Indonesia
NovelToon NovelToon
The Mafia’S Possession

The Mafia’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Roman-Angst Mafia / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Jauhi suami saya!"

Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.

Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.

Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

PRANGGG!

Suara pecahan porselen bernilai puluhan ribu dolar bergema keras menembus dinding marmer sebuah penthouse mewah di kawasan Manhattan. Vas bunga porselen koleksi Gucci yang diimpor langsung dari Italia itu hancur berkeping-keping di atas lantai, menyisakan serpihan tajam dan air yang menggenang acak.

"BODOH! DASAR TIDAK BEROTAK!"

Teriakan histeris seorang wanita memotong keheningan ruangan. Suaranya melengking penuh amarah yang membakar.

Rebelda Molloy—wanita bergaun merah berpotongan dada rendah dengan rambut pirang tertata rapi—berdiri dengan napas tersengal-sengal. Matanya membelalak merah, dipenuhi kegilaan dan obsesi yang teramat pekat.

Di hadapannya, seorang pria bersetelan serba hitam menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya gemetar menahan ketakutan di bawah tatapan membunuh wanita itu.

"Aku sudah katakan padamu dengan sangat jelas, Bunuh wanita yang ada di dekat Orion!" teriak Rebelda lagi, melangkah maju dengan sepatu heels-nya yang menancap keras di atas lantai marmer. "Kenapa kau malah menembak orang asing yang tidak dikenal, Hah?! Apa matamu buta?!"

"M-maafkan saya, Nona..." sahut pria itu dengan suara gemetar. "Tembakan saya meleset karena... karena Tuan Orion mendadak melompat dan menindih wanita di sebelahnya. Proyektilnya justru menyambar lengan wanita lain di dekat mereka—"

"AKU TIDAK PEDULI DENGAN ALASANMU!" potong Rebelda dengan raungan histeris. Ia menyambar gelas champagne di atas meja dan melemparnya tepat ke arah kaki pria itu hingga pecah berantakan.

Rebelda membalikkan tubuhnya, melangkah cepat menuju meja rias mahal di sudut ruangan. Jemarinya yang dipenuhi perhiasan berlian meraih sebuah ponsel pintar.

Layar ponsel itu menampilkan sebuah foto beresolusi tinggi yang dikirimkan oleh salah satu sahabat sosialitanya tiga hari lalu dari Maladewa.

Di dalam foto itu, Orion Leander Ashford—pria yang selama bertahun-tahun menjadi puncak obsesinya—sedang berdiri di dermaga kayu di bawah pendar sinar matahari tropis. Dan yang membuat darah Rebelda mendidih bagaikan air raksa adalah sosok wanita cantik bergaun kuning cerah yang berdiri tepat di samping Lean, tersenyum dan tampak begitu dekat dengan pria itu.

Beberapa bulan terakhir, Lean menghilang dari berbagai pertemuan bisnis kelas atas, gala malam, bahkan acara reuni alumni universitas mereka. Rebelda berpikir Lean hanya sedang sibuk mengurus ekspansi bisnisnya di New York. Namun ternyata, pria yang selalu ia klaim sebagai miliknya itu justru menyembunyikan seorang wanita di sisinya.

"Orion adalah milikku... Sejak dulu dia hanya milikku!" bisik Rebelda dengan nada manis namun mengerikan, jemarinya mengusap permukaan layar ponsel yang menampilkan wajah Lean. "Tidak boleh ada wanita mana pun yang menyentuhnya. Tidak boleh ada jalang mana pun yang mengambilnya dariku!"

Wanita itu memutar tubuhnya kembali, menatap algojo bayarannya dengan iris mata yang berkilat gila. "Cari tahu siapa wanita bergaun kuning itu! Cari identitasnya sampai ke akar-akarnya! Dan kali ini... jangan sampai kau meleset lagi. Jika kau gagal membunuhnya, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu!"

