Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Verona Heights pagi ini diselimuti kabut tebal yang bertumpuk di atas bukit Blackwood Crest, tempat di mana berdiri sebuah kediaman yang tak ubahnya benteng abad pertengahan yang dimodernisasi.
Blackwood Manor tidak sekadar rumah mewah, ia adalah simbol dominasi tak tersentuh dari keluarga penguasa dunia bawah.
Pagar besi hitam setinggi lima meter melingkup seluruh area manor, diimbangi oleh menara-menara pengawas rahasia dan kamera pemindai termal yang berputar setiap sepuluh detik.
Di balik gerbang itu, deretan pepohonan pinus tua menjulang tinggi, menyembunyikan arsitektur Gothic Revival dari batu granit gelap yang megah namun menakutkan.
Sebuah mini bus hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan gerbang samping kediaman. Sepuluh wanita dengan pakaian sederhana turun satu per satu. Di antaranya adalah Evangeline Cross, yang kini memegang identitas palsu sebagai Evie Thorne.
Eva mengenakan gaun kain katun abu-abu kusam berlengan panjang dengan apron putih bersih di bagian depan, seragam standar untuk staf domestik tingkat bawah di kediaman Blackwood.
Rambut cokelat gelapnya yang biasanya terurai kini diikat rapi ke belakang menjadi sanggul ketat, menyembunyikan aura tajam seorang Ghost Rose di balik penampilan seorang pelayan muda yang polos dan pemalu.
Namun di balik gaun kusam itu, setiap indra Eva berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi. Ia tidak membawa senjata api. Pemindai logam elektromagnetik di gerbang utama Blackwood Manor dikenal sanggup mendeteksi jarum terkecil sekalipun.
Satu-satunya alat pertarungan yang berhasil ia selundupkan adalah sebuah pisau lipat serat karbon tanpa unsur logam yang ia jahit secara tersembunyi di balik lipatan tebal sol sepatu bot pelayannya.
"Semua berbaris satu deret! Angkat wajah kalian!"
Sebuah suara nyaring dan tegas memecah keheningan pagi. Dari balik pintu gerbang samping, muncul seorang wanita berusia awal lima puluh tahun dengan setelan gaun hitam ketat tanpa celah. Wajahnya tegas dengan rambut perak yang disanggul sempurna tanpa sehelai pun yang terlepas.
Ia adalah Madam Bethany, pengawas pelayan di Blackwood Manor.
"Nama saya Madam Bethany," ucap wanita itu, melangkah pelan menyusuri barisan calon pelayan baru seraya menatap mata mereka satu per satu.
"Kalian berada di sini bukan untuk menjadi tamu. Kalian berada di sini untuk bekerja di rumah keluarga yang paling terpandang di pantai timur. Di rumah ini, ada tiga aturan mutlak yang jika kalian langgar, akibatnya bukan sekadar dipecat, melainkan hilang tanpa jejak."
Para calon pelayan lainnya menundukkan kepala, gemetar oleh nada ancaman yang tersembunyi dalam suara Madam Bethany. Eva ikut menundukkan kepalanya, memalsukan rasa takut, meski matanya secara cermat menghitung jumlah kamera pengintai di atas gerbang dan posisi dua penjaga bersenjata otomatis yang berdiri di dekat pos penjagaan.
"Aturan pertama," lanjut Madam Bethany, menghampiri posisi Eva dan berhenti tepat di depannya.
"Kalian tidak pernah berbicara kecuali ditanya. Aturan kedua, kalian tidak pernah melangkah ke lantai tiga, wilayah pribadi Tuan Dominic Blackwood, tanpa izin tertulis. Dan aturan ketiga..."
Madam Bethany mengamati wajah Eva dari dekat. Matanya menyipit, menguji ketenangan pelayan baru di depannya. Eva menurunkan pandangannya tepat ke arah kancing gaun Madam Bethany, memberikan kesan kepatuhan sempurna.
"...Kalian tidak pernah melihat apa yang tidak seharusnya kalian lihat, dan tidak pernah mendengar apa yang tidak seharusnya kalian dengar. Apakah paham?"
"Paham, Madam," sahut Eva dan para pelayan lainnya serentak dengan suara pelan.
Madam Bethany mengangguk puas. "Bagus. Masuk ke dalam. Divisi kebersihan lantai dasar dan aula utama. Bekerjalah sebelum acara lelang dimulai dua hari lagi."
Pintu kayu raksasa di bagian samping manor terbuka, menyambut mereka masuk ke dalam koridor koridor luas berlantai marmer hitam yang mengkilap.
