Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Es yang Mulai Mencair

"...hidupku dan sisa umurku boleh kauambil."

Ratri berhenti dua langkah di belakang Baskara.

Angin sore mengangkat ujung kemeja pria itu. Dari sela kain terlihat perban yang kembali merah. Tangan di dadanya menekan lebih keras ketika napas pendek lain datang.

"Jadi itu yang Anda lakukan?"

Baskara membeku.

Ia berdiri tegak terlalu cepat, lalu goyah. Ratri maju dan menangkap lengannya sebelum tubuh tinggi itu jatuh ke pagar.

Untuk pertama kalinya, posisi mereka terbalik. Ratri yang baru selamat dari guncangan maut menopang pria yang selama ini selalu datang lebih dulu untuk menahannya.

"Kau seharusnya berbaring," kata Baskara.

"Anda seharusnya menjawab."

"Kau mendengar berapa banyak?"

"Cukup untuk tahu Anda pembohong yang lebih bodoh daripada dugaan saya."

Baskara mencoba menarik lengan, tetapi Ratri tidak melepaskannya. Denyut di bawah jarinya lemah dan tidak teratur. Pusaka di dada Ratri menghangat dengan rasa yang sama.

"Berapa kali?" tanyanya.

"Apa?"

"Jangan paksa saya mengucapkannya. Berapa kali Anda melukai diri untuk melakukan laku itu?"

Baskara memandang kota di bawah mereka. "Aku tidak menghitung."

"Saya menghitung. Luka itu sesuai dengan setiap kali saya hampir mati."

"Kebetulan."

Ratri tertawa pendek tanpa gembira. "Anda masih berani mengatakan kebetulan?"

"Belum semua yang kau lihat berarti seperti dugaanmu."

"Lalu jelaskan."

Baskara diam.

"Tentu," kata Ratri. "Anda selalu diam ketika kebenaran meminta harga."

Kalimat itu mengenai lebih dalam daripada yang ia inginkan. Baskara menurunkan mata.

"Aku belum bisa memberitahumu semuanya."

"Karena Anda tidak percaya pada saya?"

"Karena aku tahu kau. Kalau kau mengetahui seluruh harganya, kau akan menolak hidup."

"Itu hidup saya."

"Dan kematianmu akan menghancurkan hidupku."

Ratri kehilangan kata selama satu detik.

Baskara berbalik menghadapnya. Wajahnya pucat, mata merah karena semalaman tidak tidur, dan seluruh ketenangan yang biasa ia pakai telah retak.

"Aku egois," katanya. "Aku memilih menjagamu tanpa izin. Marahlah. Tapi jangan minta aku melihatmu mati hanya supaya utang di antara kita terasa adil."

"Saya tidak mau berutang nyawa kepada siapa pun."

"Kau tidak berutang."

"Anda memberikan darah."

"Itu pilihanku."

"Anda selalu memilih sendiri. Pergi tiga tahun, kembali tiba-tiba, mengatur dokter, menyembunyikan uang, menyembunyikan luka. Di mana bagian yang memberi saya pilihan?"

Suara Ratri naik. Setelah berminggu-minggu berbicara dalam kalimat dingin dan terukur, kemarahan itu akhirnya keluar tanpa sempat dirapikan.

"Saya menunggu Anda tiga tahun. Setiap orang memanggil saya janda beracun. Mereka bilang saya membunuh Larasati, membunuh ibu saya, membuat suami pergi. Saya tidur di rumah keluarga Anda sambil mendengar mereka menghitung berapa lama sampai saya mati."

Baskara tidak menyela.

"Saya membangun kantor karena tidak ada yang mau berdiri di depan saya. Saya belajar menyimpan bukti karena semua orang lebih percaya cerita keluarga besar. Saya berdarah sendirian. Saya bangun sendirian. Lalu Anda pulang dan bertingkah seolah satu payung, satu mangkuk sup, dan beberapa kebohongan lucu bisa menghapus semuanya."

Ratri mengusap wajah dengan marah. "Ada malam ketika saya tidur di lantai kantor karena tidak sanggup pulang dan melihat kamar kosong. Ada pagi ketika wartawan menunggu di gerbang sambil bertanya bagaimana rasanya membuat dua perempuan mati dan satu suami hilang. Saya tidak bisa menjawab bahwa saya juga tidak tahu kenapa Anda pergi."