••••

Sementara itu, di koridor lantai VIP Rumah Sakit Mount Sinai New York, bau antiseptik yang menyengat memenuhi udara. Lampu-lampu neon putih memancarkan pendar dingin di atas lantai granit yang bersih mengilap.

Di depan ruang perawatan tempat Angelina sedang ditangani oleh tim dokter spesialis, Pearl Glow Hurt duduk di atas kursi tunggu dengan wajah memucat. Ia telah melepaskan kacamata hitamnya. Mata cokelat cantiknya tampak sembap dan kemerahan akibat air mata yang menetes tanpa henti sejak dari bandara tadi.

Di sampingnya, Orion Leander Ashford tidak tinggal diam. Pria tegap itu sama sekali tidak membiarkan Glow duduk sendirian. Dengan tingkat posesif yang tak masuk akal, Lean berlutut di satu kaki tepat di hadapan Glow.

Jemari kekar Lean yang hangat mengusap lembut kedua lutut Glow yang tertutup kain gaun, lalu tangannya bergerak naik mengusap tepi pinggang dan perut datar istrinya melalui sela-sela lipatan kain. Pria itu menyapu setiap inci tubuh Glow dengan pandangan mata birunya yang teliti, memastikan tidak ada sekecil apa pun goresan atau bercak darah yang menempel pada tubuh istrinya.

"Lean... berhenti," bisik Glow dengan suara serak, mencoba mendorong bahu tegap suaminya dengan jemarinya yang masih gemetar tipis. "Aku tidak terluka. Sudah kubilang berkali-kali... aku tidak apa-apa. Yang tertembak itu Angel..."

Lean tidak mendengarkan. Pria itu justru mengusap area perut datar Glow dengan telapak tangannya yang luas, mengikis jarak di antara mereka hingga wajah tampannya menyandarkan kening pada perut berbalut gaun halus itu.

"Aku harus memastikan, Pearl," gumam Lean rendah, suaranya terdengar begitu pekat dan hangat di antara keheningan koridor rumah sakit. Pria itu mendongak sedikit, menatap Glow dengan binar mata liar yang mendadak bercampur dengan nada bercanda mesumnya yang khas—upaya terselubung Lean untuk mengalihkan rasa takut istrinya.

"Kalau aku tidak perhatian dan teliti," bisik Lean tepat di depan permukaan perut Glow, "aku khawatir bagian perut mulusmu ini tergores atau terluka sedikit saja... dan aku tidak bisa memakanmu nanti malam."

DEG.

Glow membelalakkan matanya sempurna di tengah rasa sedihnya. Pipinya yang semula pucat seketika memerah panas akibat ucapan gila pria di hadapannya.

"Kau... kau gila!" desis Glow dengan nada histeris tertahan, memukul bahu tegap Lean dengan kepalan tangannya yang tidak bertenaga. "Di saat sahabatku sedang dijahit di dalam sana, otakmu masih sempat-sempatnya memikirkan hal gila seperti itu?! Kau benar-benar tidak punya nurani, Orion Leander!"

Lean mengulas senyum tipis—sebuah senyuman sangat samar yang berhasil memecahkan ketegangan trauma di mata Glow. Pria itu menegakkan tubuhnya, meraih kedua tangan Glow yang dingin dan mengecup punggung jemarinya dengan sangat lembut.

"Selama kau tidak terluka, nuraniku tidak penting, Pearl," sahut Lean santai, berdiri tegak dan merapikan kemejanya. "Tunggulah di sini. Aku butuh udara segar."

Glow mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya di kursi dengan hembusan napas panjang, sementara Lean melangkah menjauh menuju sudut koridor yang sepi dan remang.

••••

Begitu langkah kakinya menjauh dari jangkauan pendengaran Glow, raut wajah hangat dan santai yang tadi ditampilkan oleh Lean seketika luntur tanpa sisa. Wajah tampan itu berubah membeku bagaikan es di utara, dipenuhi aura kegelapan dan niat membunuh yang teramat pekat.