Atmosfer di dalam Blackwood Manor sangat dingin dan sunyi. Meskipun ada belasan staf yang berlalu-lalang membawa perak dan rangkaian bunga, tak ada satu pun yang bersuara. Setiap melangkah, sepatu mereka seolah diredam oleh karpet sutra tebal yang terhampar di sepanjang lorong.
Di dinding-dinding koridor, terpajang lukisan-lukisan minyak berukuran besar yang menggambarkan para leluhur keluarga Blackwood. Eva berjalan paling belakang dalam barisan pelayan, matanya meneliti setiap sudut arsitektur gedung.
Ia memetakan rute evakuasi, titik-titik buta dari kamera keamanan, serta akses tangga darurat yang mengarah ke lantai atas.
Lantai satu terdapat aula utama, ruang makan keluarga, dan galeri seni.
Di kantai dua ada kamar tamu VIP dan ruang kerja para eksekutif.
Serta di mantai tiga terdapat kamar pribadi dan kantor rahasia Dominic Blackwood.
Tujuan Eva adalah lantai tiga. Di sanalah Dominic menghabiskan sebagian besar waktunya, dan di sanalah kemungkinan besar dokumen serta rahasia tentang pembunuhan ibunya disimpan.
"Evie, jangan melamun!" teguran pelan dari pengawas divisi kebersihan membuat Eva kembali fokus.
"Maaf Madam," bisik Eva lembut, menyambar ember kayu dan kain lap mikrofiber yang disodorkan padanya.
Tugas pertama Eva adalah membersihkan galeri seni yang terletak di sayap timur lantai dasar. Ruangan itu luas, berdinding kayu mahoni tua dengan pencahayaan temaram dari lampu dinding bergaya klasik.
Di tengah ruangan, terdapat deretan etalase kaca yang menampung benda-benda antik dan koleksi senjata bersejarah milik keluarga Blackwood.
Eva membasahi kain lapnya, mulai mengusap pinggiran etalase kaca dengan gerakan teratur. Namun matanya sibuk memindai koleksi di dalam etalase.
Pedang-pedang abad pertengahan, pistol pelatuk batu antik, dan berbagai jenis belati kuno.
Eva mengecilkan pupil matanya. Di sebuah etalase khusus di sudut ruangan, terbaring tiga buah belati eksekusi dengan desain yang sangat familiar. Eva mendekat pelan, pura-pura mengelap debu di atas kaca.
Jantungnya berdesir hebat.
Di atas permukaan bilah baja belati-belati itu, terukir logo mawar dan ular. Namun, ada detail kecil yang langsung ditangkap oleh mata terlatih Eva.
Ukiran ular pada belati koleksi Blackwood ini melilit batang mawar dari arah kiri ke kanan dengan mahkota tiga duri, simbol murni dari dinasti pendiri.
Sedangkan belati yang merenggut nyawa ibunya, logo ular itu melilit dari arah kanan ke kiri, dan durinya berjumlah lima.
Ada variasi. Eva menarik napas perlahan, menahan getaran di dadanya. Apakah belati yang membunuh Ibu adalah variasi khusus untuk eksekutor rahasia, atau lambang dari faksi lain yang meniru simbol Blackwood.
"Apa yang sedang kau lihat, Pelayan?" Sebuah suara dingin memotong kesunyian galeri dari arah pintu masuk.
Sensasi bahaya yang membakar langsung menjalar ke tulang belakang Eva. Itu bukan suara pengawas kebersihan atau Madam Bethany. Suara itu membawa aura kematian yang begitu pekat, jenis aura yang hanya dimiliki oleh pria yang menguasai kediaman ini.
Eva menahan diri untuk tidak bertindak refleks memutar tubuh dengan posisi bertarung. Dengan kontrol otot yang luar biasa, ia sengaja membuat tangannya gemetar sedikit, menyenggol ember air hingga sedikit tumpah ke lantai marmer, lalu berbalik dengan tubuh membungkuk dan mata menatap lantai.
"M-maafkan saya, Tuan," suara Eva terdengar gemetar, tipis, dan polos. "Saya hanya... sedang membersihkan kaca ini."
Langkah kaki terdengar mendekat. Sepatu kulit buatan tangan beradu dengan lantai marmer. Pria itu berhenti hanya dua langkah di depan Eva.
Dari posisinya yang menunduk, Eva hanya bisa melihat ujung sepatu kulit hitam mengkilap dan celana bahan berwarna abu-abu gelap yang terpotong rapi.