Ia menarik napas yang bergetar.

"Saya menulis pesan berkali-kali. Marah, memohon, bahkan hanya meminta satu tanda bahwa Anda hidup. Semuanya saya hapus sebelum terkirim karena saya tidak tahu nomor mana yang masih milik Anda. Pada akhirnya saya berhenti bertanya. Bukan karena tidak peduli. Karena setiap harapan membuat saya terlihat lebih bodoh."

Baskara menutup mata. Ia telah menerima laporan tentang ancaman, persidangan, dan kondisi tubuh Ratri. Tidak ada satu pun laporan yang mencatat pesan yang tidak pernah dikirim atau malam di lantai kantor.

"Aku tidak tahu," katanya, suaranya pecah.

"Itulah masalahnya. Anda memilih untuk tidak tahu."

Air mata menggenang di mata Ratri. Ia membencinya. Ia lebih membenci bahwa Baskara melihat.

"Tidak bisa," kata Baskara.

Jawaban itu membuatnya menatap tajam.

"Tidak ada yang bisa menghapus tiga tahun itu," lanjut Baskara. "Aku juga tidak punya alasan yang cukup untuk membuat rasa sakitmu menjadi benar."

"Lalu kenapa Anda pergi?"

Baskara menutup mata sesaat. "Ada orang yang membunuh siapa pun yang berada terlalu dekat denganku. Larasati mati karena dianggap bagian dari hidupku. Aku pergi karena aku takut mereka melihatmu."

Itu hanya sebagian kebenaran. Ia tidak menyebut wahyu keprabon, musuh di luar negeri, atau perang yang membuatnya harus menghilang. Namun, bagian yang diucapkannya sudah cukup membuat Ratri terdiam.

"Anda pikir meninggalkan saya akan melindungi?"

"Aku salah menghitung harganya."

"Anda punya waskita dan masih bisa salah?"

Baskara menatapnya, terkejut karena istilah itu keluar dari mulut Ratri.

"Eyang Suryo pernah mengatakan mata Anda melihat jalan orang lain," kata Ratri. "Tapi Anda tidak bisa melihat saya."

"Tidak pernah. Masa depanmu selalu kosong."

Untuk pertama kalinya, ketakutan Baskara terdengar tanpa ditutupi. "Aku bisa melihat orang asing hidup atau mati setahun dari sekarang. Tapi setiap kali melihatmu, tidak ada apa-apa. Hanya gelap. Setiap hari aku menunggu ikatan sukma kita putus dari jarak ribuan kilometer."

"Lalu Anda tetap tidak pulang."

"Karena setiap jalan pulang yang kulihat dipenuhi orang yang akan mengikuti sampai kepadamu. Aku pikir menjaga dari jauh cukup."

"Tidak cukup."

"Aku tahu sekarang."

Ratri menunduk. Air mata pertama jatuh. Setelah itu, yang lain ikut turun tanpa bisa ia hentikan.

"Saya benci harus kuat setiap hari," katanya lebih pelan. "Saya benci semua orang datang hanya ketika membutuhkan sesuatu. Saya benci bahkan saat hampir mati, hal pertama yang saya pikirkan adalah siapa yang akan menjaga kantor dan bukti."

Baskara mengangkat tangan, lalu berhenti sebelum menyentuhnya. "Boleh aku mendekat?"

Pertanyaan itu hampir membuat Ratri menangis lebih keras. Pria yang mengambil keputusan sebesar hidup dan mati tanpa izin kini meminta izin untuk satu langkah.

Ratri tidak menjawab dengan kata.

Ia hanya tidak mundur.

Baskara memeluknya perlahan. Tidak erat, tidak menuntut. Satu tangan berada di punggung, tangan lain berhenti di belakang kepala tanpa menyentuh bagian yang pernah terluka.

Tubuh Baskara dingin meski udara senja hangat. Di balik kemejanya, Ratri merasakan tulang bahu yang terlalu jelas dan detak jantung yang bergerak lambat. Pria itu telah pulang dengan wajah kurus, tetapi baru sekarang ia memahami bahwa kekurusannya bukan sekadar akibat perjalanan.

Setiap bagian dirinya menyimpan harga yang tidak diberitahukan.

Ratri kaku selama beberapa detik.

Lalu dahi Baskara menyentuh rambutnya, dan ia mendengar napas pria itu bergetar.

"Maaf," bisiknya. "Aku pulang terlambat."