Lean merogoh saku celananya, menarik keluar ponsel terenkripsi dan menempelkannya di telinga.

"Bicaralah," perintahkan Lean dingin, suaranya mengandung ancaman terselubung.

Dari seberang saluran, suara Eric terdengar tegang dan penuh kecemasan. "Maafkan kami, Tuan Leander. Penembak runduk di atap garasi barat... berhasil meloloskan diri sebelum tim eksekutor tiba di koordinat."

"Apa?" desis Lean dengan nada suara yang seketika menurunkan suhu udara di koridor itu. "Lolos?"

"Dia adalah profesional kelas atas, Tuan. Dia meninggalkan umpan berupa sistem peledak otomatis dan rekaman umpan untuk mengelabui radar kami. Begitu tim menembus pintu atap, lokasi itu sudah kosong," lanjut Eric dengan nada penuh penyesalan.

"Orang-orang kita sedang menyisir seluruh jaringan CCTV kota New York untuk melacak rute pelariannya."

KREK!

Buku-buku jari Lean berbunyi keras saat ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga ponsel di genggamannya hampir remuk. Amarah yang mendidih di dalam dadanya membakar habis kesabarannya.

Anak buah yang ia latih dan bayar mahal ternyata bisa dibodohi oleh seorang eksekutor jalanan.

"Kalian semua tidak becus," pangkas Lean dengan suara pelan namun sarat akan ancaman kematian. "Jika dalam waktu dua puluh empat jam pria itu tidak ditemukan dalam keadaan bernyawa di hadapanku, pastikan kalian sendiri yang menyiapkan peti mati masing-masing."

Tanpa menunggu jawaban Eric yang ketakutan, Lean langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.

Perasaan ganjil dan kemarahan yang membuncah membuat Lean harus mencari kejelasan dari level yang lebih tinggi. Pria itu menekan tombol panggil cepat lainnya—menghubungkan salurannya langsung ke kediaman utama keluarga Ashford.

Hanya dalam dua kali dering, sebuah suara berat, berwibawa, dan sarat akan dominasi mutlak terdengar dari seberang telepon.

"Apa yang bisa Daddy Bantu?" sapa sang ayah tenang namun mengintimidasi.

"Dad," panggil Lean tanpa basa-basi, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Seseorang baru saja mencoba menembakku di pelataran bandara JFK. Pelurunya meleset dan melukai sahabat istriku."

Hening sejenak di seberang telepon. Atmosfer di garis komunikasi itu mendadak berubah sangat berat.

"Kau dan Glow baik-baik saja?" tanya Giovanni, nada suaranya kini berubah menjadi lebih dalam dan berbahaya.

"Glow selamat. Aku berhasil melindunginya," jawab Lean cepat. "Tapi yang membuatku marah adalah kelalaian orang-orangku. Dan pebidik itu... dia bergerak seperti profesional yang sangat terlatih."

Lean menghela napas panjang, menekan pangkal hidungnya yang mancung. "Aku sudah meneliti peta pergerakan musuh di New York. Ini jelas bukan gaya pergerakan Reynal Space. Reynal adalah sahabatku dulu, dia tahu cara kerjaku dan dia lebih suka menggunakan jebakan hukum atau sabotase bisnis seperti di bengkel Queens kemarin. Dia tidak akan menggunakan pebidik amatir yang berisiko merusak rencananya sendiri. Kira-kira... ini dari pihak mana, Dad?"

Di seberang sana, Giovanni Ashford terkekeh pelan—sebuah tawa dingin khas seorang mantan penguasa dunia bawah tanah yang telah melewati ribuan pertempuran darah.

"Reynal memang tidak mungkin menggunakan cara seceroboh itu jika sasarannya adalah dirimu di tempat umum, Orion," sahut Giovanni tenang.

