Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Dua tembakan berperedam suara meluncur dari balik tirai sutra hijau tua pas mengenai salah satu penyusup.
Penyusup bertopeng baja pertama yang berdiri dekat meja kerja bahkan tidak sempat berteriak. Peluru sembilan milimeter menembus tepat di samping celah topengnya, menembus tulang pelipis dan merobohkannya ke lantai beton tanpa sempat menyentuh pelatuk senapan.
Dua penyusup yang tersisa memutar tubuh mereka secara refleks, mengarahkan moncong MP5SD ke arah tirai dan menembakkan rentetan peluru.
Kain sutra tebal bertabur cabikan perbukitan terbelah hancur, pecahan kaca jendela melayang di udara bagaikan hujan kristal saat badai dari luar menerobos masuk menyapu kamar utama.
Namun Evangeline tidak lagi berada di balik tirai tersebut.
Begitu dua tembakan pertamanya dilepaskan, Eva sudah meluncur rendah di atas lantai marmer yang licin, memanfaatkan kepulan asap kelabu penenang yang membubung dari koridor sebagai penutup pergerakannya.
Tubuh fleksibelnya meliuk di balik sofa kulit berkerangka besi. Ketika penyusup kedua memutar arah tembakannya mengikuti jejak pecahan kaca, Eva sudah bangkit dari posisi berlutut persis di samping pria itu.
Dengan satu gerakan memutar yang cepat, tangan kiri Eva menghantam pergelangan tangan penyusup, menepis moncong MP5SD ke atas hingga rentetan peluru menghantam langit-langit ukir. Tangan kanannya yang memegang Glock 19 mendarat keras di bawah dagu bertopeng baja pria itu.
Dor!
Darah segar menyembur ke topeng perak sang penyusup. Pria itu limbung ke belakang, namun penyusup ketiga yang berdiri dekat pintu melompat menerjang dengan belati bertakik lima duri yang siap menghunus lurus ke arah dada Eva.
Eva memiringkan tubuhnya sejauh tiga inci, gerakan refleks tingkat tinggi dari pelatihan keras The Crow's Veil. Bilah pisau pirus yang dingin hanya menyapu kain gaun tidurnya, merobek sedikit sutra di pinggangnya tanpa menyentuh kulit.
Eva memanfaatkan momentum menerjang musuh. Ia mencengkeram lengan bawah penyusup ketiga, memutarnya secara paksa ke belakang hingga persendian bahu pria itu berbunyi krek nyaring, lalu menghempaskan tubuh pria bertubuh besar itu ke atas meja mahoni pribadi Dominic.
Prang!
Lampu meja kuningan dan berkas-berkas kertas melayang berhamburan.
Penyusup ketiga menjerit tertahan, berusaha meraih pistol di Holster paha dengan tangan kirinya. Namun Eva tidak memberikan ruang napas sedikit pun.
Ia menancapkan lutut kanannya tepat di atas dada pria itu, mengunci lehernya, dan menempelkan moncong Glock 19 panas tepat di celah mata topeng baja tersebut.
"Siapa yang menyuruh kalian ke kamar ini?!" desis Eva. suaranya begitu rendah dan tajam, menyatu dengan deru angin badai yang menerobos masuk dari jendela kaca yang pecah.
Penyusup di bawah terkekeh serak di balik topengnya. Darah mengalir dari sela-sela gigi bajanya. "The Five Thorns... selalu tahu... siapa kau sebenarnya, Ghost Rose..."
Mata hazel Eva membeku. Pria ini tahu julukan rahasia dari kelompoknya!
Sebelum Eva sempat menyiksa pria itu untuk menggali informasi lebih dalam, suara lolongan sirine keamanan tingkat satu bergaung keras menembus seluruh lorong kediaman utama.
Suara langkah sepatu dalam jumlah masif berderap cepat dari tangga utama. Tim pengaman cadangan yang dipimpin oleh Viktor sedang bergerak naik menuju lantai tiga.
Penyusup di bawah Eva menyunggingkan senyum aneh yang penuh kehancuran. Pria itu sengaja menggeser gigi gerahamnya secara kasar, mekanisme racun kontak mikro yang sama dengan yang membunuh Gareth di ruang penyimpanan beberapa hari lalu.
"Jangan!" teriak Eva.
Namun terlambat. Kejang-kejang hebat melanda tubuh penyusup tersebut dalam waktu tiga detik. Matanya membelalak kaku, dan seluruh jalur kehidupan pria itu terputus seketika di atas meja kerja Dominic.
Eva bernapas memburu. Dadanya naik-turun dalam ritme tak teratur.
