Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ciuman Pengkhianatan dan Api
Kami keluar dari Starlight Ballroom bagai dua badai yang berbenturan di lorong sempit. Hujan Manhattan, dingin dan tak kunjung reda, menghantam kami begitu melewati pintu belakang, tapi aku tak merasakan dinginnya. Darahku mendidih, membakar pembuluhku oleh bayangan Natalia Genovese membelai dada Damian di depan semua orang.
Mikhail berusaha mengikuti kami, tapi Damian menahannya dengan lengan sekeras baja dan tatapan yang menjanjikan pemakaman dini seandainya ia berani melangkah lebih jauh.
"Semoga kau puas bersenang-senang dengan piala plastikmu!" teriakku, berputar menghadapnya ketika kami sampai di bayangan sebuah gedung bata. Hak sepatuku bergema di atas aspal basah bagai letusan senjata. "Itukah yang kau butuhkan, Damian? Seorang perempuan yang menyanjungmu sementara dunia hancur berkeping-keping? Kau menyedihkan!"
Damian menyudutkanku ke dinding lembap sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Kedua tangannya menghantam dinding di kedua sisi kepalaku, memerangkapku dalam kurungan otot dan amarahnya.
"Jangan bicara soal dia sementara kau sendiri masuk sambil bergandengan tangan dengan saudaraku untuk mempermalukan aku!" raungnya, wajahnya hanya beberapa milimeter dari wajahku. "Kau ingin bermain jadi ratu, Alessandra. Kau ingin membuktikan kau punya kendali. Baik, selamat. Kau berhasil merebut perhatian seluruh mafia New York. Sekarang kau puas?"
"Aku puas karena akhirnya semua orang melihat aku tidak membutuhkanmu!" semburku, meski suaraku mengkhianatiku dengan getar tipis.
Ia tertawa, tawa kelam dan berbahaya yang membuat bulu tengkukku meremang.
"Kau bohong. Kau sekarat oleh cemburu, Alessandra. Aku melihatnya di matamu, aku melihatnya dari caramu mengatupkan rahang waktu Natalia menyentuhku. Kau terbakar dari dalam karena perempuan lain menaruh tangannya pada sesuatu yang sampai sekarang kau masih anggap milikmu."
"Aku tidak merasakan apa-apa padamu selain jijik!" jeritku, mencoba mendorongnya, tapi rasanya seperti mencoba menggeser sebuah gunung.
"Bohongi aku sekali lagi," bisiknya, dan sebelum aku sempat menjawab, mulutnya menghantam mulutku.
Itu bukan ciuman perdamaian. Itu sebuah penyerbuan.
Damian menciumku dengan kelaparan yang putus asa, dengan hasrat yang tak meminta izin dan api yang mengancam menjadikan kami abu di sana juga, di tengah hujan. Bibirnya berasa wiski dan dosa, dan tangannya melilit rambut pendekku, menariknya dengan kekuatan yang memaksa leherku melengkung. Kurasakan panas tubuhnya menembus gaun sutraku, sebuah sengatan listrik yang menjalar di sepanjang tulang punggungku dan membuatku lupa akan dendam, perang, dan apartemen Queens itu. Untuk sedetik, dunia lenyap. Api itu membakar kulit kami, sebuah kobaran yang disulut oleh tiga tahun ketiadaan dan kebencian yang menumpuk. Kubalas ciumannya dengan kekerasan yang sama, menggigit bibir bawahnya sampai kurasakan rasa logam darah, mencengkeram bahunya seolah dialah satu-satunya rakit di tengah kapal yang karam.
Itu ciuman yang berasa perang, pengkhianatan, dan kebutuhan sakit yang tak seorang pun dari kami sudi mengakui. Itu kobaran api dua jiwa terkutuk yang hanya tahu cara mencinta dengan saling menghancurkan.
Ketika akhirnya kami terlepas, kami berdua terengah, bibir membengkak dan mata berkabut oleh hasrat dan amarah. Damian tetap menempelkan dahinya ke dahiku, napasnya berbaur dengan napasku di udara malam yang dingin.
"Sekarang katakan bahwa kau tak merasakan apa-apa," tantangnya dengan suara yang pecah.
Aku menjauh darinya dengan sentakan, mengusap mulutku dengan punggung tangan, meski jejak apinya masih membakarku. Aku menunduk ke tanah, berusaha menyusun ulang topeng bajaku, dan kemudian, tanpa terduga, aku tertawa. Tawa kering, penuh ejekan, yang memantul di dinding-dinding lorong.
"Kau tertawa untuk apa?" tanyanya bingung, kepalannya masih terkatup.
"Aku menertawakanmu, Damian," ucapku, menatap matanya dengan senyum penuh kemenangan, meski di dalam aku hancur berkeping-keping. "Kau sungguh percaya sebuah ciuman mengubah segalanya? Kau kira karena aku masih tahu cara bereaksi terhadap tanganmu, kau bisa menghapus apa yang kau perbuat?"
"Alessandra..."
"Jangan keliru," potongku, berbalik untuk berjalan ke arah mobil. "Kalau Natalia menginginkanmu, biar dia yang ambil sisa-sisamu. Aku tidak cemburu, Damian. Aku terhibur. Terhibur melihatmu merangkak mencari sebuah emosi dalam diriku yang kau sendiri sudah bunuh."
Aku naik ke kursi belakang SUV sebelum ia sempat melihat tanganku mulai gemetar. Damian tetap berdiri di sana, di bawah hujan, kemeja melekat di tubuhnya dan wajah tenggelam dalam bayangan. Ia telah memenangkan ciuman itu, tapi aku baru saja memenangkan perang psikologis melawannya.
Di lorong New York itu, pertempuran paling berdarah justru sedang kami kobarkan berdua, dan aku tak akan membiarkannya melihat satu pun dari luka-lukaku.