"Musuh yang bergerak dengan emosi dangkal dan dorongan impulsif seperti ini biasanya bukan datang dari persaingan bisnis atau dendam lama antar-kartel."

"Maksud Dad?" tanya Lean dengan dahi berkerut tajam.

"Itu adalah aksi dari seseorang yang didorong oleh obsesi pribadi," jawab Giovanni tegas.

"Seseorang yang merasa terancam oleh keberadaan Glow di sisimu. Periksa orang-orang di sekitar kehidupan pribadimu, Orion. Lingkaran sosialitas, wanita-wanita dari masa lalumu, atau siapa pun yang merasa memiliki hak atas dirimu. Serangan ini tidak ditujukan untuk menghancurkan bisnismu... tapi untuk menyingkirkan wanita yang berada di sampingmu."

DEG.

Kalimat sang ayah seketika menghantam benak Lean bagaikan petir di siang bolong. Bayangan sebuah nama langsung melintas di benaknya mendadak muncul kembali dengan sangat jelas: Rebelda Molloy.

"Rebelda..." guman Lean lirih, mata birunya berkilat dipenuhi kejahatan yang teramat pekat.

"Temukan siapa pun pelakunya, Son," pesan Giovanni dingin sebelum mengakhiri panggilan. "Dan ingat... siapapun yang berani menyentuh seorang wanita Ashford, dia tidak boleh diberi kesempatan untuk bernapas lebih lama."

Klik.

Panggilan terputus. Lean menyimpan ponselnya kembali ke saku kemejanya. Ia berdiri mematung di koridor rumah sakit yang remang, menatap lurus ke arah pintu ruang perawatan di mana istrinya sedang menunggu dengan cemas.

Satu hal yang kini dipastikan oleh Orion Leander Ashford: Siapa pun wanita atau musuh yang berani menumpahkan darah di dekat Glow, akan merasakan neraka dunia yang diciptakan langsung oleh tangannya sendiri.

1
Astrid Kucrit
gek sat set pria kanibal 🤣🤣
Astrid Kucrit: wkwkwkwowk 😂😂
total 2 replies
Astrid Kucrit
geli nggak glow 🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahah 🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan khawatir glow,suamimu sangat mencintaimu
Astrid Kucrit
seru nihh
Astrid Kucrit
hajar le 😂😂
Astrid Kucrit
siap2 pisah kamar 😂
Rosdianah 🌷: wkwkkw🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
makin dag dig dug bacanya...keren Thor /Good/
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... semangat 2 kk Thor 💪💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii ma'aciww 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di hajar kamu glow 🤣🤣
Astrid Kucrit
selamat berbuka puasa 🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
gpp up dikit kk..yg penting tetap semangat 💪 berkarya 🤗🤗
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Bu Dewi
hari ini gak update tah kak..? bolak balik liat tapi belum ada update an/Smile//Smile//Smile/
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍
Rosdianah 🌷: huhu author minta maaf ya kak 🙏🏻 author sedikit sibuk dunia nyata hari ini. besok up banyak 🫠
total 1 replies
Nita Nita
pada hal gampang buat glow tau siapa lean 😎
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
kayak Mr and Mrs Smith Thor😜😜😜
Rosdianah 🌷: ow iya kak, wkwk🤭
total 3 replies
Bu Dewi
update lagi dunkz kak😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Nita Nita
Glow bkn bisa nembak ya
safaana
cerita othor emang gak pernah gagal meskipun ada sedikit typo tapi ke tutup sama jln ceritanya semangat Thor semoga sehat selalu
Rosdianah 🌷: Ma'aciww banget kak🫶
total 1 replies
safaana
aku penasaran itu Leon Ama kakaknya di banting kemana Thor,,gak ada jejak
Rosdianah 🌷: nanti di bab selanjutnya kak 🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat 2 up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
keren bgt🤗🤗orion...
Rosdianah 🌷: anak siapa itu🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!