Ia memutar tubuhnya mengawasi tiga mayat bertopeng baja yang kini tergeletak di kamar utamanya. Asap sisa tembakan, bau mesiu yang menyengat, darah yang menggenang di lantai marmer, dan angin badai yang masuk dari jendela pecah menciptakan pemandangan medan perang yang mengerikan di dalam ruang privat sang penguasa Blackwood Syndicate.
Eva melirik ke arah meja kerja. Kompartemen rahasia berisi kotak kayu mawar Lady Vivienne masih tertutup rapat dan aman.
Namun rahasianya sendiri, identitasnya sebagai agen Ghost Rose kini dipertaruhkan jika tim Viktor masuk dan menemukan tiga pembunuh elit ini dihabisi secara profesional oleh seorang 'putri dokter bedah yang polos'.
Eva bereaksi cepat.
Ia mengusap sisa darah musuh dari tangannya ke gaun tidurnya sendiri, merobek sedikit bagian bahu gaun gadingnya agar terlihat seperti korban penyusupan yang panik, lalu menyembunyikan Glock 19 di bawah tumpukan bantal sofa.
Ia merosotkan tubuhnya ke lantai di dekat sudut ruangan, memeluk kedua kakinya, dan mengatur ekspresi wajahnya menjadi sosok wanita teror yang syok berat.
Pintu ganda kamar utama terbuka lebar dari luar.
Viktor memimpin delapan eksekutor bersenjata lengkap menerobos masuk dengan senapan serbu teracung ke segala arah.
"Amankan ruangan! Periksa sudut!" teriak Viktor bariton.
Namun saat asap kelabu mulai terurai, Viktor dan para pengawalnya terpaku di tempat. Tiga eksekutor elit The Five Thorns tergeletak tak bernyawa dalam posisi yang sangat mengenaskan, sementara kaca jendela utama berhamburan hancur.
Dan di sudut gelap dekat tirai yang robek, Evangeline duduk gemetar dengan gaun terobek dan bahu bermandi noda darah, menatap mereka dengan mata hazel yang dipenuhi ketakutan yang dibuat-buat secara sempurna.
"Nyonya Evie!" Viktor menurunkan senjatanya dan berlari mendekati Eva, berlutut satu kaki di sampingnya. "Anda tidak apa-apa?!"
Eva menatap Viktor dengan pandangan kosong yang menyayat hati, suaranya bergetar hebat saat ia berpura-pura menahan tangis. "M-mereka... mereka menerobos masuk dari koridor... aku menyiram mata mereka dengan minyak lampu... lalu senjata mereka terlepas..."
Viktor mengamati tiga mayat penyusup dengan kelereng mata yang membelalak heran. Luka tembak yang sangat presisi di kepala penyusup pertama sama sekali tidak tampak seperti hasil ketidaksengajaan dari wanita yang panik.
Namun rasa hormat dan tugas utamanya melarangnya untuk mempertanyakan hal tersebut di tengah situasi darurat ini.
"Amankan Nyonya ke ruang perlindungan sektor Alpha!" perintah Viktor tegas pada dua pengawal wanita yang menyusul di belakangnya. "Hubungi Tuan Dominic sekarang juga. Katakan benteng utama baru saja diserang!"
Dua puluh menit kemudian.
Hujan badai di luar semakin berkecamuk ketika konvoi kendaraan taktis serba hitam milik Dominic meluncur memotong gerbang utama Blackwood Manor dengan kecepatan tinggi.
Dominic melangkah keluar dari mobil pertamanya bahkan sebelum roda kendaraan itu berhenti sempurna. Pria itu tidak lagi memedulikan air hujan yang mengguyur jas mahal dan rambut hitamnya.
Raut wajahnya dipenuhi oleh gabungan amarah murni dan kegelapan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di manor ini selama sepuluh tahun terakhir.
Pria itu menaiki tangga utama dengan langkah-langkah lebar yang memancarkan pendar pembunuh yang sangat pekat.
Setiap pengawal yang dilaluinya menundukkan kepala sejauh mungkin, tidak ada satu pun yang berani menatap mata sang penguasa yang siap meledak tersebut.
Saat Dominic melangkah masuk ke dalam kamar utama yang hancur, Viktor sedang berdiri di dekat meja kerja seraya mengawasi tim forensik internal yang memindahkan mayat para penyusup.
"Dominic," suara Lady Eleanor bergaung dari arah pintu sisi. Wanita tua itu berdiri di sana disanggah oleh tongkat naganya, wajahnya tampak kaku dan pucat.
Dominic tidak menjawab neneknya. Pandangan matanya menyapu sekeliling kamar, tirai yang robek oleh tembakan, kaca jendela yang hancur menghantam badai, bekas sisa peluru di dinding, dan genangan darah di atas meja kerjanya.