Ratri akhirnya menggenggam bagian belakang kemejanya.

Gerakan itu kecil, tetapi Baskara berhenti bernapas sejenak. Selama berminggu-minggu, ia mengejar satu tatapan lembut, satu kalimat yang tidak menolaknya, satu alasan untuk tetap berada di rumah. Ia tidak pernah membayangkan Ratri akan menjadi orang pertama yang menahannya ketika tubuhnya sendiri hampir runtuh.

Ia tidak mempererat pelukan. Ia takut satu gerakan salah akan membuat Ratri menyesal.

"Saya belum memaafkan Anda."

"Aku tahu."

"Saya masih ingin bercerai."

"Aku akan terus menolak."

Di antara air mata, suara kecil yang hampir menyerupai tawa keluar dari Ratri.

Baskara tersenyum, tetapi tubuhnya mendadak melemah. Pegangannya terlepas. Ratri segera menahan pinggangnya dan membuatnya bersandar pada pagar.

"Duduk."

"Kau yang sakit."

"Dan Anda yang hampir jatuh. Jangan berdebat."

Ratri membawanya ke bangku atap. Ia mengambil pil pemulih yang jatuh, membersihkan bungkusnya, lalu menyerahkan kepada Baskara bersama air.

"Minum."

"Rasanya buruk."

"Sup Anda juga buruk. Saya tetap menghabiskannya."

Baskara menelan pil itu.

Matahari tenggelam. Mereka duduk tanpa saling menyentuh, tetapi jarak antara bahu mereka hanya selebar satu telapak.

"Baskara."

"Ya?"

"Kali ini, jangan pergi tanpa memberi tahu saya."

Pria itu memandangnya lama. "Aku berjanji."

"Jangan membuat janji kalau akan berbohong lagi."

"Yang ini tidak."

Malamnya, Ratri kembali ke kamar. Ketika pusaka di dadanya menjadi dingin dan napas mulai berat, ia tidak menutup pintu atau menyuruh semua orang keluar.

Baskara duduk di sisi tempat tidur, melarutkan ramuan Ki Prasetya dalam air hangat. Ia menuntun Ratri mengatur napas dan menempelkan telapak di atas pusaka tanpa membuka luka baru.

Untuk menjaga keseimbangan sukma, ia meminta Ratri menyebut lima benda yang dilihat, empat suara yang didengar, dan tiga bagian tubuh yang masih terasa hangat. Cara itu bukan pengobatan medis, melainkan jangkar kesadaran agar sukma tidak kembali menjauh saat ia tertidur.

Ratri mengikuti tanpa mengejek. Ketika sampai pada benda kelima, ia menyebut tangan Baskara.

Keduanya terdiam, tetapi ia tidak menarik ucapannya.

"Tidak ada darah," kata Ratri.

"Aku tahu."

"Kalau Anda mencoba diam-diam..."

"Aku tidak akan malam ini."

Ia tidak menjanjikan selamanya. Ratri tidak memaksanya. Keduanya masih menyimpan terlalu banyak rahasia, tetapi untuk satu malam mereka memilih satu kebenaran kecil yang bisa dipatuhi.

Tangan Baskara bergetar saat mengalirkan sisa tenaga. Ratri melihat, lalu menutup tangannya dengan telapak sendiri.

"Cukup," katanya.

"Sedikit lagi."

"Saya bilang cukup."

Baskara berhenti.

Ratri berbaring. Jarinya masih menyentuh pergelangan Baskara sampai ia tertidur.

Pria itu merapikan selimut dan duduk beberapa menit, memandang wajah yang kini tidak lagi menegang melawannya bahkan dalam tidur.

Ponselnya bergetar.

Panji berbicara singkat. "Ndoro, Sekar Wiryawan menyebarkan kabar bahwa dia akan datang sendiri menemui Ndoro Putri. Dia juga mengumpulkan materi lama tentang perkara Larasati."

Baskara melihat tangan Ratri yang masih berada dekat tangannya.

Kehangatan di matanya menghilang.

"Biarkan dia datang," katanya. "Tapi kalau dia menyentuh Ratri, tidak ada nama Wiryawan yang bisa melindunginya."

1
Evi Marena
novel mu sangat bagus thorrr....walau banyak misteri tp AQ suka ,q harap novel mu tidak putus ditengah jalan ya thorrrr 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!