Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan sulit

Dean remat kerah baju Fajar kuat. Rahangnya mengetat, tatapannya menusuk tajam.

Apa dia bilang, mempertemukannya dengan sang putri? Apa dia lupa apa yang dia ucapkan dulu?

Ia masih ingat betul cerita dari Azarin jika penyebab Azarin kabur adalah karena Fajar ingin memasukkan Mia ke dalam panti asuhan, alih-alih kecelakaan.

"Aku mohon, Dean." lirih Fajar gemetar.

BUGHH!

Wajah Fajar tertoleh ke samping tatkala mendapat hantaman keras dari Dean. Ia tau, tidak seharusnya dia berucap hal begini.

Fajar jatuhkan tubuhnya di hadapan Dean, berlutut dengan segudang permohonan yang berharap Dean kabulkan.

"Aku mohon, aku tidak berani memintanya pada Azarin."

Dean tatap tajam Fajar di bawahnya, rahangnya sampai gemetar, tangannya mengepal kuat. Jika bukan karena menahan diri, sudah ia hempaskan Fajar dari hadapannya.

"Kau fikir penyesalanmu ini bisa bikin luka batin Azarin hilang hah?!" sentak Dean.

Fajar tak sanggup menahan air mata agar tidak keluar. Ia tau betul kejahatannya dulu tidak akan bisa terampuni. Ia tau betul luka yang menggores hati Azarin tidak akan hilang.

"Tapi setidaknya aku ingin memperbaiki kesalahanku, Dean—"

"MEMPERBAIKI YANG MANA?!" Teriak Dean melengking, nafasnya memburu saking besarnya emosi yang ia tahan sekarang.

"Apa perlu ku ingatkan ucapanmu dulu?! Hah?!" sentak nya lagi.

Fajar menggeleng lemah. Ia tau akan susah membujuk mereka berdua. Namun ia tidak mau menyerah. Ia hanya ingin bertemu dengan Mia. Itu saja. Ia tidak akan membawa atau merebutnya dari Azarin.

Fajar mendongak cepat. Menggenggam kedua kaki Dean di depannya dengan air mata berderai. Ia sudah tidak perduli dengan harga dirinya sekarang.

"Aku mohon, Dean! Mohon bujuklah Azarin. Aku tidak akan mengambil Mia darinya. Aku hanya ingin Mia mengetahui bahwa aku ayahnya. Dan ingin mengajaknya ketemu ibu sesekali. Aku mohon ...!"

Dean palingkan wajah cepat, meraup wajahnya frustasi.

Bisa saja ia membujuk Azarin. Tapi apa wanita itu akan menyetujuinya? Setelah melihatnya tadi berteriak dengan begitu gemetar. Azarin yang tenang saja bisa sampai seperti itu Fajar buat.

"Aku mohon, hiks! Aku hanya ingin putriku mengenaliku...." rintih Fajar lagi, penuh rasa harap.

Dean tarik nafas panjang, berkacak pinggang seraya menatap Fajar yang bersimpuh di bawahnya.

"Kau fikir Azarin akan setuju? Kau sudah menyakitinya! Apa kau tau seberapa dalam lukanya?! Baru cerai tapi kau sudah menikah dengan wanita lain! Kau bahkan tidak menaruh perhatian sedikitpun padahal masa itu Mia baru 1 bulan!"

Dada Fajar bak dihantam ribuan sembilu. Mengingat betapa bodohnya ia dahulu benar-benar memalukan. Namun sekarang ia benar-benar menyesalinya. Dan berharap Azarin masih mau membuka hatinya meski sedikit.

"Aku mohon—"

"Cukup Fajar!" sentak Dean, menepis kasar tangan Fajar dari kakinya hingga pria itu terguling ke samping.

Dean mundur beberapa tapak. Menatap Fajar yang putus asa di depannya tajam.

Ia sebenarnya juga tak tega. Apalagi Fajar ayahnya. Hanya saja rasanya begitu menyesakkan setelah apa yang Azarin rasakan, dan ia malah diminta membela pria bajingan ini.

Namun ia tau betul Fajar tulus mengatakannya. Dia sampai mengesampingkan harga diri hanya demi bertemu dengan putrinya.

Dean raup wajahnya frustasi. Menarik nafas panjang berkali-kali. Ia tatap Fajar yang bersimpuh merunduk di hadapannya seperti orang tidak punya gairah hidup.

"Memohonlah pada Azarin." ucap Dean lebih tenang.

Mendengar itu Fajar spontan mendongak. Tatapan penuh binar itu membuat Dean malas.

"Benarkah? Apa Azarin akan memaafkan ku?"

Dean memejam dalam, menarik nafas panjang. Ia tatap Fajar intens.

"Aku tidak yakin soal itu."

Wajah Fajar kembali murung, "Iya, benar. Mana mungkin dia mau memaafkan ku."

"Tapi setidaknya kau jangan menyerah. Bujuk meski kau harus bersujud di hadapannya. Bukankah kau merindukan putrimu?"

Fajar kembali mendongak, mengangguk antusias, "Aku ingin bertemu Mia!"

"Maka lihat apa usahamu itu akan membuahkan hasil."

Setelah mengucapkan kata itu, Dean langsung berbalik, meninggalkan Fajar sendirian yang tersenyum membayangkan Mia akan mengenalinya.

Pria itu berdiri perlahan, menoleh menatap Dean yang pergi menjauh. Senyum tipis terbit di bibirnya.

"Mia, ayah sambungmu pasti akan jauh lebih bertanggung jawab daripada papa."