"Di mana dia?" suara Dominic rendah dan serak, namun sanggup menghentikan seluruh aktivitas tim forensik di dalam ruangan.
"Nyonya Evie berada di ruang perlindungan pribadi di lantai dua, Tuan," sahut Viktor cepat. "Dia mengalami cedera ringan dan syok berat, tetapi fisiknya aman."
Dominic mengembuskan napas panjang, sebuah embusan napas lega yang nyaris tak terdengar, namun sangat jelas memperlihatkan betapa wanita itu telah menjadi poros utama dalam pikirannya.
Dominic berbalik menatap ketiga mayat penyusup yang ditutupi kain hitam.
"Bagaimana mereka bisa menembus tiga lapis barisan pengamanan sektor empat?" tanya Dominic dingin pada Viktor.
Viktor menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Pengawal di koridor luar dihabisi menggunakan gas racun saraf bertekanan tinggi yang disuntikkan melalui saluran ventilasi privat. Hanya seseorang yang memiliki akses kode teknis kediaman utama yang bisa meretas jalur ventilasi tersebut."
"Faksi mana?"
"Belum bisa dipastikan, Tuan," jawab Viktor ragu-garu. "Namun topeng baja bertakik lima duri ini... adalah unit eksekutor bayangan yang berada di bawah komando langsung Ordo Lima Duri. Mereka bukan serdadu bayaran amatir."
Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Seseorang di dalam hierarki teratas konsorsium baru saja mencoba membunuh istrinya di dalam kamarnya sendiri saat ia sedang dipancing keluar ke distrik selatan.
"Viktor," perintah Dominic tanpa cela. "Kunci seluruh akses keluar kota. Tutup pelabuhan distrik utara dan perbatasan St. Jude. Siapa pun dari Tiga Faksi yang mencoba meninggalkan kota tanpa izin tertulis denganku... eksekusi di tempat."
"Siap, Tuan!"
Dominic lalu memutar tubuhnya, melangkah keluar dari kamar hancur tersebut menuju ruang perlindungan lantai dua.
Ruang perlindungan pribadi di lantai dua adalah sebuah ruangan kecil bertembok baja tebal berlapisan kayu mahoni hangat. Di dalamnya terdapat sofa berbusa empuk, perapian kecil yang menyala lembut, dan aroma minyak kayu perindu yang menenangkan.
Eva duduk di atas sofa dengan selimut wol tebal melingkari bahunya. Dokter wanita pribadi keluarga Blackwood baru saja selesai membersihkan goresan kecil di bahunya dan meninggalkan ruangan.
Pintu baja ruang perlindungan terbuka.
Dominic melangkah masuk sendirian. Pakaian dan rambutnya masih sedikit basah oleh air hujan. Pria itu mengunci pintu dari dalam, lalu melangkah perlahan mendekati sofa tempat Eva duduk.
Ada keheningan yang sangat pekat saat Dominic berdiri di depan Eva. Pria itu menatap Eva dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan dengan matanya sendiri bahwa wanita di hadapannya benar-benar masih bernapas dan utuh.
Eva mendongak, menatap mata kelam Dominic yang dipenuhi badai emosi yang bertolak belakang.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, Dominic berlutut di atas satu kakinya di depan sofa Eva. Pria itu mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, merengkuh kedua pipi Eva dengan kelembutan yang sangat kontras dengan aura pembunuh yang dibawanya dari luar.
Dominic menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di atas dahi Eva.
"Kau aman," bisik Dominic pelan, suaranya bergetar tipis, sebuah getaran rentan yang tak pernah diperlihatkannya pada siapa pun di dunia ini. "Kau aman, Evie..."
Eva terpaku di tempatnya. Hatinya berdesir hebat. Pria yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah Verona Heights seorang penguasa kejam yang membantai musuh-musuhnya tanpa kedipan mata, kini berlutut di hadapannya dengan napas memburu hanya karena takut kehilangan dirinya.
"Dominic..." bisik Eva pelan.
Dominic mendongak sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata hazel Eva dari jarak hanya dua sentimeter.
"Saat aku mendengar berita bahwa kamarku diserang..." suara Dominic terdengar sangat serak di depan bibir Eva, "...aku merasakannya untuk pertama kali dalam hidupku... rasa takut yang sangat murni. Aku tidak peduli jika seluruh aset Blackwood terbakar malam ini, Evie. Tapi jika sesuatu terjadi padamu..."
Dominic tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu melingkarkan lengan kirinya di balik tengkuk Eva dan menarik wanita itu ke dalam sebuah ciuman yang sangat dalam dan posesif.