Hawa dingin dari tubuh pria itu terasa begitu nyata, bercampur dengan aroma parfum mahal dan tembakau halus.
Dominic Blackwood.
Pria berusia tiga puluh tahun itu tidak langsung bicara. Ia berdiri tegap, meletakkan sebelah tangannya di dalam saku celana, sementara sepasang matanya menatap bagian atas kepala pelayan baru di depannya.
Dominic adalah pria yang hidup di tengah ancaman pembunuhan sejak ia bernapas. Ia bisa mencium kebohongan, ketakutan, dan tipu daya dari jarak berkerumun.
Ada sesuatu dari pelayan baru ini, posisi berdirinya yang terlalu seimbang, napasnya yang terlalu teratur meski napasnya dipalsukan gemetar, yang memicu insting kewaspadaannya.
"Siapa namamu?" tanya Dominic, suaranya datar namun menusuk.
"Evie, Tuan. Evie Thorne," jawab Eva pelan, tetap menjaga matanya menatap lantai.
Dominic melangkah menyamping, mengitari Eva perlahan seperti seekor harimau yang mengamati mangsa atau calon pengancam. "Kau baru masuk hari ini."
"Benar, Tuan. Saya ditempatkan di divisi kebersihan galeri oleh Madam Bethany."
Dominic berhenti tepat di samping etalase belati yang baru saja diamati Eva. Tangannya terulur, jemarinya yang panjang dan kokoh menepuk kaca tebal etalase itu pelan.
"Kau menatap koleksi senjata ini cukup lama sebelum aku masuk," bisik Dominic, matanya melirik sinis ke arah Eva dari sudut matanya. "Apakah seorang pelayan dari distrik luar tertarik pada pisau pembunuh, Evie?"
Eva tahu, satu jawaban yang salah akan memicu kecurigaan Dominic. Pria ini sangat intuitif. Di balik gaun pelayannya, otot-otot kaki Eva sudah bersiap untuk meluncurkan pisau serat karbon di sepatunya jika situasi berubah menjadi adu fisik.
Namun, Eva mempertahankan penyamarannya dengan sempurna. Ia mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan mata hazelnya yang dibuat tampak berkaca-kaca oleh rasa takut dan kebingungan seorang gadis desa.
"Saya... saya hanya takut, Tuan," cicit Eva dengan bibir yang dibuat sedikit gemetar. "Benda-benda itu terlihat sangat tajam dan menakutkan. Saya hanya memastikan kaca ini bersih agar Madam Bethany tidak menghukum saya."
Dominic menatap dalam ke dalam mata hazel Eva. Selama beberapa detik, tak ada suara di ruangan itu selain denting jarum jam dinding tua. Dominic mencari kebohongan di mata itu, mencari kilatan bahaya.
Namun yang ia lihat hanyalah ketakutan polos dari seorang pelayan muda yang tak berdaya.
Dominic memicingkan matanya sedikit. Instingnya masih memberi sinyal aneh, tetapi tidak ada bukti fisik yang menunjukkan wanita ini adalah ancaman.
"Pindahkan embermu," perintah Dominic dingin, memalingkan wajahnya. "Dan jangan pernah menyentuh etalase itu lagi. Satu sidik jari tertinggal di atas kaca itu, dan kau tidak akan pernah bekerja di rumah ini lagi."
"Baik, Tuan. Terima kasih, Tuan," jawab Eva seraya menunduk dalam-dalam.
Dengan gerakan cepat dan kikuk yang dipalsukan, Eva mengambil ember airnya dan melangkah mundur keluar dari galeri seni, meninggalkan Dominic yang masih berdiri sendirian di tengah ruangan temaram itu.
Saat pintu kayu galeri tertutup di belakangnya dan Eva berada di koridor yang sepi, garis wajah polosnya mendadak lenyap tanpa bekas. Matanya kembali berubah menjadi dingin dan tajam seperti mata seekor elang.
Ia menyapu sisa-sisa ketakutan palsunya.
Dominic Blackwood.
Pria itu lebih berbahaya dan lebih peka daripada yang digambarkan dalam berkas Silas. Menyusup ke ruang kerjanya di lantai tiga tidak akan semudah membunuh sasaran-sasaran biasa.
Namun saat Eva mengingat lagi lambang belati di etalase tadi, kekuatannya kembali terisi penuh. "Ada rahasia besar di dalam kediaman ini," gumam Eva.
...Bersambung......