yang tak mencolok.

Cara ia menguasai ruangan.

Bahkan aroma terkutuk itu seolah menembus kaca. Manis. Bersih. Halus.

"Dia menutup semuanya..." gumam Irina, tak percaya.

Ketika kontrak terakhir ditandatangani, kurasakan sesuatu yang langka.

Bangga.

Berbahaya. Membara. Tak terhindarkan.

Saat Pietra keluar dari ruangan, para pemegang saham praktis mengiringinya dengan pandangan. Beberapa bangkit berdiri. Yang lain tersenyum.

Dan aku...

Aku tak sanggup mengalihkan pandangan.

Irina berbalik ke arahku, wajahnya merah karena amarah.

"Dua puluh kontrak, Marco. Dua puluh!" desisnya. "Ini seharusnya tidak terjadi."

Aku tetap menatap ke arah pintu tempat Pietra baru saja keluar.

"Tapi nyatanya terjadi," kataku.

Irina mengepalkan tinjunya.

"Kau lihat ini? Semua perhatian tertuju padanya. Mereka. Kau..."

Akhirnya aku menoleh ke arah Irina.

"Dia pantas mendapatkannya," ucapku, rendah. "Setiap tanda tangan itu. Dan seharusnya kau senang... Ini kemajuan besar untuk perusahaan kita."

Irina nyaris meledak.

"Ini akan mengubah segalanya," katanya, geram. "Dan kau tahu itu. Sebentar lagi dia akan memerintah kita semua! Termasuk kau!"

Ia bicara sambil menjauh, dan aku melangkah menuju ruang kerjaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!