Setidaknya Fajar lega karena pria itu Dean. Ia tau betul Dean adalah pria yang baik. Jadi ia tak perlu khawatir.

***

"Azarin...." panggil Dean seraya mengetok pintu kontrakan.

Pintu terbuka cepat. Azarin langsung menghambur ke pelukan Dean. Terdengar isakan pada dirinya.

Dean menarik nafas panjang. Ia elus pucuk kepala Azarin lembut.

"Tenang saja, ada aku disini."

Kini mereka sudah berada di dalam. Dean tatap sekeliling. Sementara Azarin sedang membuat minuman di dapur.

Pria itu berdiri cepat. Menghampiri Azarin di dalam dapur.

"Apa ada yang perlu aku bantu?"

Wanita itu spontan menoleh, menggeleng lemah, "Tidak perlu, mas. Sebentar lagi selesai kok."

Dean mengangguk saja. Pria itu segera meraih nampan di tangan Azarin. Lalu meletakkan nya di ruang tamu.

"Dek...."

Wanita itu spontan mendongak, "Iya?"

Dean reflesk tergagap, mengusap tangannya pada blazer beberapa kali, "Tidak ada."

Berat jika ia harus mengucapkannya langsung, tentang keinginan Fajar bertemu putrinya.

Azarin tersenyum tipis, "Mari mas, duduk, diminum juga tehnya." ajak wanita itu.

Dean mengangguk saja, segera duduk di samping Azarin.

"Azarin, tentang Fajar—"

Ucapan Dean terhenti tatkala ekspresi wajah Azarin langsung berubah dingin. Membuat Dean urung mengatakannya.

"Katakan saja." balas wanita itu, tanpa menoleh. Menyesap minumannya dengan tenang.

"Emm...." agak ragu Dean untuk mengucapkannya.

"Apa tidak sebaiknya kita mempertimbangkan—"

"Tidak perlu." potong Azarin dingin.

"Tapi Azarin. Fajar benar-benar..."

"Apa sekarang mas juga membelanya?!" sentak wanita itu, menoleh menatap Dean tajam.

Pria itu menggeleng, "Tidak, mas tidak membela. Hanya saja kasihan Mia, dia tidak mengenali ayah kandungnya."

"Itu tidak perlu. Bukankah kau akan jadi ayahnya. Kenapa jadi melempar ke pria itu? Apa sekarang kau tidak jadi menikahiku?"

"Mana mungkin!" potong Dean.

Air mata Azarin luruh kecil. Wanita itu merunduk seraya mengusap air matanya berkali-kali.

"Aku mohon jangan bahas pria itu lagi." ucap Azarin dingin.

Dean terdiam. Benar, tidak seharusnya ia mengucapkan hal yang kembali menyakiti perasaan Azarin.

"Maafkan aku, sayang."

Namun Azarin tidak menyahutnya. Ia lebih memilih menyesap minumannya hingga tandas lalu berjalan masuk ke dalam kamar.

"Tutup pintunya jika sudah selesai."

Dean terpaku. Memejam dalam.

Kali ini Azarin benar-benar marah padanya. Ahh....sial. Tau begini tadi dia tidak usah berucap macam-macam.

Dean berdiri perlahan, berjalan dengan langkah tenang menuju pintu kamar Azarin.

"Adek....mas minta maaf." panggil pria itu seraya mengetuk.

"Iya." singkat Azarin dari dalam.

Dean menarik nafas panjang. Menghelanya perlahan. Ia yakin pasti Azarin marah padanya.

Pria itu berbalik lemah, berjalan menuju pintu. Ia putar gagang pintu perlahan seraya menoleh ke belakang, lekat pada pintu yang tertutup itu.

"Hufftt."

1
Adinda
hidupmu rumit banget naya, kalau suamimu belum mampu ngontrak dulu,uangnya dikumpulkan keburu nanti suamimu diambil pelakor
Adinda
tapi salah naya juga sih kalau suamimu gak mampu setidaknya kamu juga membantu jangan langsung minta rumah
Adinda
fajar sama naya aja
Adinda
mimpi saja kau fajar kalau mau azarin balik sama kamu,tidak akan pernah mau azarin balik sama kau fajar
Adinda
bawa semuanya rin, enak banget ginjalmu diambil,kamu mau dicerain anakmu mau dibawa kepanti
Dokkan Battle
BACOT GOBLOK
Ma Em
Azarin kalau tdk mau Dean seperti fajar makanya rubah penampilan Azarin dan hrs pede jgn merasa rendah diri , kalau Azarin merasa selalu rendah diri tdk berubah jadi wanita yg elegan dan penuh percaya diri pasti Dean akan semakin cinta pada Azarin .
Dynhz: kasih tau makee😭🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
lanjuut thor
Dynhz: siap😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
udah nikah aja ma Dean, dari pada nanti di ganggu terus sama fajar ...
lanjuut thor.....
Dynhz: siap kakak😍
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nah udah tau kan sifat asli istri baru mu..😂😂
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
paling bagus emang cerai saja dan buktikan kalo kamu bisa tanpa suami ...
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
nyesek bgt bacanya...
Ma Em
Azarin jgn sampai kamu kena bujuk rayu fajar biarkan fajar menyesal karena itu pilihan fajar sendiri , semoga Azarin selalu bahagia bersama Mia sang putri tercinta dan semoga Azarin berjodoh dgn Dean 🤲.
Dokkan Battle: kalau ajarin rujuk fiks dia sakit mental
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!