Bibir Dominic menekan bibir Eva dengan kerinduan yang intens dan ledakan emosi yang tertahan. Ciuman kali ini tidak lagi ragu atau dingin seperti tadi malam, ini adalah klaim kepemilikan murni dari seorang pria yang telah menyerahkan benteng pertahanan batinnya pada wanita di hadapannya.
Eva menahan napasnya seraya merasakan sengatan panas meluas dari bibirnya ke seluruh tubuhnya. Jemarinya secara refleks mencengkeram kemeja basah Dominic di bagian dadanya, menyerap kehangatan tubuh pria itu di tengah hawa dingin ruang perlindungan.
Untuk beberapa detik yang intens, kebohongan, identitas palsu, dan dendam masa lalu di antara mereka seolah melebur di dalam ciuman panas tersebut. Jarak kaku di antara mereka hancur berkeping-keping oleh daya tarik magnetis yang sangat berbahaya.
Dominic melepaskan ciumannya perlahan, namun tetap membiarkan ibu jarinya mengusap lembut bibir Eva yang merona basah.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi," kata Dominic pelan namun sarat akan janji kematian bagi musuh-musuhnya.
"Perang ini bukan lagi sekadar tentang kekuasaan konsorsium, Evie. Ini adalah tentang melindungi apa yang menjadi milikku."
Eva menatap mata kelam Dominic yang berpendar penuh tekad. Di dalam batinnya, pertarungan hebat meletup tanpa henti.
"Dia ingin melindungiku sebagai istrinya... tanpa pernah menyadari bahwa aku adalah senjata yang dirancang untuk menghancurkannya," Eva membatin.
"Dominic," suara Eva meluncur halus seraya membalas usapan jari pria itu di pipinya.
"Penyusup tadi... mereka bukan sekadar ingin membunuhku. Mereka mencari sesuatu di meja kerja pribadi milikmu."
Dominic memicingkan matanya tajam. "Kotak peninggalan ibuku?"
Eva mengangguk perlahan. "Mereka menyebutkan bahwa 'Atasan Utama' memerintahkan untuk memusnahkan kotak kayu mawar itu sebelum ada yang membaca isinya."
Pernyataan Eva mendarat bagaikan petir di pikiran Dominic. Pria itu berdiri dari posisi berlututnya, rahangnya mengeras kembali.
"Berarti Atasan Utama The Five Thorns tahu bahwa aku menyimpan kotak itu di dalam kompartemen meja," desis Dominic dingin. "Dan hanya ada empat orang di kota ini yang mengetahui keberadaan rahasia kompartemen tersebut."
Eva ikut berdiri dari sofa, melepaskan selimut wol yang melingkari bahunya seraya menatap Dominic lurus. "Siapa empat orang itu?"
Dominic memutar tubuhnya menatap Eva dengan pandangan mata yang sangat kelam.
"Nenekku, Lady Eleanor," kata Dominic lambat-lambat. "Don Sergio Rossi... Vincent Valenti... dan mendiang ayahku sendiri sebelum ia tewas."
Eva menahan napasnya.
Dua pimpinan faksi utama dan Lady Eleanor sendiri.
Teka-teki besar itu kini mengerucut pada tiga figur paling berkuasa di puncak piramida kekaisaran ini. Salah satu dari mereka adalah dalang sesungguhnya di balik pembunuhan Clara Cross dan Lady Vivienne empat belas tahun lalu, serta sosok yang menggerakkan Ordo Lima Duri dari balik bayangan!
"Kembalilah ke kamar sekunder di lantai satu bersama pengawal pribadi," kata Dominic seraya meraih tangan Eva dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Malam ini... aku sendiri yang akan membongkar kotak peninggalan ibuku dan menuntaskan perang ini."
Dominic berbalik melangkah keluar dari ruang perlindungan dengan langkah-langkah tegap yang penuh dendam murni.
Eva berdiri sendirian di tengah ruangan beraroma minyak kayu perindu tersebut. Tangan kirinya meraba saku jubah tidurnya, tempat ia menyembunyikan foto tua hitam-putih milik ibunya dan Lady Vivienne yang sempat ia amankan sebelum penyusupan terjadi.
Senyuman manis ibunya di foto tua itu seolah berbisik di dalam pikirannya.
Eva tahu, Dominic akan mencoba membuka kotak kayu itu malam ini menggunakan kekuatan atau keahlian meretasnya.
Namun tanpa kombinasi lagu pengantar tidur keluarga Cross, Dominic tidak akan pernah bisa membukanya tanpa memicu mekanisme penghancur otomatis di dalam kotak tersebut.
...Bersambung... ...